<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331</id><updated>2011-07-07T15:21:12.444-07:00</updated><category term='Cerita NGEWE Rame Rame'/><category term='Cerita NGEWE Mertua'/><category term='Cerita NGEWE Pembantu'/><category term='Cerita NGEWE Selingkuh'/><category term='Cerita NGEWE Tukar Pasangan'/><category term='Cerita NGEWE'/><category term='Cerita NGEWE Tante'/><category term='Cerita NGEWE Janda'/><title type='text'>Cerita Ngewe</title><subtitle type='html'>Cerita Cerita Ngewe</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-5945078223903454463</id><published>2009-04-27T12:16:00.000-07:00</published><updated>2009-04-27T12:16:00.613-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Selingkuh'/><title type='text'>Cerita NGEWE | Bossku yang Montok</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p&gt;            &lt;strong&gt;Sudah dua tahun aku bekerja di perusahaan swasta ini. Aku bersyukur, karena prestasiku, di usia yang ke 25 ini aku sudah mendapat posisi penyelia. Atasanku seorang wanita berusia 42 tahun. Walaupun cantik, tapi banyak karyawan yang tidak menyukainya karena selain keras, sombong dan terkadang suka cuek. Namun sebagai bawahannya langsung aku cukup mengerti beban posisi yang harus dipikulnya sebagai pemimpin perusahaan. Kalau karyawan lain ketakutan dipanggil menghadap sama Bu Mulan, aku malah selalu berharap dipanggil. Bahkan sering aku mencari-cari alasan untuk menghadap keruangan pribadinya.&lt;/strong&gt;          &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai mantan pragawati tubuh Bu Mulan sangatlah bagus diusia kepala empat ini. Wajahnya yang cantik tanpa ada garis-garis ketuaan menjAdikannya tak kalah dengan anak muda. Saking keseringan aku mengahadap keruangannya, aku mulai menangkap ada nada-nada persahabatan terlontar dari mulut dan gerak-geriknya. Tak jarang kalo aku baru masuk ruangannya Bu Mulan langsung memuji penampilanku. Aku bangga juga mulai bisa menarik perhatian. Mudah-mudahan bisa berpengaruh di gaji hahaha nyari muka nih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sampai suatu ketika, lagi-lagi ketika aku dipanggil mengahadap, kulihat raut muka Bu Mulan tegang dan kusut. Aku memberanikan diri untuk peduli,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ibu kok hari ini kelihatan kusut? ada masalah?", sapaku sembari menuju kursi didepan mejanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ia nih Ndy, aku lagi stres, udah urusan kantor banyak, dirumah mesti berantem sama suaminya kusut deh", jawabnya ramah, sudut bibirnya terlihat sedikit tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Justru aku manggil kamu karena aku lagi kesel. Kenapa ya kalau lagi kesel trus ngeliat kamu aku jadi tenang", tambahnya menatapku dalam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku terhenyak diam, terpaku. Masak sih Bu Mulan bilang begitu? Batinku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Andy, ditanya kok malah bengong", Bu Mulan menyenggol lenganku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Eeehh nggak, abisnya kaget dengan omongan Ibu kayak tadi. Aku kaget dibilang bisa nenangin seorang wanita cantik", balasku gagap.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ndy nanti temenin aku makan siang di Hotel (***) ya.. Kita bicarain soal promosi kamu. Tapi kita jangan pergi bareng , nggak enak sama teman kantor. kamu duluan aja, kita ketemu disana", kata Bu Mulan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku semakin tergagap, tidak menyangka akan diajak seperti ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Baik Bu", jawabku sambil keluar dari ruangannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah membereskan file-file, pas jam makan siang aku langsung menuju hotel tempat janji makan siang. Dalam mobilku aku coba menyimpulkan promosi jabatan apa yang akan Bu Mulan berikan. Seneng sih, tapi juga penuh tanda tanya. Kenapa harus makan siang di hotel? Terbersit dipikiranku, mungkin Bu Mulan butuh teman makan, teman bicara atau mudah-mudaha teman tidur.. upss mana mungkin Bu Mulan mau tidur dengan aku. Dia itu kan kelas atas sementara aku karyawan biasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekitar setengah jam aku menungu di lobby hotel tiba-tiba seorang bellboy menghampiriku. Setelah memastikan namaku dia mempersilahkanku menuju kamar 809, katanya Bu Mulan menunggu di kamar itu. Aku menurut aja melangkah ke lift yang membawaku ke kamar itu. Ketika kutekan bel dengan perasaan berkecamuk penuh tanda tanya berdebar menunggu sampai pintu dibukain dan Bu Mulan tersenyum manis dari balik pintu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Maaf ya Ndy aku berobah pikiran dengan mengajakmu makan di kamar. Mari.. kita ngobrol-ngobrol kamu mau pesen makanan apa?", kata Bu Mulan sambil menarik tangan membawaku ke kursi. Aku masih gugup.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Nggak usah gugup gitu dong", ujar Bu Mulan melihat tingkahku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Aku sebetulnya nggak percaya dengan semua ini .aku nggak nyangka bisa makan siang sana Ibu seperti ini. Siapa sih yang nggak bangga diundang makan oleh wanita secantik Ibu?", ditengah kegugupanku aku masih sempat menyempilkan jurus-jurus rayuan. Aku tau pasti pujian kecil bisa membangkitkan kebanggan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ahh kamu Ndy bisa aja, emangnya aku masih cantik", jawab Bu Mulan dengan pipi memerah. Ihh persis anak ABG yang lagi dipuji.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Iya Bu, sejujurnya aku selama ini memipikan untuk bisa berdekatan dan berduan dengan Ibu, makanya aku sering nyari alasan masuk keruangan Ibu", kataku polos.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Aku sudah menduga semua itu soalnya aku perhatikan kamu sering nyari-nyari alasan menghadap aku. Aku tau itu. Bahkan kamu sering curi-curi pandang menatapku kan?", ditembak seperti itu aku jadi malu juga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memang aku sering menatap Bu Mulan disetiap kesempatan, apa lagi kalau sedang rapat kantor. Rupanya tingkahku itu diperhatikannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami berpandangan lama. Lama kami berhadapan, aku di tempat duduk sedangkan Bu Mulan dibibir tempat tidur. Dari wajahnya terlihat kalau wanita ini sedang kesepian, raut mukanya menandakan kegairahan. Perlahan dia berdiri dan menghampiriku. Masih tetap berpandangan, wajahnya semakin dekat.. dekat.. aku diam aja dan hup.bibirnya menyentuh bibirku. Kutepis rasa gugup dan segera membalas ciumannya. Bu Mulan sebentar menarik bibirnya dan menyeka lipstik merahnya dengan tisu. Lalu tanpa dikomando lagi kami sudah berpagutan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Pesen makannya nanti aja ya Ndy", katanya disela ciuman yang semakin panas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wanita cantik betinggi 165 ini duduk dipangkuanku. Sedikit aku tersadar dan bangga karena wanita ini seorang boss ku, duduk dipangkuanku. Tangan kirinya melingkar dileherku sementara tangan kana memegang kepalaku. Ciumannya semakin dalam, aku lantas mengeluarkan jurus-jurus ciuman yang kutau selama ini. Kupilin dan kuhisap lidahnya dengan lidahku. Sesekali ciumanku menggerayang leher dan belakang telinganya. Bu Mulan melolong kegelian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ndy kamu hebat banget ciumannya, aku nggak pernah dicium seperti ini sama suamiku, bahkan akhir-akhir ini dia cuek dan nggak mau menyentuhku", cerocos Bu Mulan curhat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku berpikir, bego banget suaminya tidak menyentuh wanita secantik Bu Mulan. Tapi mungkin itulah kehidupan suami istri yang lama-lama bosan, pikirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bu Mulan menarik tangaku. Kutau itu isyarat mengajak pindah ke ranjang. Namun aku mencegahnya dengan memeluknya saat berdiri. Kucium lagi berulang-ulang, tangaku mulai aktif meraba buah dadanya. Bu Mulan menggelinjang panas. Blasernya kulempar ke kursi, kemeja putihnya kubuka perlahan lalu celana panjangnya kuloloskan. Bu Mulan hanya terdiam mengikuti sensasi yang kuberikan. Wow, aku tersedak melihat pemandangan didepanku. Kulitnya putih bersih, bokong nya berisi, bodynya kencang dan ramping. Celana dalam merah jambu sepadan warna dengan BH yang menutupi setangkup buah dada yang walaupun tidak besar tapi sangat menggairahkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ibu bener-bener wanita tercantik yang pernah kulihat", gumamku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bu Mulan kemudian mengikuti aksiku tadi dengan mulai mencopot pakaian yang kukenakan. Namun dia lebih garang lagi karena pakaianku tanpa bersisa, polos. Mr. Happy yang sedari tadi tegang kini seakan menunjukkan kehebatannya dengan berdiri tegak menantang Bu Mulan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kamu ganteng Ndy", katanya seraya tanganya meraup penis ku dan ahh bibir mungilnya sudah mengulum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oh nikmatnya. Sentuhan bibir dan sapuan lidahnya diujung Penis ku bener-bener bikin sensasi dan membuat nafsu meninggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku nggak tahan untuk berdiam diri menerima sensasi saja. Kudorong tubuhnya keranjang, kuloloskan celana dalam dan BH-nya. Sambil masih tetap menikmati jilatan Bu Mulan, aku meraih dua payudara miliknya dan kuremas-remas. Tanganku merayap keselangkangannya. Jari tengahku menyentuh itilnya dan mulai mengelus, basah. Bu Mulan terhentak. Sesekali jari kumasukkan kedalam bibir ngewe nya. Berusaha membuat sensasi dengan menyentuh G-spot-nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Atas inisiatifku kami bertukar posisi, gaya 69. Jilatan lidahnya semakin sensasional dengan menulur hingga ke pangkal penis ku. Dua buah bijiku diseruputnya Bener-bener enak. Gantian aku merangkai kenikmatan buat Bu Mulan, kusibakkan rambut-rambut halus yang tertata rapi dan kusentuh labia mayoranya dengan ujung lidah. Dia menggeliat. Tanpa kuberi kesempatan untuk berpikir, kujilati semua sudut bibir ngewe nya, itilnya kugigit-gigit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bu Mulan menggelinjang tajam dan, "Ndy aku keluar lo.. nggak tahan", katanya disela rintihan. Tubuhnya menegang dan tiba-tiba terhempas lemas, Bu Mulan orgasme puncak ngewe.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku bangga juga bisa membuat wanita cantik ini puas hanya dalam lima menit jilatan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Enak Ndy, aku bener-bener nafsu sama kamu. Dan ternyata kamu pintar muasin aku, makasih ya Ndy", ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Jangan terima kasih dulu Bu, soalnya ini belum apa-apa, nanti Andy kasi yang lebih dahsyat", sahutku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kulihat matanya berbinar-binar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Bener ya Ndy, puasin aku, sudah setahun aku nggak merasakan puncak ngewe, suamiku sudah bosan kali sama aku", bisiknya agak merintih lirih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hanya berselang liam menit kugiring tubuh Bu Mulan duduk diatas pinggulku. Penis kumasukkan ke dalam bibir ngewe nya dan bless, lancar karena sudah basah. Tanpa dikomando Bu Mulan sudah bergerak naik turun. Posisi ini membuat ku bernafsu karena aku bisa menatap tubuh indah putih mulus dengan wajah yang cantik, sepuasnya. Lama kami bereksplorasi saling merangsang. Terkadang aku mengambil posisi duduk dengan tetap Bu Mulan dipangkuanku. Kupeluk tubuhnya kucium bibirnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ahh enak sekali Ndy", ntah sudah berapa kali kata-kata ini diucapkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penis ku yang belum terpuaskan semakin bergejolak disasarannya. Aku lantas mengubah posisi dengan membaringkan tubuh Bu Mulan dan aku berada diatas tubuh mulus. Sambil mencium bibir indahnya, kumasukkan Penis ke bibir ngewe nya. Pinggulku kuenjot naik turun. Kulihat Bu Mulan merem-melek menahan kenikmatan. Pinggulnya juga mulai bereaksi dengan bergoyang melawan irama yang kuberikan. Lama kami dalam posisi itu dengan berbagai variasi, kadang kedua kakinya kuangkat tinggi, kadang hanya satu kaki yang kuangkat. Sesekali kusampirkan kakinya ke pundakku. Bu Mulan hanya menurut dan menikmati apa yang kuberikan. Mulutnya mendesis-desis menahan nikmat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiba-tiba Bu Mulan mengerang panjang dan "Ndy, aku mau keluar lagi, aku bener-bener nggak tahan", katanya sedikit berteriak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Aku juga mau keluar nih.. bareng yuk", ajakku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan beberapa detik kemudian kami berdua melolong panjang "Ahh..".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kurasakan spermaku menyemprot dalam sekali dan Bu Mulan tersentak menerima muntahan lahar panas Penis ku. Kami sama sama terkulai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kamu hebat Ndy, bisa bikin aku puncak ngewe dua kali dalam waktu dekat", katanya disela nafas yang tersengal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku cuma bisa tersenyum bangga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Bu Mulan nggak salah milih orang, aku hebat kan?" kataku berbangga yang dijawabnya dengan ciuman mesra.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah mengaso sebentar Bu Mulan kemudian menuju kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan shower. Dari luar kamar mandi yang pintunya nggak tertutup aku menadang tubuh semampai Bu Mulan. Tubuh indah seperti Bu Mulan memang sangat aku idamkan. Aku yang punya kecenderungan sexual Udipus Comp-lex bener-bener menemukan jawaban dengan Bu Mulan. Bosku ini bener-bener cantik, maklum mantan peragawati. Tubuhnya terawat tanpa cela. Aku sangat beruntung bisa menikmatinya, batinku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penis ku tanpa dikomando kembali menegang melihat pemandangan indah itu. Perlahan aku bangun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Bu Mulan yang lagi merem menikmati siraman air dari shower kaget ketika kupeluk. Kami berpelukan dan berciuman lagi. Kuangkat bokong nya dan kududukkan di meja toalet. Kedua kakinya kuangkat setengah berjongkok lalu kembali kujilati bibir ngewe nya. Bu Mulan kembali melolong. Ada sekitar lima menit keberi dia kenikmatan sapuan lidahku lantas kuganti jilatanku dengan memasukkan Mr. Happyku. Posisiku berdiri tegak sedangkan Bu Mulan tetap setengah berjongkok di atas meja. Kugenjot bokong ku dengan irama yang pasti. Dengan posisi begini kami berdua bisa melihat jelas aktifitas keluarmasuknya Penis dalam bibir ngewe , dua-duanya memerah tanda nikmat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah puas dengan posisi itu kutuntun Bu Mulan turun dan kubalikkan badannya. Tangannya menumpu di meja sementara badannya membungkuk. Posisi doggie style ini sangat kusukai karena dengan posisi ini aku ngerasa kalau bibir ngewe bisa menjepit punyaku dengan mantap. Ketika kujebloskan si Penis , uupps Bu Mulan terpekik. Kupikir dia kesakitan, tapi ternyata tidak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Lanjutin Ndy, enak banget.. ohh.. kamu hebat sekali", bisiknya lirih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada sekitar 20 menit dalam posisi kesukaanku ini dan aku nggak tahan lagi mau keluar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Bu.. aku keluar ya", kataku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ayo sama-sama aku juga mau", balasnya disela erangan kenikmatannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan.. ohh aku lagi-lagi memuncratkan sperma kedalam bibir ngewe nya yang diikuti erangan puas dari Bu Mulan. Aku memeluk kencang dari belakang, lama kami menikmati sensasi multi puncak ngewe ini. Sangat indah karena posisi kami berpelukan juga menunjang. Kulihat dicermin kupeluk Bu Mulan dari belakang dengan kedua tanganku memegang dua payudaranya sementara tangannya merangkul leherku dan yang lebih indajh, aku belum mencopot si Mr. Happy.. ohh indahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selesai mandi bersama kamipun memesan makan. Selesai makan kami kembali kekantor dengan mobil sendiri-sendiri. Sore hari dikantor seperti tidak ada kejadian apa-apa. Sebelum jam pulang Bu Mulan memanggilku lewat sekretarisnya. Duduk berhadapan sangat terasa kalau suasananya berobah, tidak seperti kemarin-kemarin. Sekarang beraroma cinta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ndy, kamu mau kan kalau di kantor kita tetep bersikap wajar layaknya atasan sama bawahan ya. Tapi kalo diluar aku mau kamu bersikap seperti suamiku ya", katanya tersenyum manja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Baik Bu cantik", sahutku bergurau.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum keluar dari ruangannya kami masih sempat berciuman mesra.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejak itu aku resmi jadi suami simpanan bos ku. Tapi aku menikmati karena aku juga jatuh cinta dengan wanita cantik idaman hati ini. Sudah setahun hubungan kami berjalan tanpa dicurigai siapapun karena kami bisa menjaga jarak kalau di kantor.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-5945078223903454463?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/5945078223903454463/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-bossku-yang-montok.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/5945078223903454463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/5945078223903454463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-bossku-yang-montok.html' title='Cerita NGEWE | Bossku yang Montok'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-1263226104480906123</id><published>2009-04-25T12:06:00.000-07:00</published><updated>2010-06-20T02:26:50.970-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Selingkuh'/><title type='text'>Ngewe | Tetangga Sayang</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ngewe | Tetangga Sayang. Sebut saja namaku Pram, aku adalah suami dari seorang istri yang menurutku sungguh sangat sempurna. Namun begitu sebagaimana layaknya sebuah pepatah, rumput tetangga sangatlah segar, itu yang berlaku dalam kehidupanku. Walaupun pelayanan yang kuterima dari istriku sungguh tidak kurang suatu apapun, masih juga terlintas dalam anganku fantasi yang menggairahkan setiap kali Tante Amy lewat di depan rumah.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tante Amy adalah seorang pengusaha Garment yang cukup ternama di kota Solo. Kalau tidak salah tafsir, usia Tante Amy sekitar 38 tahun, sementara suaminya adalah pemilik sebuah penginapan di Pantai Senggigi Pulau Lombok. Barangkali karena lokasi usaha pasutri ini yang berjauhan, mungkin itulah penyebab mereka sampai sekarang ini belum dikaruniani momongan. Tapi sudahlah, itu bukan urusanku, karena aku hanya berkepentingan dengan pemilik betis kaki yang berbulu halus milik Tante Amy yang selalu melintas dalam setiap fantasi seksku. Kalau menurut penilaianku betis kaki Tante Amy bak biji mentimun, sementara gumpalan buah dada, bokong maupun leher Tante Amy sangatlah sejuk kurasakan seiring dengan air liurku yang tertelan dalam kerongkonganku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sore.., sehabis kubersihkan Tiger 2000-ku, terlihat Tante Amy keluar dari mobil. Saat itulah sejengkal paha putih di atas lutut tertangkap oleh mataku tidak urung kelaki-lakianku berdenyut juga. Lamunanku buyar oleh panggilan istriku dari teras samping. Sesuai rencana, aku akan mengantar istriku untuk berbelanja ke pasar untuk membeli oleh-oleh yang akan dibawa pulang ke Kalimantan (perlu kujelaskan di sini, istriku berasal dari Kalimantan Selatan).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Malam terakhir sebelum keberangkatan istriku beserta putra putriku ke Kalimantan sungguh suatu malam yang menggairahkan buatku. Bagaimana tidak, setelah sekian minggu tidak pernah kulihat istriku minum ramu-ramuan anti hamil, malam ini dia kulihat sibuk di dapur mengaduk dua buah gelas jamu, satu untuknya satu untukku. Anak-anak asyik main video game di ruang keluarga di temani Ryan adikku. Kode rahasia dari kelopak mata istriku mengajakku masuk ke kamar tidur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah mengunci pintu kamar, aku duduk di kursi sambil mengupas apel, sementara istriku yang mengenakan gaun tembus pandang sedang meletakkan dua buah gelas berisi rahasia kedahsyatan permainan ranjangku di meja di dekatku. Tonjolan payudara yang amat terawat bagus itu menyembul tepat di depan mataku. Pembaca yang budiman, cita rasa hubungan seksku adalah menarinya Citra istriku mengawali kisah ranjang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah kuminum jamu, aku mendekati Citra sambil memandangi dari ujung kaki sampai ujung rambut panjang sebahunya perlahan kutelusuri. 15 menit sudah berlalu, Citra mulai melepas satu persatu pakaiannya hingga akhirnya tinggal BH dan celana dalamnya yang menutupi point penting persembahan untukku. Kudekap Citra sambil kucium mata indahnya, desahan napas terasa hangat terhembus di helaian bulu dadaku. Lidahku yang terjulur memasuki mulut Citra dan perlahan bergerak memutari langit-langit rongga mulut istriku. Balasan yang kurasakan sangatlah hangat menggetarkan bibirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tangan Citra yang melingkari tubuhku bergerak melucuti bajuku. Sementara jilatan lidahku mampir mendarati leher yang putih bergelombang bak roti bolu itu. Jilatanku pindah ke belakang leher dan daun telinganya. Pelukanku memutar ke belakang diikuti belaian tanganku memutari gumpalan payudara yang semakin mengeras. Tidak urung telapak tanganku semakin gemetaran, kuremas halus payudara Citra dengan tangan kananku sementara tangan kiriku meraba dan mengusap sekujur pusaran. Citra mendesah-desah sambil memegang klitorisnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ouch.., uhh. Mas antar aku ke puncak sanggama buat sanguku pisah tiga minggu denganmu..!" permohonan Citra memang selalu begitu setiap bersetubuh. &lt;br/&gt;"Janganlah terlalu banyak bicara Citraku, lebih baik kita nikmati malam ini dengan desah napasmu, karena desah napas dan erangan kepuasanmu akan membuatku mampu mengantarmu ke puncak berulang-ulang. Kau tahu kan penyakitku, semakin kau mengerang kenikmatan semakin dahsyat pacuan kuda kontolku," jawabku. &lt;br/&gt;"Aacchh.., huuhh.., hest..!" desah napas Citra keluar sambil kedua tangannya memeluk wajahku dan perlahan menuntunnya menelusuri titik-titik kenikmatan yang kata orang titik kenikmatan perempuan ada beratus-ratus tempatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memang sampai saat ini aku tidak pernah menghitung entah ada berapa sebenarnya titik itu, yang jelas menurutku tubuh perempuan itu seperti permen yang semuannya enak dirasa untuk dijilati, buktinya setiap mili tubuh istriku kujilati selalu nikmat dirasakan Citraku. Perjalanan lidahku lurus di atas bibir ngewe yang kemudian menjilat helaian bulu halus menuju Bibir ngewe . Harum semerbak aroma bibir ngewe wanita asal Kalsel hasil dari Timung (Timung adalah perawatan/pengasapan ramu-ramuan untuk tubuh wanita-wanita asal Suku Kalimantan) membuatku menarik napas dalam-dalam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kulumanku mendarat di bibir bibir ngewe sambil sesekali menarik lembut, membuat Citra menanggapi dengan erangan halus dan tekanan tangannya menekan kepalaku untuk semakin menelusuri kedalaman jilatan lidah mancari biji kedelai yang tersembunyi. Gigitan halus gigiku menarik lembut klitoris merah delima. Tanpa kusadari Citra mengulurkan balon jari kepadaku, jari tengah tanganku yang terbungkus dengan balon karet pelan kumasukkan ke dalam lubang bibir ngewe Citra dan menari di dalam menelusuri dinding lubang senggamanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hsstt.. uuhh.. aduduhh..!" desah napas Citra membuat kedua kakinya gemetaran, "Ayo Mas..! Sekarang..!" pintanya tidak sabar lagi. &lt;br/&gt;Penis ku yang sejak tadi mengejang ditariknya menuju ring ngewe. Penis ku memang tidak seberapa besar, namun panjangnya yang 18,3 cm ini sejak perjaka dulu kupasangi anting-anting, dan hal itu yang membuatku mampu main berulang-ulang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di atas ranjang Citra membuat posisi silang, posisi yang sangat dia senangi. Tanpa membuat roman tambahan, kumasukkan penis ku ke lubang bibir ngewe yang sudah siap tempur itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Uuch.. aacchh.. terus genjot Mas..!" desahnya. &lt;br/&gt;Tanpa mencabut penis ku dari lubang, Citra membuat posisi balik, "Ii.. ii yaa begitu Mas teeruus..!" &lt;br/&gt;Sekali lagi kelenturan hasil fitnest Citra membantu membalik posisi menungging tanpa kucabut penis ku yang masih menancap di liangnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan gerakan katrol kuhujani celah bokong Citra dengan kencang. &lt;br/&gt;Akhirnya, "Uuu.. uch aa.. ach e.. ee.. enakk..!" teriakan kecil Citra membuatku semakin kencang menusuk bibir ngewe nya dengan semakin dahsyat. &lt;br/&gt;"Tunggu aku Cit.. kita sama-sama.. oya.. oy.. yack.. uuhh..!" desahku. &lt;br/&gt;Kupeluk dari belakang tubuh yang terbalut dengan peluh, terasa nikmat sekali. Akhirnya malam ini Citra kewalahan setelah mengalami orgasme sampai lima kali hingga aku telat bangun pagi untuk jogging sambil melihat tubuh indah Tante Amy lari pagi di Minggu yang cerah ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hari ini masuk hitungan ke tiga hari aku ditinggalkan oleh istriku pulang mudik, fantasi Tante Amy selalu hadir dalam kesepianku. Hingga tanpa kusadari pembantu Tante Amy mengetuk pintu depan rumahku. &lt;br/&gt;"Pak Pram saya ke mari disuruh Ndoro Putri minta bantuan Pak Pram untuk memperbaiki komputer Ndoro Putri," kata pembantu Tante Amy. &lt;br/&gt;Ya.. inilah namanya 'kuthuk marani sundhuk' (datang seperti apa yang diinginkan). &lt;br/&gt;"O ya, sebentar nanti saya susul." kusuruh Bik Ijah pulang duluan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kulo nuwun.." kekethuk pintu depan rumah Tante Amy tanpa kudengar jawaban, hanya klethak.. klethok suara langkah kaki menuju pintu yang ternyata Tante Amy sendiri yang datang. &lt;br/&gt;"Silahkan masuk Dik Pram, Tante mau minta tolong komputer Tante kena Virus. Silahkan langsung saja ke ruang kerja Tante." &lt;br/&gt;Tanpa berkata-kata lagi aku masuk menuju ruang kerja Tante Amy yang menurutku seperti kamar Hotel 7 (Obat Sakit Kepalaku yang sedang puyeng ngelihat lenggak-lenggok jalan Tante Amy di depanku).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejujurnya kukatakan aku sudah tidak karuan membayangkan hal-hal yang menggairahkan. Sambil aku menunggu Scan Virus berjalan, kutelusuri pelosok ruangan kerja Tante Amy (sengaja kuhilangkan label Tante di depan nama Amy untuk menghibur dan membuat fantasi di benakku tentang kharisma seksualitas pemilik ruangan ini). Khayalanku buyar dengan kedatangan si pemilik ruang kerja ini. Pendek kata, sambil kerja aku di temani ngobrol oleh Tante Amy kesana kesini sampai akhirnya Tante Amy menyinggung rasa kesepiannya tanpa kehadiran anak di rumah yang megah ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;"Dik Pram nggak tahu betapa hampa hidup ini walau terguyur dan tertimbun harta begini tanpa kebersamaan suami dan hadirnya anak. Selain Om Jhony itu nggak bisa ngasih keturunan yang dapat memberikan kehangatan keluarga. Keadaan ini membuatku butuh teman untuk menghapus kekeringanku." cerita Tante Amy membuat kelakianku langsung bangun.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Perkawinanku diambang kehancuran karena kerasnya mertuaku menuntut kehadiran cucu-cucu untuk mewarisi peninggalan Papanya Om Jhon. Sebenarnya jujur kukatakan Om Jhony nggak mau pisah denganku, apapun yang terjadi. Malah pernah diluar kewajarannya sebagai seorang Suami dan kepala Rumah Tangga, Om Jhony pernah memintaku untuk membuat Bayi tabung." cerita Tante Amy tidak seratus persen kuperhatikan, karena aku lebih tertarik melihat betis biji timun Tante Ami dan pahanya tersingkap karena terangkat saat duduk di sofa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ternyata tanpa kusadari sebenarnya Tante Amy memancing hasratku ngewe secara tidak langsung. Walau sedikit ragu aku semakin mengarahkan pembicaraan ke arah permainan ngewe. Tanpa sadar aku pindah duduk di dekat Tante Amy, dan tanpa permisi kupegang dan kuremas tangannya. Ternyata perlakuanku itu tidak mendapatkan penolakan sama sekali. Hingga akhirnya dalam posisi berdiri kudorong Tante Amy ke tembok dan kucium bibir merekah delima itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan hasrat yang menggebu-gebu aku agak kasar dalam permainan, sehingga terbawa emosi menyerang sekujur tubuh Tante Amy yang tentunya takut ketahuan pembantu. Permainanku berhenti sejenak karena Tante Amy bergegas menutup pintu. Dan mungkin karena Tante Amy telah sekian lama kering tidak pernah disemprot air mani suaminya, dia terkesan terburu-buru. Dengan cepat dia melepas pakaiannya satu persatu hingga menyisakan BH dan celana dalamnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kini aku tahu betapa indahnya rumput tetangga dan betapa dahsyatnya gairahku. Kudorong Tante Amy rebah di atas meja kerja dengan tangan kananku meremas payudaranya yang kenyal karena belum pernah melahirkan. Terasa nikmat sekali payudaranya kuremas-remas, sementara tangan kiriku melepaskan celana dalam biru lautnya. Aduh itu bulu-bulu halusnya membuatku merinding. Tidak kuingat aku siapa Amy itu siapa.., Nilam dan Ziddan (anakku) yang sedang jauh di sana, semuanya kulupakan karena aku sudah terselimuti nafsu ngewe duniawi. Aku semakin menggila melumat dan menjilat, meraba serta meremas bokong Tante Amy yang sekal plus mulus terawat ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tante Amy menggelinjang kenikmatan merasakan pelayananku. Bibir ngewe Tante Amy ternyata masih teramat kuat mencengkeram penis ku yang membuatnya terbelalak kagum plus ngeri melihat anting-anting yang kupasang di bawah ujung kepala penis ku. Tante Amy tidak sabar menanti nikmatnya ditusuk pistol kejantananku. Lagi-lagi Tante Amy kelewat terburu-buru menyerangku yang akhirnya aku merasa sedang diperkosanya. Anting-anting yang maha dahsyat tergantung setia selalu bertahun-tahun kupakai terasa sakit oleh hisapan dan kuluman serta gigitan giginya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lidah Tante Amy berputar memutari penis ku. Aku menggelinjang tidak karuan. Pikir punya pikir inilah hasil dari pikiran kotorku selama ini, ya sudah, kunikmati saja walau sakit. Mendadak Tante Amy ganas menyerangku, didorongnya aku ke sofa, dengan posisi duduk bersandar aku menerima tindihan tubuh indah Tante Amy yang posisinya membelakangiku. Kemudian dipegangnya pistol gombyokku dan diarahkan ke bibir ngewe nya. Lalu dengan ngos-ngosan Tante Amy naik turun menekanku, ini berlangsung kurang lebih 15 menit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kini posisi Tante Amy menghadapku. Lagi-lagi dipegang penis ku dan dimasukkan ke liang bibir ngewe nya. Nah.., ini baru membuatku merasa enak karena aku dapat dengan leluasa mengulum putingnya dan mengusap-usap bulu halus betis biji timunnya. Goyang sana goyang sini, sekarang dengan kekuatanku kuangkat tubuh Tante Amy dengan posisi berdiri. Kunaik-turunkan dan kurebahkan di sofa tubuhnya. Kutaruh kaki indah ini di bahuku, kuhujani Tante Amy dengan gesekan-gesekan tajam. Dalam hal ini dia mulai merasa tidak tahan sama sekali, kakinya yang melingkar di bahuku semakin kencang menjepitku. Dia mengerang kenikmatan mencapai klimaks ngewe.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku merasa heran, aku merasa belum mau keluar. Sudah berbagai posisi kulakukan, belum juga keluar. Tante Amy semakin merintih kewalahan, aku tidak mau melepaskan hujanan-hujananku. Anting-anting saktiku membantu membuatku dapat main sampai empat kali Tante Amy mengalami orgasme ngewe nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hingga pada suatu ketika aku merasa mendekati pelabuhan, kubiarkan penis ku tertanam dan tertimbun bulu-bulu bibir ngewe nya yang tidak seharum punya Citra, istriku. Tanpa sadar aku terikat kenikmatan sedang ngewe dengan istri orang. Lalu laharku muntah di dalam bibir ngewe bersamaan dengan orgasme Tante Amy untuk yang kelima kalinya. Aku lemas dengan masih membiarkan penis ku yang terbenam dan tertimbun bulu bibir ngewe nya. Aku terkulai merasa hangat di atas tubuh Tante Amy yang basah oleh keringat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lama-lama aku sadar, aku bangun tapi kok Tante Amy tidak bergerak. Ach.., mungkin dia tertidur kenikmatan. Kutepis anganku dari pikiran yang tidak-tidak. Aduh mak, Tante Amy ternyata pingsan. Tapi melihat seonggok tubuh montok berbulu halus, gairahku tumbuh lagi. Perlahan kujilat dari ujung kaki sampai pangkal paha dengan membalik posisi pistolku menindih wajahnya. Kukulum bibir ngewe Tante Amy sampai tiba-tiba aku kelelahan dan tertidur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhir cerita, perbuatanku ini berlangsung terus tanpa setahu suami Tante Amy dan Istriku. Sampai suatu hari kutahu Tante Amy sedang hamil tua yang tidak lain karena mengandung benihku, tapi herannya hubungan Tante Amy dengan suaminya tambah mesra. Kutahu juga belakangan hari mertua maupun orangtua Tante Amy sering hadir di rumah yang letaknya di depan rumahku.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-1263226104480906123?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/1263226104480906123/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-tetangga-sayang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1263226104480906123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1263226104480906123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-tetangga-sayang.html' title='Ngewe | Tetangga Sayang'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-4915505438876197101</id><published>2009-04-23T11:55:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T11:55:00.572-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE'/><title type='text'>Cerita NGEWE | Nafsu Perawat Senior</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p&gt;            &lt;strong&gt;Nama saya Setiowati, umur saya 22 tahun, saya baru lulus dari Akademi Perawat di salah satu kota kecil di Jawa Timur. Sekarang saya bekerja di Rumah Sakit Swasta di kota Y, baru satu bulan ini saya bekerja.&lt;/strong&gt;          &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya tinggal di rumah Tante, secara keseluruhan saya sudah tinggal 6 bulan di kota ini untuk mencari kerja, untunglah akhirnya saya mendapat pekerjaan di Rumah Sakit tersebut. Sebagai orang baru di Rumah Sakit ini, saya banyak mendapat teman dan kenalan baru. Salah satunya adalah Kepala Bangsal Bedah, atasan saya langsung, dimana saya ditempatkan. Ibu Winantu kami memanggilnya, umurnya hampir 40 tahun, akan tetapi sampai sekarang belum menikah juga, walaupun kalau saya lihat sebenarnya Kepala Bangsal saya ini wajahnya cantik, bentuk badannya sensual dan kulitnya putih bersih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya mendengar selentingan kabar dari teman-teman di sini, kalau Ibu Winantu sebenarnya simpanan salah satu dokter Kebidanan dan Kandungan yang juga bekerja di Rumah Sakit yang sama. Sebagai Kepala Bangsal Bedah, Ibu Winantu sangat disegani, karena selain secara fisik lebih besar dari rata-rata perawat bangsal Bedah, juga mulutnya sangat pedas, terutama untuk perawat-perawat yang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang lebih menarik pula, gelang dan cincin berlian di tangan, juga jam tangannya yang bertuliskan "Cartier". Pantaslah kalau gosip itu benar, Ibu Winantu simpanan salah satu dokter kaya yang juga bekerja di Rumah Sakit ini. Sebagai perawat, kami kadang bergiliran bertugas jaga 24 Jam, kebiasaannya di bangsal saya yang bergiliran jaga adalah perawat senior dan junior, tidak terkecuali saya dan Ibu Winantu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada suatu hari, saya mendapat jadwal tugas jaga bersama Ibu Winantu. Sebenarnya saya sangat takut, karena selain saya masih baru, saya juga "ngeri" padanya. Ada yang membuat saya terkejut, ketika semua perawat teman-teman saya selesai bertugas jam 14.00, tinggal kami berdua sebagai perawat jaga hari itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Dik Wati", Ibu Winanti memanggil sambil tersenyum. &lt;br/&gt;"Iya, bu", kaget saya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum ini, terutama ketika bertugas pagi hari, tidak pernah sekalipun Ibu Winantu memanggil saya dan teman-teman yang lain dengan sebutan "Dik", apalagi memanggilnya sambil tersenyum. Mimpi apa saya ini? &lt;br/&gt;"Ini, statusnya dilengkapi dan periksa ulang Suhu dan Tensi untuk kamar 9 dan 10″. &lt;br/&gt;"Iya, Bu", saya seperti kerbau dicocok hidung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Segera saya lakukan perintahnya. Setelah selesai, menyusul perintah-perintah "manis" yang lain, saya hanya bisa menuruti. Walaupun saya iri juga padanya, karena Ibu Winantu hanya duduk manis di meja counter depan Bangsal Bedah sambil menonton TV.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya selesai juga perintah-perintah "Sang Ratu", jam sudah menunjukkan jam 17.00, saatnya jadwal kunjung pasien. Pada saat ini biasanya perawat jaga saatnya untuk beristirahat dan mandi sampai selesainya jadwal kunjung pasien. Saya kelelahan, tapi inilah resikonya sebagai perawat yunior. Saya masuk ke kamar jaga perawat, dan merebahkan diri untuk tidur-tiduran sebantar sambil beristirahat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak berapa lama kemudian Ibu Winantu masuk ke kamar juga, dia juga ikutan rebahan di tempat tidur yang lain. Mulailah dia menginterogasiku. &lt;br/&gt;"Sudah punya pacar, dik?". &lt;br/&gt;"Dulu, Bu". &lt;br/&gt;"Dulu waktu sekolah di Akper juga tinggal di asrama Akper?". &lt;br/&gt;"Iya". &lt;br/&gt;Ibu Winantu tertawa, "Kenapa Bu, kok tertawa?". &lt;br/&gt;"Hayo, dulu waktu di asrama sering nonton BF bersama-sama, tho?". &lt;br/&gt;"Iya, kok ibu tahu?". &lt;br/&gt;"Saya dulu waktu masih sekolah juga sama saja dengan Dik Wati".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah itu malahan Ibu Winantu cerita mengenai BF dengan detail dan cerita-cerita mengenai main kucing-kucingan memasukkan cowok ke asrama dan hal-hal porno lainnya, sambil tertawa-tawa. Walaupun geli di telinga mendengarnya, saya menanggapinya dengan malu-malu karena itulah yang juga kami sering lakukan di asrama. Walaupun saya menjadi tidak jenak, akan tetapi senang juga mendengarkan cerita-cerita itu sambil mengingat masa-masa sekolah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Dik Wati, pernah "main" dengan pacarnya?". &lt;br/&gt;"Belum, Bu". &lt;br/&gt;"Oh, nanti saya ajarin". &lt;br/&gt;"Baik, Bu", jawab saya asal-asalan, saya pikir itu kan hanya cerita-cerita omong kosong, walaupun saya juga tidak punya niat serius mendapat pelajaran dari Ibu Winantu. &lt;br/&gt;"Saya mandi dulu, Bu". &lt;br/&gt;"Ya, nanti saya menyusul".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Wah, asyik juga, kalau Bu Winantu mau mandi bersama saya. Karena dulu waktu di asrama, saya sering pula mandi berdua dengan teman-teman, sebagaimana pula dengan teman-teman yang lain. Kadang kami sering kagum dengan badan dan payudara teman yang lain, walaupun sering mandi bersama tidak pernah terjadi seperti yang ada di BF, apa itu namanya? Lesbian?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ditengah saya mandi, terdengar ketukan di pintu. &lt;br/&gt;"Siapa, yaa?". &lt;br/&gt;"Saya, dik", suara Ibu Winantu menyahut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya bukakan pintu kamar mandi, tentu saja saya dalam keadaan bugil . Ibu Winantu langsung masuk ke kamar mandi, dan melepas bajunya satu persatu. Saya berhenti mandi dan hanya memandanginya, saya berdebar-debar ingin melihat "peralatan" Ibu Winantu.Ternyata betul dan nyatalah Ibu Winantu sekarang sudah bugil pula bersama saya di kamar mandi. Kulitnya putih mulus, payudaranya agak besar, mungkin cup B, perutnya rata dan rambut bibir ngewe nya lebat. Dibanding kulit saya yang lebih coklat dan rambut bibir ngewe saya yang hanya sedikit sekali, saya iri juga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kenapa dik?", Ibu Winantu membangunkan lamunan sesaat saya, sambil tersenyum. &lt;br/&gt;"Ndak, Bu, ndak apa-apa".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Oh, rambut yang bawah hanya sedikit yaa", sambil tangannya menjulur mengelus liang surgaku. Saya terkesiap, ada perasaan aneh pada vagina saya ketika tangannya mengelus lembut vagina saya. (saya teringat dulu ketika di asrama, kadang kalau mandi bersama teman yang lain, sering guyonan mengelus vagina teman lain seperti itu, tapi tidak ada rasa apa-apa). Secara refleks pula saya menarik napas panjang dan menutup mata. &lt;br/&gt;"Kenapa dik, nikmat?". &lt;br/&gt;Saya membuka mata dan tersipu malu. &lt;br/&gt;"Oh.., belum pernah yaa", Ibu Winantu tersenyum, sambil matanya menyempit memperhatikan saya. Saya juga hanya tersenyum sambil menggigit bibir. Saya ingin Ibu Winantu mengelus vagina saya lagi seperti tadi, kata saya dalam hati.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya merasa itu terjadi begitu cepat, tiba-tiba Ibu Winantu berjongkok di hadapan saya dan mulai menjilati vagina saya. Saya kaget dan keenakan. Sambil berdiri, saya sandarkan punggung saya ke tembok kamar mandi. Saya tidak bisa dan tidak mau menolaknya, saya ingin menikmatinya. Ibu Winantu sangat ahli menjilati vagina saya, dengan lembut dia membuka lebar paha saya dan membuka pelan-pelan bibir bibir ngewe luar saya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya merasakan sangat nikmat di bawah sana, di bibir ngewe saya, ketika lidah Ibu Winantu menjilat-jilat bibir ngewe bagian dalam saya, sungguh nikmat dan nikmat sekali, terutama ketika bibirnya yang basah menjilati klitoris saya. Saya menutup mata menikmatinya, payudara saya juga ikut mengeras, kedua tangan saya meremas bahu Ibu Winantu yang berjongkok di depan saya. Saya menutup rapat-rapat bibir saya, sambil menggigit kencang bibir saya, nikmat sekali, nikmat sekali. Hanya napas saya makin lama makin berat, dan makin lama saya makin merasa bibir ngewe saya makin basah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ooohh..", saya mendesah agak keras, saya merasa melayang dan lupa segala dalam sesaat. Bibir ngewe saya bagian dalam terasa berdenyut-denyut berkepanjangan, tubuh saya serasa melayang dengan segala rasa yang pernah saya alami. Untuk pertama kalinya saya merasa mulai mengetahui bibir ngewe saya sendiri dan kenikmatannya yang luar biasa. (itu namanya orgasme, yaa).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sudah, dik?", suara Ibu Winantu menyadarkanku. &lt;br/&gt;"Maaf, Bu", sambil saya memeluk tubuh bugil Ibu Winantu yang sudah kembali berdiri di hadapan saya. Saya merasa ingin dibelai dan disayangi, di samping tubuh saya yang mendadak lemas, setelah merasakan puncak kenikmatan tadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tidak apa-apa", Ibu Winantu masih tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Wajar saja, tidak usah khawatir", Ia melanjutkan. Sambil dipeluknya tubuh saya yang juga bugil . Dia raih kepala saya, dan diciumnya bibir saya dengan lembut, lidahnya juga masuk ke dalam mulutku, menjilati lidah saya. Untuk pertama kalinya pula saya merasakan ciuman dari seorang wanita, apalagi wanita matang dan berpengalaman seperti Ibu Winantu. Ternyata lebih nikmat dan halus, dibanding ketika pertama kalinya saya merasakan ciuman dari seorang cowok.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ayo dik, lekas mandinya". "Nanti malam giliran saya ya", Ibu Winantu tersenyum penuh arti pada saya. Saya mengangguk pelan, dan ingin "waktu" itu segera datang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Malam itu, setelah tugas-tugas sebagai perawat telah selesai, di kamar tidur perawat saya belajar "melayani" Ibu Winantu, ternyata indah sekali. Sungguh hari itu, sore dan malam yang tidak terlupakan.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-4915505438876197101?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/4915505438876197101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-nafsu-perawat-senior.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/4915505438876197101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/4915505438876197101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-nafsu-perawat-senior.html' title='Cerita NGEWE | Nafsu Perawat Senior'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-3241904276150291956</id><published>2009-04-19T11:43:00.000-07:00</published><updated>2009-04-28T21:20:31.552-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Mertua'/><title type='text'>Cerita NGEWE | Goyangan Ibu Mertua</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;&lt;ap&gt;I&lt;/ap&gt;ni adalah salah satu pengalaman nyata dari kehidupan sex-ku selama ini. Aku Roy, 32 tahun. Menikah, punya 2 anak. Istriku sangat cantik. Banyak yang bilang mirip bintang sinetron ternama saat ini. Kami tinggal di Bandung. Yang akan aku ceritakan adalah hubunganku dengan mertua aku sendiri.&lt;/strong&gt;&lt;p&gt;Mertua aku tinggal di kota P, masih wilayah Jawa Barat. Suatu waktu aku ada tugas kerja ke kota P tersebut. Aku pergi naik motor. Sesampainya di kota P, aku langsung menyelesaikan tugas dari kantor. Setelah selesai, aku sengaja singgah dulu ke rumah mertua untuk istirahat. Sesampai di rumah, mertua perempuanku datang menyambut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kok sendirian Roy? Mana anak istrimu?" tanya mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Saya ada tugas kantor disini, Ma. Jadi mereka tidak saya ajak. Lagian saya cuma sebentar kok, Ma. Hanya mau numpang mandi dan istirahat sebentar," jawabku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"O begitu.. Akan mama siapkan makanan buat kamu," ujar mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu aku mandi. Setelah itu aku segera ke meja makan karena sudah sangat lapar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Papa mana, Ma?" tanyaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Papa lagi ke rumah temannya ngurusin obyekan," jawan mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kamu mau pulang jam berapa, Roy?" tanya mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Agak sorean, Ma. Saya akan tidur sebentar. Badan pegal hampir 3 jam naik motor dari Bandung," kataku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kalau begitu ganti baju dulu dong. Nanti kusut kemeja kamu," ujar mertuaku sambil bangkit menuju kamarnya. Lalu dia datang lagi membawa kaos dan kain sarung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ini punya Papa, pakailah nanti," kata mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Iya, Ma," kataku sambil terus melanjutkan makan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mertuaku berumur 42 tahun. Sangat cantik mirip istriku. Badan ramping, payudara besar walau agak turun karena usia. Pantatnya sangat padat. Setelah berganti pakaian, aku duduk di ruang tamu sambil nonton TV.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Loh katanya mau tidur?" tanya mertuaku sambil duduk di kursi yang sama tapi agak berjauhan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sebentar lagi. Ma. Masih kenyang," ujarku. Lalu kami nonton TV tanpa banyak bicara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tahukah kamu, Roy.. Bahwa mama sangat senang dengan kamu?" tanya mertuaku kepadaku memecah kesunyian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kenapa, Ma?" tanyaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Dulu sejak pertama kali datang kesini mengantar istrimu pulang, mama langsung suka kamu. Ganteng, tinggi, sopan, dan ramah," kata mertuaku. Aku hanya tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sekarang kamu sudah menikahi anak mama dan sudah punya anak 2, tapi kamu tetap sama seperti yang dulu..," kata mertuaku lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Mama sangat sayang kamu, Roy," kata mertuaku lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Saya juga sayang mama," ujarku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ada satu hal yang ingin mama lakukan, tapi tidak pernah berani karena takut jadi masalah..," kata mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Apa itu, Ma?" kataku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Mama ingin memeluk kamu walau sebentar..," ujar mertuaku sambil menatapku dengan mata sejuk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kenapa begitu, Ma?" tanyaku lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Karena dulu mama sangat suka kamu. Sekarang ditambah lagi rasa sayang," kata mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku tatap mata mertuaku. Kemudian aku tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Saya yang akan peluk mama sebagai rasa sayang saya ke mama," ujarku sambil beringsut mendekati mertuaku sampai badan kami bersentuhan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian aku peluk mertuaku erat. Mertuakupun balas memeluk aku dengan erat sepertinya tidak mau melepas lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Boleh mama cium kamu Roy? Sebagai tanda sayang?" tanya mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku agak kaget. Aku lepaskan pelukanku, lalu tersenyum dan mengangguk. Mertuaku tersenyum, lalu mencium pipi kiri, pipi kanan, kening. Lalu.. Mertuaku menatap mataku sesaat kemudian mengecup bibirku. Aku sangat kaget. Tapi aku tetap diam, dan ada sedikit rasa senang akan hal itu. Selang beberapa detik mertuaku kembali mengecup bibirku.. Dan melumatnya sambil merangkulkan tangannya ke pundakku. Secara spontan aku membalas ciuman mertuaku. Kami saling hisap, mainkan lidah.. Nafas mertuaku terdengar agak cepat. Tangan mertuaku masuk ke dalam kain sarung, lalu menyentuh penis ku dari luar CD. Tangannya lalu mengusap pelan lalu mulai meremas penis ku. Penis ku langsung tegang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiba-tiba.. Kringg! Krinngg! Bunyi telepon mengagetkan kami. Kami langsung memisahkan diri. Mertuaku langsung bangkit menuju telepon. Entah apa yang dibicarakan. Karena merasa agak bersalah, aku segera masuk ke kamar, menutup pintu, lalu merebahkan diri di kasur. Terbayang terus peristiwa tadi berciuman dengan mama mertua sambil merasakan nikmatnya diremas penis . Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Kemudian pintu terbuka. Mertuaku masuk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sudah mau tidur, Roy?" tanya mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Belum, Ma," ujarku sambil bangkit lalu duduk di tepi ranjang. Mertuaku juga ikut duduk di sampingku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kamu marah tidak atas kejadian tadi," tanya mertuaku sambil menatap mataku. Aku tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tidak, Ma. Justru saya senang karena ternyata mama sangat sayang dengan saya," jawabku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mertuaku tersenyum lalu memegang tanganku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sebetulnya dari dulu mama memimpikan hal seperti ini, Roy," ujar mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tapi karena istrimu dan papamu selalu ada, ya mama hanya bisa menahan perasaan saja..," ujar mertuaku sambil mencium bibirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akupun segera mebalas ciumannya. Dan sekarang aku mulai berani. Tanganku mulai meraba payudara mertuaku dari luar dasternya. Aku meremasnya perlahanan. Tangan mertuakupun segera melepas kain sarung yang aku pakai. Tangannya langsung meraba dan meremas penis ku dari luar CD-ku. Penis ku makin mengeras. Mertuaku merogoh penis ku hingga berdiri tegak. Sambil tetap berciuman tangannya terus mengocok dan meremas penis ku. Akupun terus meremas payudara mertuaku. Tak lama, mertuaku bangkit lalu melucuti semua pakaiannya. Akupun melakukan hal yang sama. Mertuaku segera naik ke tempat tidur, dan aku segera menaiki tubuhnya. Aku kecup bibirnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Mama senang kamu datang hari ini, Roy.. Lebih senang lagi karena ternyata kamu bisa menerima rasa sayang mama dan ngewe dengan kamu…" ujar mertuaku sambil menciumku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Saya juga senang karena mama sangat menyayangi saya. Saya akan menyayangi mama dan selalu ngewe dengan mama…" kataku sambil memagut leher mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mertuaku mendesah dan menggelinjang merasakan desiran nikmat. Pagutanku kemudian turun ke payudara mertuaku. Kujilati dan gigit-gigit kecil puting susu mertuaku sambil tangan yang satu meremas payudara yang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ohh.. Mmhh.. Mmhh.. Ohh…" desah mertuaku semakin merangsang gairahku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tapi ketika lidahku mulai turun ke perut, tiba-tiba mertuaku memegang kepalaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Jangan ke bawah, Roy.. Mama malu. Ayo ngewe saja.. Mama sudah tidak tahan…" ujar mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku tersenyum dan maklum karena mertuaku termasuk orang yang konvensional dalam masalah sex. Aku buka lebar paha mertuaku, lalu aku arahkan penis ku ke bibir ngewe mertua yang sudah basah dan licin. Tangan mertuaku segera memegang penis ku lalu mengarahkannya ke bibir ngewe nya. Tak lama.. Bless.. Penis ku langsung memompa bibir ngewe mertuaku. Terasa tidak seret, tapi masih enak rasanya menjepit penis ku..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ohh.. Sshh.. Oh, Roy.. Mmhh…" desah mertuku ketika aku memompa penis ku agak cepat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mertuaku mengimbangi gerakanku dengan goyangan pinggulnya. Tak lama, tiba-tiba mertuaku bergetar lalu tubuhnya agak mengejang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Oh, Roy.. Mama mau keluarr.. Mmhh…" jerit kecil mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Terus ngewe in mama…" desahnya lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa saat kemudian tubuh mertuaku melemas. Dia telah mencapai orgasme.. Akupun berhenti sejenak memompa penis ku tanpa mencabutnya dari bibir ngewe mertuaku. Bibir ngewe nya terasa makin licin oleh air maninya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Mama belum pernah merasakan nikmat seperti ini, Roy," ujar mertuaku sambil mengecup bibirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Terima kasih, Roy…" ujarnya lagi sambil tersenyum. Akupun segera mengerakan penis ku menyetubuhi lagi mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Boleh Roy minta sesuatu, Ma?" tanyaku sambil terus memompa penis ku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Apa?" ujar mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Saya mau setubuhi mama dari belakang. Boleh?" tanyaku. Mertuaku tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Boleh tapi mama tidak mau nungging. Mama tengkurap saja ya?" ujar mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Iya, Ma," ujarku sambil mencabut penis ku. Mertuaku segera tengkurap sambil sedikit melebarkan kakinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ayo, Roy," ujar mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku segera masukkan penis ku ke bibir ngewe mertuaku dari belakang. Terasa lebih nikmat daripada masuk lewat depan. Mata mertuaku terpejam, dan sesekali terdengar desahannya. Akupun terus menikmati rasa nikmat sambil terus memompa penis ku. Kemudian terasa ada sesuatu rasa yang sangat kuat ingin keluar dari penis ku. Kupercepat gerakanku menyetubuhi mertuaku. Ketika hampir mencapai klimaks, aku cabut penis ku, lalu.. Crott! Crott..! Crott! Air maniku keluar banyak di punggung dan pantat mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ohh.. Enak, Ma…" kataku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kugesekkan penis ku ke belahan pantat mertuaku. Selang beberapa menit setelah kelelahan agak hilang, mertuaku berkata, " Tolong bersihkan punggung mama, Roy..".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Iya, Ma," ujarku. Lalu aku bersihkan air maniku di tubuh mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah berpakaian, lalu kami keluar kamar. Terlihat wajah mertuaku sangat ceria. Menjelang sore, mertua lelaki pulang. Aku dan mertua perempuanku bertindak biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah makan malam, aku diminta mertua perempuanku utnuk membawakan semua piring kotor ke dapur. Aku menurut. Mertua lelaki aku setelah makan malam langsung menuju ruang televisi dan segera menonton acara kesukaannya. Di dapur, mertuaku perempuanku langsung menarik tanganku ke sudut dapur lalu menciumku. Aku membalasnya sambil tanganku langsung memegang selangkangannya kemudian meraba bibir ngewe nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Nakal kamu. Tapi mama suka," ujar mertuaku sambil tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Nanti Papa kesini, Ma.. Udah, ah Roy takut," ujarku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tidak akan kesini kok, Roy," ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sebelum kamu pulang, mama mau sekali lagi bersetubuh dengan kamu disini…" ujar mertuaku sambil tangannya segera meremas penis ku dari luar celana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Saya juga mau, tapi jangan disini, Ma.. Bahaya," ujarku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ayo dong, Roy.. Mama sudah tidak tahan," ujarnya lagi. Tangannya terus meremas penis ku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kita ke hotel yuk, Roy?" ajak mertuaku. Aku mengangguk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian dengan alasan akan ke rumah temannya, mertuaku perempuanku meminta ijin pergi diantar olehku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Jangan lama-lama ngobrol disana, Ma.. Si Roy kan malam ini mau pulang. Kasihan nanti dia capek," ujar mertua lelaki.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Iya dong, Pa…" ujar mertua perempuanku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian kami naik motor segera pergi mencari hotel. Setelah selesai registrasi, kami segera masuk ke kamar. Tanpa banyak cakap, mertuaku langsung memeluk dan menciumku dengan liar. Aku balas ciumannya..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Cepat kita ngewe, Roy.. Waktu kita hanya sedikit," ujar mertuaku sambil melucuti semua pakaiannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku juga demikian. Mertuaku langsung naik ke kasur, lalu aku menyusul. Tangan mertuaku langsung menggenggam penis ku dan diarahkan ke bibir ngewe nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Mama kok buru-buru sih?" tanyaku sambil tersenyum ketika penis ku sudah masuk bibir ngewe nya. Lalu aku pompa penis ku perlahan menikmati enaknya bibir ngewe mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Habisnya mama sudah tidak tahan sejak tadi di rumah, pengen merasakan penis kamu lagi," kata mertuaku sambil menggoyang pinggulnya mengimbangi gerakanku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selang beberapa belas menit tiba-tiba mertuaku mendekap aku erat sambil mengerakkan pinggulnya cepat. Kemudian.. "Ahh.. Mmhh.. Enak sayang…" desah mertuaku mencapai puncak orgasmenya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Badannya melemas. Aku terus memompa penis ku lebih cepat. Terasa lebih nikmat. Sampai beberapa lama kemudian aku tekan penis ku ke lubang bibir ngewe mertuaku dalam-dalam, dan.. Crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam bibir ngewe mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Maaf, Ma.. Roy tidak bisa menahan.. Sehingga keluar di dalam," ujarku sambil memeluk tubuh mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tidak apa-apa, Roy," jawab mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Mama sudah minum obat kok," ujarnya lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kalo mama berkunjung ke rumah kamu, bisa tidak ya kita melakukan lagi?" tanya mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Bisa saja, Ma.. Kita jalan berdua saja dengan alasan pergi kemana…" jawabku. Mertuaku tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kita pulang Roy," ujar mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesampai di rumah, aku langsung bersiap untuk pulang ke Bandung. Ketika aku memanaskan motorku, mertua perempuan mendekatiku. Sementara mertua lelaki duduk di beranda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hati-hati di jalan ya, Roy," ujar mertuaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Iya, Ma. Terima kasih," ujarku sambil tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tengokin mama dong sesering mungkin, Roy," ujar mertuaku sambil tersenyum penuh arti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Iya, Ma," ujarku sambil tersenyum pula.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu aku pulang. Sejak saat itu hingga kini aku selalu menyempatkan diri sebulan sekali untuk datang ke rumah mertuaku, tentu saja setelah aku di-SMS dahulu oleh mertua perempuanku.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-3241904276150291956?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/3241904276150291956/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-goyangan-ibu-mertua.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/3241904276150291956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/3241904276150291956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-goyangan-ibu-mertua.html' title='Cerita NGEWE | Goyangan Ibu Mertua'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-2949118167165923269</id><published>2009-04-17T11:34:00.000-07:00</published><updated>2009-04-17T12:29:21.992-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Pembantu'/><title type='text'>Cerita NGEWE | Pembantu dan Majikan</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p&gt;            &lt;strong&gt;Kejadian ini berlangsung sekitar 4 tahun lalu ketika saya berumur 22 th. Saat itu saya masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Saya berkenalan via internet dengan seorang janda keturunan china berumur 40th bernama bernama Jeany, dia mempunyai 2 orang anak berumur 5 dan 9 th. Mulanya saya hanya tertarik karena orangnya ramah dan asyik diajak ngobrol dan cukup bisa mengikuti gaya anak muda alias lumayan 'gaul' lah. Hampir setiap malam dia telepon ke rumah saya. Sampai kadang anak-anaknya ikutan bercanda lewat telepon.&lt;/strong&gt;          &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suatu saat Jeany akan ada tugas dari kantornya ke Surabaya dia menelepon minta dijemput di Airport katanya, wah asyik nih aku bisa ketemu sekalian bisa ngobrol dan bercanda. Pada saat hari H dia telpon saya lagi dia bilang dia pake baju warna pink dan celana panjang hitam. Hmm sesampainya di airport aku bingung sekali waktu aku lihat-lihat di kedatangan airport yang pakai baju pink dan celana hitam cuman ada satu orang itupun kira-kira masih sekitar umur 30 th menurutku. Aku beranikan diri untuk menyapa,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hmm selamat siang bu, ma'af ibu yang bernama Jeany?" dengan senyum yang manis dia langsung merespons,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Apakabar Iwan".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya langsung bengong karena melihat tampangnya yang masih cantik dengan badan langsing tapi gemuk pada bagian yang penting tentunya. Tiba-tiba jeany langsung mencium pipiku..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Mmmuuaachh jangan pake ibu segala ya.. Panggil Jeany aja!".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wah-wah saya langsung rada horny.. He.. he..he..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seharian saya antar dia keliling ke kantor klien-kliennya, setelah jam kerja usai, kita makan malam dan saya antar lagi dia ke airport. Di perjalanan tiba-tiba dia minta berhenti di pinggir jalan. Saya tanya,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kenapa kok berhenti?" tanpa banyak bicara dia langsung mencium bibir saya dan membuka retsleting celana saya, penis saya langsung menegang tanpa basa-basi. Sambil mengelus-elus penis ku dia bergumam,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hmm mantap juga penis kamu ini"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ukuran penisku tidak terlalu besar sih sekitar 18 cm panjangnya, tapi menurut Jeany, "helm proyek"-nya ini bisa bikin nyesek.. He.. he.. he.. he..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah puas melumat bibirku dia langsung menyedot penis ku yang dari tadi sudah menunggu hisapan mulut sexinya, tak ketinggalan lidahnya menjilat-jilat penisku, aku tak mau tinggal diam tanganku berusaha meremas dadanya yang cukup kenyal, tapi dia menepis, "Sudah deh kali ini biar Jeany yang kerja," ya.. aku pasrah saja sambil menikmati sedotan bibirnya, tak lama kemudian aku serasa melayang-layang dan kepala penisku serasa makin besar akhirnya "Oughh.. ahh.." Crott!! Spermaku keluar di mulut Jeany, Dia makin gila menyedot semua penis ku masuk ke mulutnya seakan nggak mau ada spermaku yang lolos dari mulutnya. Kepala penisku masih berdenyut saat jeany menyedotnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ahhmm enak banget penis kamu, thank's ya," kata Jeany, sambil tersenyum dan menciumku, dia sangat suka dengan penisku, sementara aku hanya bisa diam dan masih terheran-heran melihat kebinalannya," Ayo jalan, ntar ketinggalan pesawat nih." Tiba-tiba Jeany protes melihat aku hanya terdiam dan membiarkan celanaku terbuka. Pada saat aku tiba di parkiran airport Jeany berkata," Kamu masih utang lho sama aku" hmm aku hanya bisa senyum sambil kali in aku yang mencium bibir sexy-nya. Jeany memelukku erat, kami seperti pasangan kekasih aja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebulan telah berlalu, kami tetap berhubungan via telepon, hubngan kami semakin akrab, lalu saya memutuskan untuk pergi ke Jakarta untuk bertemu Jeany. Kebetulan anak-anaknya sedang liburan sekolah, sekalian saya bertugas mengajak anaknya jalan-jalan. Saat tiba di Jakarta saya menginap di sebuah hotel yang cukup terkenal di daerah Senayan. Lalu kami bertemu dan jalan-jalan bersama kedua anaknya, "Hmm sudah seperti keluarga aja nih" pikirku dan Jeany terlihat makin cantik, lebih cantik dari sebelumnya. Sepulang dari jalan-jalan, tiba-tiba anak Jeany yang berumur 7th meminta saya untuk menginap di rumahnya, agar kita bisa main playstation berdua. Asyik juga nih pikirku, karena memang aku juga keranjingan main game.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya dan Dodi (anak sulung Jeany) sudah 2 jam main playstation. Saat itu sudah jam 23.00, Dodi sudah mau tidur sementara Jeany masih sibuk membereskan kamar yang akan saya tempati. Kelar main PS dengan Dodi, saya langsung mandi karena sejak tadi saya belum mandi. Selesai mandi saya lihat Jeany sudah selesai beres dan duduk di sofa ruang keluarga sambil nonton TV. Cantik sekali Jeany saat itu, dengen baju tidur warna ungu, wah.. yang bikin saya deg-degan dadanya yang berukuran 34b menyembul dibalik gaunnya, dan setelah aku curi-curi pandang ternyata dia tidak memakai bra.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kamu masih hutang ama aku lho Wan", jeany berkata begitu dengen senyum manisnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ya aku langsung jawab aja, "Iya deh pasti aku lunasin kok" wah kebeneran nih ngerasain bibir ngewe janda.. Hehehehe biarpun sudah umur 40-an tapi badannya sangat sexy karena memang hobbynya berenang. "Kita sambil nonton bokep yuk Wan," kata Jeany.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sewaktu Jeany memasang vCD rada sedikit nungging, Hmm.. pahanya terlihat mulus den belahan bokong nya terlihat sangat bersih, aku tak tahan langsung aja aku samperin dan menjilat belahan bokong nya dari belakang sampai turun ke selangkangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ahh sayangg.. Sabar donk.. Aku sudah lama nggak diginiin" Jeany mendesah sambil kakinya gemetaran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku gendong saja ke sofa terus aku ciumin bibrnya, Jeany merespons ciumanku dengan ganasnya, "Jago juga nih ciumannya", pikirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara kedua tanganku mulai menyelusup ke dadanya yang sejak tadi membusung karena menahan nafas, "Oughh ahh.. Terusin sayang," desahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tangan jeany mulai berusaha meraih penisku yang sudah menegang dengan helm yang memerah, "Eitt ini giliranku bayar hutang," tanganku menepis tangan jeany dengan lembut, dia hanya tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara mulutku mulai menjilat-jilat puting jeany yang berwarna pink. Jemarinya mendekap erat kepalaku, sambil mendesah dan kakinya memeluk erat pinggulku, "Suck my ***** baby"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jeany mendorong kepalaku ke arah bibir ngewe nya yang dari tadi cairannya membasahi dadaku. Hmm asyik benar nih pikirku dalam hati. Saat aku mulai menyapukan lidahku dari bagian bawah ke atas bibir ngewe nya aku merasakan cairan yang sangat nikmat yang aku impikan sejak pertama kali bertemu Jeany. Aku hisap clitorisnya dia makin mengejang dan aku merasakan bibir ngewe nya sperti menghisap bibirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ciuman ama bibir atau bibir ngewe sama enaknya nih," pikirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Oughh sayangghh enak," gumamnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lidahku mulai bergerak konstan di clitorisnya semakin cepat, bokong nya bergerak naik turun mengikuti irama lidahku, tiba tiba dia berteriak histeris.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"*****.. Ahh ahh oughh ah ahh ahh.. Iwann eghh.," badan Jeany mengejang, tangannya menekan kepalaku ke bibir ngewe nya hingga hidung dan hampir semua wajahku basah karena cairan bibir ngewe nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nafasnya tersengal-sengal dadanya makin membusung (ini pengalaman pertamaku menjilat bibir ngewe , sekarang aku suka sekali menjilat bibir ngewe sampai lawan sex-ku mencapai klimaks karena jilatanku).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku jilati terus dan aku telan semua cairan bibir ngewe nya, rasanya enak banget!! Sementara nafas Jeany masih tersengal-sengal aku angkat kedua pahanya sehingga lobang bokong nya pas berada di bibirku. Aku jilati lagi sisa-sisa cairan yang meleleh di lobang bokong jeany sambil aku teruskan jilatanku ke atas dan turun lagi berulang-ulang. Tangan Jeany makin menekan kepalaku, aku makin menikmati permainan ini dan aku lihat kepala jeany menegadah pertanda dia sangat menikmati jilatanku, sampai akhirnya aku berbalik lagi menjilat bagian lobang bibir ngewe nya yang masih berdenyut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sayangghh terusinn aku hampir sampai lagi nihh,"gumamnya sambil menggerak-gerakan bokong nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku makin enjoy dengan rasa bibir ngewe nya yang seperti sayur lodeh.. Hehehehe. Aku hisap clitorisnya sampai akhirnya dia mulai mengejang-ngejang.. "Oughh enakk sayangku.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kuku jemarinya terasa perih di belakang leherku. Jeany mencapai klimaks untuk kedua kalinya, tanpa menunggu-nunggu lagi aku tancapkan saja penisku yang dari tadi sudah menunggu untuk bersarang, Ternyata tak semudah itu, lobang bibir ngewe nya memang cukup sempit pertama kali hanya kepala penisku aja yang bisa masuk, lalu setelah aku keluarkan dan aku masukkan lagi beberapa kali akhirnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;BLESS..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Eghh.. Enak banget Wan," gumamnya Jeany langsung menciumi bibirku dengan penuh nafsu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku mulai memompa bibir ngewe nya secara beraturan sambil menjilati puting susunya yang merah dan menegang, enak benar bibir ngewe Jeany, pikirku. Selama 15 menit aku memompa, perlahan tapi pasti bibir ngewe Jeany makin terasa makin menyempit, aku makin merasa enak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ahh.. Ahh oughh" mendesah sambil tangannya mencengkeram pinggiran sofa. Tiba-tiba cengkeramannya pindah ke punggungku sambil setengah berteriak Jeany mencapai klimaks yang ketiga kalinya,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Aghh ahh I LOVE THE WAY YOU ***** ME!!"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku makin mempercepat gerakanku.. Jeany makin menggila.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"*****.. *****.. ***** ME.. Oughh ahh ahh," Jeany benar meracau tak karuan, untung jarak kamar tidur dengan ruang tengah cukup jauh sehingga teriakannya tidak mengganggu tidur kedua anaknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setalah Jeany menikmati sisa-sisa klimaksnya aku ciumin bibrnyai dia dan dia tersenyum, "Thank's ya, hutangmu lunas, tapi kamu belum keluar sayangku," dia berkata sambil membalikkan badannya dan kedua tangannya memegang sandaran sofa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"***** me from behind," dia mengarahkan penisku yang masih menegang ke arah lobang bibir ngewe nya yang sudah basah kuyup.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Langsung aja aku pompa bibir ngewe nya karena aku sudah tak tahan ingin cepat-cepat keluar, baru sepuluh kali keluar masuk, Jeany mendesah berat dan bibir ngewe nya berdenyut pertanda dia mencapai klimaksanya, badannya seperti kehilangan tenaga, aku tahan bokong nya sambil terus aku pompa bibir ngewe nya. Denyutan bibir ngewe nya membuat aku merasa makin nikmat. Dengan mata sayu Jeany berkata, "Keluarin di mulutku sayangku, aku haus spermamu".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku tidak memperdulikan aku tetap focus mengejar kenikmatanku sendiri sampai akhirnya aku akan mencapai puncak kenikmatan aku cabut penisku, dengan sigapnya jeany meraih penisku dan mengocok-ngocok di dalam mulutnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Oughh.. Isepin penisku sayanghh ahh.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Crott!! Crott.. Crott..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cairan spermaku meleleh di dalam mulutnya sampai keluar dari tepi bibir Jeany.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiba-tiba ada suara lenguhan yang cukup mengagetkanku"ahh ahh ahh oughh..," kami berdua terkaget-kaget ketika aku lihat pembantu Jeany yang bernama Dini sudah telentang sambil mengejang di lantai, jemarinya terlihat berada di dalam bibir ngewe nya, sementara bajunya sudah tidak karuan. Aku baru sadar jika permainan kami diperhatikan oleh pembantu yang kira-kira masih berumur 15 tahun. Namun badannya lumayan bongsor dan mulus, buah dadanya terlihat membusung indah sekali. Namanya Dini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ternyata Dini sudah memperhatikan permainan kita sejak tadi. Tanpa malu-malu lagi Jeany memanggilnya,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sini kamu!" sambil mukanya memerah Dini berjalan mendekat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kamu ngapain?" tanya Jeany.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ya lihat Ibu sama Mas Iwan begituan," jawabnya dengan lugu sambil melirik ke arah penisku yang masih tegak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jeany berbisik, "Aku sudah cape nih, aku rela kok kamu main sama Dini, tuh penis kamu masih tegak," sambil menciumku Jeany membisikkan hal yang benar-benar aku inginkan dan cukup mengejutkan bagiku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sambil menunjuk ke arah vCD bokep yang sedang beradegan anal, Jeany berkata kepada Dini,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kamu mau ngewe seperti di TV itu ya Dini"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan muka makin memerah Dini menjawab dengan perlahan dan gemetaran,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Eng.. Engga bu, ma'afkan Dini".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan nada sedikit membentak Jeany memerintah, "Pokoknya kamu harus layani Mas Iwan sampai dia puas!! Siapa suruh ngelihat kita ngewe sambil mainan bibir ngewe pula, isepin tuh penis Mas Iwan!".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sambil perlahan-lahan mendekat, tangan Dini yang masih terlihat basah karena cairan bibir ngewe nya, meraih penisku, perlahan Dini mulai mengocok-ngocok sambil mengulum penisku.. Hmm enak sekali bibr mungil Dini. Aku elus pipinya dia memandang ke arahku, aku tanya si Dini, "Kamu sudah pernah ngewe ya?"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan senyum malu-malu Dini menjawab, "Sudah Mas, dulu waktu Dini masih di kampung sama teman-teman"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hahh ama teman-teman?, rame-rame Donk?" aku bertanya kembali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dini hanya mengangguk lalu melanjutkan kulumannya. Aku lihat Jeany sudah terlelap kecapean.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanpa sadar aku meremas-remas payudara Dini sambil memelintir putingnya. Dini mendesah menikmati sambil terus berusaha mengulum penisku. Dengan lugu Dini berkata, "Mass ahh tolong donk dimulai, masukin Mass".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku langsung mengangangkan kedua paha Dini dan Bless ternyata memang benar dia sudah tidak perawan lagi. Dini mendesah perlahan.. "Ouhh penis Mas besar sekali, baru kali ini saya ngewe sama orang dewasa.'&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dini terus menggoyang-goyangkan bokong nya sambil meremas payudaranya sendiri. Wah.. cukup pengalaman juga nih anak pikirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Matanya terpejam sambil bibirnya mendesis seperti orang kebanyakan cabe..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ssshh ahh enakk Mass eghh."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiba-tiba dia berusaha berdiri sambil mendorong badanku, "Aku mau diatas mass ahh aku mau keluar"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku oke-in aja deh aku telentang, Dini berjongkok sambil menggoyangkan bokong nya, dia menciumi leherku aku remas remas kedua payudaranya yang ranum denga puting kecoklatan. Genjotannya semakin keras aku mengimbangi goyangan bokong nya, aku naik turunkan pinggulku juga. Dini mendesah tak karuan sambil rebah di dadaku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ahh mass ahh ahh oughh aku keluar Mass ahh aku mau lagi Mass.. Ahh..," bibirnya melumat bibirku penuh nafsu, dia berdiri dan menghadap tembok.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ayo Mass, kita main lagi, aku ingin dientot sambil berdiri," dengan sedikit mengangkat bokong nya aku lesakkan penisku ke dalam bibir ngewe nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dini menoleh ke arahku dan dia cuman tersenyum sambil berkata, "Boleh nggak yang seperti di TV Mas?"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wah.. binal juga nih anak pikirku, dalam hati aku juga ingin ngewe bokong nih, kebetulan. Bokong Dini memang bagus banget kenyal dan bulat, aku makin nafsu melihatnya. Dini membimbing penisku masik ke lobang anusnya, oughh sempit banget rasanya tapi enak. Langsung aja aku dorong penisku keras keras,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Arrghh oughh Mass enakk teruss mass"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dini benar-benar sexy, bau badannya yang wangi rada asem dikit membuatku semakin terangsang, aku jilatin punggung dan leher bagian belakangnya sambil meremas payudaranya dari belakang. Gerakan bokongnya benar-benar mirip Inul penyanyi dangdut.. Hehehe. Sambil terus mendesah, Dini meraih tanganku dan dibimbingnye masuk ke lubang bibir ngewe nya yang banjir sejak tadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kocokin jarimu Mass di dalam bibir ngewe ku.. Ahh ahh oughh enakk!!"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiba-tiba bokong nya mengejang dan berdenyut (baru kali ini aku tahu kalau bokong dientot juga bisa klimaks)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ahh Mass keluarin di bokong ku, Mass aoughh aku keluar Mass.. Oughh ahh ahh"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dini meremas-remas payudaranya sendiri. Aku pompa bokong nya kencang-kencang karena denyutan anusnya aku nggak tahan sementara tanganku terus bergerak keluar masuk bibir ngewe nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dini menengadah ke atas sambil terus meremas-remas payudaranya dan.. "Ahh mass aku keluar lagi.. Ahh ahh.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mendengar desahannya aku makin bernafsu dan kepala penisku semakin membesar mau bongkar muatan,&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Oughh Dini bokong mu enakk banget.. Ahh"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semprotan spermaku membasahi bagian dalam anus Dini yang masih berdenyut. Lutut Dini bergetar dan dia terkulai lemas di lantai, penisku juga mulai melemas, kami berpelukan kecapean.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Benar-benar malam yang liar malam ini, waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi.. Wah tidak terasa sudah hampir 5 jam aku bermain sex dengan dua wanita liar ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selama aku tinggal di rumah Jeany, tiap malam aku ngewe dengannya dan paginya Dini selalu menyediakanku sarapan pagi dan dia tidak pernah memakai celana dalam, aku sarapan sambil ngewe sama Dini. Hehehehe. Enakk tenan.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-2949118167165923269?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/2949118167165923269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-pembantu-dan-majikan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/2949118167165923269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/2949118167165923269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-pembantu-dan-majikan.html' title='Cerita NGEWE | Pembantu dan Majikan'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-2716005262959472826</id><published>2009-04-15T19:53:00.000-07:00</published><updated>2009-04-15T20:26:19.522-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Tante'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Jupe Dan Castano</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kisah Cerita NGEWE Jupe Dan Castano. Nafas Castano terasa sesak, badan nya terasa panas dingin menghadapi tatapan Tante Jupe, matanya indah dengan bulu mata yang lentik, sesaat kemudian Castano mengalihkan pandangan ke arah tubuh Tante Jupe mencari alasan penilaian tadi, uups baru deh Castano memperhatikan bahwa Tante Jupe memakai baju terusan seperti daster tapi dengan lengan yang berupa tali dan diikat simpul di bahunya&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hmmm .. kulit itu mulus kuning langsat dengan tali baju dan tali bra yang saling bertumpuk di bahu, pandangan Castano beralih ke bagian depan uupss… terlihat belahan payudara yang hmmm… sepertinya buah payudara itu lumayan besar. Sentuhan lembut tangan Tante Jupe di paha Castano yang masih dibungkus handuk cepat menyadarkan Castano. Dengan penuh selidik Tante Jupe bertanya,"lho… kok jadi bengong sie..? apa dong alasannya tadi bilang ibu masih 30an…"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Castano sedikit tergagap karena merasa ketahuan terlalu lama memandangi tubuh Tante Jupe,"mmm… eeemm.. ibu benar-benar masih cantik, kulitnya masih kencang… masih sangat menggoda…"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak ada jawaban dari mulut Tante Jupe, hanya pandangan mata yang kini saling beradu, saling tatap untuk beberapa saat… dan seperti ada magnet yang kuat, wajah Tante Jupe makin mendekat, dengan bibir yang semakin merekah. Castano pun seakan terbawa suasana, dan tanpa komando lagi, Castano menyambut bibir merah Tante Jupe, desahan nafas mulai terasa berat hhhh…hhhh…ciuman terus bertambah dahsyat, Tante Jupe menjulurkan lidahnya masuk menerobos ke mulut Castano, dan dibalas dengan lilitan lidah Castano sehingga lidah tersebut berpilin-pilin dan kemudian deru nafas semakin berat terasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan naluri yang alami, tangan Castano merambat naik ke bahu Tante Jupe, dengan sekali tarik, terlepas tali pengikat baju di bahu tersebut dan dengan lembut Castano meraba bahu Tante Jupe sampai ke lehernya…. Kemudian turun ke arah payudara, dengan remasan lembut Castano meremas payudara yang masih terbungkus bra itu. "hhhhh…hhhh" nafas Tante Jupe mulai terasa menggebu, nampaknya gairah birahinya mulai memuncak. Jemari lentik Tante Jupe tak ketinggalan meraba dan mengelus lembut payudara Castano… melingkari pinggang Castano, mencari lipatan handuk, hendak membukanya…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Uupps…. Castano tersentak dan sadar….,"ups…hhh… maaf bu… maaf bu… saya terbawa suasana…." Castano tertunduk tak berani menatap Tante Jupe sambil merapikan kembali handuknya, baru kemudian dengan sedikit takut melihat ke arah Tante Jupe.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terlihat Tante Jupe pun agak tersentak, tapi tidak berusaha merapikan pakaiannya, sehingga tubuh bagian atas yang hanya tertutup bra itu dibiarkan terbuka. Pemandangan yang menakjubkan. "napa Castano… kita sudah memulainya dan kamu sudah membangkitkan kembali gairah ibu yang lama terpendam, kamu harus menyelesaikannya Castano…" tatapan Tante Jupe terlihat semakin sendu…&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"mmm… ibu gak marah..? gimana nanti kalo ada yang lihat bu… bisa gawat dong… pak Kardi juga bisa marah besar bu…" jawab Castano.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanpa menjawab Tante Jupe bangkit berdiri, namun karena tidak merapikan pakaiannya, otomatis baju terusan yang dipakai jadi melorot jatuh ke lantai. Castano terpana melihat tubuh indah itu, sedikit berlemak di perut dan bokongnya namun itu malah menambah seksi lekuk tubuh Tante Jupe. Kemudian dengan tenang Tante Jupe melangkah ke arah pintu kamar dan menguncinya. Saat berjalan membelakangi Castano itu nampak gerakan bokong Tante Jupe naik turun, dan perasaan Castano semakin tegang dengan nafsu yang semakin tak tertahankan, demikian juga saat Tante Jupe berbalik dan melangkah kembali menuju tempat tidur, Castano tidak melepaskan sedikit pun gerakan Tante Jupe. Sampai Tante Jupe berdiri dekat di depan Castano dan berkata,"kamarnya udah di kunci Castano, dan gak ada yang akan mengganggu…."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Castano tidak langsung menjawab, menghidupkan tape dengan suara yang agak besar, setidaknya untuk menyamarkan suara yang ada di ruangan. Tante Jupe kembali duduk di pinggiran tempat tidur, dan membuka bra yang digunakannya. Castano mendekat dan duduk di samping Tante Jupe… hmmm… nampak payudara itu masih montok dan kenyal, ingin Castano langsung melahap dengan mulut dan menjilatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tante Jupe yang memulai gerakan dengan melingkarkan lengannya ke leher Castano, menarik wajah dan langsung melumat bibir Castano dengan nafsu yang membara. Castano membalas dengan tidak kalah sengit, sambil meladeni serangan bibir dan lidah Tante Jupe, tangan Castano meremas payudara montok milik Tante Jupe. Desahan nafas menderu di seputar ruangan, diselingi alunan musik menambah gairah. Setelah beberapa saat, Tante Jupe mendorong lembut badan Castano, menyudahi pertempuran mulut dan lidah, dengan nafas yang memburu. Castano mendorong lembut tubuh Tante Jupe, berbaring terlentang dengan kaki tetap menjuntai di pinggiran tempat tidur. Payudara yang penuh dengan gunung kembar itu seakan menantang dengan puting yang telah tegang. Tanpa menunggu lagi Castano melaksanakan tugasnya menjelajahi gunung kembar itu mulai dari lembah antara, melingkari dan menuju puncak puting. Dengan gemas Castano menyedot dan memainkan puting payudara itu sambil tangan meremas payudara kembarannya ………………… "HHHH…. AHHH….MMMH…."suara Tante Jupe mulai kencang terdengar, desahan-desahan nikmat yang semakin menggairahkan. Castano melanjutkan penjelajahan dengan menyusuri lembah payudara menuju perut dan sebentar memainkan lidah pada udel Tante Jupe yang menggelinjang kegelian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Castano menghentikan penjelajahan lidah, kemudian dengan cekatan menarik celana dalam Tante Jupe, melepaskan dan membuang ke lantai. Dengan spontan Tante Jupe mengangkat kaki ke atas tempat tidur dan memuka lebar pahanya, terlihat gundukan bibir ngewe dengan rambut-rambut yang tertata rapi. Castano mulai kembali aksi dengan menjilati menyusuri paha Tante Jupe yang halus mulus, terus mendekat ke selangkangan menemui bibir ngewe yang mulai mengeluarkan cairan ngewe. Tanpa menunggu lama, Castano menyapu cairan ngewe itu dengan lidahnya dan meneruskan penjelajahan lidah sepanjang bibir &lt;strong&gt;&lt;em&gt;ngewe&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; Tante Jupe dan sesekali menggetarkan lidah pada klitorisnya yang membuat Tante Jupe mengerang kenikmatan,"AHHHH…. MMMMH… HHH… Castano….UHH…"desahan birahi yang memuncak dari Tante Jupe membuat Castano semakin bersemangat dan sesekali lidah di julurkan mencoba masuk ke bibir ngewe yang menanti pemenuhan itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah beberapa menit Castano mengeksplorasi bibir ngewe itu, nampaknya Tante Jupe tidak sabar lagi menuntut pemenuhan hasrat birahi ngewe nya,"Castano…. Ayo sayang… masukkin Castano… hhhh…mmmmh." Suara Tante Jupe ditingkahi desahan-desahan yang semakin kencang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan tenang Castano menyudahi penjelajahan lidah dan bersiap &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;a href="http://cerita-ngewe.blogspot.com/" rel="friend" title="ngewe"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;ngewe&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang sesungguhnya. Dengan sekali tarik lepaslah handuk yang melilit di pinggang dan bebas mengacung penis dengan bagian kepala yang merah mengkilap. Tante Jupe semakin membuka lebar pahanya, besiap menanti pemenuhan terhadap bibir ngewe nya. Castano naik ke tempat tidur dan langsung mengarahkan penis ke arah bibir ngewe Tante Jupe yang dengan sigap lansung meraih dan meremas penis Castano dan membantu mengarahkannya tepat ke bibir ngewe nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan sekali dorongan penis Castano amblas sampai setengahnya. Castano menahan gerakan sebentar menikmati prosesi masuknya penis yang disambut desahan Tante Jupe," AHHH….TERUSKAN CASTANO….AHHH." kemudian dengan meresapi masuknya penis sampai sedalam-dalamnya. Setelah dorongan pertama dan penis yang masuk seluruhnya barulah Castano memompa menaik turunkan bokong dengan irama beraturan seakan mengikuti irama musik yang terasa semakin menggebu dan hot.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Castano bertumpu pada kedua siku lengan sedangkan Tante Jupe mencengkam punggung Castano, meresapi dorongan dan tarikan penis yang bergerak nikmat di bibir ngewe nya. Suara desahan bercampur aduk dengan alunan musik dan peluh mulai bercucuran di sekujur tubuh,"AH..AH..AH..MMH…MHH…HHHH." tak hentinya desahan meluncur dari bibir Castano dan Tante Jupe. Sesaat Castano menghentikan gerakan untuk mencoba mengambil nafas segar, Tante Jupe memeluk Castano dan menggulingkan badan tanpa melepas penis yang tetap berada di bibir ngewe nya. Dengan posisi di atas dan setengah berjongkok, Tante Jupe memompa dan menaikturunkan bokong nya dengan badan bertumpu pada lengan. Sesekali Tante Jupe memutar bokong nya dan kemudian memasukkan penis Castano lebih dalam. Castano tak diam saja, tangan meremas kedua payudara yang menggantung bebas dan menarik-narik puting payudara Tante Jupe. Suasana makin membara dengan peluh yang bercucuran, sampai saat Tante Jupe seperti tak sanggup melanjutkan pompaan ngewe karena birahi yang hendak mencapai puncak ngewe. Dengan sigap Castano membalikkan posisi, Tante Jupe kembali berada di bawah, dengan mempercepat tempo dorongan Castano meneruskan pertempuran. "Castano…AHH..AH..AH..UH…TERUS CASTANO…. AHHH…AHH IBU SAMPAI…CASTANO….AHHHHHHHHH… MMMMMHHH." Setelah teriakan tertahan Tante Jupe mengatup bibirnya menikmati orgasme yang didapat, tubuhnya sedikit bergetar. Castano merasa bibir ngewe yang mengalami orgasme itu berkedut-kedut seperti menyedot penisnya.Castano menikmatinya dengan memutar -mutar bokong nya dan memasukkan lebih dalam lagi penisnya, dan terasa ada dorongan kuat menyelimuti penisnya, semakin besar dan sesaat Castano kembali mendorong penis nya dengan cepat dan saat terakhir menarik keluar penisnya dan melepaskan air maninya di atas perut Tante Jupe…. Yang dengan cepat meraih penis Castano dan mengocoknya sampai air mani itu berhenti muncrat, dengan lembut Tante Jupe mengusap penis yang mulai turun ketegangannya. Castano membaringkan tubuhnya disamping Tante Jupe. Terdiam untuk beberapa saat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tante Jupe bangkit duduk meraih kain di pinggiran tempat tidur dan menyeka sisa air mani di perutnya. Kemudian dengan manja membaringkan tubuhnya diatas Castano. "makasih ngewe nya ya sayang… ini rahasia kita berdua… I love u Castano," bisik mesra Tante Jupe di telinga Castano.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"mmm…baik bu…"belum sempat Castano menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk Tante Jupe menempel di bibirnya, "kalo lagi ngewe berdua gini jangan pangil ibu dong…"ucap Tante Jupe manja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"iya sayang…." Balas Castano, senyum manis merekah di bibir seksi Tante Jupe.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah itu dengan cepat Castano dan Tante Jupe merapikan pakaian, dan sebelum meninggalkan Castano, Tante Jupe berbisik mesra,"sayang… tar malem suamiku gak ada di rumah….. aku tunggu di kamar ya… ngewe berapa ronde pun dilakoni buat Castano sayang." Sambil berpelukan mesra, Castano menyanggupi ajakan ngewe Tante Jupe.&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-2716005262959472826?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/2716005262959472826/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-jupe-dan-castano.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/2716005262959472826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/2716005262959472826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-jupe-dan-castano.html' title='Cerita Ngewe | Jupe Dan Castano'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-8079550947673892564</id><published>2009-04-12T23:50:00.000-07:00</published><updated>2009-04-12T23:50:00.385-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Tukar Pasangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Rame Rame'/><title type='text'>Cerita NGEWE |  Tora ngewe dg ibuku</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;K&lt;/ap&gt;isah Cerita NGEWE Tora ngewe dg ibuku. TELEPON yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Silahkan ulangi beberapa menit lagi. Begitu yang kudengar setiap kupencet namanya pada memori HP ku. Lagi ada di mana si penjahat seks itu sampai HP nya dimatikan? Aku sampai lupa meminum es juice dan menyantap pisang keju yang terhidang di mejaku karena terus mencoba menghubungi Tora, temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben sendirian. Biasanya sama Tora,” kata Bu Tiwi, pemilik kantin.&lt;br /&gt;“Iya nih Bu, HP nya dimatikan. Nggak bisa dihubungi,” ujarku setelah menghirup es juice yang terhidang dan mengunyah pisang keju. Sebenarnya telah hilang selera makanku pada makananan dan minuman favoritku itu karena tak berhasil menghubungi Tora.&lt;br /&gt;“Kalau mau bolos sekolah bareng mestinya janjian yang mateng. Jadi nggak manyun begitu,” ujar Bu Tiwi lagi sambil melayani pembeli yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga omongan Bu Tiwi. Ini memang salahku. Semestinya, semalam atau tadi sebelum berangkat kontak Tora dulu hingga bisa janjian. Kalau sudah begini, aku yang repot. Mau masuk sekolah udah kesiangan dan pasti pintu pagar udah ditutup sementara Tora tidak bisa dihubungi. Atau bisa jadi ia berangkat sekolah tanpa bawa HP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan untuk bolos sekolah memang murni ideku dan belum kusampaikan ke Tora. Sewaktu mau berangkat, Rizal, temanku yang lain datang ke rumah dan meminjamkan sejumlah VCD porno yang pernah ia janjikan. Lalu muncul gagasan untuk membolos dan nonton bareng Tora di rumah. Aku yakin Tora pasti tak menolak. Karena seperti kata Rizal diantara film-film yang dipinjamkan, ada yang bercerita tentang hubungan seks antara seorang anak laki-laki dengan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thema seperti itu, atau setidaknya yang menggambarkan hubungan seks antara pria muda dengan wanita yang lebih dewasa bahkan yang lebih pantas menjadi ibunya, adalah yang sangat digemari Tora. Bahkan dalam pengalaman nyata, seperti pengakuan dan cerita Tora, ia sering menyetubuhi pembantunya, wanita yang telah berusia 43 tahun. Tora juga mengaku sering terangsang saat mengintip ibunya sendiri yang tengah telanjang. Itulah kenapa aku sering menyebutnya sebagai penjahat seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu Tora juga yang mengajari dan memperkenalkanku pada kebiasaan onani. Menurutnya, aku tergolong pria puritan karena hingga berumur 18 tahun belum tahu dan tidak pernah melakukan onani. Dan ketika ia menggagas untuk membuat lubang rahasia untuk mengintip aktivitas ibuku dari kamarku yang memang bersebelahan dengan kamar ibu, aku tak kuasa menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tora, tubuh ibuku sangat menggairahkan dan merangsang. Sama seperti tubuh ibunya yang memang usianya tak jauh berbeda karena usia ibu 47 sedang ibunya Tora lebih muda setahun. Dan seperti ibunya Tora, ibuku juga sudah menjanda cukup lama. Hanya Tora punya kakak perempuan yang sudah menikah dan hidup terpisah. Sedangkan aku, anak tunggal dan hanya hidup berdua dengan ibu sejak kecil. Bahkan konon, sebenarnya aku bukan anak ayahku yang meninggal saat usiaku masih balita. Tapi buah perselingkuhan ibu dengan pemuda tetangganya setelah menikah cukup lama dan tidak punya anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sam &lt;a title="bibir ngewe" rel="friend" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;bibir ngewe&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; ibumu besar dan membusung banget. Mau deh aku menjilati lubangnya. Ah, pasti enak banget kalau ngewe,” ujar Tora berbisik ketika ia menginap di kamarku suatu malam dan mengintip ke kamar ibu dari lubang rahasia yang kami buat. Saat itu, ibu tidur mengangkang tanpa mengenakan celana dalam dan dasternya tersingkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Tora memuaskan diri beronani sambil sambil mengintip dan membayangkan menyetubuhi ibuku. Dan lucunya, aku juga melakukan yang sama. Hanya aku melakukan secara diam-diam setelah Tora tertidur pulas. Benar seperti kata Tora, wanita seusia ibu memang lebih matang dan merangsang. Sejak itu, aku sering mengintip ke kamar ibu di saat terangsang dan hendak beronani. Aku juga ingin merasakan nikmatnya bersetubuh dengan ibu kendati sejauh ini belum pernah melakukan sekali pun dengan wanita lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam lebih duduk tercenung sendiri di kantin Bu Tiwi akhirnya membuatku jenuh. Setelah sekali lagi mencoba menghubungi HP Tora tak tersambung, akhirnya kuputuskan untuk pulang. Paling ibu sudah berangkat ke Puskesmas tempatnya bekerja hingga nggak bakalan tahu kalau aku membolos, pikirku. Setelah membayar makanan, aku langsung keluar dan menyetop angkutan kota yang rutenya melewati jalur jalan dekat rumah. Motor memang sengaja tak kubawa karena tadinya berniat membolos dengan Tora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, seperti biasa aku masuk lewat pintu belakang. Kunci rumah bagian depan memang selalu dibawa oleh ibu karena dia yang berangkat belakangan setiap hari. Aku membawa kunci pintu belakang agar tak repot mampir ke kantor ibu untuk mengambil kunci saat pulang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di dalam, saat masuk ke ruang tengah, aku dibuat kaget. sepeda motor Tora ada di sana terparkir di dekat motorku. Sementara tas hitam yang biasa dibawa ibu ke kantor teronggok di atas meja makan. Jadi ibu belum berangkat? Dan kenapa motor Tora ada di sini? Aku jadi curiga. Jangan-jangan Tora juga ada di sini dan lagi berdua dengan ibuku di kamarnya. Memikirkan kemungkinan itu, kuperlambat jalanku. Dengan berjingkat kumasuki kamarku sendiri. Setelah mengunci pintu kamar dari dalam, langsung kutuju lubang rahasia yang biasa kugunakan untuk mengintip ke kamar ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaanku tidak meleset. Tora ada di kamar itu berdua dengan ibuku. Di atas ranjang besar tempat tidur ibu, keduanya tengah ngewe. Kulihat Ibu sudah tidak berpakaian dan satu-satunya penutup tubuh yang dikenakan hanya celana dalam warna hitam, duduk menyandar di dinding kamar. Ia terlihat sangat menikmati apa yang tengah dilakukan Tora pada dirinya. Ya Tora menghisapi salah satu pentil susu ibu di bagian kiri dengan mulutnya. Sementara payudaranya yang sebelah kanan, sesekali dibelai dan diremas gemas oleh pemuda teman akrab dan kawan sekolahku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti bayi yang kehausan, Tora menetek dengan lahap di payudara ibu yang besar. Pasti hisapannya sangat kuat pada puting susu ibu yang coklat kehitaman hingga ibu tampak menggelinjang menahan nikmat. Terlebih tangan Tora juga tak mau berhenti meremasi buah dadanya yang lain sambil sesekali memilin putingnya. “Ah… ah.. terus hisap Ron, ah enak banget. Tetek tante enak banget kamu begitukan Ron, ah.. sshh…ahh …aaahhh,” suara ibu terdengar mengerang dan melenguh menahan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin seharusnya aku merasa jengah atau stidaknya memprotes atas apa yang tengah dilakukan Tora pada ibuku. Tetapi tidak, aku malah menikmati permainan mereka. Bahkan ingin rasanya aku menggantikan peran Tora. Karena sudah cukup lama aku ingin menyentuh dan menghisap tetek ibu bahkan sekaligus menyetubuhinya. Aku memang sangat terangsang setiap mengintip dan mendapati ibu tengah telanjang. Hanya selama ini aku hanya bisa menyetubuhi dalam angan-angan yakni beronani sambil membayangkan menyetubuhinya.&lt;br /&gt;Aku makin terangsang ketika Tora mulai menciumi kemaluan ibu dari luar CD hitam yang dikenakannya. Kulihat ujung hidung Tora disentuhkan di bagian tengah bibir ngewe ibu yang masih tertutup CD. Sesekali Tora juga menggunakan mulutnya untuk mengecup. Ah kenapa Tora tidak segera melepas saja CD hitam itu. Terus terang aku jadi tidak sabar untuk melihat bentuk sejelasnya vagina ibu. Selama ini, setiap mengintip, aku hanya bisa melihatnya sepintas. Kini, dengan posisi duduk mengangkang seperti itu, kalau CD nya dibuka pasti bibir ngewe ibu bisa terlihat detilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata harapanku tidak sia-sia. Hanya, bukan Tora yang mengambil insiatif tetapi malah ibuku. “Kamu sudah kangen ngewe ama tante ya Ron? Tante buka deh celana dalamnya biar kamu bisa melihat sepuasnya atau ngewe sesuka kamu. Tetapi baju dan celana kamu dibuka juga dong,” kata ibu sambil memelorotkan dan melepas celana dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ibuku benar-benar telanjang tanpa sehelai benang yang menutupinya setelah CD warna hitamnya dilepas dan dilemparkan sekenanya. Dan yang membuatku kaget, bibir ngewe ibu yang biasanya terlihat lebat ditumbuhi rambut hitam, telah dicukur gundul. Padahal tiga hari lalu, saat aku mengintipnya dari kamar seusai mandi, vagina ibu masih tertutup oleh kerimbunan rambut hitam keritingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bibir ngewe yang telah tercukur kelimis itu lebih merangsang karena seluruh detilnya jadi terlihat jelas. Dalam posisi duduknya yang mengangkang, kemaluan ibuku membentuk busungan besar yang terbelah di bagian tengahnya. Hanya, bibir ngewe bagian luarnya yang berwarna coklat kehitaman terlihat tebal dan berkerut. Kontras dengan warna di bagian dalam yang agak kemerahan. Sedangkan kelentitnya yang berada di ujung celah bagian atas, terlihat cukup besar ukurannya. Mungkin sebesar biji jagung dan tampak mencuat. Ah .. merangsang banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir bagian luar bibir ngewe ibu yang berwarna coklat kehitaman, tebal dan berkerut itu, kemungkinan terbentuk akibat seringnya tergesek kejantanan milik laki-laki. Baik milik almarhum suaminya semasa hidup atau milik ayah kandungku yang menjadi teman selingkuh ibu. Bahkan mungkin penis beberapa pria lain yang pernah singgah dalam hidupnya karena beberapa tahun lalu sempat pula kudengar kabar ibu ada main dengan salah seorang atasannya hingga sebagai PNS ia sempat dipindahtugaskan ke daerah terpencil selama beberapa waktu.&lt;br /&gt;Tora menghampiri ibuku setelah melepas baju seragam sekolah dan semua yang dikenakannya. Penis nya tampak tegak mengacung dan keras. Hanya, soal ukuran, kuyakin setingkat di bawah punyaku yang lebih panjang dan besar. Tadinya kukira Tora akan langsung menindih dan menancapkan rudalnya di bibir ngewe ibu yang memang telah menunggu untuk disogok.&lt;br /&gt;Namun dengan santai, bak lelaki dewasa yang sudah berpengalaman dengan perempuan, direbahkannya tubuhnya dekat tubuh ibu mengangkang. Posisi kepalanya persis berada diantara kedua paha ibu yang terbuka lebar atau persis berhadapan dengan bibir ngewe ibuku. Posisi itu dipilihnya, nampaknya agar ia dapat dengan mudah menatapi bibir ngewe ibuku dari jarak sangat dekat dan sekaligus menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku kian membuka lebar kangkangan pahanya ketika tangan Tora mulai menjamah bagian paling sensitif miliknya. Diusap-usapnya bibir luar bibir ngewe ibu yang tebal dan berkerut dengan telapak tangannya dan sesekali diselipkannya ujung jari tengah tangan Tora ke bibir ngewe di antara celahnya. Disentuh sedemikian rupa oleh tangan Tora, terlebih ketika jari tengah teman sekolahku itu menyentuh kelentitnya, mulut ibu mulai mendesis dan melenguh.&lt;br /&gt;Tora tak hanya menggunakan tangan untuk menyentuhnya tetapi mulai menggunakan lidahnya untuk menjilat dan mengkilik bibir ngewe nya, maka desahan yang keluar berubah menjadi erangan. Bahkan tubuh ibuku terlihat menggelinjang dan tergetar ketika Tora mengecupi dan menghisapi kelentit ibuku. “Aauuw.. oh.. oh.. Ron kamu apakan bibir ngewe tante. Ssshh.. sshh oh enak banget Ron. Ya.. ya ahh enak banget Ron, terus sayang ya terus aahhh ,” erangnya menahan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara yang keluar dari mulut ibuku, bukannya membuat Tora menghentikan aksinya. Tetapi malah memberinya semangat untuk membuat aksi jilatan dan hisapan dengan mulutnya lebih efektif. Lidahnya makin dalam dijulurkan ke dalam bibir ngewe  itu dan hisapannya pada kelentit ibu dilakukannya dengan lebih keras dan gemas. Hingga tubuh ibuku berkali-kali meronta namun terlihat sangat menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya, Tora tak hanya menjilati  bibir ngewe ibuku. Lidahnya yang kuyakin telah terlatih untuk menjilati bibir ngewe Bik Nah, wanita yang bekerja sebagai pembantu di rumahnya yang sering diceritakannya, mulai mencari sasaran lain. Itu kuketahui karena setelah ia meremas-remas bokong besar ibuku dan membukanya hingga  anusnya terlihat, lidahnya kembali dijulurkan dan diarahkan ke sana. Dan tanpa rasa jijik sedikitpun ia mulai menyapu-nyapukan lidahnya di  anus yang berwarna senada dengan bibir ngewe ibu yang coklat kehitaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya menyapu dan menjilat, lidah Tora pun dicolokkan bagian ujungnya seolah berusaha menerobos ke bagian dalam  anus itu. Diperlakukan seperti itu bibir ngewe keras menahan nikmat. “Iiiihhhh diapakan lagi tante Ron. Oh.. oh.. sshh… aahh enak banget Ron. Kamu pintar banget sayang. Tante nggak pernah merasakan ngewe yang seperti ini,” ungkapnya terbata di sela-sela rintihan dan lenguhan yang keluar dari mulut ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena sudah tak tahan menahan gairah yang kian memuncak, ibu akhirnya menggeser tubuh. Melepaskan bokong nya dari mulut Tora yang terus mencengkeram menyerang anusnya dengan jilatan lidahnya. Tadinya ibu bermaksud melakukan serangan balik yakni mengerjai penis Tora dengan mulutnya. Namun Tora memaksa ingin tetap dapat mengerjai bagian bawah tubuh ibu. Hingga akhirnya disepakati untuk posisi ngewe 69 yang memungkinkan keduanya dapat menjilat dan menghisap bagian paling peka milik keduanya.&lt;br /&gt;Dengan posisi merangkak di atas tubuh Tora yang telentang, ibu memulai aksinya dengan melakukan sapuan dan jilatan pada kepala penis Tora yang tegak mengacung. Lalu, dikulum dan dimasukkannya batang penis Tora ke dalam mulutnya sambil dihisap-hisapnya. Perlakuan serupa dilakukan ibu pada kedua biji pelir kemaluan Tora. Maka kini Tora dibuatnya seperti cacing kepanasan. Tubuh Tora terlihat mengejang. Ia juga mengerang melampiaskan rasa nikmat yang diterimanya dengan meremasi bongkahan bokong besar ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati adegan panas yang dilakukan ibu dan Tora dari tempatku mengintip, tanpa sadar aku mengeluarkan sendiri penis ku yang juga telah tegak mengacung dan mulai meremasinya sendiri. Nafasku memburu menahan gairah yang kian membakar. Ah, kapan aku bisa menyentuh dan menikmati keindahan tubuh ibu seperti yang tengah dilakukan Tora saat ini, keluhku membatin. Bahkan sempat pula menyelinap dalam anganku untuk menikmati kehangatan tubuh Tante Dewi Persik, ibunya Tora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kocokan pada penisku makin kupercepat ketika adegan di kamar ibu mendekati klimaks. Kulihat ibu telah dalam posisi berjongkok di atas pinggul Tora dan mengarahkan  bibir ngewe nya ke tonggak penis Tora yang tegak mengacung. Maka ketika bokong ibu diturunkan perlahan, masuk dan amblaslah batang penis itu ke dalam kehangatan kemaluan ibuku. “Kamu diam saja Ron, kini giliran tante yang memberi kenikmatan,” kata ibu sambil mulai menaik-turunkan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya gerakan naik turun yang dilakukan ibu di atas tubuh Tora. Sesekali, sambil membenamkan lebih dalam penis Tora di dalam  bibir ngewe nya, pinggul ibu memutar-mutar hingga keduanya merasakan kenikmatan yang ditimbulkan. “Ah.. sshhh oh.. oh.. bibir ngewe tante enak banget seperti menghisap. Oh.. oh enak banget tante, ah.. ah punya Tora mau keluar tan, ah… oh,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahan dulu Ron jangan dikeluarkan dulu. Kita ganti posisi ngewe ya? Biar keluarnya sama-sama enak,” ujar ibu sambil merubah posisi ngewe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu lama, setelah ibu kembali dalam posisi ngewe mengangkang, Tora yang terlihat sudah tidak mampu lagi mengontrol gairahnya langsung mengarahkan ujung penis nya ke  bibir ngewe ibuku. Dan entah disengaja atau karena tak mampu menahan gairah yang menggebu, Tora menurunkan pinggulnya dengan sentakan yang cukup kuat. Akibatnya, di samping batang kemaluan Tora langsung amblas terbenam, ibu jadi mengerang tertahan.&lt;br /&gt;“Auw .. pelan-pelan dong sayang,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf tente. Habis Tora gemes sih sama bibir ngewe tante,” kata Tora sambil terus menaik turunkan tubuhnya di atas tubuh ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya hanya perlahan. Namun ketika ibu mulai meningkahi dengan menggoyang-goyang memutar pinggulnya, hunjaman penis Tora di bibir ngewe ibuku semakin cepat. Akibatnya peluh nampak berleleran pada pasangan berlainan jenis sekaligus berbeda usia cukup jauh yang tengah melampiaskan hasratnya itu. Sesekali tangan Tora kulihat menjamah dan meremasi tetek ibuku yang terguncang-guncang. Memilin-milin putingnya dan juga menghisap dengan mulutnya.&lt;br /&gt;Tenda-tanda keduanya hendak mencapai klimaks terlihat ketika gerakan Tora terlihat kian tidak terkontrol. Begitu pun ibu, goyangan pinggulnya tidak berirama lagi. Puncaknya, keduanya sama-sama mengerang dengan tubuh mengejang. Maka jebolah pertahanan Tora, maninya tercurah menyembur di  bibir ngewe ibuku. Sedangkan ibuku, puncak orgasmenya ditunjukkan dengan belitan kakinya ke pinggang Tora dibarengi tubuh yang mengejang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, setelah ibu kembali ke kamar seusai membersihkan diri di kamar mandi, sebenarnya Tora mencoba melakukan pemanasan kembali. Saat ibu berdiri di depan meja rias dan hendak memakai celana dalam, Tora mencegahnya. Ia berjongkok di depannya dan mulai mengecupi bibir ngewe ibu. Bahkan salah satu kaki ibu diangkatnya dan ditempatkannya di kursi meja rias hingga memudahkannya menjilati bibir ngewe ibu. Namun kendati ibu terlihat kembali terangsang oleh hisapan mulut Tora pada kelentitnya, ia menolak melanjutkannya lebih jauh.&lt;br /&gt;Menurut ibu, hari ini ada rapat penting di kantornya yang tidak dapat ditinggalkan. Maka Tora terpaksa harus menahan diri untuk kembali melampiaskan gairah mudanya yang masih menggebu. Keduanya meninggalkan rumah setelah berdandan rapi. Sedangkan aku, terpaksa meneruskan onaniku yang belum tuntas sambil membayangkan hangatnya tubuh ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak peristiwa itu, aku jadi tahu kemana perginya Tora tiap membolos sekolah tanpa mengajakku. Belakangan memang Tora sering membolos tetapi tidak memberitahu dan mengajakku. Rupanya dia punya acara asyik ngentot dengan ibuku. Tetapi yang membuatku kagum dan mengundang rasa ingin tahuku, bagaimana awal mulanya hingga ia bisa berselingkuh dengan ibuku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bertanya langsung padanya aku tidak berani. Takut dia jadi tahu bahwa sebenarnya perbuatannya dengan ibuku telah diketahui olehku dan pertemananku dengannya jadi renggang. Lagian terus terang, kalau diberi kesempatan, aku juga ingin banget bisa bisa menikmati bibir ngewe ibu. Juga ngentot dengan ibunya Tora yang bodi dan keseksiannya nyaris sama dengan ibuku jadi aku harus membina keakraban dengan Tora. Hanya untuk melangkah ke arah itu aku belum berani dan tidak punya pengalaman seperti Tora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, sejak mengetahui antara ibu dan Tora ada hubungan khusus, aku sering memberi kesempatan agar mereka bisa menyalurkan hasratnya secara lebih leluasa. Saat Tora main ke rumah, aku pura-pura punya acara dengan teman lain dan meninggalkan mereka. Padahal, aku malah ke rumah Tora dengan berpura-pura pada ibunya hendak menemui dia. Hingga belakangan hubunganku dengan ibunya Tora makin akrab dan aku bebas melakukan apa saja di rumahnya seperti halnya Tora di rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sore itu, di saat Tora main ke rumah, aku berpura-pura udah janjian dengan pacarku untuk menghadiri acara ulang tahun. Padahal aku langsung ke rumah Tora. “Tadi katanya ke rumah kamu Did? Padahal udah dari tadi lho,” kata ibunya Tora saat aku masuk.&lt;br /&gt;Saat membukakan pintu, ibunya Tora rupanya habis mandi. Tubuhnya basah dan hanya dibungkus handuk. Tetapi, handuk yang dipakai melilit tubuhnya sangat kekecilan. Hingga di bagian bawah hanya menutup sampai ke pangkal pahanya. Sementara teteknya yang besar menggunung tampak menyembul karena handuk itu tidak mampu menutup rapat bagian itu sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya ibuku, ibunya Tora juga berbodi tinggi besar. Bokong nya besar membusung dengan pinggul yang mengundang. Hanya, kulit Tante Dewi Persik (nama ibunya Tora) agak sedikit gelap. Tetapi kesemua bagian tubuhnya benar-benar merangsang hingga membuatku terpana menatapinya. Namun anehnya, kendati tatapanku terang-terangan tertuju pada pahanya yang menyembul dan bagian lain tubuhnya yang mengundang selera, ia seperti tak menghiraukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mempersilahkanku masuk dan menutup pintu, dengan santai ia membereskan koran dan majalah yang terserak di ruang tamu. Posisinya yang agak membungkuk saat melakukan aktivitasnya itu menjadikan gairahku terpacu lebih kencang. Betapa tidak, karena handuknya yang kelewat kecil, bongkahan bokong besarnya kini benar-benar terpampang di hadapanku. Juga aku bisa melihat bibir ngewe nya yang mengintip di antara pangkal pahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuyakin itu disengaja. Karena ia seperti berlama-lama dalam posisi itu kendati koran dan majalah yang dibereskan hanya sedikit. Ah ingin rasanya meremas bokong besar yang menggunung itu. Atau mengelus bibir ngewe nya yang sepertinya habis bercukur. Kalau Tora, mungkin ia sudah nekad melakukan apa yang diinginkan. Tetapi aku tidak memiliki keberanian hingga hanya jakunku yang turun naik menelan ludah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh Did, kamu ada acara nggak? Kalau nggak ada acara, tolong antar tante ya. Tante harus menagih ke orang tapi tempatnya jauh dan sulit kendaraan,” ujarnya setelah semua koran dan majalah tertata rapi di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eee.. ee bi.. bisa tante. Nggak ada acara kok,” kataku agak tergagap.&lt;br /&gt;“Kalau begitu tante ganti baju dulu. Oh ya kalau kamu haus ambil sendiri di kulkas, mungkin masih ada yang bisa diminum,” ujarnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis namun sangat sulit kuartikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu buah teh botol dingin yang kuambil dari kulkas langsung kutenggak dari botolnya. Rupanya, tontonan gratis yang sangat menggairahkanku tadi membuat tenggorokanku jadi kering hingga teh botol dingin itu langsung tandas. Belakangan baru kusadari, ternyata Tante Dewi Persik tidak menutup kembali pintu kamarnya. Dengan bertelanjang bulat, karena handuk yang melilit tubuhnya telah dilepas, dengan santai ia memilih-milih baju yang hendak dikenakan. Maka kembali suguhan mengundang itu tersaji di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya bokong nya yang besar membusung. Buah dada Tante Dewi Persik juga besar namun agak menggantung. Putingnya yang berwarna coklat kehitaman, terlihat mencuat. Ah ingin banget bisa membelai dan meremasnya atau menghisapnya seperti yang dilakukan Tora pada tetek ibuku. Sebenarnya aku ingin banget melihat bentuk bibir ngewe Tante Dewi Persik secara jelas. Namun karena posisinya membelakangiku, aku tak dapat melihatnya. Tetapi benar seperti kata Tora, tubuh ibunya yang berambut sebahu itu masih belum kehilangan pesonanya sebagai wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menemukan baju yang dicari dan berniat dipakainya, Tante Dewi Persik berbalik dan memergokiku tengah menatapi tubuh telanjangnya. Tetapi sepertinya ia tidak marah. Bahkan dengan santai, ia kenakan celana dalam di hadapanku. Hanya karena merasa tidak enak dan takut dianggap terlalu kurang ajar, aku segera meninggalkannya menuju ke ruang tamu untuk menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya Tora meski telah bergelar hajah dan setiap keluar rumah selalu membungkus rapat tubuhnya dengan busana muslimah, namun masih menjalankan usaha yang tercela. Di samping bisnisnya sebagai pedagang perhiasan berlian, ia juga meminjamkan uang dengan bunga tinggi atau rentenir. Hanya kalau di rumah, pakaiannya sangat terbuka dan tidak sungkan-sungkan memamerkan tubuh indahnya seperti yang barusan dilakukan di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah orang yang ditagih Tante Dewi Persik ternyata memang cukup jauh dan kondisi jalannya juga jelek. Untung orangnya ada dan memenuhi janjinya membayar hutang hingga Tante Dewi Persik terlihat sangat senang. Saat pulang, karena sudah malam dan kondisi jalan sangat jelek, beberapa kali motorku nyaris terguling. Karena takut terjatuh, Tante Dewi Persik membonceng dengan memeluk erat tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi membonceng yang terlalu mepet, sepasang gunung kembar Tante Dewi Persik terasa menekan punggungku. Aku jadi membayangkan bentuknya yang kulihat saat ia telanjang di rumahnya. Hal itu membuatku terangsang dan menjadikan konsentrasiku mengendarai sepeda motor agak terganggu. Bahkan nyaris menabrak pengendara sepeda yang ada di hadapanku. Untung Tante Dewi Persik segera mengingatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Did karena kamu sudah mengantar tante, tante akan memberi hadiah istimewa. Tapi kamu harus menjawab dulu pertanyaan tante dengan jujur,” kata Tante Dewi Persik saat perjalanan hampir sampai rumah.&lt;br /&gt;“Pertanyaan apa Tan?”&lt;br /&gt;“Tadi waktu lihat tante telanjang di kamar, kamu terangsang kan?” katanya berbisik di telingaku sambil kian merapatkan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menyangka ia akan bertanya seperti itu. Aku jadi bingung buat menajawabnya. Harusnya kujawab jujur bahwa aku sudah sangat terangsang. Tetapi aku nggak berani takut salah. Sampai akhirnya, kurasakan tangan Tente Dewi Persik meraba bagian depan celana dan meraba penis ku yang telah tegang mengacung. “Ini buktinya punyamu tegang dan mengeras. Pasti karena terangsang membayangkan tetek tante yang menempel di punggungmu kan?”&lt;br /&gt;“I..i.. iya tan,” kataku akhirnya menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah gitu dong ngaku. Makanya cepet deh bawa motornya biar cepet sampai rumah. Kalau Tora belum pulang, nanti kamu boleh lihat punya tante sepuasmu,” ujarnya lagi sambil terus mengelus penis ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penawaran ibunya Tora adalah sesuatu yang paling kudambakan selama ini. Maka langsung saja kupacu kencang laju sepeda motor seperti yang diperintahkannya. Mudah-mudahan saja Tora belum pulang hingga tidak membatalkan niat Tante Dewi Persik untuk memberi hadiah istimewa seperti yang dijanjikannya. Mudah-mudahan ia masih terus asyik menikmati kehangatan tubuh ibuku seperti yang pernah kulihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, setelah tahu Tora belum pulang, aku diminta memasukkan sepeda motor dan menutup pintu. “Setelah itu tante tunggu di kamar,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah semua perintahnya kulaksanakan, aku ragu untuk masuk ke kamar Tante Dewi Persik seperti yang diperintahkannya. Tidak seperti Tora yang telah berpengalaman dengan wanita setidaknya dengan pembantu di rumahnya dan dengan ibuku, aku belum pernah melakukannya meskipun sering beronani dan membayangkan menyetubuhi ibuku maupun ibunya Tora. Hingga aku hanya duduk mencenung di ruang tamu menunggu panggilan Tante Dewi Persik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, mungkin karena aku tak kunjung masuk ke kamarnya, Tante Dewi Persik sendiri yang keluar kamar menemuiku. Hanya yang membuatku kaget, ia keluar kamar bertelanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya. “Katanya suka melihat tante telanjang, kok nggak cepet masuk ke kamar tante?” katanya menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berdiri tepat di hadapan tempatku duduk seolah ingin mempertontonkan bagian paling pribadi miliknya agar terlihat jelas olehku. Tak urung jantungku berdegup lebih kencang dan jakunku turun naik menelan ludah. Betapa tidak, tubuh telanjang Tante Dewi Persik kini benar-benar terpampang di hadapanku. Diantara kedua pahanya yang membulat padat, di selangkangannya kulihat bibir ngewe nya yang menggunduk. Licin tanpa rambut karena habis dicukur. Dan seperti bibir ngewe ibuku, bibir luar ngewe nya yang berwarna coklat kehitaman tampak berkerut-kerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan wanita seusia dengannya, perut Tante Dewi Persik sedikit membuncit dan ada lipatan-lipatan di sana. Namun buah dadanya yang menggantung dengan putingnya yang menonjol nampak lebih besar ketimbang milik ibuku. Ibu temanku itu hanya tersenyum melihat ulahku yang seperti terpana menatapi bukit ngewe nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah darimana datangnya keberanian itu, tiba-tiba tanganku terulur untuk meraba bibir ngewe Tante Dewi Persik. Hanya sebelum berhasil menyentuh, keraguan seperti menyergap hingga nyaris kuurungkan niatku. “Ayo Did pegang saja. Kamu ingin merabanya kan? Sudah lama punya tante nggak ada yang menyentuh lho,” kata Tante Dewi Persik melihat keraguanku.&lt;br /&gt;Hangat, itu yang pertama kali kurasakan saat telapak tanganku akhirnya mengusap bibir ngewe wanita itu. Permukaannya agak kasar, mungkin karena bulu-bulu rambutnya yang habis dicukur. Sedangkan di bagian tengah, di bagian belahannya, daging kenyal yang berkerut-kerut itu terasa lebih hangat. Aku mengelus dan mengusapnya perlahan. Ah, tak kusangka akhirnya aku dapat menjamah kemaluan Tante Dewi Persik yang sudah lama kudambakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tetap duduk, aku terus merabai bibir ngewe ibu temanku itu. Bahkan jariku mulai mencolek-colek celah diantara bibir vaginanya yang berkerut. Lebih hangat dan terasa agak basah. Sebenarnya aku ingin sekali melihat bentuk kelentitnya. Namun karena Tante Dewi Persik berdiri dengan kaki agak merapat, jadi agak sulit untuk dapat melihat kelentitnya dengan leluasa. Untungnya, Tante Dewi Persik langsung tanggap. Tanpa kuminta, kaki kanannya diangkat dan ditempatkan di sandaran kursi tempat aku duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisinya itu, bibir ngewe ibunya Tora jadi lebih terpampang di hadapanku dalam jarak yang sangat dekat. Kini bibir ngewe nya tampak terbuka lebar. Di bagian dalam warnanya kemerah-merahan. Dan kelentitnya yang ukurannya cukup besar juga terlihat mencuat. “Pasti kamu ingin lihat itil tante kan? Ayo lihat sepuasmu Did. Atau jilati sekalian. Tante ingin merasakan jilatan lidahmu,” ujar Tante Dewi Persik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan itu sambil memegang kepalaku dan menekannya agar mendekati ke selangkangannya. Jadilah wajahku langsung menyentuh bibir ngewe nya karena tarikan Tante Dewi Persik pada kepalaku memang cukup kuat. Saat itulah, aroma yang sangat asing yang belum pernah kukenal sebelumnya membaui hidungku. Bau yang timbul dari  bibir ngewe ibunya Tora. Bau yang aneh tapi membuatku makin terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat segala yang dilakukan Tora pada bibir ngewe ibuku. Maka setelah menciumi dengan hidungku untuk menikmati baunya, bibir ngewe nya yang berkerut langsung kulahap dan kucerucupi. Bahkan seperti menari, lidahku menjalari setiap inci bibir ngewe Tante Dewi Persik. Sesekali lidahku menyodok masuk sedalam yang bisa dicapai dan di kesempatan yang lain, ujung lidahku menyapu itilnya. Hasilnya, Tante Dewi Persik mulai merintih perlahan. Tampaknya ia mulai merasakan kenikmatan dari tarian lidahku di bibir ngewe nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh… sshh … aahh enak banget Did. Terus sayang, aahh .. ya.. ya enak sayang ahhh,” suara Tante Dewi Persik mulai merintih dan mendesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mulai merabai dan meremasi sendiri buah dadanya. Aku jadi makin bersemangat karena yang kulakukan telah membuatnya terangsang. Itil Tente Dewi Persik tidak hanya kujilat, tetapi kukecup dan kuhisap-hisap. Sementara bongkahan bokong besarnya juga kuraih dan kuremasi dengan tanganku. “Auu … enak banget itil tante kamu hisap sayang! Aahh…. sshhh ..ohh… enak banget. Kamu pinter banget Did,… ahhh ….ssshh …ahhh,” rintihanya makin menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama aku mengobok-obok bibir ngewe Tante Dewi Persik dengan mulut dan lidahku. Bibir ngewenya menjadi sangat basah karena dibalur ludahku bercampur dengan cairan vaginanya yang mulai keluar. Akhirnya, mungkin karena kecapaian berdiri atau gairahnya semakin memuncak, ia memintaku untuk menghentikan jilatan dan kecupanku di liang sanggamanya. “Kalau diterusin bisa bobol deh pertahanan tante,” ujarnya sambil memintaku untuk berganti posisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebelumnya, ia memintaku untuk membuka semua yang masih kukenakan. Bahkan seperti tak sabar, saat aku tengah melepas bajuku ia membantu melepas ikat pinggang dan memelorotkan celana jins yang kukenakan. Termasuk celana dalamku juga dilolosinya.”Wow… penis kamu gede banget Did! Keras lagi,” seru Tante Dewi Persik saat melihat penis ku telah terbebas dari pembungkusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibelai dan di elus-elusnya penis ko sesaat. Ia sepertinya mengagumi ukuran penis ku. Lalu ia duduk di kursi tempat aku duduk sebelumnya dengan posisi mengangkang. Kedua kakinya dibukanya lebar-lebar hingga bibir ngewe nya yang membusung terpampang dengan belahan di bagian tengahnya membuka. Kelentitnya yang mencuat nampak mengintip di sela-sela bibir luar ngewe nya yang berkerut-kerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Dewi Persik yang nampaknya jadi tak sabar langsung menarikku mendekat. Dibimbing tangan wanita itu penis ku diarahkan ke  bibir ngewe nya. “Dorong dan masukkan Did penis mu. Ih gemes deh, punya kamu besar banget,”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu perintahnya yang kedua kali, aku langsung menekan dan mendorong masuk penis ku ke  bibir ngewe nya. Tapi, “Aaauuww,.. jangan kencang-kencang Did. Bisa jebol nanti bibir ngewe tante,” pekik Tante Dewi Persik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi kaget dan berusaha menarik kembali penis ku namun dicegah olehnya. “Jangan sayang, jangan ditarik. Biarkan masuk tetapi pelan-pelan saja ya,” pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dimintanya, batang penis ku yang baru masuk sepertiga bagian kembali kudorong masuk. Namun dorongan yang kulakukan kali ini sangat perlahan. Hasilnya, bukan cuma Tante Dewi Persik yang terlihat menikmati sodokan penis ku di bibir ngewe nya. Tetapi aku pun merasakan sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa. Kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kenikmatan yang sulit kulukiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih ketika penis ku mulai kukeluarmasukkan ke dalam bibir ngewe itu. Ah, luar biasa nikmat. Jauh lebih enak menikmati kehangatan bibir ngewe Tante Dewi Persik secara langsung ketimbang hanya membayangkan dan mengocok sendiri dengan tangan. Bagian dalam dinding bibir ngewe Tante Dewi Persik seperti menjepit dan menghisap hingga menimbulkan kenikmatan tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus Did,.. uh… uhh… penis mu enak banget. Gede dan marem banget. Ah iya Did, terus sogok bibir ngewe Tante sayang. Ah,.. ahh… ahhhh,” Tante Dewi Persik mengerang nikmat.&lt;br /&gt;Mendengar erangannya, aku jadi kian bersemangat mengentotinya. Apalagi aku melakukannya sambil terus memandangi bibir ngewe nya yang tengah diterobosi penis ku. Ternyata, di bibir luar kemaluan Tante Dewi Persik ada sebentuk daging yang menggelambir. Saat batang penisku kudorong masuk, daging menggelambir itu ikut terdorong masuk. Namun saat aku menariknya, bagian tersebut juga ikut keluar. Melihat itu sodokan penis ku pada bibir ngewe wanita itu kian bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bibir ngewe Tante nggak enak ya Did? Kok dilihatin begitu?” Kata Tante Dewi Persik. Rupanya ia memperhatikan ulahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eee. enak bangat Tante. Sungguh. Bibir ngewe tante bisa meremas. Saya sangat suka,” ujarku tanpa berterus terang perihal bagian daging yang menggelambir dan menarik perhatianku.&lt;br /&gt;“Bener Did? Kalau kamu suka, kapanpun kamu boleh entotin terus tante. Tante juga suka banget penis kamu. Ahhh sshhh… aakkhhh… enakk bangat sayang. Ohhh terus Did, ayo sayang sogok terus. Ahhh… ahh …ah,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terus melakukan sodokan ke liang sanggamanya, perhatianku juga tertarik pada buah dada Tante Dewi Persik yang terlihat terguncang-guncang seiring dengan guncangan tubuhnya. Maka langsung saja kuremas-remas teteknya yang berukuran besar namun agak kendur itu. Sesekali kedua putingnya yang mencuat, berwarna coklat kehitaman kupilin dengan jari-jariku. Alhasil Tante Dewi Persik kian kelojotan, desah nafasnya semakin berat dan erangannya semakin menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi keteter ketika wanita itu mulai melancarkan serangan balik dan menunjukkan kelihaiannya sebagai wanita berusia matang. Ia yang tadinya mengambil sikap pasif dan hanya menikmati setiap sogokan penis ku di bibir ngewe nya, mulai menggoyangkan pinggulnya. Goyangannya seakan mengikuti irama sodokan penis ku di bibir ngewe nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka yang kurasakan sungguh di luar perhitunganku. Jepitan dinding vaginanya pada penis ku terasa semakin menghimpit dan putarannya membuat batang penis ku serasa digerus dan dihisap. “Oohh… ohh… sshhh ..ssh ah enak bangat tante. Bibir ngewe tante enak banget. Sss sa.. saya nggakk.. tahan tante. Ohh… ohhhh,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahan Did, tante juga hampir sampai. Ah enak banget… penis kamu enak banget Did. Ah.. sshhh ahh….sshh ahh ahhh,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diinginkannya, aku berusaha keras menahan jebolnya pertahananku. Namun saat goyangan bokong Tante Dewi Persik kian menjadi, berputar dan meliuk-liuk lalu disusul dengan melingkarnya kedua kaki wanita itu ke pinggangku dan menariknya, akhirnya ambrol juga semua yang kutahan. Seperti air bah, air maniku memancar deras dari ujung penis mengguyur bagian dalam bibir ngewe ibu temanku itu diantara rasa nikmat yang sulit kulukiskan. “Saya nggak tahan tante, ahh… ssshhh ..ahhh… ah..aakkhhhhhhh,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan yang kudapat semakin berlipat ketika beberapa detik berselang, bibir ngewe Tante Dewi Persik berkejut-kejut menjepit, meremas dan seperti menghisap dengan keras penis ku. Rupanya, ia juga telah sampai pada puncak gairahnya. “Tante juga nyampai Did. Ahh.. sshhh… ohhh …ooohh … aakkkhhh,. Enak bangat Did,… ahhh,.. akkhhhh …..aaaakkkkhhhhhhhh,” ia merintih keras dan diakhiri dengan erangan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Dewi Persik menciumiku dan memeluk erat tubuhku dalam dekapan hangat tubuhnya yang bermandi keringat setelah puncak kenikmatan yang kami rasakan. “Tante sangat puas Did. Sudah lama tante tidak merasakan yang seperti ini. Kalau kamu suka, pintu rumah tante selalu terbuka kapan saja,” katanya sambil terus memeluk dan menciumiku sampai akhirnya ia mengajakku mandi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu setelah makan bersama, aku dan Tante Dewi Persik mengulang beberapa kali permainan panas yang tidak sepantasnya dilakukan. Berkali-kali air maniku muncrat membasahi  bibir ngewe nya dan membuat lemas sendi-sendiku. Namun, berkali-kali pula Tante Rpdiyah mengerang dan merintih oleh sogokan penis ku. Baru saat menjelang pagi kami sama-sama terkapar kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-8079550947673892564?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/8079550947673892564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-tora-ngewe-dg-ibuku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/8079550947673892564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/8079550947673892564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-tora-ngewe-dg-ibuku.html' title='Cerita NGEWE |  Tora ngewe dg ibuku'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-1383734912579595141</id><published>2009-04-10T20:00:00.000-07:00</published><updated>2009-04-10T20:00:01.021-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Dian Sastro Pemuas Nafsuku</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;p&gt;Setelah aku lulus SMA, aku melanjutkan studi di Bandung. Kebetulan aku diterima di sebuah PTN yang terkenal di Bandung. Mengenai hubunganku dengan tante "U" di kota asalku sudah berakhir sejak kepindahan keluarga Oom U ke Medan, dua bulan menjelang aku ujian akhir SMA. Namun kami masih selalu kontak lewat surat atau telepon.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perpisahan yang sungguh berat, terutama bagiku; mungkin bagi tante U, hal itu sudah biasa karena hubungan sex buat dia hanya merupakan suatu kebutuhan biologis semata, tanpa melibatkan perasaan. Namun lain halnya denganku, aku sempat merasa kesepian dan rindu yang amat sangat terhadapnya, karena sejak pertama kali aku tidur dengannya, hatiku sudah terpaut dan mencintainya. Sejak aku mengenal tante U, aku mulai mengenal beberapa wanita teman tante U, mereka semuanya sudah berkeluarga dan usianya lebih tua dariku. Wanita lain yang sering kutiduri adalah tante H; dan tante A seorang janda cina yang cantik. Jadi semenjak kepindahan tante U ke Medan, merekalah yang menjadi teman kencanku. Karena tante H dan tante A sudah berstatus janda, maka tak ada ke-sulitan bagi kami untuk mengatur kencan kami.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hampir setiap hari aku menginap di rumah tante H, dengan tante H boleh dikata setiap hari aku melakukan ngewe tidak mengenal waktu, dan tempat. Pagi, siang sore atau malam, di kamar, di ruang tamu, di dapur bahkan pernah di teras belakang rumahnya.Teradang kami ngewe bertiga, yakni aku, tante H dan tante A. Di rumah tante H benar-benar diperas tenagaku. Sesekali waktu aku harus melayani temen tante H yang datang ke sana untuk menghisap tenaga mudaku. Aku sudah nggak peduli lagi rupanya aku dijadikan gigolo oleh tante H. Pokoknya asal aku suka mereka, maka langsung kulayani mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suatu saat aku bertemu dengan seorang gadis. Cantik dan sexy banget bodynya. Dian Sastro namanya temen adik perempuanku. Dengan keahlianku, maka kurayu dan kupacari Dian. Suatu hari aku berhasil mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat rekreasi. Di suatu motel akhirnya aku berhasil menidurinya, Aku agak kecewa, rupanya Dian Sastro sudah nggak perawan lagi. Namun perasaan itu aku pendam saja. Kami tetap melanjutkan hubungan, dan setiap kali bertemu maka kami selalu melakukan hubungan badani.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rupanya Dian Sastro benar-benar ketagihan denganku. Tak malu-malu dia mencariku, dan bila bertemu langsung memintaku untuk ngewe . Tapi aneh, Dian Sastro tak pernah menga-jakku bahkan melarang aku datang ke rumahnya. Kami biasa melakukan di motel atau hotel melati di kotaku, beberapa kali aku mengajak Dian Sastro ke rumah tante H. Kuperkenal-kan tante H sebagai familiku, dan tentunya aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk ngewe dengannya di kamar yang sering aku dan tante H gunakan ngewe.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suatu hari, entah kenapa tiba-tiba Dian Sastro memintaku untuk main ke rumahnya, katanya dia berulang tahun. Dengan membawa seikat bunga dan sebuah kado aku ke rumahnya. Aku pencet bel pintu dan Dian Sastro yang membukakan pintu depan. Aku dipersilahkan duduk di ruang tamu. Segera Dian Sastro bergegas masuk dan memanggil mamanya untuk diperkenalkan padaku. Aku terkejut dan tergugu melihat mamanya; sebab perempuan itu.. ya.. mamanya Dian Sastro sudah beberapa kali tidur denganku di rumah tante H. Tante dian sastro nam-pak pias wajahnya namun segera tante dian sastro bisa cepat mengatasi keadaan. Tante dian sastro berlagak seolah-olah tak mengenalku, padahal seluruh bagian badannya sudah pernah kujelajahi. Beberapa saat tante dian sastro menemani kami ngobrol. Dengan sikap tenangnya akupun menjadi tenang pula dan mampu mengatasi keadaan. Kami ngobrol sambil bercanda, dan nampak terlihat bahwa tante dian sastro benar-benar seorang Ibu yang sayang pada putri tunggalnya itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keesokan harinya, tante dian sastro menemuiku. Di ruang tamu rumah tante H tante dian sastro menginterogasiku, ingin tahu sudah sejauh mana hubunganku dengan Dian. Aku tak mau segera menjawab, tanganku segera menarik tangannya dan menggelandang tubuhnya ke kamar. Dia berusaha melepaskan peganganku, namun sia-sia tanganku kuat mencekal, sehingga tak kuasa dia melepaskan tangannya dari genggamanku. Kukunci pintu kamar dan segera aku angkat dan rebahkan tubuhnya di atas kasur. Segera kulucuti pakaianku hingga aku telanjang bulat, dan segera kutindih tubuhnya. Dia meronta dan memintaku untuk tak menidurinya; namun permintaanya tak kuindahkan. Aku terus mencumbunya dan satu persatu pakaiannya aku lucuti, dan akhirnya aku berhasil memasukkan penis ku di bibir ngewe nya. Begitu penisku melesak masuk, maka tante dian sastro bereaksi, mulai memba-las dan mengimbangi gerakanku. Akhirnya kami berpacu mengumbar nafsu, sampai akhirnya tante dian sastro sampai pada puncak kepuasan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Peluhku bercucuran menjatuhi tubuh tante dian sastro, kuteruskan hunjaman penis ku di bibir ngewe nya.. Tante dian sastro mengerang-erang keenakkan, sampai akhirnya orgasme kedua dicapainya. Aku terus genjot penisku, aku bener-bener kesal dan marah padanya, karena aku tahu dengan kejadian itu maka bakalan usai hubunganku dengan Dian, pada-hal cinta mulai bersemi dihatiku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sambil terus kugenjot penis ku di bibir ngewe nya, kukatakan padanya bahwa Dian juga sudah sering aku tiduri, namun aku sangat mencintai, menyayangi bahkan ingin menika-hinya. Aku katakan semua itu dengan tulus, sambil tak terasa air mataku menetes. Akhirnya dengan hentakan yang keras aku mengejan kuat, menumpahkan segala rasa yang aku pendam, menumpahkan seluruh air maniku ke dalam bibir ngewe nya. Badanku tera-sa lemas, kupeluk tubuh tante dian sastro sambil sesenggukan menangis di dadanya. Air mata-ku mengalir deras, tante dian sastro membelai kepalaku dengan penuh rasa sayang; kemudian dikecup dan dilumatnya bibirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tubuhku berguling telentang di samping kanan tubuhnya, tante dian sastro merangkul tubuh-ku menyilangkan kaki kiri dan meletakkan kepalanya didadaku. Terasa bibir ngewe nya hangat dan berlendir menempel diperutku, tangan kirinya mngusap-usap wajahku. Tak henti-hentinya mulutnya menciumku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sambil ngewe aku ceritakan semua kisah romanceku, hingga aku sampai terlibat dalam pergaulan bebas di rumah tante H. Dengan sabar didengarnya seluruh kisahku, sesaat kemudian kembali penisku menegang keras. Segera tanganku bergerilya kembali di bibir ngewe nya, selanjutnya kembali kami berpacu mengumbar nafsu kami. Kami ngewe benar-benar seperti sepasang pengantin baru saja layaknya. Seolah tak ada puasnya. Sampai akhirnya kami kembali mencapai puncak kepuasan beberapa kali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah babak terakhir kami selesaikan, tante dian sastro bangkit dan menggandengku menuju kamar mandi, kami mandi berendam bersama di kamar mandi sambil ngewe . Sambil berendam kami bersenggama lagi. Setelah puas kami menumpahkan hasrat kami, kami keringkan tubuh kami dan segera berpakaian. Nampak sinar puas membias di wajah tante dian sastro.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan bergandeng tangan kami keluar kamar, kupeluk pinggangnya dan kuajak menuju ke ruang tamu. Kami duduk berdua, kemudian berbincang mengenai kelanjutan hubunganku dengan Dian Sastro. Tante dian sastro ingin agar hubunganku dengan Dian Sastro diakhiri saja, walaupun kami sudah begitu jauh berhubungan, sekalipun Dian Sastro sudah hamil karenaku. Dia memberikan pandangan tentang bagaimana mungkin aku menikahi Dian Sastro, sedangkan aku dan tante dian sastro pernah berhubungan layaknya suami istri, sebab bagaimanapun kami akan tinggal serumah. Bagaimana mungkin kami melupakan begitu sqaja affair kami; rasanya tak mungkin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku bisa mengerti dan menerima alasan tante dian sastro, namun aku bingung bagaimana cara menjelaskan kepada Dian Sastro. Aku tak sanggup kalau harus memutuskan Dian Sastro. Akhirnya aku ideku pada tante dian sastro. Selanjutnya selama beberapa hari aku tak mene-muidan sengaja menghindari Dian. Mamanya memberitahu kalau Dian saat ini dalam keadaan hamil 2 bulan akibat hubungannya denganku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada suatu hari, aku di telepon tante dian sastro. Dia memberitahu kalau Dian sedang menuju ke rumah tante H untuk mencari aku. Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan, saat itu tante H sedang menyiram tanaman kesayangannya di kebun belakang. Segera kuhampiri dia dan aku ajak ia ke kamar yang biasa aku dan Dian Sastro pakai untuk berkencan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kulucuti seluruh pakaian tante H dan juga pakaianku sendiri, selanjutnya kami bersenggama seperti biasanya. Tak berapa lama Dian Sastro datang dan langsung menuju ke kamarku. Terdengar pekik tertahan dari mulut-nya saat melihat adegan di atas ranjang; dimana aku dan tante H sedang asyik bersenggama. Terdengar pintu kamar dibanting, Dian Sastro pulang ke rumah dengan hati yang amat terluka. Tante H merasa tak tega dengan kejadian itu, tante H memintaku untuk segera menyusul Dian Sastro; namun tak kuhiraukan; bahkan aku semakin keras dan cepat menghentakan penisku di bibir ngewe nya. Tante H mengerang-erang keenakan, mengimbangi dengan gerakan yang membuat penisku semakin cepat berdenyut. Kami mencapai orgasme hampir bersama, aku berguling dan menghempaskan badanku ke samping tante H. Mataku menerawang jauh menatap langit-langit kamar, air mataku bergulir membasahi pipiku. Inilah akhir hubunganku dengan Dian Sastro, akhir yang amat menyakitkan. Dian Sastro pergi dariku dengan membawa benih anaku di rahimnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Musnah sudah impian dan harapanku untuk membina rumah tangga dengannya. Tante H menghiburku; Dia mengingatkan aku bahwa aku sudah membuat keputusan yang benar. Jadi tak perlu disesali. Didekapnya tubuhku, aku menyusupkan mukaku ke dada tante H; ada suatu kedamaian disana; kedamaian yang memabukkan; yang membangkitkan hasrat kelelakianku lagi. Sessat kemudian kami berpacu lagi dengan hebat, hingga beberapa kali tante H mencapai puncak kepuasan. Aku memang termasuk tipe pria hypersex dan mampu mengatur timing orgasmeku, sehingga setiap wanita yang tidur denganku pasti merasa puas dan ketagihan untuk mengulangi lagi denganku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa hari kemudian aku terima telepon Dian Sastro, sambil terisak Dian Sastro pamit padaku karena dia dan mamanya akan pindah ke Surabaya. Aku minta alamatnya, tapi Dian Sastro keberatan. Dari nada suaranya nampak Dian Sastro sudah tidak marah lagi padaku; maka aku memohon padanya untuk terakhir kali agar dapat aku menemuinya. Dian Sastro mengijinkan aku menemuinya di rumahnya, segera aku meluncur ke rumahnya untuk Inilah saat terakhir akku berjumpa dengan kekasihku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kupencet bel pintu, tante dian sastro membuka pintu dan menyilahkan aku masuk. Nampak wajahnya masih berbalut duka dan kesedihan, dia amat merasa bersalah karena menjadi penyebab hancurnya hubunganku dengan Dian Sastro. Tante dian sastro menggandengku menuju ruang keluarga, nampak Dian Sastro kekasihku duduk menungguku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Melihat aku Dian Sastro bangkit dan menghampiri aku, tak kusangka pipiku ditamparnya dengan keras. Kubiarkan saja agar rasa kesal dan tertekan dihatinya terlampiaskan. Dian Sastro berdiri bengong setelah menamparku, dilihat tangan dan pipiku bergantian seolah tak percaya akan apa yang dia lakukan. Tiba-tiba ditubruk dan dipeluknya badanku, dibenamkan mukanya ke dadaku sambil sesenggukan menumpahkan tangisnya. Aku peluk tubuhnya dan kuelus rambut-nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Agak lama kami demikian; kami menyadari bahwa saat inilah saat terakhir bagi kami untuk bertemu. Tante dian sastro mendekat dan merangkul kami berdua, dan membimbing kami untuk duduk di kursi panjang. Kami bertiga duduk sambil berpelukan, tante dian sastro ditengah; kedua tangannya memeluk kami berdua.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya kesunyian diantara kami terpecahkan dengan ucapan tante dian sastro. Tante dian sastro mengatakan memberi kesempatan pada kami untuk memutuskan, apakah akan kami lanjutkan hubungan kami atau kami putuskan sampai disini saja. Berat sekali rasanya, jika kami teruskan hubungan kami maka berarti aku memisahkan jalinan kasih ibu dan anak tunggalnya ini. Aku menyerahkan keputusan akhir pada Dian Sastro. Sambil terisak Dian Sastro akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, saat kuingatkan bahwa dirahimnya ada benih anakku, Dian Sastro menjawab biarlah.., ini sebagai tanda cinta kasih kami berdua.., Dian Sastro kan tetap memelihara kandungannya dan akan membesarkan anak itu dengan kasih sayangnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa saat kemudian aku berpamitan, dengan berat Dian Sastro melepaskan pelukanku, namun sebelum kami berpisah sekali lagi Dian Sastro memintaku untuk menemaninya. Ditariknya aku ke kamarnya dan dengan penuh kasih sayang, dibukanya pakaianku dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Kami berdiri berpelukan dnegan tanpa sehelai benang menempel pada tubuh kami.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kucumbui Dian Sastro kekasihku untuk terakhir kalinya, aku genjot penisku di bibir ngewe nya dengan lembut dan penuh perasaan, aku khawatir kalau-kalau genjotanku akan menyakit-kan anakku yang ada dirahimnya. Semalam kami bercengkerama, pada pagi keesokan harinya aku berpamitan. Dengan perasaan yang amat berat dilepas kepergianku, aku berpamitan pula pada tante dian sastro, aku cium punggung tangannya sebagai tanda kasih anak ke ibunya, ditengadahkan mukaku dan dikecupnya keningku dengan penuh rasa sayang. Aku menitipkan anakku pada Dian Sastro dan mohon padanya agar memberi kabar saat kelahirannya nanti. Sampai disitulah akhir hubunganku dengan Dian Sastro dan mamanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa hari setelah perpisahanku dengan Dian Sastro, aku merasa sepi dan sedih. tante H yang senantiasa menghiburku, dengan gurauan, kemolekan, kehangatan tubuhnya, dan dengan kasih sayangnya Terkadang di dalam kesendirianku, aku terngat tante U, dengan segala kehangatan tubuhnya. Aku teringat moment-moment yang pernah kami jalani di salah satu kamar di rumah tante H.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di salah satu kamar di rumah tante H itulah kami biasa mengumbar nafsu kami, saling menumpahkan rasa rindu kami, sudah tak terhitung lagi barapa banyak aku menyengga-mainya menumpahkan segenap rasa dan nafsuku, dan sebanyak itu kami berhubungan tak pernah sekalipun kami menggunakan alat kontrasepsi, baik itu kondom, spriral, tablet atau sebangsanya. Jadi kami melakukannya secara alami saja, dan tentunya dapat dibayangkan akibatnya. Yach.. tante U pergi dengan membawa banyak kenangan indahku, membawa cintaku dan membawa pula janin dari benih yang kutanam di rahimnya..&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-1383734912579595141?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/1383734912579595141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-dian-sastro-pemuas-nafsuku.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1383734912579595141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1383734912579595141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-dian-sastro-pemuas-nafsuku.html' title='Cerita Ngewe | Dian Sastro Pemuas Nafsuku'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-8991674645849912558</id><published>2009-04-07T20:00:00.000-07:00</published><updated>2009-04-07T20:00:00.303-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Janda'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Janda Kembar</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;p&gt;Awal semester pertama sudah berjalan 2 bulan lebih 5 hari, jadi tak terasa aku sudah menempati rumah petak kontrakanku selama itu. Setiap hari aku berjalan kaki ke tempat kuliah, yang memang tak jauh dari rumah kontrakanku. Setiap kali aku berangkat atau pulang kuliah, aku selalu melewati sebuah rumah yang dihuni satu keluarga dengan dua anak perempuannya, sebenarnya 3 orang anaknya dan perempuan semuannya. Dua sudah berkeluarga, yaitu Kak Rani dan Kak Rina, sedangkan si bungsu Sandra dewi masih SMA kelas 1 (baru masuk). Kak Rani dan Kak Rina anak kembar, hanya saja nasib Kak Rani lebih baik ketimbang Kak Rina. Kak Rani bersuamikan pegawai Bank dan sudah memiliki rumah serta dua anak perempuan, sedangkan Kak Rina bersuamikan seorang pengemudi box kanvas suatu perusahaan dan belum dikarunia anak, serta masih tinggal bersama ibunya. Bu Maman seorang janda yang baik hati dan sayang benar sama cucunya, yaitu anak Kak Rani.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada mulanya aku berkenalan dengan Sandra dewi, Sandra dewi termasuk gadis yang agresif dan aku juga sudah mendengar cukup banyak tentang petualangan cintanya sejak dia duduk di bangku SMP, jadi masalah sex buat Sandra dewi bukan hal yang baru lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perkenalanku terjadi saat aku pulang kuliah sore hari, dimana hujan turun cukup lebat. Pada saat aku berjalan hendak memasuki mulut gang, berhentilah sebuah angkot dan ternyata yang turun Sandra dewi dengan seragam SMAnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku menawarinya berpayung bersama dan ternyata dia mau. Kuantar Sandra dewi sampai rumahnya, setiba di rumahnya dipersilahkannya aku masuk dan duduk di ruang tamu, sementara dia masuk berganti pakaian. Saat aku menunggu Sandra dewi, Kak Rina keluar dengan membawa secangkir teh hangat dan kue. Mulutku secara tak sadar ternganga melihat kecantikan Kak Rina. Mata nakalku tak henti melirik dan mencuri pandang padanya. Padahal Kak Rina hanya berpakaian sederhana, hanya mengenakan daster motif bunga sederhana, namun kecantikannya tetap nampak. Kulitnya yang putih kekuningan dan badannya yang segar dengan buah dada yang menonjol, semakin menambah kecantikan penampilannya sore itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Melihatku dia tersenyum, nampak sebaris gigi putih yang bersih berjajar. Aku tergagap dan segera kuulurkan tangan untuk berkenalan dengannya. Hangat tengannya dalam genggamanku, dan sambil menunggu Sandra dewi selesai berganti pakaian dia menemaniku ngobrol. Dalam obrolan ku dengan Kak Rina sore itu, baru kutahu kalau Kak Rina sering melihatku saat aku berjalan berangkat dan pulang kuliah. Itulah hari pertamaku berke-nalan dengan keluarga Sandra dewi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pagi esok harinya, saat aku berangkat kuliah, aku bertemu Kak Rina di mulut gang. Kami bersalaman, tiba-tiba timbul kenakalanku, kugelitik telapak tangan Kak Rina saat kugeng-gam, ternyata dia diam saja bahkan senyum padaku. Sejenak kami berbasa-basi bicara, kemudian aku cepat bergegas kuliah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sore hari aku baru pulang kuliah, langit mendung tebal sepertinya mau hujan. Saat kubuka pintu rumah, kulihat Sandra dewi dan teman kostku sedang ngobrol di ruang tamu., rupanya dia sengaja datang untukku. Tak lama kemudian temen kostku pamit mau kuliah sore sampai jam 19.00 WIB. Setelah aku berganti pakaian kutemui Sandra dewi dan kami ngobrol berdua. Tiba-tiba aku teringat bahwa Sandra dewi belum kusuguhi minum, cepat-cepat aku permisi ke dapur untuk membuat minuman buatnya. Saat aku beranjak ke dapur Sandra dewi mengikutiku dari belakang, dan di dapur kami lanjutkan obrolan kami sambil kuteruskan membuat minuman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sandra dewi berdiri bersandar meja dapur, aku mendekatinya dan iseng kupegang tangannya. Agaknya Sandra dewi memang mengharap suasana demikian, dia tanggapi pegangan tanganku dengan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, sehingga muka kami berjarak cuman beberapa senti saja. Hembusan nafasnya terasa menerpa wajahku. Kesempatan itu tak kubiarkan lewat begitu saja, segera aku sambar pinggangnya dan kucium lumat mulutnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami berciuman agak panjang, lidah kami saling beradu dan memilin, sementara sigap tanganku menggerayangi dan meremas pantat Sandra dewi. Tanganku tidak berhenti, terus bergerak menyingkap bagian depan roknya, dan segera tanganku mengelus-elus bibir ngewe Sandra dewi yang masih tertutup celana tipis, sementara itu mulutku menjalar dan menciumi lehernya. Sandra dewi merintih lembut, dan semakin mempererat pelukannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tangan kananku yang sudah terlatih segera melepas kancing depan bajunya, selanjutnya meremas-remas buah dadanya, kulepas tali Bhnya dan segera kujelajahi dua bukit kembarnya yang sudah mengeras. Kuhisap lembut puting payudara nya, Sandra dewi semakin menekan kepalaku ke dadanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku sudah tahu apa yang dikehendakinya, segera kutarik dia ke kamarku, dan segera kubuka resleting roknya, kulepas bajunya kemudian BHnya. Nampak tubuh Sandra dewi polos tak tertutup kain, hanya CD tipisnya saja yang tinggal melekat di badannya. Segera kuhujani Sandra dewi dengan ciuman, kujilati sekujur tubuhnya, kuhisap puting payudara nya, dan terus mulutku bergerak ke bawah, sambil pelan-pelan tanganku melepas CD-nya. &lt;br/&gt;Begitu CD-nya lepas segera kuserbu bibir ngewe nya, lidahku menjilati bibir ngewe nya, sementara kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat penuh. Sandra dewi merintih dan mengerang, dan sesaat kemudian ditariknya bahuku ke atas, sehingga kami berdiri berhadapan. Segera dilepas kancing bajuku, dan dilepasnya semua pakaianku. Sambil membungkukan badan dihisap penis ku, dijilati dan dikocoknya pelan.. Ohh.. sungguh nikmat tak terbayang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Segera kudorong tubuhnya terlentang di atas dipan dan lidahku terus bergerilya di bibir ngewe nya, juga ke dua jari tanganku ikut pula menjelajahi bibir ngewe nya, ke dua pahanya mengangkang lebar dan nampak lobang bibir ngewe nya sepertinya siap melahap penis ku bulat-bulat. Sandra dewi mengerang-ngerang dan memintaku segera memasukkan penis ke dalam bibir ngewe nya. Mas.. ayo.. masukkan.. ayo maas..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hujan di luar turun dengan deras, suara hujan mengalahkan erangan dan teriakan Sandra dewi, sehingga aku tak khawatir orang akan mendengar suaranya. Kubiarkan Sandra dewi dalam keadaan begitu, sambil lidahku terus menjilati bibir ngewe nya. Sandra dewi merintih dan mengerang.. sambil menghiba untuk segera memulai permainan kami. Bau bibir ngewe nya, semakin membangkitkan gairahku, dan akhirnya akupun tak tahan..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Segera kutindih tubuhnya dan kebenamkan penis ku di bibir ngewe nya dengan satu sentakan yang sedikit agak keras. Segera kukocok bibir ngewe nya dengan cepat dan keras. Sandra dewi mengerang, merintih dan mengimbangi gerakan keluar masuk penis ku dengan pas.., sehingga kadang terasa penis ku bagai dihisap dan diremas di dalam bibir ngewe nya. &lt;br/&gt;Terasa penis ku berdenyut-denyut, sepertinya hendak keluar air maniku; segear kuhentikan gerakan penis ku dan segara kucabut. Kugeser tubuhku dan kumasukan penisku ke dalam mulutnya. Segera dihisap dan dikulumnya penisku, tanpa rasa jijik. Setelah agak berkurang denyutan penisku, segera kubenamkan lagi dalam bibir ngewe Sandra dewi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bukan main, remasan dan sedotan bibir ngewe Sandra dewi. Aku jadi mengerti sekarang beda antara bibir ngewe seorang wanita yang masih gadis dan belum pernah melahirkan dengan wanita yang sudah melahirkan seperti tante U. Kubalik tubuh Sandra dewi dan kuangkat pantatnya agak tinggi, sehingga Sandra dewi dalam posisi nungging. Segera kutancapkan penisku ke bibir ngewe nya dari belakang. Lagi-lagi Yanrti mengerang-erang kadang menjerit kecil Tiba-tiba diangkat dan diputar badannya ke belakang, serta di raihnya kepalaku serta diciumnya mulutku, sementara penisku tetap bekerja keluar masuk bibir ngewe nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berapa saat kemudian kuganti posisi, aku berbaring terlentang dan Sandra dewi menindih tubuhku. Dipegang dan dibimbingnya penisku masuk ke bibir ngewe nya, dan segera digoyang badanya naik turun di atas tubuhku. Kuremas payu daranya dan kuhentakan pantatku ke atas, saat badan Sandra dewi bergerak ke bawah menekan masuk penisku ke dalam bibir ngewe nya. Tak lama kemudian gerakan Sandra dewi makin menggila dan makin cepat. Dari mulutnya terdengar erangan yang semakin keras dan akhirnya badanya menegang sambil dari mulutnya terdengar lenguhan Ughh.. Aaah.. Aaah.., kemudian tubuhnya menubruk dan memeluk tubuhku erat-erat, mass.. aku sudah.., keluar..ooh.. Enak.. &lt;br/&gt;Pelan kubalik badanya, dan kutindih serta kugenjot bibir ngewe nya cepat dan keras.., terlihat mata Sandra dewi mendelik, membalik ke atas.., mulutnya merintih dan mengerang.. &lt;br/&gt;Kupercepat gerakanku dan kugenjot penisku sepenuh tenaga.., 15 menit kemudian terasa penisku berdenyut-denyut. Kepala Sandra dewi bergoyang ke kanan dan ke kiri dan ke kanan, kedua kakinya mengepit pantatku sehingga tak ada kemungkinan aku mencabut penis ku saat air maniku keluar nanti, dan akhirnya dengan suatu sentakan yang keras kubanjiri liang bibir ngewe nya dengan cairan maniku..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kumarahi Sandra dewi, karena dia tak memberiku kesempatan membuang air maniku di luar liang kemaluannya. Aku khawatir hal ini akan berakibat fatal, yaitu Sandra dewi hamil.. Dia cuma ketawa kecil dan memelukku erat, sambil berbisik di telingaku bahwa dia sudah KB suntik. Aku terheran-heran mendengarnya, karena sudah sedemikian jauhnya pengetahuan dia tentang berhubungan sex dan menjaga diri dari kehamilan. Mendengar itu aku lega dan segera kucium dan kulumat mulutnya. Kami ngewe , berciuman dan bergumul di atas dipan, kebetulan dipanku ukurannya lebar, sehingga kami leluasa ngewe di atasnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dua puluh menit berlalu, terasa penisku mulai menegang dan mengeras. Segera kumasukan lagi penis ku ke bibir ngewe Sandra dewi. Kembali kami berdua mengumbar nafsu sepuas hati, kali ini aku tetap menjaga posisi di atas, karena aku tahu bahwa pada ronde kedua dan ketiga aku lebih bisa mengatur dan menahan klimaks lebih lama. Sandra dewi mengerang dan merintih, dan akhirnya pada puncak kepuasan yang kedua kusemburkan lagi benih-benih manusia ke dalam rahim Sandra dewi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keringat kami telah bercampur dan membasahi tubuh kami, seprei tempat tidur sudah berantakan nggak karuan, kami berbaring berpelukan, kepalanya di dadaku, tangan Sandra dewi memainkan penisku, dan sesekali kami saling berciuman. &lt;br/&gt;15 menit kemudian kami ulangi lagi hal yang sama, hingga klimaks kami dapatkan lagi, Kembali kuguyur bibir ngewe nya dengan caiaran maniku, sambil kami berciuman panjang sekali.., seolah tak akan henti..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah cukup beristirahat, segera kami berkemas dan berpakaian, dan tidak lupa berjanji untuk mengulangi lagi apa yang kami lakukan sore ini. Menjelang maghrib kuantar Sandra dewi pulang ke rumah, dan sebelum aku pamit pulang, sekali lagi kupeluk pinggangnya dan kucium bibirnya dengan mesra. Sejak hari itu resmilah Sandra dewi menjadi pacar tetapku, alias pemuas nafsuku.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-8991674645849912558?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/8991674645849912558/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-janda-kembar.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/8991674645849912558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/8991674645849912558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-janda-kembar.html' title='Cerita Ngewe | Janda Kembar'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-301441872251582827</id><published>2009-04-05T20:03:00.000-07:00</published><updated>2009-04-05T20:03:00.419-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Tante'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Bahenolnya Mama temanku</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;p&gt;Perkenalkan namaku Tora Sudiro (teman-teman biasanya memanggilku Tora). Umurku 29 tahun. Postur tubuhku standar bule. Tinggi 185 cm, berat 82 kg. Wajahku biasa-biasa saja. Sekarang aku bekerja di salah satu perusahaan garmen di Medan, bagian marketing. Aku tinggal sendiri di sebuah tempat kost di Medan karena orangtuaku tinggal di Pematang Siantar. &lt;br/&gt;Awal cerita, aku berkenalan dengan seorang cowok sebut saja Hendrik. Kebetulan Hendrik satu kantor denganku dan dia adalah manager saya. Sejak perkenalan itu, akhirnya kami semakin akrab dan akhirnya bersahabat. Itu karena kami mempunyai banyak persamaan pada diri masing-masing. Kami suka clubbing (dugem). Setiap malam minggu kami selalu menghabiskan waktu untuk dugem bersama cewek kami masing-masing. Yah, double date begitulah. Hendrik termasuk keluarga orang berada. Itu terlihat dari rumahnya yang megah dan beberapa mobil mewah yang nongkrong di garasinya. Maklumlah, orang tuanya pengusaha furniture antik untuk dikirim keluar negeri tapi dia lebih suka bekerja di luar daripada membantu orang tuanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pertama kali aku main ke rumahnya, aku dikenalkan kepada Mamanya (kebetulan waktu itu Papanya nggak ada karena pergi ke Yogya untuk mencari barang-barang antik).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ma, kenalin ini teman kerja Hendrik, Namanya Tora", kata Hendrik sambil memeluk pinggang Mamanya. &lt;br/&gt;"Saya Tora, Tante", ujarku. &lt;br/&gt;Ibunya berkata, "Merry. Panggil saja Tante Merry. Silakan duduk". &lt;br/&gt;"Makasih Tante". Wow, halus banget tangannya.. Rajin pedicure nih. &lt;br/&gt;Setelah aku duduk, Hendrik berkata, "Tora, kamu ngobrol dulu sama mamaku. Aku mau mandi dulu. Gerah nih abis mancing. Kalo kamu pengen mandi juga, pake aja kamar mandi di kamarku. Aku mandi di atas. OK?" &lt;br/&gt;"Gak deh, nanggung ntar juga pulang", jawabku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Posisi dudukku dengan Mamanya berseberangan di sofa antara meja kaca. Gila!, aku nggak nyangka Mamanya sexy banget.. Sebagai gambaran buat para pembaca, umurnya kira-kira 41 tahun, wajahnya cantik keibuan, kulitnya putih bersih dengan rambut ikal sebahu, postur tubuhnya ideal tidak terlalu gemuk. Ukuran payudara nya kira-kira 36B, bentuknya bulat pula. Enak banget nih kalo diisep, pikirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memecah sepi, iseng-iseng aku bertanya, "Oom kemana Tante?", padahal aku sudah tahu dari Hendrik kalau Papanya sedang ke Yogya. &lt;br/&gt;"Kebetulan Oom pergi ke Yogya lagi cari barang-barang antik. Soalnya ada pesanan dari Malaysia. Mungkin sebulan lagi urusannya selesai. Sekarang cari barang-barang antik agak susah. Nggak kayak dulu", jawabnya. &lt;br/&gt;"Tora satu kantor sama Hendrik?", tanyanya lagi. &lt;br/&gt;"Iya Tante, tapi Hendrik manager saya sedangkan saya bagian marketing. Kebetulan saya sama Hendrik suka mancing. Jadi sering ngumpul", jawabku. &lt;br/&gt;"Oo.. Begitu" &lt;br/&gt;"Tante mau nanya nih, teman Tora ada yang punya barang antik nggak?" &lt;br/&gt;"Wah, kalo itu saya kurang tau Tante. Tapi mungkin nanti saya bisa tanya ke teman-teman" &lt;br/&gt;"OK. Tante ngerti. Gini aja, seandainya ada teman kamu yang punya barang antik, telepon Tante ke nomor ini.. (sambil memberikan sebuah kartu nama lengkap dengan nomor HP) nanti kamu pasti dapat komisi dari Tante, gimana?" &lt;br/&gt;"Siip deh Tante..", wah, lumayan nih bisnis kecil-kecilan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah berbasa-basi, Hendrik datang sambil berkata..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Keliatannya seru, lagi ngobrolin apaan nih?" &lt;br/&gt;"Ini.. Mama lagi ngomongin bisnis sama Tora. Gimana? Udah segeran?" &lt;br/&gt;"Udah dong Ma.." &lt;br/&gt;"Ntar sore anterin Mama belanja ke Club Store ya.. Stok di kulkas sudah mulai habis tuh. Tora ikut?" &lt;br/&gt;"Nggak deh Tante. Makasih. Soalnya banyak tugas yang belum selesai dikerjain. Lagian saya belum mandi" &lt;br/&gt;"Ok, deh Drik, aku pulang dulu udah sore nih", jam di tanganku menunjukan angka 6:10 menit. &lt;br/&gt;"Ok hati-hati Tora.. Sampai ketemu besok di kantor" &lt;br/&gt;"Permisi Tante" &lt;br/&gt;"Iya.. hati-hati ya Tora.. Inget telepon Tante kalo ada barang antik OK?"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah aku start motorku, aku langsung pulang. Sesampainya di rumah aku langsung mandi karena badan rasanya lengket semua.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejak saat itu aku sering membayangkan Tante Merry, walaupun aku sudah punya cewek yang sering kuajak ngewe. Terkadang aku ngewe cewekku tapi aku membayangkan sedang ngewe Tante Merry. Sampai colipun aku tetap membayangkan dia. Puas rasanya. Walaupun aku merasa sedikit berdosa sama Hendrik. Ternyata nafsu mengalahkan segalanya. Aku juga termasuk orang yang pandai menyembunyikan sesuatu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selang empat hari dari perkenalan itu, aku tidak melihat Hendrik di kantor. Untuk mencari tahu, aku telepon Hendrik ke HP-nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Drik, kamu hari ini nggak masuk kenapa? Sakit atau ngewe?", candaku. &lt;br/&gt;"Gila kamu ngatain aku ngewe.. Aku lagi dalam perjalanan ke Yogya nih. Sorry aku nggak sempat ngasih tau kamu. Buru-buru sih", jawabnya dari seberang telepon. &lt;br/&gt;"Ngapain kamu ke Yogya?", tanyaku lagi. &lt;br/&gt;"Kemarin malam Papaku nelpon, aku disuruh bawain laptop yang isinya katalog. Buku katalog yang dia bawa kurang lengkap" &lt;br/&gt;"Ngapain susah-susah. Paketin aja kan beres?" &lt;br/&gt;"Wah, resiko Tora. Lagian sekalian aku liburan di sini. Yah, sambil cari partner ngewe barulah.. Rugi dong aku udah minta cuti 2 minggu cuma buat jalan-jalan" &lt;br/&gt;"Nggak ngajak-ngajak malah bikin ngiler aja" &lt;br/&gt;"Sorry banget Tora.. Hahahaha.." setelah itu telepon ditutup. Sialan, pikirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bengong di kantor.. Tiba-tiba terbayang lagi Tante Merry. Aku ada akal nih.. Semoga berhasil. Iseng-iseng aku SMS ke nomor HP Tante Merry, pura-pura menanyakan Hendrik. Isi SMS nya begini, "Tante, ini Tora. Hendrik kok ga msk kantor? Sakit ya? Tadi saya tlp ke hpnya tp ga nyambung2″&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah beberapa detik SMS terkirim, HP-ku berdering.. Kulihat nomornya, ternyata dari no telepon rumah Hendrik. Yes! Teriakku dalam hati. Tanpa basa-basi, langsung aku angkat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hallo.." ucapku. &lt;br/&gt;"Hallo, ini Tora?" &lt;br/&gt;"Iya.. Ini Tante Merry ya?" &lt;br/&gt;"Lho kok tau?" &lt;br/&gt;"Nomor telepon rumah Tante tercatat di sini. Hendrik sakit ya Tante?" &lt;br/&gt;"Lho, kamu nggak dikasih tau sama Hendrik kalo dia ke Yogya?" &lt;br/&gt;"Hah, ke Yogya? (aku pura-pura kaget) Yang bener Tante. Kapan berangkatnya?" &lt;br/&gt;"Kamu kok kaget banget sih. Berangkatnya tadi pagi banget sama Rudy. (Rudy bekerja sebagai asisten Papanya) Mungkin karena buru-buru jadi nggak sempat ngasih tau Tora". &lt;br/&gt;"Kira-kira kapan pulangnya Tante?" &lt;br/&gt;"Yah, mungkin 2 minggu lagi. Sekalian refreshing katanya". &lt;br/&gt;"Wah, kasihan yah Tante jadi kesepian.." &lt;br/&gt;"Iya nih.. Tora ke sini dong. Temenin Tante ngobrol. Itu juga kalo Tora nggak sibuk."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Horee!! Sorakku dalam hati. Kesempatan emas nih.. Gak boleh disia-siakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hmm, gimana ya..(pura-pura berpikir) OK deh Tante. Lagian saya nggak sibuk ini. Jam berapa Tante? Sekalian saya mau belajar bisnis sama Tante". &lt;br/&gt;"Bener nih Tora nggak sibuk? Kalo Tora mau, dateng aja jam 6 sore. Gimana?" &lt;br/&gt;"OK Sampai ketemu nanti. Saya urus kerjaan dulu". &lt;br/&gt;"OK Tante tunggu ya.. Bye.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah menutup telepon aku bergegas pulang dan mandi. Karena waktu sudah menunjukkan angka 4:55 menit. Jam 5:50 menit aku sudah sampai di rumahnya. Di pintu gerbang, ternyata aku sudah disambut oleh seorang pembantu. Pembantu itu bertanya..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Mas Tora Sudiro , ya?" &lt;br/&gt;"Iya. Kok Mbak tau?" &lt;br/&gt;"Tadi Ibu bilang kalo ada tamu yang namanya Tora suruh masuk aja. Gitu. Ayo silakan masuk Mas". &lt;br/&gt;"Terima kasih Mbak". &lt;br/&gt;"Sama-sama"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitu masuk, langsung kuparkirkan motorku di garasi berjejer dengan mobilnya. Lalu aku melangkah menuju ruang tamu. Tante Merry sudah duduk di sofa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sore, Tante.. (aku sempat kaget begitu lihat Tante Merry yang sedang mengenakan pakaian senam dan keringat membercak di antara belahan payudara nya. Apalagi putingnya terlihat menonjol karena tidak pakai BH. Bentuknya masih mengkal, jadi gemas liatnya. Sesekali aku menelan ludah karenanya).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ayo, masuk aja Tora. Silakan duduk. Sorry Tante masih keringatan. Jangan malu-malu. Anggap aja rumah sendiri. Ternyata kamu tepat waktu. Tante suka orang yang selalu tepat waktu". &lt;br/&gt;"Kebetulan aja Tante.." &lt;br/&gt;"Tora, Tante bisa minta tolong nggak?" &lt;br/&gt;"Tolongin apa Tante?" &lt;br/&gt;"Tolong pijatin kaki Tante ya.. Sebentar aja. Tadi Tante aerobik nggak pemanasan dulu jadinya kaki Tante kram". &lt;br/&gt;"Boleh deh. Tapi saya nggak jago pijat lho Tan".&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanpa berkata apa-apa, Tante Merry merebahkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya kemudian kakinya diletakkan di atas pahaku. Dia sengaja melebarkan sedikit kakinya sehingga aku dapat melihat bulu-bulu bibir ngewe nya yang terjepit di antara selangkangannya. Penis ku sedikit mengeras dibuatnya, ditambah bau keringat bercampur bau bibir ngewe yang khas. Oh.. Aromanya semakin terasa..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku mulai memijat betisnya. Oh mulus sekali kulitnya. Sekitar 5 menit memijat betisnya, tanganku naik ke pahanya. Mulanya dia diam saja. Lalu aku beranikan diri menaikkan pijatanku ke pangkal pahanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hmm.. Enak Tora. Kamu pinter.. Ya.. Di situ Tora.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku sengaja meremas-remas pahanya semakin naik hingga jari kelingkingku menggesek-gesek bibir ngewe nya yang masih dibalut baju senam itu. Aku pura-pura tak merasakannya. Mendapat pelakuan seperti itu, dia malah melebarkan pahanya namun matanya masih terpejam. Nafasnya pun sudah tidak beraturan. Melihat dia sudah bernafsu aku menghentikan pijatanku. Lalu dia membuka matanya..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kok berhenti Tora? Tora capek ya?". Dari tatapan matanya seolah dia ingin aku agar tidak berhenti menggesek-gesekkan jariku di bibir ngewe nya. &lt;br/&gt;"Nggak Tan. Cuma kalo posisinya gini kurang nyaman aja. Lagian nggak ada yang ditonton. Kan nggak semangat" &lt;br/&gt;"Ya udah, kita pindah aja ke kamar Tante. Disana ada TV-nya. VCD juga ada, jadi kamu mijatnya kan bisa sambil nonton", lalu Tante menarik tanganku menuju lantai atas ke kamarnya. &lt;br/&gt;"Nah, ini kamar Tante. Tante rebahan dulu, kamu pasang VCD-nya", wow, kamarnya luas. Mungkin 3 kali luas kamar kostku. Lengkap dengan home theaternya. &lt;br/&gt;"Pilih aja film yang kamu suka", Tante menyuruhku sambil rebahan di springbednya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedang asyik-asyiknya memilih-milih, tanpa sengaja kulihat sebuah CD yang diletakkan di bawah VCD player. Setelah kulihat ternyata CD BF bertuliskan Vivid.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Kalo nonton yang ini boleh nggak?" tanyaku sambil menunjukkan CD-nya ke Tante Merry. &lt;br/&gt;"Oh itu. Boleh aja. Tapi pijatnya tetap konsentrasi ya..?" &lt;br/&gt;"Beres..", jawabku sambil memasukkan CD ke playernya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan posisi tubuhnya tengkurap menghadap TV, dan aku duduk di sebelahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tadi kan udah paha, sekarang tolong pijatin punggung Tante yah. Pijatan kamu enak Tora"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku mulai meletakkan jari-jariku di punggungnya dan meremas-remas, sedang dia asyik menonton VCD yang aku putar. Pas adegan cewek bule yang bibir ngewe nya dihisap dan dijilati oleh cowok negro, aku pura-pura bertanya..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tan, kalo cewek dijilatin gitunya enak ngga sih?" &lt;br/&gt;"Tante sendiri nggak tau rasanya. Soalnya sama Oom nggak pernah digituin. Lagian jijik ah.." &lt;br/&gt;"Ah, masa sih Tan? Kata teman saya rasanya jilatin bibir ngewe itu enak-enak asin. Banyak cewek yang suka kalo bibir ngewe nya dijilatin", ujarku sambil tanganku meremas-remas bokong nya. &lt;br/&gt;"Emangnya kamu nggak pernah? Kenapa nggak cobain punya pacarmu?" &lt;br/&gt;"Coba kalo saya punya pacar, mungkin saya nggak penasaran kaya gini" (Aku berpura-pura tidak pernah mencobanya, padahal sudah sering). &lt;br/&gt;"Tante juga penasaran sih pengen dijilatin. Tapi Oom nggak bakal mau deh", mendengar kata-katanya aku langsung nekat meremas payudara nya dari belakang dan kudekatkan bibirku di telinganya.. &lt;br/&gt;"Tora mau jilatin bibir ngewe Tante sekarang", ujarku sambil memasukkan lidahku di telinganya, kujilat cupingnya.. Dia hanya mendesah.. &lt;br/&gt;"Ohh.. Tora.. Hmmpp.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum dia berkata apa-apa, kusumbat bibirnya dengan bibirku. Sekejap kemudian dia lalu dia membalikkan badannya. Kami berciuman dengan ganasnya. Lidahnya menyapu setiap dinding-dinding mulutku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sejak pertama saya melihat Tante, saya sering membayangkan bersetubuh dengan Tante, abis Tante sexy banget sih", sambungku. &lt;br/&gt;"Ah masa sih Tante sesexy itu?" &lt;br/&gt;"Serius Tan"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sambil terus berciuman, tangan kananku menjelajah ke selangkangannya. Dia semakin agresif menyedot bibirku. Ciumanku turun ke lehernya, kujilat lehernya..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sshh.. Tora.. Ahh.. Shh.." tangan kanannya mulai meraih penis ku yang sedari tadi sudah mengeras.. Kurasakan nafasnya sudah mulai tak teratur. &lt;br/&gt;"Keluarin penis mu Tora.. Ahh.." dia berhasil mengeluarkan penis ku dan mengocoknya.. Aku hanya bisa menikmatinya. &lt;br/&gt;"Taantee.. Eenaak baangeett.. Ahh.. Shh.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kubuka bajunya hingga tersingkaplah dua bukit kembar dengan puting berwarna coklat. Kuhisap puting payudara nya yang kiri. Dia semakin keras mengocok penis ku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Sabar yah Tante, saya bukain dulu baju Tante.." &lt;br/&gt;"Iya.. Ahh.. Stt.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah membuka bajunya, kini yang terlihat hanya tubuh sexy Tante Merry dengan gundukan bukit berbulu yang terlihat sedikit mengeluarkan cairan. Tanpa menunggu lagi, aku membuka semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Wow.. Lumayan juga penis kamu Tora", ujarnya sambil memegang penis ku. &lt;br/&gt;"Punya Oom nggak segini besar..", dipandanginya penis ku dengan tatapan heran. &lt;br/&gt;"Ini juga belum maksimal Tante.. Daripada cuma diliatin, isep dong Tan. Ntar tambah panjang"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan posisi aku berdiri menghadap ranjang dan Tante Merry menungging di atas kasur, dia dengan lahap menghisap penis ku. Dijilatinnya lubang kencingku, sedang tangan kirinya memijat-mijat buah pelirku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Hmm.. Terus Tan. Enak.. Ohh.. Aagak keraas Taan.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah 5 menit menjilati penis ku, aku menyuruhnya rebahan. Kubuka kakinya lebar-lebar hingga tercium aroma yang lezat sekali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Mau diapain Tora?" &lt;br/&gt;"Tante tenang aja. Yang penting Tante puas.. Tora udah nggak sabar pengen jilatin bibir ngewe Tante" &lt;br/&gt;"Emang kamu nggak jijik?" &lt;br/&gt;"Justru saya suka banget. Abis bibir ngewe Tante bersih. Merah lagi"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tanpa menunggu pertanyaan yang akan dilontarkannya lagi, aku langsung menjulurkan lidahku menuju lubang bibir ngewe nya. Dia hanya bisa melenguh..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ooh.. Sshhtt.. Tora..", desahnya sambil tangannya menjambak rambutku. Mungkin karena baru pertama kalinya dia merasakan sensasi seperti itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bibir ngewe nya terasa asin di lidahku dan cairan yang keluar lumayan banyak. Tak kusia-siakan cairan itu mengalir begitu saja. Aku menyedotnya hingga terasa cairan kental asin melewati lidah hingga tenggorokanku. Setelah puas membersihkan cairannya, lalu lidahku menuju klitorisnya. Jambakan di rambutku bertambah keras dan desahannya semakin menjadi..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Teeruus.. Di siituu.. Saayaanghh.. Oohh good.. Saayaanghh.. Saayyaanghh.. Ohh.. Enaak.. Sthhsstthh.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekarang dia tidak lagi memanggilku Tora, tapi sayang. Aku semakin cepat menggerakkan lidahku berputar-putar di klitorisnya dan sesekali aku menyedotnya dengan keras. Beberapa detik kemudian kurasakan badannya bergetar dan kedua tangannya menekan kepalaku ke bibir ngewe nya sehingga aku sedikit susah bernafas. Mungkin dia sudah mau keluar, pikirku. Aku semakin kuat menjilatinya hingga tanpa sadar dia berteriak..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ahh.. Saayaanghh.. Taanntee.. Mauu keelluuaarr.. Ahh.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada cairan yang keluar dari bibir ngewe nya. Kujilat dan kutelan lagi karena rasanya enak dan aku menyukainya. Lalu aku bangun. Kulihat wajahnya tersenyum puas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Makasih Sayang, sekarang masukin penis mu, Sayang. Tante sudah nggak tahan" &lt;br/&gt;"OK Tante", jawabku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu dibimbingnya penis ku menuju bibir ngewe itu. Begitu masuk rasanya hangat sekali. Dan tidak lebar seperti yang pernah kubayangkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ohh.. Bibir ngewe Tante enak banget.. Masih keset. Kaya perawan..", mendengar ucapanku dia tersenyum. &lt;br/&gt;"Sekarang puas-puasin ngewe Tante yah!"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku mulai memaju mundurkan bokong ku. Sleep.. Slepph.. Sleepph, bunyi di antara selangkangan kami. Tante Merry semakin meracau..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"penis . Enaakk.. Sodok yang keraas saayaang.. Tante mau keluar lagii.. Ahh"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kuturuti permintaannya hingga penis ku terasa mentok di perutnya. Lalu tubuh Tante Merry mengejang untuk yang kedua kalinya. Setelah 30 menit mengocok penis ku di dalam bibir ngewe nya, penis ku terasa geli-geli nikmat. Sedetik kemudian tanpa sadar gerakan badanku semakin cepat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Taanntee.. Saayyaa.. Mauu.. Keelluuaarr.. Ahh.." &lt;br/&gt;"Keeluuariin di daalaam saayaangh.."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tangannya menahan gerakan pantaku. Akhirnya.. crroot.. crroott.. croott.. Penis ku terasa meledak. Lalu kutindih tubuhnya. Kami berpelukan selama beberapa menit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Makasih ya sayang, udah puasin Tante. Ini rahasia kita berdua OK?" &lt;br/&gt;"Saya juga senang bisa puasin Tante. Kapan saja Tante mau, saya siap"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah itu aku mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 9:30. Selesai mandi aku langsung pulang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejak saat itu aku sering ngewe dengan Tante Merry. Kalau dia sedang horny, dia jemput aku dengan menelepon terlebih dahulu untuk check-in di hotel atau bungalow. Sampai dengan saat ini (2 bulan sejak pertama mengewe Mamanya) Hendrik masih belum mengetahui apa yang terjadi antara aku dengan Mamanya.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-301441872251582827?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/301441872251582827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-bahenolnya-mama-temanku.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/301441872251582827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/301441872251582827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-bahenolnya-mama-temanku.html' title='Cerita Ngewe | Bahenolnya Mama temanku'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-7949582984290558070</id><published>2009-04-02T20:04:00.000-07:00</published><updated>2009-04-02T20:04:00.892-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Selingkuh'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Penis Teman Suamiku</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;p&gt;Sebut saja nama ku Sinta, wanita umur 28 thn dan orang-orang bilang bentuk tubuhku amatlah proposional, tinggi 170 cm berat 55kg dan ukuran payudara 34B, ditunjang wajah cantik (itu juga orang-orang yang bilang) dan kulit putih cerah. Sebelumnya aku memang sering bekerja menjadi SPG pada pameran mobil dan banyak orang mengelilingi mobil yang aku pamerkan bukan utk melihat mobil tetapi untuk melihatku. &lt;br/&gt;Menikah dengan Roni, 30 thn, seorang pekerja sukses. Kami memang sepakat utk tidak punya anak terlebih dahulu dan kehidupan seks kami baik-baik saja, Roni dapat memenuhi kebutuhan seks ku yang boleh dibilang agak hyper..sehari bisa minta 2 sesi pagi sebelum Roni berangkat kerja dan malam sebelum tidur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan cerita ini berawal dari kesuksesan Roni bekerja di kantornya dan mendapat kepercayaan dari sang atasan yang sangat baik. Kepercayaan ini membuat dia sering harus bekerja overtime, pada awalnya aku bisa menerima semua itu tetapi kelamaan kebutuhan ini harus dipenuhi juga dan itulah yang membuat kami sering bertengkar karena kadang Roni harus berangkat lebih pagi dan lewat tengah malam baru pulang. &lt;br/&gt;Dan mulailah cerita ini ketika Roni mendapat tanggung jawab untuk menangani suatu proyek dan dia dibantu oleh rekan kerjanya Bram dari luar kota. Pertama diperkenalkan Bram langsung seperti terkesima dan sering menatapku, hal itu membuatku risih. Bram cukup tampan gagah dan kekar. &lt;br/&gt;Karena tuntutan pekerjaan dan efisiensi, kantor Roni memutuskan agar Bram tinggal di rumah kami utk sementara. Dan memang mereka berdua sering bekerja hingga larut malam di rumah kami. Bram tidur di kamar persis di seberang kamar kami. &lt;br/&gt;Sering di malam hari aku berpamitan tidur matanya yang nakal suka mencuri pandang diantara sela-sela baju tidur yang aku kenakan. Aku memang senang tidur bertelanjang agar jika Roni datang bisa langsung ngewe. &lt;br/&gt;Pernah suatu saat ketika pagi hari kami aku dan Roni ngewe di dapur waktu masih pagi sekali dengan posisiku duduk di meja dan Roni dari depan, tiba-tiba Bram muncul dan melihat kami, dia menempelkan telunjuk dimulutnya agar aku tidak menghentikan kegiatan kami, karena kami sedang dalam puncaknya dan Roni yang membelakangi Bram dan aku juga tidak tega menghentikan Roni, akhirnya ku biarkan Bram melihat kami ngewe tanpa Roni sadari hingga kami berdua orgasme. Dan aku tahu Bram melihat tubuh telanjangku ketika Roni melepaskan penis nya dan terjongkok di bawah meja. &lt;br/&gt;Setelah kejadian itu Bram lebih sering memperhatikan tiap lekuk tubuhku. &lt;br/&gt;Sampai suatu waktu ketika pekerjaan Roni benar2 sibuk sehingga hampir seminggu tidak menyentuhku. Di hari Jum'at kantor tempat Roni bekerja mengadakan pesta dinner bersama di rumah atasan Roni . Rumahnya terdiri dari dua lantai yang sangat mewah di lantai 2 ada semacam galeri barang2 antik. Kami datang bertiga dan malam itu aku mengenakan pakaian yang sangat seksi, gaun malam warna merah yang terbuka di bagian belakang dan hanya dikaitkan di belakang leher oleh kaitan kecil sehingga tidak memungkinkan memakai BH, bagian bawahpun terdapat sobekan panjang hingga sejengkal di atas lutut, malam itu saya merasa sangat seksi dan Bram pun sempat terpana melihatku keluar dari kamar. Sebelum berangkat aku dan Roni sempat ngewe di kamar dan tanpa sepengetahuan kami ternya Bram mengintip lewat pintu yang memang kami ceroboh tidak tertutup sehingga menyisakan celah yang cukup untu melihat kami dari pantulan cermin, sayangnya karena letih atau terburu-buru mau pergi Roni orgasme terlebih dahulu dan aku dibiarkannya tertahan. Dan Bram mengetahui hal itu. &lt;br/&gt;Malam itu ketika acara sangat ramai tiba-tiba Roni dipanggil oleh atasannya untuk diperkenalkan oleh customer. Roni berkata padaku untuk menunggu sebentar, sambil menunggu aku ke lantai 2 untuk melihat barang2 antik, di lantai 2 ternyata keadaan cukup sepi hanya 2-3 orang yang melihat-lihat di ruangan yang besar itu. Aku sangat tertarik oleh sebuah cermin besar di pojokan ruangan, tanpa takut aku melihat ke sana dan mengaguminya juga sekaligus mengagumi keseksian tubuhku di depan cermin, tanpa ku sadari di sampingku sudah berada Bram . &lt;br/&gt;"Udah nanti kacanya pecah lho..cakep deh..!", canda Bram &lt;br/&gt;"Ah bisa aja kamu Bram",balasku tersipu. &lt;br/&gt;Setelah berbincang2 di depan cermin cukup lama Bram meminta tolong dipegangkan gelasnya sehingga kedua tanganku memegang gelasnya dan gelasku. &lt;br/&gt;"Aku bisa membuat kamu tampak lebih seksi",katanya sambil langsung memegang rambutku yang tergerai dengan sangat lembut. Tanpa bisa mengelak dia telah menggulung rambutku sehingga menampak leherku yang jenjang dan mulus dan terus terang aku seperti terpesona oleh keadaan diriku yang seperti itu. dan memang benar aku terlihat lebih seksi. Dan saat terpesona itu tiba-tiba tangan Bram meraba leherku dan membuatku geli dan detik berikutnya Bram telah menempelkan bibirnya di leher belakangku, daerah yang paling sensitif buatku sehingga aku lemas dan masih dengan memegang gelas Bram yang telah menyudutkanku di dinding dan menciumi leherku dari depan. "Bram apa yang kamu lakukan..lepaskan aku Bram..lepas..!",rontaku tapi Bram tahu aku tidak akan berteriak di suasana ini karena akan mempermalukan semua orang. &lt;br/&gt;Bram terus menyerangku dengan kedua tanganku memegang gelas dia bebas meraba payudara ku dari luar dan terus menciumi leherku, sambil meronta-ronta aku merasakan gairahku meningkat, apalagi saat tiba-tiba tangan Bram mulai meraba belahan bawah gaunku hingga ke selangkanganku. "Bram..hentikan Bram aku mohon..tolong Bram..jangan lakukan itu..",rintihku, tapi Bram terus menyerang dan jari tengah tangannya sampai di bibir bibir ngewe ku yang ternyata telah basah karena serangan itu. Dia menyadari kalau aku hanya mengenakan G-string hitam dengan kaitan di pinggirnya, lalu dengan sekali sentakan dia menariknya dan terlepaslah G-stringku. Aku terpekik pelan apalagi merasakan ada benda keras mengganjal pahaku. Ketika Bram sudah semakin liar dan akupun tidak dapat melepaskan, tiba-tiba terdengar suara Roni memanggil dari pinggir tangga yang membuat pegangan himpitan Bram terlepas, lalu aku langsung lari sambil merapikan pakaian ku menuju Roni yang tidak melihat kami dan meninggalkan Bram dengan G-string hitamku. Aku sungguh terkejut dengan kejadian itu tapi tanpa disadari aku merasakan gairah yang cukup tinggi merasakan tantangan melakukan di tempat umum walau dalam kategori diperkosa. &lt;br/&gt;Ternyata pesta malam itu berlangsung hingga larut malam dan Roni mengatakan dia harus melakukan meeting dengan customer dan atasannya dan dia memutuskan aku untuk pulang bersama Bram. Tanpa bisa menolak akhirnya malam itu aku diantar Bram, diperjalanan dia hanya mengakatakan "Maaf Sinta..kamu sungguh cantik malam ini." Sepanjang jalan kami tidak berbicara apaun. Hingga sampai dirumah aku langsung masuk ke dalam kamar dan menelungkupkan diri di kasur, aku merasakan hal yang aneh antara malu aku baru saja mengalami perkosaan kecil dan perasaan malu mengakui bahwa aku terangsang hebat oleh serangan itu dan masih menyisakan gairah ingin ngewe. Tanpa sadar ternyata Bram telah mengunci semua pintu dan masuk ke dalam kamarku, aku terkejut ketika mendengar suaranya', "Sinta aku ingin mengembalikan ini"' katanya sambil menyerahkan G-stringku berdiri dengan celana pendek saja, dengan berdiri aku ambil G-stringku dengan cepat, tapi saat itu juga Bram telah menyergapku lagi dan langsung menciumiku sambil langsung menarik kaitan gaun malamku, maka bugilah aku dihadapannya. Tanpa menunggu banyak waktu aku langsung dijatuhkan di tempat tidur dan dia langsung menindihku. Aku meronta-ronta sambil menendang-nendang?"Bram..lepaskan aku Bram..ingat kau teman suamiku Bram..jangan..ahh..aku mohon", erangku ditengah rasa bingung antara nafsu dan malu, tapi Bram terus menekan hingga aku berteriak saat penis nya menyeruak masuk ke dalam bibir ngewe ku, ternyata dia sudah siap dengan hanya memakai celana pendek saja tanpa celana dalam. &lt;br/&gt;"Ahhhh?Braam..kau..:' Lalu mulailah dia memompaku dan lepaslah perlawananku, akhirnya aku hanya menutup mata dan menangis pelan..clok..clok..clok..aku mendengar suara penis nya yang besar keluar masuk di dalam bibir ngewe ku yang sudah sangat basah hingga memudahkan penis nya bergerak. Lama sekali dia memompaku dan aku hanya terbaring mendengar desah nafasnya di telingaku, tak berdaya walau dalam hati menikmatinya. Sampai kurang lebih satu jam aku akhirnya melenguh panjang "Ahhh?.." ternyata aku orgasme terlebih dahulu, sungguh aku sangat malu mengalami perkosaan yang aku nikmati. Sepuluh menit kemudian Bram mempercepat pompaannya lalu terdengar suara Bram di telingaku "Ahhh..hmmfff?" aku merasakan bibir ngewe ku penuh dengan cairan kental dan hangat sekitar tiga puluh deti kemudian Bram terkulai di atasku. &lt;br/&gt;"Maaf Sinta aku tak kuasa menahan nafsuku.."bisiknya pelan lalu berdiri dan meninggalkanku terbaring dan menerawang. hinga tertidur Aku tak tahu jam berapa Roni pulang hingga pagi harinya. &lt;br/&gt;Esok paginya di hari sabtu seperti biasa aku berenang di kolam renang belakang,, Roni dan Bram berpamitan untuk nerangkat ke kantor. Karena tak ada seorang pun aku memberanikan diri untuk berenang tanpa pakaian. Saat asiknya berenang tanpa disadari, Bram ternyata beralasan tidak enak badan dan kembali pulang, karena Roni sangat mempercayainya maka dia izinkan Bram pulang sendiri. Bram masuk dengan kunci milik Roni dan melihat aku sedang berenang tanpa pakaian. Lalu dia bergerak ke kolam renag dan melepaskan seluruh pakaiannya, saat itulah aku sadari kedatangannya, "Bram..kenapa kau ada di sini?" tanyaku, "Tenang Sinta suaimu ada di kantor sedang sibuk dengan pekerjaannya", aku melihat tubuhnya yang kekar dan penis nya yang besar mengangguk angguk saat dia berjalan telanjang masuk ke dalam kolam "Pantas sajaku semalam bibir ngewe ku terasa penuh sekali"'pikirku. Aku buru-buru berenang menjauh tetai tidak berani keluar dr dalam kolam karena tidak mengenakan pakaian apapun juga. Saat aku bersandar di pingiran sisi lain kolam, aku tidak melihat ada tanda2 Bram di dalam kolam. Aku mencari ke sekeliling kolam dan tiba-tiba aku merasakan bibir ngewe ku hangat sekali, ternyata Bram ada di bawah air dan sedang menjilati bibir ngewe ku sambil memegang kedua kakiku tanpa bisa meronta. &lt;br/&gt;Akhirnya aku hanya bisa merasakan lidahnya merayapai seluruh sisi bibir ngewe ku dan memasuki liang senggamaku..aku hanya menggigit bibir menahan gairah yang masih bergelora dari semalam. Cukup lama dia mengerjai bibir ngewe ku, nafasnya kuat sekali pikirku. Detik berikutnya yang aku tahu dia telah berada di depanku dan penis nya yang besar telah meneyruak menggantian lidahnya? "Arrgghh.." erangku menahan nikmat yang sudah seminggu ini tidak tersentuh oleh Roni. Akhirnya aku membiarkan dia memperkosaku kembali dengan berdiri di dalam kolam renang. Sekarang aku hanya memeluknya saja dan membiarkan dia menjilati payudara ku sambil terus memasukan penis nya keluar masuk. Bahkan saat dia tarik aku ke luar kolam aku hanya menurutinya saja, gila aku mulai menikamti perkosaan ini, pikirku, tapi ternyata gairahku telah menutupi kenyataan bahwa aku sedang diperkosa oleh teman suamiku. Dan di pinggir kolam dia membaringkanku lalu mulai menyetubuhi kembai tubuh mulusku.."Kau sangat cantik dan seksi Sinta..ahh" bisiknya ditelingaku. &lt;br/&gt;Aku hanya memejamkan mata berpura-pura tidak menikmatinya, padahal kalau aku jujur aku sangat ingin memeluk dan menggoyangkan pantatku mengimbangi goyangan liarnya ngewe. Hanya suara eranggannya dan suara penis nya maju mundur di dalam bibir ngewe ku, clok..clok..clep..dia tahu bahwa aku sudah berada dalam kekuasaannya. Beberapa saat kemudian kembali aku yang mengalami orgasme diawali eranganku "Ahhh.." aku menggigit keras bibirku sambil memegang keras pinggiran kolam, "Nikmati sayang?"demikian bisiknya menyadari aku mengalami orgasme. Sebentar kemudian Bram lah yang berteriak panjang, "Kau hebat Sinta..aku cinta kau..AAHHH..HHH" dan aku merasakan semburan kuat di dalam bibir ngewe ku. Gila hebat sekali dia bisa membuatku menikmatinya pikirku. Setelah dia mencabut penis nya yang masih terasa besar dan keras, aku reflek menamparnya dan memalingkan wajahku darinya. Aku tak tahu apakah tamparan itu berarti kekesalanku padanya atau karena dia mencabut penis nya dari bibir ngewe ku yang masih lapar. &lt;br/&gt;Setelah Roni pulang herannya aku tidak menceritakan kejadian malam lalu dan pagi tadi, aku berharap Roni dapat memberikan kepuasan padaku. Dengan hanya menggenakan kimono dengan tali depan aku dekati Roni yang masih asik di depan komputernya di dalam kamar, lalu aku buka tali kimonoku dan kugesekan payudara ku yang besar itu ke kepalanya dari belakang, berharap da berbalik dan menyerangku. Ternyta yang kudapatkan adalah bentakannya "Sinta..apakah kamu tak bisa melihat kalau aku sedang sibuk? Jangan kau ganggu aku dulu..ini untuk masa depan kita" teriaknya keras. Aku yakin Bram juga mendengar teriakannya. Aku terkejut dan menangis, lalu aku keluar kamar dengan membanting pintu, lalu aku pergi ke pinggir kolam dan duduk di sana merenung dan menahan nafsu. Dari kolam aku bisa melihat bayangan di Roni di depan komputer dan lampu di kamar Bram. Tampak samar-samar Bram keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Karena di luar gelap tak mungkin dia melihatku. &lt;br/&gt;Tanpa sadar aku mendekat ke jendelanya dan memperhatikan Bram mengeringkan tubuh. Gila kekar sekali tubuhnya dan yang menarik perhatianku adalah penis nya yang besar dan tegang mengangguk-angguk bergoyang sekanan memanggilku. Aku malu sekali mengagumi dan mengaharapkan kembali penis itu masuk ke dalam bibir ngewe ku yang memang masih haus. Perlahan aku membelai-belai bibir ngewe ku hingga terasa basah, akhirnya aku memutuskan untuk memintanya pada Bram, dengan hati yang berdebar kencang dan nafsu ingin ngewe yang sudah menutupi kesadaran, aku nekat masuk ke dalam kamar Bram dan langsung mengunci pintu dari dalam. Bram sangat terkejut "Sinta..apa yang kamu lakukan?", aku hanya menempelkan telunjuk di bibirku dan memberi isyarat agar tidak bersuara karena Roni ada di kamar seberang. Langsung aku membuka pakaian tidurku dan terpampanglah tubuh putih mulusku tanpa sehelai benagpun di hadapannya, Bram hanya terperangah dan menatap kagum pada tubuhku. Bram tersenyum sambil memperlihatkan penis nya yang semakin membesar dan tampak berotot. Dengan segera aku langsung berlutut di hadapannya dan mengulum penis nya, Bram yang masih terkejut dengan kejadian ini hanya mendesah perlahan merasakan penis nya aku kulum dan hisap dengan nafsuku yang sudah memuncak. &lt;br/&gt;Sambil mulutku tetap di dalam penis nya aku perlahan naik ke atas tempat tidur dan menempatkan bibir ngewe ku di mulut Bram yang sudah terbaring, dia mengerti maksudku dan langsung saja lidahnya melahap bibir ngewe ku yang sudah sangat basah, cukup lama kami dalam posisi itu, terinat akan Roni yang bisa saja tiba-tiba datang aku langsung mengambil inisiatif untuk merubah posisi dan perlahan duduk di atas penis nya yang sudah mengacung tegang dan besar panjang. Perlahan aku arahkan dan masukan ke dalam lubang bibir ngewe ku, rasanya berbeda dengan saat aku diperkosanya, perlahan tapi pasti aku merasaskan suatu sensasi yang amat besar sampai akhirnya keseluruhan batang penis Bram masuk ke dalam bibir ngewe ku "Ahh..sssfff..Braaam!" erangku perlahan menahan suara gairahku agar tidak terdengar, aku merasakan seluruh penis nya memenuhi bibir ngewe ku dan menyentuh rahimku. Sungguh suatu sensasi yang tak terbayangkan, dan sensasi itu semakin bertambah saat aku mulai menggoyangkan pantatku naik turun sementara tangan Bram dengan puasnya terus memainkan kedua payudara ku memuntir-muntir putingku hingga berwarna kemerahan dan keras "ahh..ahh.." demikian erangan kami perlahan mengiringi suara penis nya yan keluar masuk bibir ngewe ku clok..clok..clok? Tak tahan dengan nafsunya mendadak Bram duduk dan mengulum payudara ku dengan rakusnya bergantian kiri kanan bergerak ke leher dan terus lagi. Aku sungguh tak dapat menahan gairah yang selama ini terpendam. &lt;br/&gt;Mungkin karena nafsu yang sudah sangat tertahan atau takut Roni mendengar tak kuasa aku melepaskan puncak gairahku yang pertama sambil mendekap erat Bram dan menggigit pundaknya agar tidak bersuara, kudekap erta Bram seakan tak dapat dilepaskan mengiringi puncak orgasmeku. Bram merasakan penis nya disiram cairan hangat dan tahu bahwa aku mengalami orgasme dan membiarkanku mendekapnya sangat erat sambil memelukku dengan belaian hangatnya. Selesai aku orgasme sekiat 30 detik, Bram membalikan aku dengan penis nya masih tertancap di dalam bibir ngewe ku. Bram mulai mencumbuku dengan menjilati leher dan putingku perlahan, entah mengapa aku kembali bernafsu dan membalas ciumannya denga mesra, lidah kami saling berpagutan dan Bram merasakan penis nya kembali dapat keluar masuk dengan mudah karena bibir ngewe ku sudah kembali basah dan siap menerima serangan berikutnya. Dan Bram langsung memompa penis nya dengan semangat dan cepat membuat tubuhku bergoyang dan payudara ku bergerak naik turun dan sungguh suara yang timbul antara erangan kami berdua yang tertahan derit tempat tidur dan suara penis nya keluar masuk di bibir ngewe ku kembali membakar gairahku dan aku bergerak menaik turunkan pantatku untuk mengimbangi Bram. &lt;br/&gt;Dan benar saja 10 menit kemudian aku sampai pada puncak orgasme yang kedua, dengan meletakan kedua kakiku dan menekan keras pantatnya hingga penis nya menyentuh rahimku. Kupeluk Bram dengan erat yang membiarkan aku menikmati deburan ombak kenikmatan yang menyerangku berkali-kali bersamaan keluarnya cairanku. Kugigit bibirku agar tidak mengeluarkan suara, cukup lama aku dalam keadaan ini dan anehnya setelah selesai aku berada dalam puncak ternyata aku sudah kembali mengimbangi gerakan Bram dengan menaik turunkan pantatku. Saat itulah kudengar pintu kamarku terbuka dan detik berikutnya pintu kamar Bram diketuk Roni, "Bram..kau sudah tidur?", demikian ketuk Roni. Langsung saja Bram melepaskan pelukannya dan menyuruhku bersembunyi di kamar mandi. Sempat menyambar pakaian tidurku yang tergeletak di lantai aku langsung lari ke kamar mandi dan mengunci dari luar. Sungguh hatiku berdebar dengan kerasnya membayangkan apa jadinya jika aku ketahuan suamiku. &lt;br/&gt;Bram dengan santai dan masih bertelanjang membuka pintu dan mengajak Roni masuk, Roni sempat terkejut melihat Bram telanjang,"Sedang apa kamu Bram" tanpa curiga dengan tempat tidur yang berantakan yang kalau diperhatikan dari dekat ada cairan kenikmatanku. Bram hanya tersenyum dan mengatakan,"Mau tau aja.." Dasar Roni dia langsung membicarakan suatu hal pekerjaan dan mereka terlibat pembicaraan itu. Kurang lebih sepuluh menit mereka berbicara dan sepuluh menit juga hatiku sungguh berdebar-debar tapi anehnya dengan keadaan ini nafsuku sungguh semakin menjadi-jadi. Setelah Roni keluar, Bram kembali mengunci pintu kamar dan mengetuk kamar mandi perlahan,"Sinta buka pintunya..sudah aman". Begitu aku buka pintunya Bram langsung menarik aku dan mendudukanku di meja dekat kamar mandi, langsung saja dibukanya kedua kakiku dan bless penis nya kembali memenuhi bibir ngewe ku "Ahhh..ahh.." erangan kami berdua kembali terdengar perlahan sambil terus menggoyangkan pantatnya maju mundur Bram melahap payudara ku dan putingku. &lt;br/&gt;Sepuluh menit berlalu dan goyang Bram semakin cepat sehingga aku tahu dia akan mencapai puncaknya, dan akupun merasakan hal yang sama "Braaam lebih cepat sayang aku sudah hampir keluar.." desahku "Tahan sayang kita bersamaan keluarnya", dan benar saja saat kurasakan maninya menyembur deras dalam bibir ngewe ku aku mengalami orgasme yang ketiga dan lebih hebat dari yang pertama dan kedua, kami saling berpelukan erat dan menikmati puncak gairah itu bersamaan. "Braaammm..," desahku tertahan. "Ahhh Sinta..kau hebat.." demikian katanya. Akhirnya kami saling berpelukan lemas berdua, sungguh suatu pertempuran yang sangat melelahkan. Saat kulirik jam ternyata sudah dua jam kami bergumul. "Terima kasih Bram..kau hebat.." kataku dengan kecupan mesra dan langsung memakai pakaian tidurku kembali dan kembali ke kamarku. Roni tidak curiga sama sekali dan tetap berkutat dengan komputernya dan tidak menghiraukanku yang langsung berbaring tanpa melepas pakaianku seperti biasanya karena aku tahu ada bekas ciuman Bram di sekujur payudara ku. Malam itu aku merasa sangat bersalah pada Roni tapi di lain sisi aku merasa sangat puas dan tidur dengan nyenyaknya. &lt;br/&gt;Esoknya seperti biasa di hari Minggu aku dan Roni berenang di pagi hari tetapi mengingat adanya Bram, kami yang biasanya berenang bertelanjang akhirnya memutuskan memakai pakaian renag, aku syukuri karena hal ini dapat menutupi payudara ku yang masih memar karena gigitan Bram. Saat kami berenang aku menyadari bahwa Bram sedang menatap kami dari kamarnya. Dan saat Roni sedang asyik berenang kulihat Bram memanggilku dengan tangannya dan yang membuat aku terkejut dia menunjukan penis nya yang sudah mengacung besar dan tegang. Seperti di hipnotis aku nekat berjalan ke dalam."Ron aku mau ke dalam ambil makanan ya..!" kataku pada Roni, dia hanya mengiyakan sambil terus berenang, Roni memang sangat hobi berenang bisa 2 jam nonstop tanpa berhenti. &lt;br/&gt;Aku dengan tergesa masuk ke dalam dan menuju kamar Bram. Di sana Bram sudah menunggu dan tak sabar dia melucuti pakain renangku yang memang hanya menggunakan tali sebagai pengikatnya. "Gila kamu Bram..bisa ketahuan Roni lho," protesku tanpa perlawanan karena aku sendiri sangat bergairah oleh tantangan ini. dan dengan kasar dia menciumi punggungku sambil meremas payudara ku "Tapi kamu menikmatinya khan?!," goda Bram sambil mencium leher belakangku. Dan aku hanya mendesah menahan nikmat dan tantangan ini. Yang lebih gila Bram menarikku ke jendela dan masih dari belakang dia meremas-remas payudara ku dan meciumi punggung hingga pantatku, "Gila kau Bram, Roni bisa melihat kita," tapi anehnya aku tidak berontak sama sekali dan memperhatikan Roni yang benar-benar sangat menikamti renangnya. Di kamar Bram pun aku sangat menikmati sentuhan Bram. "Sinta kamu suka ini khan?" tanyanya sambil dengan keras menusukan penis nya ke dalam bibir ngewe ku dari belakang. "AHH..Bram.." teriakku kaget dan nikmat, sekarang aku berani bersuara lebih kencang karena tahu Roni tidak akan mendengarnya. Langsung saja Bram memaju mundurkan penis nya di bibir ngewe ku.."Ahh.. Bram lebih kencang..fuck me Bram..puaskan aku Bram..penis mu sungguh luar biasa..Bram aku sayang kamu.." teriakku tak keruan dengan masih memperhatikan Roni. &lt;br/&gt;Bram mengimbangi dengan gerakan yang liar hingga bibir ngewe ku terasa lebih dalam lagi tersentuh penis nya dengan posisi ini,"Sinta..khhaau hhebat.." desahnya sambil terus menekanku, kalau saja Roni melihat sejenak ke kamar Bram maka dia akn sangat terkejut meilhat pemandangan ini, istrinya sedang ngewe dengan rekan kerjanya. Ternyata kami memang bisa saling mengimbangi, kali ini dalam waktu 20 menit kami sudah mencapai puncak secara bersamaan "Teruuus Bram lebih khheeenncang..ahhhh aku keluar Braaaaam", teriaku. "Aaakuu juga Tyyaaasss..nikkkkmat ssekali mmmeemeekmu..aahhhhh." teriaknya bersamaan dengan puncak kenikmatan yang datang bersamaan. Setelah itu aku langsung mencium bibirnya dan kembali mengenakan pakaian renangku dan kembali berenang bersama Roni yang tidak menyadari kejadian itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah itu hari-hari berikutnya sungguh mendatangkan gairah baru dalam hidupku dengan tantangan ngewe bersama Bram. Pernah suatu saat ketika akhirnya Roni mau ngewe denganku di suatu malam hingga akhirnya dia tertidur kelelahan, aku hendak mengambil susu di dapur dan karena sudah larut malam aku nekat tidak mengenakan pakaian apapun. Saat aku membungkuk di depan lemari es sekelebat ku lihat bayangan di belakangku sebelum aku menyadari Bram sudah di belakangku dan langsung menubruku dari belakang. Penis nya langsung menusuk bibir ngewe ku yang membuatku hanya tersedak dan menahan nikmat tiba-tiba ini. Kami bergumul di lantai dapur lalu dia mengambil kursi dan duduk di atasnya sambil memangku aku, "Bram kamu nakal" desahku yang juga menikmatinya dan kami ngewe hingga hampir pagi di dapur. Sungguh bersama Bram kudapatkan gairah terpendamku selama ini. &lt;br/&gt;Akhirnya ketika proyek kantor Roni selesai Bram harus pergi dari rumah kami dan malam sebelum pergi aku dan Bram menyempatkan ngewe kembali.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-7949582984290558070?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/7949582984290558070/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-penis-teman-suamiku.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/7949582984290558070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/7949582984290558070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/04/cerita-ngewe-penis-teman-suamiku.html' title='Cerita Ngewe | Penis Teman Suamiku'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-2309347375595561855</id><published>2009-03-31T20:05:00.000-07:00</published><updated>2009-03-31T20:05:00.777-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Tante'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Gigolo ku yang Tangguh</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;p&gt;"Ne' apa kabar, ada acara ga sore ini" Itulah salam pembukaan telepon Tante Jupe sore itu. Tante Jupe adalah gambaran seorang istri kesepian seutuhnya. Suaminya yang…. apa yah, aku baru sadar kalau Tante Jupe belum pernah cerita tentang suaminya.&lt;br /&gt;"Ngga ada Mba" kataku&lt;br /&gt;"Ya udah kita main ke puncak gimana?"&lt;br /&gt;"Ok2 aja" kataku&lt;br /&gt;"Tapi ponakanmu itu ga usah diajak"&lt;br /&gt;Aku tertawa saja.&lt;br /&gt;"Gini loh Ne' ya susah ceritanya pokoknya gw cuma ajak you aja loh ya"&lt;br /&gt;Aku tertawa saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Gini gini… I punya kenalan, yah gitu deh, pokoknya kita aja sama dia"&lt;br /&gt;"Yah udah terserah Mba aja lah"&lt;br /&gt;"You dandan yang sexy yah" Katanya di lanjutkan dengan gelak tawa renyah nya yang khas&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku sudah siap, menunggu di ruang tamu. Tante Jupe katanya mau jemput. Benar saja satu jam kemudian sebuah SUV berhenti di depan pagar rumahku. Aku melihat Tante Jupe duduk di sebelah kiri. Seorang anak muda khas anak fitnes pegang kemudi. Kekar berotot begitu besar, hitam mungkin Ambon. Entahlah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Duduk di belakang seorang yang tidak kalah gagahnya dengan si supir. Mereka di kenalkan oleh Tante Jupe sebagai Agus dan Ferdi. Kedua dua nya instruktur fitnes katanya. Dalam perjalanan ke puncak kami berempat terus bercanda canda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Agus yang duduk di belakang sudah mulai berani melatahiku, setelah sadar kalau aku latah. Pinggangku sering menjadi sasaran nya sekedar ingin mendengar latahku yang kadang jorok. Tante Jupe bilang mereka baru saja kenalan di sebuah tempat kebugaran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ren"&lt;br /&gt;"Ya?"&lt;br /&gt;"Ferdi itu gede loh"&lt;br /&gt;"Iyah keliatan nya sih begitu" kataku lalu tertawa&lt;br /&gt;"Bengkok dan berotot, banyak urat uratnya" Lanjut Tante Jupe yang disambut tawa kami&lt;br /&gt;Selama perjalanan yang hampir 2 jam itu terus saja kami bercanda canda saru. Suasana sudah benar benar cair. Beberapa kali tangan ferdi mampir ke paha dan dadaku. Entah itu sekedar menggoda atau memang sengaja memancing birahiku. Aku hanya menikmati saja permainan ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Ren mereka on drugs loh"&lt;br /&gt;"Wah? kerja keras dong kita" Kataku sambil tertawa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku mengerti maksudnya on drugs adalah obat obat kuat model viagra atau sejenisnya. Tante Jupe memang sering mencekoki berondong berondongnya dengan obat obatan aneh aneh yang aku sendiri tidak pernah tau apa merk dan dimana belinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memang untuk urusan ini Tante Jupe senang mengajakku. Dia tahu diantara teman teman kami hanya staminaku yang benar benar bisa menandinginya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami sampai di vila kira kira pukul 5 sore. Tanpa menunggu terlalu lama kulihat Agus sudah tanpa malu malu mencumbu Tante Jupe habis habisan. Desah kenikmatan Tante Jupe terus keluar dari mulutnya tanpa henti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Agus begitu agresif dalam memperlakukan Tante Jupe. Pelakuannya cenderung kasar. Mungkin orang tertentu bisa berprasangka ia sedang menyakiti Tante Jupe, karena perlakuan nya yang demikian rupa serta ditambah desah Tante Jupe yang tidak karuan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sudah 10 menit tubuh bugil mereka bertempur dalam peluh sementara aku dan Ferdi terus saja menonton sambil kami minum beberapa botol corona. Sampai akhirnya Ferdi juga ikut mengerayangi tubuhku seakan terbawa suasana. Aku merespon nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku sadar antara Ferdi dan Agus seolah terjadi sebuah pertandingan ngewe. Pertandingan mana diantara mereka yang lebih hebat dalam ngewe dg wanita. Mereka saling lirik dan lalu mencoba melakukan lebih dari apa yang di lihat dilakukan oleh teman nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku dan Tante Jupe seakan menjadi objek permainan ngewe mereka. Mereka seakan berlomba siapa yang paling hebat ngewe. Peluh membasahi kami semua. Aku dan Tante Jupe benar benar kewalahan. Hampir 1 jam mereka seperti itu seolah olah ini adalah sebuah pertandingan. Entah sudah berapa kali aku mencapai orgasme ku. Begitu juga dengan Tante Jupe.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Entah obat apa yang di cekoki Tante Jupe kepada mereka. Mereka berdua seperti kesetanan. Seperti tidak ada letihnya. Seperti punya tenaga begitu banyak. Aku sendiri heran ada laki laki bisa sekuat ini. Sampai akhirnya Tante Jupe menyerah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Udah Gus, udah aku istirahat dulu, sana kamu ngewe sama Karen aja"&lt;br /&gt;Agus menghampiriku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebenarnya ia merasa iba kepadaku yang begitu keras diperlakukan oleh ferdi. Selama beberapa saat ia hanya duduk menonton teman nya ngewe tubuhku dengan keras tanpa ampun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Waktu dia melihatku aku hanya tersenyum saja, sementara Ferdi terus ngewe tanpa ampun di bawah sana. Entah Viagra model apa ini aku ga tahu. Yang jelas Ferdi sudah satu setengah jam ngewe di bawah sana dengan ritme yang tinggi dan tanpa ampun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tante, Agus boleh ikut ngewe ya?" Katanya sambil meremas payudaraku dengan perlahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku tersenyum saja sambil mengangguk kecil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa kali Agus mencoba memasukkan penisnya kemulutku, namun terus saja meleset keluar karena goyangan Ferdi yang begitu keras. Aku sendiri kasihan melihatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Tante biasa anal ga?" Tanya Agus takut takut.&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk lemah. Ferdi masih terus menggenjot di bawah sana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya mereka melakukan itu terhadapku setelah Agus melumuri nya dengan lubricant. Tubuhku benar benar lemas di buatnya. Dua penis raksasa itu seolah mengoyak kedua lubangku tanpa ampun.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-2309347375595561855?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/2309347375595561855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-gigolo-ku-yang-tangguh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/2309347375595561855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/2309347375595561855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-gigolo-ku-yang-tangguh.html' title='Cerita Ngewe | Gigolo ku yang Tangguh'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-1369188454136984007</id><published>2009-03-30T20:04:00.003-07:00</published><updated>2009-03-30T20:08:19.238-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Rame Rame'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Tiga Gadis Montok</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;Kisah ini aku alami kurang lebih 9 tahun yang lalu. Saat itu aku berusia 22 tahun. Namaku Very dan saat itu aku masih kuliah di salah satu Perguruan Tinggi terkenal di Bandung. Orang bilang tampangku lumayan, mirip-mirip dengan presenter top Om Farhan. Apalagi aku diberi fasilitas yang berlebih oleh orang tuaku. Aku tinggal bersama nenekku karena kedua orang tuaku di mutasi keluar pulau jawa. Jauh dari orang tua membuat aku tenggelam dalam pergaulan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu aku sedang sering jalan bareng dengan Luna. Orangnya putih cantik, tubuhnya tinggi langsing dengan potongan rambut pendek seperti cowok. Payudara nya tdk besar tetapi pinggul dan bokong nya menungging ke belakang sehingga bila Luna memakai celana jeans ketat akan terlihat sangat seksi Luna usianya saat itu sekitar 19 tahun dan baru saja lulus SMA. Aku sudah beberapa kali em-el dengannya, tetapi pengalaman yang terakhir aku alami dengannya sangat berkesan bagiku, aku terlibat pesta orgy dengannya.&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ceritanya pada suatu hari aku pergi dengan Luna dan adiknya, Jupe, ke rumah salah seorang saudaranya. Jupe secara fisik berbeda dengan Luna, Jupe lebih pendek tetapi tubuhnya putih montok. Kami berkunjung ke rumah Wulan. Di sana ternyata sudah ada Tora, pacar Wulan. Keadaan rumah wulan sangat sepi karena keluarganya sedang menghadiri undangan di luar kota.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kami berlima kemudian terlibat obrolan seru sambil diselingi minum minuman keras Jack Daniel yang sudah dicampur dengan buah vita. Aku juga mengeluarkan 3 linting ganja yang kami hisap bersama bergantian. Tidak berapa lama kami mulai mabuk. Wulan dan Tora permisi ke loteng atas karena akan menonton TV di lantai dua. Aku, Luna dan Jupe melanjutkan perbincangan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat asik menikmati minuman keras samar-samar kami mendengar suara erangan dari kamar atas. Kami bertiga saling berpandangan. Luna tersenyum geli dan kemudian mengajak aku dan Jupe untuk mengintip ke atas. Jupe menolak untuk ikut ke atas, akhirnya aku dan Luna dengan berjingkat-jingkat menaiki tangga ke atas untuk melihat apa yang sedang Wulan dan Tora lakukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di ruang tengah atas ternyata keadaan sepi. TV masih menyala tetapi Wulan dan Tora tidak tampak di sana. Aku dan Luna kemudian mendekati satu-satunya kamar yang ada di lantai atas. Semakin dekat semakin terdengar suara-suara yang "mencurigakan". Dengan perlahan Luna menyingkap tirai hordeng kamar atas, maka tampaklah pemandangan yang luar biasa bagiku. Tora dan Wulan dalam keadaan bugil tampak sedang bersetubuh. Tora tampak sedang menindih tubuh Wulan. Posisi mereka membelakangi jendela kamar sehingga kami dapat melihat jelas penis Tora yang keluar masuk bibir ngewe Wulan. Baru kali ini aku melihat orang lain bersetubuh di depanku sehingga aku mengalami sensasi yang luar biasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiba-tiba Luna menarik tanganku ke sofa di ruang tengah. Nampaknya dia juga terangsang melihat pemandangan di kamar itu. Dengan bernafsu Luna melumat bibirku sementara tangannya meremas-remas penis ku. Aku tidak mau ketinggalan, kuremas-remas kedua bokong Luna. Luna kemudian menunduk di depanku, dengan cepat dibukanya resleting celanaku sehingga penis ku yang sudah menegang menyembul ke luar dari celanaku. Dengan sigap Luna langsung mengulum penis ku, sementara tangannya menyusup ke dalam bajuku dan mengusap-usap puting susuku. Birahiku benar-benar terbakar. Tanganku memegangi kepala Luna dan mendorongnya maju mundur sementara lidah Luna terasa mengelus-elus kepala penis ku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak berapa lama Luna berdiri dan melepaskan celananya. Maka tampaklah bibir ngewe nya yang menggelembung ditumbuhi oleh bulu-bulu halus . Luna kemudian naik ke atas sofa dan menungging di hadapanku, tampaknya ia sudah tidak tahan ingin segera ngewe. Aku tidak mau terburu-buru. Ku singkapkan bokong nya maka tampaklah belahan bibir ngewe nya yang merah menganga di depanku. Aku kemudian menjilati bibir ngewe nya. Ku hisap bibir ngewe dan itilnya. Sesekali kujilati lubang bokong nya dan ku gigit kedua bokong nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak lama kemudian aku berdiri di belakangnya. Perlahan-lahan ku masukan penis ku ke bibir ngewe nya. Bibir ngewe nya yang basah membuat penis ku dengan mudah masuk ke dalamnya. Luna mengerang, wajahnya di tutupkan ke bantal sofa. Aku mulai menggenjot bokong ku maju mundur, suara pahaku yang beradu dengan bokong nya membuatku semakin bernafsu. Tak berapa lama Luna mengangkat kepalanya , bokong nya didorong ke belakang sehingga penis ku hampir masuk semua ke bibir ngewe nya. "Ah, Ver, aku mau keluar nih, ah..", erangnya. Aku semakin cepat menggenjot bokong ku. Aku pun sudah tak tahan lagi karena bibir ngewe Luna erat sekali mencengkram penis ku. Tiba-tiba Luna menjerit kecil, ia mengalami orgasme, aku semakin kuat mengocok penis ku di bibir ngewe nya. Tak berapa lama akupun mengalami ejakulasi. Ku tekan penis ku dalam-dalam ke bibir ngewe nya. Sperma ku muncrat di dalam bibir ngewe nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan penis ku. Luna tampak duduk di sofa membersihkan bibir ngewe nya dari sperma ku dengan tisu. Agak lama aku di kamar mandi karena dengkulku masih lemas karena ngewe tadi. Selesai membersihkan penis ku, aku kembali ke ruang TV. Sesampainya di sana aku disuguhi pemandangan yang luar biasa. Luna tampak duduk di sofa, Wulan berjongkok di selangkangan Luna melakukan oral sex. Tora berdiri di atas sofa sementara Luna tampak mengulum penis nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Birahiku naik kembali, aku hampiri mereka dan kembali kubuka celana jeansku. Ku elus-elus bokong Wulan yang besar. Ku masukan jari tengahku ke bibir ngewe Wulan. Bibir ngewe Wulan masih basah, mungkin karena sperma Tora belum kering di bibir ngewe nya. Aku mengocok-ngocok jariku dengan cepat di bibir ngewe Wulan. Aku tidak tahan, segera saja ku masukan penis ku ke bibir ngewe Wulan dan ku genjot bokong ku maju mundur. Wulan semakin rakus menjilati bibir ngewe Luna sementara Luna asik mengulum penis Tora sambil tangannya meremas-remas zakar Tora. Tangan Tora tampak menggerayangi ke dua payudara Luna.&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku mendengar suara langkah menaiki tangga. Rupanya Jupe menyusul kami ke atas. Melihat pemandangan yang ada di depan matanya Jupe tampak tertegun. Tapi kemudian perlahan Jupe menghampiri kami. Jupe berdiri di sampingku. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kutarik tubuhnya dan kulumat bibirnya sementara penis ku terus keluar masuk bibir ngewe Wulan. Aku singkapkan baju dan BH Jupe ke atas, maka menyembulah kedua susu Jupe yang putih bulat. Dengan rakus ku hisap kedua susu Jupe bergantian kiri kanan. Puting susunya terasa mengeras di dalam mulutku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tora kemudian menghampiri Jupe dari belakang. Tangannya membuka resleting celana Jupe dan memelorotkannya ke bawah. Di tariknya Jupe ke atas Sofa di samping Luna. Jupe menungging di atas sofa, mulutnya menghisap payudara Luna, sementara ku lihat Tora memasukan penis nya ke bibir ngewe Jupe. Pemandangan yang luar biasa indah, Jupe sang adik menjilati payudara Luna, kakaknya, sementara Tora asik mengerjai bibir ngewe Jupe dari belakang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena aku dan Tora sudah ejakulasi sebelumnya, kami mampu bertahan cukup lama. Selang 15 Menit Wulan mengerang, dia mengalami orgasme. cairan bibir ngewe nya membasahi penis ku. Wulan kemudian tersungkur ke lantai karena kelelahan. Tora kemudian mencabut penis nya dari bibir ngewe Jupe. Tora berjongkok di selangkangan Luna. Perlahan dimasukannya penis nya ke bibir ngewe Luna. Aku tidak tinggal diam. Ku hampiri Jupe dan kusetubuhi dia dari belakang. Tanganku mencengkram bokong Jupe sementara penis ku mengocok-ngocok bibir ngewe nya. Bibir ngewe Jupe masih sempit. Mungkin karena pengalaman ngewe nya belum sebanyak kakak dan saudaranya.&lt;br /&gt;Berselang 30 menit, Tora mengerang, tampaknya dia sudah mau orgasme. Tora mencabut penis nya dari bibir ngewe Luna, disemprotkannya cairan sperma nya ke dada Luna. Sperma Tora tampak membasahi payudara Luna. Tora kemudian menyorongkan penis nya ke mulut Jupe. Jupe kemudian menjilati dan menyedot sisa-sisa sperma Tora dari kepala penis nya. Jupe juga sudah mau sampai, di sedotnya dengan keras penis Tora sementara bokong nya terasa mengejang tanda Jupe sudah orgasme. Tora ambruk kelelahan ke lantai menyusul Wulan. Akupun sudah mau orgasme. Ku tekan kuat-kuat penis ku ke bibir ngewe Jupe. Aku mengerang nikmat ketika sperma ku muncrat membasahi dinding-dinding bibir ngewe Jupe. Akhirnya kami berlima ambruk ke lantai karena kelelahan. Kami baru bangun ketika hari menjelang malam dan kami pun harus pulang karena keluarga Wulan akan segera sampai ke rumah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Itulah pengalamanku yang tak akan aku lupakan. Pengalaman ngwee rame rame yang pertama dan terakhir bagiku. Luna dan Jupe saat ini sudah menikah dan memiliki anak. Wulan menikah dengan Tora tapi tak lama kemudian mereka bercerai. Aku tidak pernah berjumpa lagi dengan mereka. Hanya kenangan tentang ngewe dg mereka saja yang akan menemani hari-hariku ke depan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-1369188454136984007?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/1369188454136984007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-tiga-gadis-montok.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1369188454136984007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1369188454136984007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-tiga-gadis-montok.html' title='Cerita Ngewe | Tiga Gadis Montok'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-1194079739051481618</id><published>2009-03-27T06:01:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T06:01:00.169-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE'/><title type='text'>Cerita NGEWE | Kampanye Pemilu plus Ngewe</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;K&lt;/ap&gt;isah &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="Cerita NGEWE"&gt;Cerita NGEWE&lt;/a&gt;, &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="kampanye Pemilu plus ngewe"&gt;kampanye Pemilu plus ngewe&lt;/a&gt;. Cerita ini adalah kenangan ngewe semasa kampanye Pemilu 2004, memori yang tak dapat kulupakan. Namaku Raffi, aku bekerja di sebuah harian ibukota. Baiklah ceritanya begini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu tanggal 2 Juni 2004 sekitar pukul 21.30. Aku di dalam mobilku sedang keliling-keliling kota Jakarta. Rencananya aku hendak meliput persiapan kampanye partai-partai yang katanya sudah ada di seputar HI. Aneh, kampanye resminya besok, tapi sudah banyak yang bercokol di putaran HI sejak malam ini. Kelihatannya mereka tidak mau kalah dengan partai-partai lain yang kemarin dan hari ini telah memanjat patung selamat datang, memasang bendera mereka di sana. Tercatat pp, PND, PBB, PKB, PAN dan PK telah berhasil. Dengan korban beberapa orang tentu saja. Entah apa yang dikejar mereka, para simpatisan itu. Kebanggaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau sebuah ketololan. Kalau ternyata mereka tewas atau cedera, berartikah pengorbanan mereka? Apakah para ketua partai itu kenal sama mereka? Apakah pemimpin partai itu menghargai kenekadan mereka? Lho, kok aku bicara politik. Biarinlah. Macam-macam saja ulah mereka, maklumlah sudah saat kampanye terakhir buat partai-partai di Jakarta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan kedutaan Inggris aku parkirkan mobilku, bersama banyak mobil lainnya. Memang aku lihat ada beberapa kelompok, masing-masing dengan bendera partai mereka dan atribut yang bermacam-macam. Aku keluarkan kartu persku, tergantung di leher. Juga Nikon, kawan baik yang menjadi sumber nafkahku. Aku mendekati kerumunan simpatisan partai. Bergabung dengan mereka. Berusaha mencari informasi dan momen-momen penting yang mungkin akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah pandanganku bertemu dengan tatap mata seorang gadis yang bergerombol dengan teman-temannya di atap sebuah mini bus. Wajahnya yang cantik tersenyum kepadaku. Gadis itu memakai kaos partai yang mengaku reformis,—aku rahasiakan saja baiknya—yang telah dipotong sedikit bagian bawahnya, sehinggs seperti model tank top, sedangkan bawahannya memakai mini skirt berwarna putih. Di antara teman-temannya, dia yang paling menonjol. Paling lincah, paling menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, Mas wartawan ya?” katanya kepadaku.&lt;br /&gt;“Iya”.&lt;br /&gt;“Wawancarai kita dong”, Salah seorang temannya nyeletuk.&lt;br /&gt;“Emang mau?”.&lt;br /&gt;“Tentu dong. Tapi photo kita dulu…”&lt;br /&gt;Mereka beraksi saat kuarahkan kameraku kepada mereka. Dengan lagak dan gaya masing-masing mereka berpose.&lt;br /&gt;“Kenapa sudah ada di sini, sih? Bukankah ____ (nama partai) baru besok kampanyenya?”.&lt;br /&gt;“Biarin Mas, daripada besok dikuasai partai lain?”.&lt;br /&gt;“Memang akan terus di sini? Sampai pagi?”.&lt;br /&gt;“Iya, demi ____ (nama partai), kami rela begadang semalaman.”&lt;br /&gt;“Hebat.”&lt;br /&gt;“Mas di sini aja, Mas. Nanti pasti ada lagi yang ingin manjat tugu selamat datang.” Kata gadis yang menarik perhatianku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun duduk dekat mereka, berbincang tentang pemilu kali ini. Harapan-harapan mereka, tanggapan mereka, dan pendapat mereka. Mereka lumayan loyal terhadap partai mereka itu, walaupun tampak sedikit kecewa, karena pemimpin partai mereka itu kurang berani bicara. Padahal diproyeksikan untuk menjadi calon presiden. Aku maklum, karena tahu latar belakang pemimpin yang mereka maksudkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, nama kalian siapa?” Tanyaku, “Aku Raffi.”&lt;br /&gt;“Saya Luna Maya.” Kata cewek manis itu, lalu teman-temannya yang lain pun menyebut nama. Kami terus bercakap-cakap, sambil minum teh botol yang dijual pedagang asongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berlalu. Beberapa kali aku meninggalkan mereka untuk mengejar sumber berita. Malam itu bundaran HI didatangi Kapolri yang meninjau dan ‘menyerah’ melihat massa yang telah bergerombol untuk pawai dan kampanye, karena jadwal resminya adalah pukul 06.00 - 18.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku kembali, gerombolan Luna Maya masih ada di sana.&lt;br /&gt;“Saya ke kantor dulu ya, memberikan kaset rekaman dan hasil photoku. Sampai ketemu.” Pamitku.&lt;br /&gt;“Eh, Mas, Mas Raffi! Kantornya “x” (nama koranku), khan. Boleh saya menumpang?” Luna Maya berteriak kepadaku.&lt;br /&gt;“Kemana?”&lt;br /&gt;“Rumah. Rumah saya di dekat situ juga.”&lt;br /&gt;“Boleh saja.” Kataku, “Tapi katanya mau tetap di sini? Begadang?”&lt;br /&gt;“Nggak deh. Ngantuk. Boleh ya? Gak ada yang mau ngantarin nih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun mengangguk. Tapi dari tempatku berdiri, aku dapat melihat di dalam mini bus itu ada sepasang remaja berciuman.&lt;br /&gt;Benar-benar kampanye, nih? Sama saja kejadian waktu meliput demontrasi mahasiswa dulu. Waktu teriak, ikutan teriak. Yang pacaran, ya pacaran. (Ini cuma sekedar nyentil, lho. Bukan menghujat. Angkat topi buat gerakan mahasiswa kita! Peace!)&lt;br /&gt;Luna Maya menggandengku. Aku melambai pada rekan-rekannya.&lt;br /&gt;“Luna Maya! Pulang lho! Jangan malah…” Teriak salah seorang temannya.&lt;br /&gt;Luna Maya cuma mengangkat tinjunya, tapi matanya kulihat mengedip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami pun menuju mobilku. Dengan lincah Luna Maya telah duduk di sampingku. Mulutnya berkicau terus, bertanya-tanya mengenai profesiku. Aku menjawabnya dengan senang hati. Terkadang pun aku bertanya padanya. Dari situ aku tahu dia sekolah di sebuah SMA di daerah Bulungan, kelas 2. Tadi ikut-ikutan teman-temannya saja. Politik? Pusing ah mikirinnya.&lt;br /&gt;Usianya 17, tapi tidak mendaftar pemilu tahun ini. Kami terus bercakap-cakap. Dia telah semakin akrab denganku.&lt;br /&gt;“Kamu sudah punya pacar, belum?” Tanyaku.&lt;br /&gt;“Sudah.” Nadanya jadi lain, agak-agak sendu.&lt;br /&gt;“Tidak ikut tadi?”&lt;br /&gt;“Nggak.”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Lagi marahan aja.”&lt;br /&gt;“Wah.., gawat nih.”&lt;br /&gt;“Biarin aja.”&lt;br /&gt;“Kenapa emangnya?”&lt;br /&gt;“Dia ketangkap basah selingkuh dengan temanku, tapi tidak mengaku.”&lt;br /&gt;“Perang, dong?”&lt;br /&gt;“Aku marah! Eh dia lebih galak.”&lt;br /&gt;“Dibalas lagi dong. Jangan didiemin aja.”&lt;br /&gt;“Gimana caranya?” Tanyanya polos.&lt;br /&gt;“Kamu selingkuh juga.” Jawabku asal-asalan.&lt;br /&gt;“Bener?”&lt;br /&gt;“Iya. Jangan mau dibohongin, cowok tu selalu begitu.”&lt;br /&gt;“Lho, Mas sendiri cowok.”&lt;br /&gt;“Makanya, aku tak percaya sama cowok. Sumpah, sampai sekarang aku tak pernah pacaran sama cowok. Hahaha.”&lt;br /&gt;Dia ikut tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengambil rokok dari saku depan kemejaku, menyalakannya. Luna Maya meminta satu rokokku. Anak ini badung juga. Sambil merokok, dia tampak lebih rileks, kakinya tanpa sadar telah nemplok di dashboardku. Aku merengut, hendak marah, tapi tak jadi, pahanya yang mulus terpampang di depanku, membuat gondokku hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu aku mulai tertarik mencuri-curi pandang. Luna Maya tak sadar, dia memejamkan mata, menikmati asap rokok yang mengepul dan keluar melalui jendela yang terbuka. Gadis ini benar-benar cantik. Rambutnya panjang. Tubuhnya indah. Dari baju kaosnya yang pendek, dapat kulihat putih mulus perutnya. Dadanya mengembang sempurna, tegak berisi.&lt;br /&gt;Tanpa sadar penisku bereaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyalakan tape mobilku. Luna Maya memandangku saat sebuah lagu romantis terdengar.&lt;br /&gt;“Mas, setelah ini mau kemana?”&lt;br /&gt;“Pulang. Kemana lagi?”&lt;br /&gt;“Kita ke pantai saja yuk. Aku suntuk nih.” Katanya menghembuskan asap putih dari mulutnya.&lt;br /&gt;“Ngapain”&lt;br /&gt;“Lihat laut, ngedengerin ombak, ngapain aja deh. Aku males pulang jadinya. Selalu ingat Ipet, kalau aku sendirian.”&lt;br /&gt;“Ipet?”&lt;br /&gt;“Pacarku.”&lt;br /&gt;“Oh. Tapi tadi katanya ngantuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah terbang bersama asap.” Katanya, tubuhnya doyong ke arahku, melingkarkan lengan ke bahuku, dadanya menempel di pangkal tangan kiriku. Hangat.&lt;br /&gt;“Bolehlah.” Kataku, setelah berpikir kalau besok aku tidak harus pagi-pagi ke kantor. Jadi setelah mengantar materi yang kudapat kepada rekanku yang akan membuat beritanya, aku dan Luna Maya menuju arah utara. Ancol! Mana lagi pantai di Jakarta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku parkirkan mobil Kijangku di pinggir pantai Ancol. Di sana kami terdiam, mendengarkan ombak, begitu istilah Luna Maya tadi. Sampai setengah jam kami hanya berdiam. Namun kami duduk telah semakin rapat, sehingga dapat kurasakan lembutnya tubuh yang ada di sampingku.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Luna Maya mencium pipiku.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Mas Raffi.”&lt;br /&gt;“Untuk apa?”&lt;br /&gt;“Karena telah mau menemani Luna Maya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam. Menatapnya. Dia pun menatapku. Perlahan menunduk. Kunikmati kecantikan wajahnya. Tanpa sadar aku raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan kudekatkan wajahku ke wajahnya, aku cium bibirnya, lalu aku tarik lagi wajahku agak menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar, bibirku pun kurasakan bergetar, begitu juga dengan bibirnya. Aku tersenyum, dan ia pun tersenyum. Kami berciuman kembali. Saat hendak merebahkannya, setir mobil menghalang gerakan kami. Kami berdua pindah ke bangku tengah Kijangku. Aku cium kening Luna Maya terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, lalu bibirnya. Luna Maya terpejam dan kudengar nafasnya mulai agak terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara. Tanganku memegang dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis dan bhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian kaos itu telah kubuka. Aku arahkan mulutku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke payudara nya yang indah, besar, montok, kencang, dengan puting yang memerah. Tanganku membuka kaitan BH hitamnya. Aku mainkan lidahku di puting kedua payudara nya yang mulai mengeras. Yang kiri lalu yang kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Raffi, kamu tau saja kelemahan saya, saya paling nggak tahan kalo dijilat susu saya…, aahh…”.&lt;br /&gt;Aku pun sudah semakin asyik mencumbu dan menjilati puting payudara nya, lalu ke perutnya, pusarnya, sambil tanganku membuka mini skirtnya.&lt;br /&gt;Terpampanglah jelas tubuh telanjang gadis itu. Celana dalamnya yang berwarna hitam, menerawangkan bulu-bulu halus yang ada di situ. Kuciumi daerah hitam itu.&lt;br /&gt;Aku berhenti, lalu aku bertanya kepada Luna Maya&lt;br /&gt;“Luna Maya kamu udah pernah dijilatin itunya?”&lt;br /&gt;“Belum…, kenapa?”.&lt;br /&gt;“Mau nyoba nggak?”.&lt;br /&gt;Luna Maya mengangguk perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama lagi langsung aku buka celana dalamnya, dan mengarahkan mulutku ke &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="bibir ngewe"&gt;bibir ngewe&lt;/a&gt;  Luna Maya yang bulunya lebat, kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas. Aku keluarkan ujung lidahku yang lancip lalu kujilat dengan lembut klitorisnyana.&lt;br /&gt;Beberapa detik kemudian kudengar desahan panjang dari Luna Maya&lt;br /&gt;“sstt… Aahh!!!”&lt;br /&gt;Aku terus beroperasi di situ&lt;br /&gt;“aahh…, Mas Raffi…, gila nikmat bener…, Gila…, saya baru ngerasain nih nikmat yang kayak gini…, aahh…, saya nggak tahan nih…, udah deh…”&lt;br /&gt;Lalu dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku dan dengan tersenyum ia memandangku. Tanpa kuduga ia mendorongku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya tangannya membuka sabuk yang kupakai, lalu membuka zipper jins hitamku. Tangannya menggapai penis ku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia memasukkan  penis ku yang besar dan melengkung kedalam mulutnya.&lt;br /&gt;“aahh…” Lenguhku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya. Namun karena dia mungkin belum biasa, giginya beberapa kali menyakiti penisku.&lt;br /&gt;“Aduh Luna Maya, jangan kena gigi dong…, Sakit. Nanti lecet…”&lt;br /&gt;Kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala penis ku yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri, ke kanan, lalu dengan perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha memasukkan penis ku semaksimal mungkin ke dalam mulutnya. Namun hanya seperempat dari panjang penis ku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam mulutnya.&lt;br /&gt;“Ohk!.., aduh Mas Raffi, cuma bisa masuk seperempat…”&lt;br /&gt;“Ya udah Luna Maya, udah deh jangan dipaksaain, nanti kamu tersedak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di seat Kijangku. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="bibir ngewe"&gt;bibir ngewe&lt;/a&gt; nya sudah mulai lembab dan agak basah. Lalu kupegang  penis ku, aku arahkan ke  bibir ngewe nya. Aku rasakan kepala penis ku mulai masuk perlahan, kutekan lagi agak perlahan, kurasakan sulitnya penis ku menembus  bibir ngewe nya.&lt;br /&gt;Kudorong lagi perlahan, kuperhatikan wajah Luna Maya dengan matanya yang tertutup rapat, ia menggigit bibirnya sendiri, kemudian berdesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“sstt…, aahh…, Mas Raffi, pelan-pelan ya masukkinnya, udah kerasa agak perih nih…”&lt;br /&gt;Dan dengan perlahan tapi pasti kudesak terus  penis ku ke dalam  bibir ngewe  Luna Maya, aku berupaya untuk dengan sangat hati-hati sekali memasukkan  penis ku ke bibir vagina nya. Aku sudah tidak sabar, pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong  penis ku agak keras. Terdengar suara aneh. Aku lihat ke arah  penis ku dan bibir ngewe  Luna Maya, tampak olehku  penis ku baru setengah terbenam kedalam bibir ngewe nya. Luna Maya tersentak kaget.&lt;br /&gt;“Aduh Mas Raffi, suara apaan tuh?”&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa, sakit nggak?”&lt;br /&gt;“Sedikit…”&lt;br /&gt;“Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kurasakan  bibir ngewe  Luna Maya sudah mulai basah dan agak hangat. Ini menandakan bahwa lendir dalam bibir ngewe  Luna Maya sudah mulai keluar, dan siap untuk penetrasi. Akhirnya aku desakkan  penis ku dengan cepat dan tiba-tiba agar Luna Maya tidak sempat merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, kulihat wajah Luna Maya seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan ngewe yang luar biasa, matanya setengah terpejam, dan sebentar-sebentar kulihat mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara. “sshh…, sshh…”&lt;br /&gt;Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi bibirnya yang sensual. Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa. Kutekan lagi  penis ku, kurasakan di ujung penis ku ada yang mengganjal, kuperhatikan  penis ku, ternyata sudah masuk tiga perempat kedalam  bibir ngewe  Luna Maya.&lt;br /&gt;Aku coba untuk menekan lebih jauh lagi, ternyata sudah mentok…, kesimpulannya,  penis ku hanya dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam  bibir ngewe  Luna Maya. Dan Luna Maya pun merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh Mas Raffi, udah mentok, jangan dipaksain teken lagi, perut saya udah kerasa agak negg nih, tapi nikmat…., aduh…, barangmu gede banget sih Mas Raffi…”&lt;br /&gt;Aku mulai memundur-majukan bokong ku, sebentar kuputar goyanganku ke kiri, lalu ke kanan, memutar, lalu kembali ke depan ke belakang, ke atas lalu ke bawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya bibir ngewe  Luna Maya, ternyata  bibir ngewe  Luna Maya masih sempit, walaupun bukan lagi seorang perawan. Ini mungkin karena ukuran  penis ku yang menurut Luna Maya besar, panjang dan kekar. Lama kelamaan goyanganku sudah mulai teratur, perlahan tapi pasti, dan Luna Maya pun sudah dapat mengimbangi goyanganku, kami bergoyang seirama, berlawanan arah, bila kugoyang ke kiri, Luna Maya goyang ke kanan, bila kutekan bokong ku Luna Maya pun menekan bokong nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua aku lakukan dengan sedikit hati-hati, karena aku sadar betapa besar  penis ku untuk Luna Maya, aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini berjalan dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Luna Maya merenggut rambutku, sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kami berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak peduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat itu. Aku terus menggoyang bokong ku ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aahh Mas Raffi…, agak cepet lagi sedikit goyangnya…, saya kayaknya udah mau keluar nih…”&lt;br /&gt;Luna Maya mengangkat kakinya tinggi, melingkar di pinggangku, menekan bokong ku dengan erat dan beberapa menit kemudian semakin erat…, semakin erat…, tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingaku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang dari mulutnya memanggil namaku.&lt;br /&gt;“Mas Raffi…, aahh…, mmhhaahh…, Aahh…” Dia kelojotan. Kurasakan  bibir ngewe nya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit  penis ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“aahh…, gila…, Ini nikmat sekali…” Teriakku.&lt;br /&gt;Baru kurasakan sekali ini  bibir ngewe  bisa seperti ini. Tak lama kemudian aku tak tahan lagi, kugoyang bokong ku lebih cepat lagi keatas kebawah dan, Tubuhku mengejang.&lt;br /&gt;“Mas Raffi…, cabut…, keluarin di luar…”&lt;br /&gt;Dengan cepat kucabut  penis ku lalu sedetik kemudian kurasakan kenikmatan ngewe luar biasa, aku menjerit tertahan&lt;br /&gt;“aahh…, ahh…” Aku mengerang.&lt;br /&gt;“Ngghh…, ngghh..”&lt;br /&gt;Aku pegang  penis ku sebelah tangan dan kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali keluar dari  penis ku.&lt;br /&gt;Chrootth…, chrootthh…, crothh…, craatthh…, sebagian menyemprot wajah Luna Maya, sebagian lagi ke payudaranya, ke dadanya, terakhir ke perut dan pusarnya.&lt;br /&gt;Kami terkulai lemas berdua, sambil berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Raffi…, nikmat banget ngewe sama kamu, rasanya beda sama kalo saya ngewe sama Ipet. Enakan ngewe sama kamu. Kalau ngewe sama Ipet, saya tidak pernah nyampe ke puncak ngewe, tapi baru sekali ngewe ama kamu, saya bisa sampai, barang kali karena barang kamu yang gede banget ya?” Katanya sambil membelai penis ku yang masih tegang, namun tidak sekeras tadi.&lt;br /&gt;“Saya nggak bakal lupa deh sama malam ini, saya akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis saya”&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata “Iya Luna Maya, saya juga, saya nggak bakal lupa”.&lt;br /&gt;Kami pun setelah itu menuju kostku, kembali ngewe . Setelah pagi, baru aku mengantarnya pulang. Dan berjanji untuk bertemu lagi lain waktu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-1194079739051481618?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/1194079739051481618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-kampanye-pemilu-plus-ngewe.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1194079739051481618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1194079739051481618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-kampanye-pemilu-plus-ngewe.html' title='Cerita NGEWE | Kampanye Pemilu plus Ngewe'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-1728281410249866520</id><published>2009-03-26T06:01:00.000-07:00</published><updated>2009-03-26T06:01:00.341-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE'/><title type='text'>Cerita NGEWE | Selingkuh Ngewe dg Sekantor</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;K&lt;/ap&gt;isah &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="Cerita NGEWE"&gt;Cerita NGEWE&lt;/a&gt; &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="Selingkuh dg Sekantor"&gt;Selingkuh dg Sekantor&lt;/a&gt;, sahabat kantorku Cerita ini dimulai ketika aku bersama 2 orang teman sekantorku mendapat training ke Singapura untuk mempelajari produk software baru. Kami bekerja di Bank Swasta terkenal di bagian Information Technology.&lt;br /&gt;Aku, Edwin dan Marcella menginap di Hotel Orchard di Orchard Road, Aku dan Edwin satu kamar sharing di Lantai 10. Sedangkan Marcella di Lantai 6. Setibanya di Hotel kami beristirahat sejenak, kemudian kami bertiga melakukan survey tempat lokasi training untuk hari senin esoknya. Ternyata tempat training kami tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap, dari Hotel kami jalan ke station MRT Orchard dan berhenti di station MRT Bugis…, kemudian dapat melanjutkan dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;Selesai meninjau tempat training kami kembali ke Orchard, di tengah perjalanan Marcella bertanya kepadaku.&lt;br /&gt;Marcella: “Roger kamu tahu gak…, tempat jual kondom yang aneh-aneh di Singapore”.&lt;br /&gt;Aku: “Oh tahu gue…, itu dekat Lucky Plaza…, lu mau ke sana?”&lt;br /&gt;Marcella: “Iya donk ke sana yuk kita lihat-lihat”, Kata Marcella antusias sekali.&lt;br /&gt;Edwin: “Ngapain ke sana…, jauh-jauh di Jakarta juga banyak.”&lt;br /&gt;Marcella: “Yang disini lain…, banyak yang aneh-aneh”.&lt;br /&gt;Aku: “Iya…, deh Win…, kita lihat saja kesana…, lagian lu ngapain bengong di hotel”.&lt;br /&gt;Akhirnya kami bertiga ke condo di Lucky Plaza. Marcella membeli kondom yang bisa menyala kalau malam. Sedangkan Edwin acuh tak acuh…, karena dia memang type aliran lurus tidak suka yang aneh-aneh, sedangkan Marcella aku perhatikan, sepertinya sangat senang melihat barang-barang di sana. Matanya tampak mengawasi boneka berbentuk alat kelamin pria, dia sepertinya ingin beli, tapi malu sama Edwin.&lt;br /&gt;Setelah itu kami bertiga menelusuri mall-mall sepanjang Orchard Road, Isetan, Takasimaya dll. Tak terasa kami bertiga sudah mengelilingi pertokoan hampir 3 jam, dan hari sudah sore.&lt;br /&gt;Marcella: “Aduh kaki gue, pegal banget deh…, ngaso dulu yuk”.&lt;br /&gt;Kami bertiga berhenti dulu sambil duduk dan merokok di taman. Wah, pemandangan di Orchard asyik-asyik. cewek di sana memakai bajunya berani…, paha dan tonjolan &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="payudara"&gt;payudara&lt;/a&gt;  rasanya sudah hal biasa di sana.&lt;br /&gt;Sedang asyik-asyiknya melihat tonjolan ‘kismis’ di baju cewek yang lewat, mendadak Edwin mengajak pulang, “Yuk Roger kita balik ke Hotel”.&lt;br /&gt;Marcella tersenyum mengejekku, “Elu ganggu si Roger aje…, Win…, orang lagi nikmat-nikmat ngeliat pemandangan”.&lt;br /&gt;Waduh ketahuan saya lagi ngeker oleh Marcella.., ternyata dia memperhatikanku dari tadi.&lt;br /&gt;Edwin: “Habis gue bosan…, dari tadi cuma duduk-duduk doang…, mendingan balik ke Hotel…, bisa tidur bisa ngaso”.&lt;br /&gt;Ita: “Sebentar lagi deh Win…, gue kagak kuat jalan…, kalau dipijitan nikmat kali yach?”.&lt;br /&gt;Aku: “Boleh entar gue pijitin deh, tapi bayarnya berapa?”.&lt;br /&gt;Marcella: “Sambil tersenyum menggoda…, tapi pijitinnya nikmat kagak?”.&lt;br /&gt;Aku: “Dijamin merem-melek deh…, saking asyiknya”.&lt;br /&gt;Marcella: “Huh…, Gombal”.&lt;br /&gt;Aku: “Tidak percaya boleh coba”.&lt;br /&gt;Ketika Jam sudah menunjukkan pukul 19:30 perutku terasa lapar sekali, aku ajak Edwin keluar untuk mencari makan di luar. Dia menolak alasannya capek. Lebih baik pesan di restauran hotel aja aku bel Marcella, dia mau tapi kakinya pegal-pegal. Aku rayu dan kubilangi nanti dipijitin deh.&lt;br /&gt;Marcella: “Benar yach…, awas kalau bohong”.&lt;br /&gt;Kami bertemu di Lobby, Marcella memakai baju kaos yang lehernya rendah sekali sehingga tampak payudara nya yang putih dan kenyal. Di tengah perjalanan aku coba menggandeng tangan Marcella waktu menyeberang jalan, dia tidak menolak. Permulaan yang baik kataku dalam hati. Sewaktu perjalanan pulang ke hotel Marcella menempelkan tubuhnya ke badanku, sambil berkata: “Roger…, gue sudah kagak kuat jalan nich.&lt;br /&gt;Aku: “Mau gue gendong”.&lt;br /&gt;Marcella mencubit perutku, “Dasar laki-laki cari kesempatan aje”, sewot Marcella&lt;br /&gt;Aku: “Bukan cari kesempatan, tapi gue mau tolongin kamu”.&lt;br /&gt;Akhirnya kami berdua jalan sambil berpelukan. Tangan Marcella memeluk pinggangku dan tanganku memeluk pinggang Marcella&lt;br /&gt;Wangi parfum dari tubuh Marcella membangkitkan naluri kelaki-lakianku. Tanpa kusadari &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="penis"&gt;penis&lt;/a&gt; ku mulai bereaksi bangkit berdiri. Tanganku mulai jahil dan turun perlahan-lahan ke bokong  Marcella, yang padat dan bulat. Aku lihat respon Marcella apakah dia marah?, ternyata diam saja. Wah, sepertinya dia mau juga pikirku sehingga aku makin berani saja.&lt;br /&gt;Saat kami berdua di lift, tanganku merayap lagi dan menelusuri bokong  Marcella dan mengikuti alur celana dalamnya. Dia diam saja. Aku makin berani saja dan kucoba bergerak ke pangkal pahanya. Tiba-tiba dia bereaksi mencegah perjalananku menuju sasaran sambil berkata, “Eit…, Jangan nakal yach”, tapi tanpa ada ekpresi marah dari wajahnya. Akhirnya Marcella berhenti di lantai 6, kembali ke kamarnya sedangkan aku ke Lantai 10&lt;br /&gt;Setiba di kamar kulihat Edwin sedang tiduran sambil membaca buku. Aku menonton TV sambil berbaring dan melamun bagaimana caranya untuk mendekati Marcella. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22:00, kulihat Edwin mulai mengantuk. Aku mencoba tidur tapi tidak bisa karena pikiranku sudah dipenuhi fantasi-fantasi aroma parfum Marcella, yah payudara nya yang bulat terawat walupun dia sudah mempunyai anak 3 orang. Juga bokong nya yang wow kalau dipegang sepertinya bisa mem-ball. Wow, pokoknya nikmat di coba.&lt;br /&gt;Dari pada pusing-pusing akhirnya aku keluar kamar mau merokok, karena Edwin tidak merokok. Sehingga tidak enak kalau aku merokok di kamar. Sambil menghisap asap rokok aku memutar akal bagaimana caranya agar bisa kencan dengan Marcella yang jinak-jinak merpati, sepertinya nurut, tapi bikin panasaran. Akhirnya aku mendapatkan ide.&lt;br /&gt;Aku naik ke lantai 6 dan aku tekan bel kamar 606…, ting-tung-ting-tung tidak lama kemudian pintu dibuka setengah dan Marcella melongok dari dalam. Waduh…, Marcella sudah memakai baju daster yang tipis, dimana di bawah cahaya lampu tampak lekuk tubuhnya yang aduhai seolah-olah hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, makin membuat dadaku sesak napasnya.&lt;br /&gt;Marcella: “Ada apa Roger?”.&lt;br /&gt;Aku: “Gue sakit perut nich…, lu ada obat gak?”.&lt;br /&gt;Marcella: “Elu sich makannya rakus”, kemudian dia mempersilakan aku masuk&lt;br /&gt;Sewaktu dia hendak mengambil obat dia membelakangiku. Tampak punggungnya yang putih mulus, ingin rasanya aku mencium punngung tsb.&lt;br /&gt;“Nich Roger minum ini”, dia memberi obat Pao Chee Pill…, aku sebenarnya tidak sakit perut, tapi demi misi dan tujuan aku tenggak saja obat tsb.&lt;br /&gt;Marcella: “Elu belon tidur Roger?”&lt;br /&gt;Aku: “Belum Ta…, susah nich tidurnya”.&lt;br /&gt;Marcella: “Edwin sudah tidur?”&lt;br /&gt;Aku: “Udeh kali…, dia tadi gue lagi keluar aje…, sudah mau molor.&lt;br /&gt;Marcella: “Gue juga kagak bisa tidur…, kaki sama badan pegal semua…, kaya habis kerja bakti.&lt;br /&gt;Marcella kayanya mancing soal pijit-memijit lagi.&lt;br /&gt;Aku: “Udeh sini gue pijitin…, bayarnya makan siang besok aje.., oke setuju?&lt;br /&gt;Marcella: “Jangan ah nanti ketahuan Edwin.&lt;br /&gt;Aku: “Edwin kan di kamarnya…, lagian…, kita memang ngapain? orang pijitin doang.&lt;br /&gt;Marcella tersenyum malu…&lt;br /&gt;Marcella: “Ya deh boleh juga, tapi yang nikmat yach…, sambil tengkurap di ranjang.&lt;br /&gt;Aku: “Pokoknya sip deh…, tapi ada body lotion gak?”&lt;br /&gt;Marcella: “Ada tuh di meja”.&lt;br /&gt;Aku mulai memijat Marcella dari jari kaki ke betis dan Marcella tampaknya menghayati pijatanku sampai di bokong  Marcella.&lt;br /&gt;Aku: “Ta, buka bajunya nanti kotor.., kena lotion.&lt;br /&gt;Marcella: “Gak usah deh Roger.., cukup kaki saja”.&lt;br /&gt;Aku: “Kalau dipijit tuh tidak boleh tanggung-tanggung nanti malah kagak nikmat”.&lt;br /&gt;Marcella menuruti juga permintaanku. Aku memijat dari betis ke bokong , kadang-kadang jari-jariku nakal menyentuh lembah bukit rayanya yang masih dibalut oleh celana dalamnya. Dia tampak kegelian dengan terlihat bokong nya yang menggerinjal dan keras.&lt;br /&gt;Kemudian tanganku menjelajahi punggungnya yang halus seperti sutra, sesampainya di tali BH-nya dengan cepat tanganku melucuti kancing BH-nya. Marcella mendadak hendak bangun dan berucap, “Jangan Roger..!&lt;br /&gt;Aku tahan punggung Marcella, ” Jangan takut Ta gue kagak ngapa-ngapain…, lu bisa teriak kalau gue macem-macem dan gue bisa dihukum mati di sini, percaya deh sama gue”. Marcella akhirnya menurut juga. Tampak di mataku sosok tubuh yang indah serta leher yng jenjang. Ingin rasanya kedua tanganku menyusup ke bawah punggung dan memegang payudara  yang mancung lembut dan kenyal. Tanpa terasa ular nagaku mengeras kencang sekali, sekan-akan hendak berontak dari celanaku.&lt;br /&gt;Pijatanku beralih lagi ke jari kaki dan terus menggelosor menuju punggung. Tapi terhalang oleh celana dalam.&lt;br /&gt;Perlahan-lahan kugigit celana dalam yang berwarna cream tsb dengan gigiku dan kutarik ke bawah&lt;br /&gt;“Jangan Roger…, jangan…”.&lt;br /&gt;Marcella mencoba menahan laju celana dalamnya, tetapi yang tersentuh tangannya adalah rambutku.&lt;br /&gt;“Roger jangan dong…, ah…”.&lt;br /&gt;Aku: “Tenang Ta tidak apa-apa nanti pijitinnya bisa meluncur dari atas ke bawah,kalau kagak celanamu kotor tuh…”, rayuku. Marcella tampaknya juga sudah mulai terangsang dengan pijatan-pijatanku, akhirnya dia pasrah.&lt;br /&gt;Kutarik CD-nya dengan gigiku sampai ke bawah dan tercium olehku aroma lembah bukit raya Marcella…, dan kulihat CD Marcella ada bercak pulau, rupanya Marcella sudah sangat terangsang. Tampak olehku semak belukar Marcella yang tertata rapi bagai rumput peking dan belahan goanya yang berwarna merah muda dan lembab oleh cairan. Otakku sudah tidak terkontrol lagi. Kusergap Goa Marcella dengan kedua bibirku…, terasa di pipiku sentuhan semak belukar Marcella yang halus dan aroma &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="bibir"&gt;bibir&lt;/a&gt; ngewe nya yang menyengat.&lt;br /&gt;Marcella: “Roger jangan…, jangan…, jangan…”, sambil tangannya memegang rambut di kepalaku. Aku tidak peduli, kumasuki liang surgawinya dengan ujung lidahku. Terasa cairan aneh di ujung lidahku dan aroma yang menyengat. Tubuh Marcella menggigil hebat dan bokong nya menegang karena menahan geli yang tidak tertahankan. Tangannya yang tadinya mencoba menahan laju serangan mulutku sekarang berbalik menekan kepalaku agar terbenam ke dalam bibir &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="ngewe"&gt;ngewe&lt;/a&gt; nya. Aku makin bersemangat memainkan ujung lidahku menyapu dinding bibir ngewe  Marcella dan kadang-kadang kugigit perlahan gumpalan 2 butir daging di bibir ngewe  Marcella.&lt;br /&gt;Marcella hanya bisa berseru lirih, “Roger…, jangan…, jangan…, Roger…, ohh jangan”.&lt;br /&gt;Tapi gerakan tangan dia dengan apa yang dikeluarkan dari mulutnya sangat berlawanan. Karena sudah tidak kuat menahan serangan lidahku yang bertubi-tubi. Akhirnya Marcella membalikkan tubuhnya sehingga sekarang dia dalam posisi telentang dimana tadinya dalam posisi tengkurap dan kedua kakinya melingkar di leherku sambil kedua tangannya menjambak rambutku dan menekan keras kepalaku ke arah daerah terlarangnya yang sudah basah sekali. Dia menekan kepalaku dan menaik-turunkan pinggulnya ke wajahku seakan-akan wajahku hendak dibenamkan ke &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="bibir ngewe"&gt;bibir ngewe&lt;/a&gt; nya.&lt;br /&gt;“Roger …, ss ohh Roger.., Ohss…, Roger!&lt;br /&gt;Tiba-tiba terasa olehku cairan hangat mebanjiri bibir ngewe nya sampai mukaku ikut lengket terkena cairan tsb, rupanya Marcella sudah mencapai klimaksnya. Tubuhnya mendadak kaku dan kepalaku ditekan keras sekali ke arah bibir ngewe nya sampai-sampai aku tidak bisa bernapas. Setelah itu pegangan Marcella mengendor sehingga aku bisa mengangkat kepalaku dari jepitan kedua belah pahanya yang sintal dan kenyal. Momentum tsb tidak kusia-siakan aku cepat-cepat melepas bajuku dan celanaku. Sekarang aku telanjang dengan penis  yang menantang ke arah Marcella. Aku naik ke ranjang dan kudekatkan penis ku yang besar dan kekar ke arah wajah Marcella. Marcella tampak tersenyum puas masih dalam posisi telentang. Dengan sigap digenggamnya batang penis ku ke dalam genggaman tangannya yang halus dan di kulumnya kedua biji penis ku ke dalam mulutnya, “Slop…, slop.., slop…”, terdengar bunyi air liur dari mulut Marcella. Tubuhku menggigil dengan hebatnya dan tampak kepala penis ku semakin membesar dan mengkilap.&lt;br /&gt;Kemudian lidah Marcella menyapu perlahan-lahan dari kedua buah salak sampai kepala penis ku. Lalu mengulum kepala penis ku yang besar dan mengkilap ke dalam mulutnya sampai mulutnya seperti penuh sesak oleh kepala penis ku. Dia memaju-mundurkan mulutnya diikuti oleh gerakan pinggulku maju-mundur ke arah muka Marcella, “Slop…, slop…, slop…, ckk…, ahh Taa…, Ahh …, Oouhh”.&lt;br /&gt;Tiba-tiba terasa olehku kegelian yang sangat-sangat luar biasa, dimana terasa kepala penis ku seolah-olah membengkak dan bersamaan dengan itu keluarlah lahar yang panas dari lubang kepala penis ku, “Cret…, crett, cerst, ccrest…, crestt…, cretss”, tidak terhitung olehku berapa kali aku menyemprotkan lahar panas ke mulut Marcella. Terlihat cairan putih kental meleleh dari mulut Marcella membanjiri wajahnya, lalu tubuhku ambruk di samping Marcella.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-1728281410249866520?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/1728281410249866520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-selingkuh-ngewe-dg.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1728281410249866520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1728281410249866520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-selingkuh-ngewe-dg.html' title='Cerita NGEWE | Selingkuh Ngewe dg Sekantor'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-8580929098477715271</id><published>2009-03-25T06:01:00.000-07:00</published><updated>2009-03-25T06:01:00.612-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE'/><title type='text'>Cerita NGEWE | Pertama Ngewe dg Tora Sudiro</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;K&lt;/ap&gt;isah &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="Cerita NGEWE"&gt;Cerita NGEWE&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;, &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="pertama ngewe dg Tora Sudiro"&gt;pertama ngewe dg Tora Sudiro&lt;/a&gt;, Tahun 1994 yang lalu adalah saat pertama aku mengenal ngewe. Mungkin kalian tidak percaya, tapi begitulah keadaannya. Saat aku duduk di kelas 3 SMP (di sebuah SMP swasta terkenal di Surabaya), aku memiliki seorang teman cowok bernama Tora Sudiro, sebut saja begitu. Tora Sudiro dan aku selalu bermain bersama sejak kecil, mamaku dan mamanya berteman saat masih kuliah. Jadi kami sering berekreasi bersama ke Malang, Klaten, dan banyak tempat lainnya. Kisahku dimulai pada waktu Tora Sudiro dan aku pulang sekolah. Saat itu aku dan dia menunggu jemputan, karena kami berdua diantar dan dijemput oleh sopir dan mobil yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu matahari bersinar terik. Anak anak sekolah yang lain sudah mulai dijemput, beberapa dari mereka masih menunggu sambil membeli jajanan murahan yang banyak terdapat di depan sekolah.&lt;br /&gt;“Tora, kok Pak Di belum datang juga yah?”&lt;br /&gt;Tora Sudiro menyeka keringatnya. Memandang sekeliling.&lt;br /&gt;“Iya nih, biasanya sudah datang loh sekarang.”&lt;br /&gt;“Awas kalau datang… pasti deh kubilangin Mama.” Tora Sudiro tertawa.&lt;br /&gt;“Jangan begitu ah.” Dengan tertawa aku memukul lengannya.&lt;br /&gt;“Kalau begitu kamu saja yang kumarahin.”&lt;br /&gt;Aku bersyukur ada Tora Sudiro yang mau menemaniku melewati siang ini.&lt;br /&gt;“Van, setelah ini kita SMA ya?”&lt;br /&gt;“Umm.. iya nih. Mau masuk mana Tora?” Menyebalkan untuk memikirkan hal ini.&lt;br /&gt;“Nggak tau yah, mungkin ke **** (edited)”&lt;br /&gt;Hhhh… sudah kuduga.&lt;br /&gt;“Yaaa… pisah dong.”&lt;br /&gt;“Kamu serius mau masuk negeri?”&lt;br /&gt;“Iya dong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kami terdiam. Aku tak tahu apa yang kurasakan saat itu.&lt;br /&gt;Malam itu aku nyaris tidak bisa tidur. Pikiranku melayang-layang, mungkin Tora Sudiro marah mengetahui aku lebih memilih untuk memasuki SMU negeri. Dalam statusnya, memang lebih baik sekolah di swasta, tapi buatku, kebosanan pada teman-temanku yang selalu memamerkan setiap perjalanan mereka ke luar negeri selalu mendorongku untuk lebih memilih sekolah negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lula, ditunggu Tora Sudiro tuh”, teriak mamaku.&lt;br /&gt;“Iya Maa…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat-cepat kukenakan bajuku. Sejenak kutatap diriku di depan cermin, dan aku mulai bertanya-tanya, mungkinkah aku sudah bisa disebut dewasa? Aku tinggi, payudara ku sudah tumbuh, begitu juga dengan bulu-bulu bibir ngewe ku. Aku sudah puber, setidaknya 6 bulan yang lalu. Apakah aku sudah dewasa? Aku pernah merasakan sangat gerah, tepatnya 2 hari yang lalu. Saat itu entah kenapa mendadak memijat-mijat &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="bibir ngewe"&gt;bibir ngewe&lt;/a&gt; ku membuatku merasa sangat tenang dan enak. Aku sering juga mengintip Papa melihat film-film orang dewasa. Dan aku bukan seorang anak yang bodoh untuk tidak mengetahui apa yang kulihat. Banyak majalah dan tabloid remaja sudah kubaca, dan aku merasa sudah cukup mengetahui apa yang ingin kuketahui. Aku sudah dewasa, demikian aku memutuskan, sebelum aku tersadar dan segera lari menuruni tangga menemui Tora Sudiro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Tora Sudiro mengajakku nonton di Delta, bersama dengan teman-teman yang lain.&lt;br /&gt;“Lula… ummm… aku suka kamu.”&lt;br /&gt;“Huh?”&lt;br /&gt;“Iya, aku suka kamu. Aku nggak pingin kamu pergi.”&lt;br /&gt;“Kamu lucu deh.”&lt;br /&gt;Sejenak kulihat ia terdiam, menghela nafas panjang.&lt;br /&gt;“Aku juga”, kubisikkan kata itu di telinganya.&lt;br /&gt;Benarkah? Entahlah.&lt;br /&gt;“Aku kan nggak sekolah di Afrika.”&lt;br /&gt;Tora Sudiro tertawa. Aku juga. Yup, aku juga suka Tora Sudiro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kekhawatiranku yang memicu kejadian ini. Entahlah. Tapi masih terbayang di benakku bagaimana dengan malu-malu Tora Sudiro mencium &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="bibir"&gt;bibir&lt;/a&gt; ku sebulan yang lalu, rasanya aku mendadak sangat dewasa. Jadi aku membiarkan saja dia mengulum bibirku, lagi pula aku sangat ingin mengetahui rasanya. Ternyata selain getir dan kenyal, enak juga. Aku juga membiarkan Tora Sudiro meletakkan tangannya di dadaku malam itu, rasanya geli dan sedikit menakutkan, tapi selebihnya, asyik-asyik saja. Namun kegelisahanku membuyarkan rasa enak di benakku saat Tora Sudiro meraih kancing bajuku dan berusaha membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tora, ngapain sih.”&lt;br /&gt;“Ahh… sorry. Maaf…”&lt;br /&gt;Aku melihat wajahnya memerah, dan astaga, dia menangis.&lt;br /&gt;“Lula, aku cowok yang lemah… maafkan aku.”&lt;br /&gt;Tora Sudiro bangkit berdiri dan meraih tombol lampu.&lt;br /&gt;“Tora…”&lt;br /&gt;Tora Sudiro menghampiriku dan mendadak terduduk dan memeluk lututnya. Ia menangis lagi.&lt;br /&gt;“Tora Sudiro…” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi wajahnya, lalu dia menatapku. Kemudian dia mendekati wajahnya ke wajahku dan akhirnya bibir kami bertemu. Kami berciuman lama, dia mencium lembut bibirku dan sambil tangannya memegang &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="payudara"&gt;payudara&lt;/a&gt; ku dan meremas-remasnya. Terasa nikmat sekali rasanya. Aku membiarkan saja Tora Sudiro membuka kancing-kancing bajuku. Juga kubiarkan ia melepaskan bajuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tora Sudiro membuka bajunya, dan aku merasakan tubuhku bergetar saat ia menyentuh jepitan bra-ku dan melepasnya. Sekarang aku dapat merasakan kehangatan kulitnya di dadaku, kami mendesah berbarengan. Jantungku terasa berdegub kencang, antara takut dan rasa ingin tahu. Tora Sudiro meletakkan telapak kirinya di dada kiriku, perasaan nyaman dan hangat kurasakan saat ia menggerak-gerakkan jemarinya memijat dan menekan. Sejenak pikiranku terbayang kepada film-film yang sering kulihat dari balik pintu. Apakah begini rasanya? Aku diam saja saat Tora Sudiro mangangkat rok sekolahku. Lalu dia meletakkan tangannya di bibir ngewe ku. Kemudian dia menyelipkan jarinya ke balik celana dalamku. Sambil bibirnya diletakkan di payudara ku. Oh Tuhan, begitu bodohnya aku untuk menikmati saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa melihat saja saat Tora Sudiro membuka kancing celananya. Selanjutnya aku tak ingin melihat lagi. Mungkin karena saat itu aku merasa sangat malu. Namun yang kuingat saat itu, Tora Sudiro menarik celana dalamku ke bawah, dan membiarkanku merasakan ketelanjanganku. Selanjutnya ia membiarkanku sendiri beberapa saat, (aku tak tahu apa yang dilakukannya hingga beberapa hari kemudian setelah kejadian ini). Sejenak aku terhenyak saat sesuatu yang keras menusuk bibir ngewe ku. Aku menjerit kecil dan membuka mataku lebar-lebar, sehingga aku dapat melihat raut wajah Tora Sudiro yang penuh keringat dan tampak merasa sangat bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen-argumen yang dikeluarkan Tora Sudiro saat itu membuat hatiku kacau balau, antara norma-norma yang kupelajari dari agama dan kedua orangtuaku, dengan segala rasa ingin tahu yang kurasakan saat itu. Namun aku membiarkan saja rasa sakit itu menusuk-nusuk perutku. Perutku mengejang saat Tora Sudiro menekan-nekan &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="penis"&gt;penis&lt;/a&gt; nya ke bibir ngewe ku, dan menggesek-gesekkannya, membuatku merasakan perih yang amat sangat. Tora Sudiro menciumi hampir separuh badanku bagian atas, membuatku menjadi gerah dan merasa basah. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat, rasa perih di pangkal pahaku membuat rahangku terasa kaku dan aku berusaha menggapai-gapaikan tanganku ke segala arah, mencari dan mencengkeram apa yang bisa kucengkeram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian aku merasakan sesuatu menyembur ke permukaan perutku, dan kudengar Tora Sudiro menggeram lirih. Aku merasakan gerakannya berhenti, dan kemudian Tora Sudiro menjatuhkan kepalanya di dadaku, aku tak tahu apa yang terjadi (baru beberapa hari setelahnya aku tahu, dan sekarang mungkin aku akan tertawa mengingatnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu merupakan sebuah pengalaman yang bisa dikatakan pengalaman pertama ngewe buatku. Namun, aku baru sadar (dan sedikit mensyukuri saat itu), bahwa ternyata aku belum kehilangan keperawananku. Mungkin karena aku ketakutan, atau mungkin karena Tora Sudiro merasa putus asa. Akhirnya, Tora Sudiro dan aku benar-benar berpisah menjelang kenaikan kelas dari kelas 1 ke kelas 2 SMU, dan seperti yang diduga sebelumnya, ia memilih memasuki SMU swasta, sedangkan aku tetap di pilihanku semula, yaitu di SMU negeri. Terus terang saja aku sekarang telah kehilangan keperawananku, dengan temanku sekampus. Tapi, satu hal yang masih kuingat dan kujadikan memori indah, yaitu bahwa Tora Sudiro, temanku yang tersayang, merupakan cowok yang bisa mengajakku melakukan &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="ngewe"&gt;ngewe&lt;/a&gt; untuk yang pertama kali, walaupun belum berhasil 100%. Love you Tora Sudiro, dan ia sekarang sudah di USA bersama keluarganya, semenjak kerusuhan tahun 1998. Seandainya kamu membaca ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-8580929098477715271?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/8580929098477715271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-pertama-ngewe-dg-tora.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/8580929098477715271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/8580929098477715271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-pertama-ngewe-dg-tora.html' title='Cerita NGEWE | Pertama Ngewe dg Tora Sudiro'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-7878472818242608772</id><published>2009-03-24T06:01:00.000-07:00</published><updated>2009-03-24T06:01:01.021-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Tante'/><title type='text'>Cerita NGEWE | Praktekku Ngewe dg Ibu Guru</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;K&lt;/ap&gt;isah &lt;a style="font-style: italic; font-weight: bold;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="Cerita NGEWE"&gt;Cerita NGEWE&lt;/a&gt; &lt;a style="font-style: italic; font-weight: bold;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="Praktekku ngewe dg ibu guru"&gt;Praktekku ngewe dg ibu guru&lt;/a&gt;, Waktu itu aku masih kelas dua, di salah satu SMA Negeri di Bandung. Aku termasuk salah satu siswa dengan segudang kegiatan. Dari mulai aktif di OSIS, musik, olah raga, sampai aktif dalam hal berganti-ganti pacar. Tapi satu hal yang belum pernah kulakukan saat itu adalah &lt;a style="font-style: italic; font-weight: bold;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="ngewe"&gt;ngewe&lt;/a&gt; Sering kali aku berkhayal sedang ngewe dengan salah satu wanita yang pernah menjadi pacarku. Tapi aku tidak punya keberanian untuk meminta, mengajak untuk ngewe. Mungkin karena cerita sahabatku yang terpaksa menikah karena telah menghamili pacarnya dan sekarang hidupnya hancur lebur. Itu mungkin yang bikin kutakut setengah mati untuk ngewe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, datang gerombolan guru praktek dari IKIP Bandung yang akan menggantikan guru kami untuk beberapa minggu. Salah satu dari guru praktek itu bernama Maia. Dia begitu cantik, ah bukan… bukan cantik… tapi dia sempurna. Peduli setan dengan matematika yang diajarkannya, aku hanya ingin menikmati wajahnya, memeluk tubuhnya yang tinggi semampai, mengecup bibirnya, dan… aku pun berkhayal sangat jauh, tapi semua itu tidak mungkin. Dengan pacarku yang seumur denganku saja, aku tidak berani, apalagi dengan Maia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, aku melaju dengan motorku. Hari sudah sore aku harus cepat sampai di rumah. Dalam perjalanan kulihat Ibu Maia. Aku memberanikan diri menghampirinya. Setelah sedikit berbasa-basi dia bercerita bahwa dirinya baru saja pindah kost dan tempat kost yang sekarang letaknya tepat di tengah-tengah antara sekolahku dengan rumahnya. Sehingga setiap sore aku mengantarkannya ke tempat kost-nya. Kejadian itu berlangsung setiap hari selama satu minggu lebih. Kami berdua mulai akrab, bahkan nantinya terlalu akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya, aku mengantarkan Ibu Maia pulang ke kost-nya. Anehnya saat itu, dia tidak ingin langsung pulang tapi mengajakku jalan-jalan di pertokoan di daerah Alun-Alun Bandung. Setelah puas kami pun pulang menuju ke kost Ibu Maia. Dan ketika kupamit Ibu Maia memegang tanganku dan…&lt;br /&gt;“Jangan dulu pulang, dong!” Ibu Maia menahanku, tapi memang inilah yang selama ini kuharapkan.&lt;br /&gt;“Udah malam Bu, takut entar dimarahi…” Perkataanku terhenti melihat dia menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya yang kecil.&lt;br /&gt;“Jangan panggil aku Ibu Maia, coba tebak berapa umurku?” ternyata umurnya terpaut lima tahun dengan umurku yang saat itu 17 tahun.&lt;br /&gt;“Panggil aku Maia.” Aku hanya menganggukkan kepalaku.&lt;br /&gt;“Sini yuk, aku punya baju baru yang akan aku pamerkan kepadamu.”&lt;br /&gt;Ditariknya tanganku menuju kamarnya, jantungku mulai berdetak kencang. Sesampainya di kamar, dia menyuruhku duduk di depan televisi yang memperlihatkan pahlawan kesayanganku, McGyver. Maia kemudian menghampiri lemari pakaian di samping televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku punya tiga buah baju baru, coba kamu nilai mana yang paling bagus.”&lt;br /&gt;Kujawab dengan singkat, “OK!” lalu kembali aku menonton McGyver kesayanganku. Walaupun mataku tertuju ke pesawat televisi, tapi aku dapat melihat dengan jelas betapa dia dengan santainya membuka baju seragam kuliahnya, jantungku berdebar keras. Maia hanya menyisakan BH berwarna hitam dan celana dalam hitam. Dia melakukan gerakan seolah sedang mencari pakaian di tumpukan bajunya yang tersusun rapih di dalam lemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa menemukan baju baruku, kemana ya?” Aku hanya terdiam pura-pura menonton TV, tapi pikiranku tertuju kepada belahan bokong  yang hanya tertutup kain tipis. Sesekali dia membalikkan tubuhnya sehingga aku bisa melihat payudara yang menggunung di balik BH-nya. Akhirnya dia mengenakan gaun tidur berwarna pink yang sangat tipis, Lalu dia menghampiriku, dan kami berdua duduk berhadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kenapa, kok pucat”, aku terdiam.&lt;br /&gt;“Kamu takut ya?” Aku tetap terdiam.&lt;br /&gt;“Aku tau kamu suka aku.” Aku terdiam.&lt;br /&gt;“Hey, ngomong dong.” Aku tetap terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kediamanku selama itu aku menyimpan sesuatu di dadaku yang berdetak sangat kencang dan keras serasa ingin meledak ketika dia menempelkan bibir mungilnya ke bibirku. Dia melumat bibirku, sedikit buas tapi mesra. Aku mulai memberanikan diri untuk membalasnya. Kugerakkan bibirku dan kulumat kembali bibirnya. Tak lama kemudian, telapak tangan Maia yang hangat meraih pergelangan tanganku. Dibawanya tanganku ke arah payudara nya. Jantungku saat itu sangat tidak karuan. Kuremas payudara nya yang tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil, tapi aku dapat merasakan betapa kencangnya &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="payudara"&gt;payudara&lt;/a&gt; itu. Lidah kami pun mulai bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia mendorongku, terus mendorongku sehingga aku telentang di atas karpet kamarnya. Aku hanya menurut dan tak bergerak. Maia membuka baju tidurnya yang tipis. Kali ini dia tidak berhenti ketika hanya BH dan CD-nya saja yang melekat di tubuhnya, tapi BH-nya kemudian terjatuh ke karpet. Belum sempat aku bergerak, Maia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, payudara nya yang sangat keras menindih dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu suka, ya?” aku mengangguk. Aku tak kuasa menahan diri, ketika aku mengangkat kepalaku untuk melumat bibirnya kembali, dia menahan kepalaku, aku heran. “Ke.. ke… kenapa Maia?” kataku terbata-bata. Dia hanya tersenyum, lalu dengan santainya dia memanjat turun tubuhku. Aku hanya terdiam, aku tidak berani bergerak. Aku bagaikan seorang prajurit yang hanya bergerak berdasarkan komando dari Maia. Dia mulai membelai pahaku dan sedikit mempermainkan &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="penis"&gt;penis&lt;/a&gt; ku. Sesekali dia menciumi celana seragam abu-abuku tepat pada bagian penis ku. Aku memejamkan mata, aku pasrah, “Aku… aku… ah…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membiarkannya, ketika Maia mulai membuka celana seragamku, mulai dari ikat pinggangku dan berlanjut dengan menyingkapkan CD-ku. Dia meraih batang penis ku dengan mesranya.&lt;br /&gt;“Ah… crot… crot… crot…!” Aku tak kuasa menahan diriku ketika bibirnya yang mungil menyentuh kepala penis ku. Aku malu, malu setengah mati.&lt;br /&gt;“Tenang, itu biasa kok.”&lt;br /&gt;Senyumnya membuat rasa maluku hilang, senyum dari wajah sang bidadari itu membuat keberanianku muncul, “Ya aku berani, aku nekat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik kepalanya dan membalikkan tubuhku, sehingga aku berada tepat di atasnya. Dia sedikit kaget, tapi hal itu membuat aku suka dan makin berani. Aku beranjak ke bawah, kubuka CD-nya. Saat itu yang ada dipikiranku hanya satu, aku harus mencontoh film-film biru yang pernah kutonton.&lt;br /&gt;“Kamu mulai nakal, ya.”&lt;br /&gt;“Ibu guru tidak suka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak memperdulikan candanya. Kuturunkan CD-nya perlahan, kulihat sekilas rumput kecil yang menutupi celah bibir ngewe nya. Seketika kucumbu dan kumainkan lidahku di celah bibir ngewe  itu. Tangan kananku terus menarik CD-nya sampai ke ujung kakinya dan kulempar entah jatuh di mana. Aku menghentikan sejenak permainan lidahku, kuangkat pinggul yang indah itu dan kugendong dia menuju ke tempat tidur yang terletak tepat di belakang kami berdua. Kuletakkan tubuh semampai dengan tinggi 173cm itu tepat di pinggir tempat tidur. Aku kemudian berjongkok, dan kembali memainkan lidahku di sekitar celah &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="bibir ngewe"&gt;bibir ngewe&lt;/a&gt; nya, bahkan aku berhasil menemukan batu kecil di antara celah itu yang setiap kutempelkan lidahku dia selalu mengerang, mendesah, bahkan berteriak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kiriku ikut bermain bersama lidahku, dan tangan kananku membersihkan sisa &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="sperma"&gt;sperma&lt;/a&gt; yang baru saja keluar. Wow… penis ku sudah keras lagi. Ketika aku sedang asyik bermain di celah bibir ngewe nya, dia menarik kepalaku. “Buka celana kamu, semuanya…!” Aku menurut dan kembali menindih tubuhnya. Setelah kepala kami berdekatan dia mencium bibirku sekali dan kemudian dia tersenyum, hanya saat itu matanya sudah sayu, tidak lagi bulat penuh dengan cahaya yang sangat menyilaukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangkat kepalanya disertai tangan kananya meraih penis  dan mengarahkannya ke bibir ngewe nya. Tapi ketika penis  menyentuh bibir ngewe nya, “Crot… cret… creeett…!” Kembali aku meraih puncakku, dia pun tersenyum. Hanya saat itu aku tidak lagi malu, yang ada dipikiranku hanyalah aku ingin bisa memuaskannya sebelum orgasmeku yang ketiga. Aku heran setelah orgasme yang pertama ini penis ku tidak lagi lemas, kubiarkan Maia mengocok-ngocok penis ku, dengan hanya melihat garis wajah milik sang bidadari di depanku dan juga membelai rambutnya yang hitam legam, aku kembali bernafsu ingin ngewe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelan-pelan aja tidak usah takut.” Dia berbisik dan tersenyum padaku. Tak karuan perasaanku saat itu, apalagi ketika kepala penis ku dioles-oleskannya ke bibir ngewe nya. Tangannya yang kecil mungil itu akhirnya menarik batang penis ku dan membimbingnya untuk memasuki bibir ngewe nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bles… sss… sek!” Penis  sudah seratus persen tertanam di bibir ngewe nya. Rasa percaya diriku semakin meningkat ketika aku menyadari bahwa aku tidak lagi mengalami orgasme. Aku mulai menarik pinggulku sehingga penis ku tertarik keluar dan membenamkannya lagi, terus menerus berulang. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh Dig…!” Dia mulai memanggil nama akrabku, aku dipanggil Jedig oleh sahabat-sahabatku. Selama ini Maia hanya memanggil nama asliku seperti yang tertera di dalam absen kelasku. “Dig, terus… kamu mulai pintar…” Aku tak peduli, aku terus bergerak naik turun. Aku merasakan batang penis ku yang basah oleh cairan dari bibir ngewe  milik Maia. Naik dan turun hanya itu yang kulakukan. Sesekali aku mencium bibirnya, sesekali tanganku mempermainkan bibir dan payudara nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah… ah… ah, ah… oh!” Nafasnya memburu.&lt;br /&gt;“Ah Dig… ah… ah… ooowww!” Dia berteriak kecil, matanya sedikit melotot dan kemudian dia kembali tersenyum. Aku terdiam sejenak, aku heran kenapa dia melakukan itu. Yang kuingat, saat itu batang penis ku serasa disiram oleh cairan hangat ketika masih ada di dalam bibir ngewe nya. “Ntar dulu ya Jedig Sayang.” Dia mengangkat tubuhnya sehingga penis ku terlepas, aku menahan tubuhnya. Aku tak ingin penis ku terlepas aku masih ingin terus ngewe . “Eit… sabar dong, kita belum selesai kok.” Kulihat dirinya memutar tubuhnya kemudian nungging di depan mataku. Aku sangat mengerti apa yang harus kulakukan, ya… seperti di film-film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendekatinya dengan batang penis ku yang sudah siap menghunus bibir ngewe nya. Aku mencoba memasukannya, tapi aku mengalami kesulitan. Satu, dua, ya dua kali aku gagal memasukan penis . Akhirnya dia menggunakan tangan mungilnya untuk membimbing penis . “Blesss…” Penis  masuk dengan perlahan. Berbeda dengan tadi, sekarang aku tidak lagi naik turun tetapi maju mundur. Kami berdua mendesah. Nafas kami saling memburu. Terus dan terus lagi. “Ah… oh… uh… terus Dig…, ah… oooww!” Kembali dia berteriak kecil, saat ini aku mengerti, setiap kali dia berteriak pasti kemudian dia merubah posisinya. Benar saja posisi kami kembali seperti posisi awal. Dia telentang di bawah dan aku menindihnya di atas. Aku tidak lagi memerlukan tangan mungilnya untuk membimbingku. Aku sudah bisa memasukan batang penis ku sendiri tepat menuju bibir ngewe  yang sesekali beraroma harum bunga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku ngewe  naik dan turun. Kali ini aku menjadi siswa yang benar-benar aktif, tidak hanya di sekolah tapi di ranjang. Kuangkat kaki kanannya, kujilati betisnya yang tanpa cacat itu sambil terus menggerakan pinggulku.&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, aku merasakan darahku mengalir dengan keras, ada sesuatu di dalam tubuhku yang siap untuk meledak. Gerakanku semakin kencang, cepat, dan tidak teratur.&lt;br /&gt;“Terus Dig, lebih cepat lagi… terus lebih cepat lagi ngewe nya Dig, terus.”&lt;br /&gt;Gerakanku semakin cepat. Kami berdua sudah seperti kuda liar yang saling kejar-mengejar sehingga terdengar suara nafas yang keras dan saling sambut menyambut.&lt;br /&gt;“Terus Dig, terus… ah… uh… oh…!”&lt;br /&gt;“Oban sayang… ah… dig… dig… dig… aaoowww!”&lt;br /&gt;Saat ini teriakannya sangat keras dan kulihat matanya sedikit melotot dan giginya terkatup dengan sangat keras. Kemudian dia terjatuh.&lt;br /&gt;“Dig cepetan ya sayang…!”&lt;br /&gt;“Aku capek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa berhenti menggerakan tubuhku, sepertinya ada suatu kekuatan yang mendorong dan menarik pinggulku.&lt;br /&gt;“Ah… oh… Ufff… aaah…!”&lt;br /&gt;“Crot… cret… cret…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncratlah air kenikmatan ngewe itu dari tubuhku. Aku terjatuh di sampingnya, aku puas! Dia tersenyum padaku dan memelukku, dia menaruh kepalanya di dadaku. Setelah mengecup bibirku kami berdua pun tertidur pulas.&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah ngewe dengan Ibu Maia… Perpisahaan pun dimulai, setelah aku memainkan beberapa lagu di panggung perpisahaan untuk menandakan berakhirnya masa kerja praktek mahasiswa-mahasiswa IKIP di sekolahku. Kulihat mereka menaiki bus bertuliskan IKIP di pinggirnya. Aku mencari Maia, bidadari yang merenggut keperjakaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maia… hey…!” Maia menengok dan matanya melotot.&lt;br /&gt;“Ups… Ibu Maia!” Aku lupa, dia kan guruku.&lt;br /&gt;“Sampai ketemu lagi ya, jangan lupa belajar!” sambil menaiki tangga bus dia menyerahkan surat padaku. Aku langsung membaca dan tak mengerti apa maksud dari tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya bus itu pergi dan saat itulah saat terakhir aku melihatnya. Aku tak akan pernah lupa walaupun hanya sekali aku ngewe nya dengan Maia. Tapi itu sangat berbekas. Aku selalu merindukannya. Bahkan aku selalu berkhayal aku ada di dekat dia setiap aku dekat dengan perempuan. Sekarang ketika aku sudah duduk di bangku kuliah aku baru mengerti apa arti dari surat Maia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-7878472818242608772?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/7878472818242608772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-praktekku-ngewe-dg-ibu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/7878472818242608772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/7878472818242608772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-praktekku-ngewe-dg-ibu.html' title='Cerita NGEWE | Praktekku Ngewe dg Ibu Guru'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-1036221885309675577</id><published>2009-03-23T19:53:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T19:53:01.097-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Tante'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Tante Marcella Guruku Ngewe</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;P&lt;ap&gt;&lt;/ap&gt;engalamanku/ &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="Cerita ngewe dengan tante Marcella"&gt;Cerita ngewe dengan tante Marcella&lt;/a&gt; dimulai ketika aku berniat membeli mobol. Niat membeli mogul ini ternyata memberiku pengalaman ngewe baru. Pengalaman ngewe dengan tante Marcella. Bisa dibilang &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="tante Marcella adalah Guruku ngewe"&gt;tante Marcella adalah Guruku ngewe&lt;/a&gt;, dialah wanita pertama  yang &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="ngewe"&gt;ngewe&lt;/a&gt; denganku dan mengajarai aku cara cara dan &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="posisi ngewe"&gt;posisi ngewe&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertegun melihat kecantikan si ibu. Usianya mungkin sekitar 35 tahunan, dengan kulit yang putih bersih, dan badan yang seksi. payudaraa yang tampak penuh di balik baju “you can see” menambah kemontokannya. Agar pembaca dapat membayangkan kecantikannya, aku bisa bilang kalau si ibu ini 80% mirip dengan Sally Margaretha, bintang film itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Wawan yang tadi siang telepon ingin melihat mobil ibu”&lt;br /&gt;“Oh.. Ya silakan masuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tante Marcella tampak melihatku dengan pandangan yang agak lain. Agak rikuh aku dibuatnya. Terlebih tante Marcella duduk sambil menumpangkan kakinya, sehingga rok mininya agak sedikit terangkat memperlihatkan pahanya yang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;putih mulus&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anaknya berapa tante. Terus suami tante kerja dimana?” tanyaku untuk menghilangkan kerikuhanku.&lt;br /&gt;“Anakku satu. Masih SD. Suamiku sudah nggak ada. Dia meninggal dua tahun yang lalu” jawabnya.&lt;br /&gt;“Waduh.. Maaf ya tante”&lt;br /&gt;“Nggak apa kok Wan.. Kamu sendiri sudah punya pacar?”&lt;br /&gt;“Sudah, tante”&lt;br /&gt;“Cantik ya?”&lt;br /&gt;“Cantik dong tante..” jawabku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, aku makin rikuh dibuatnya. Kok pembicaraannya jadi ngelantur begini. Tante Marcella kemudian beranjak duduk di sebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cantik mana sama tante..” katanya sambil tangannya meremas tanganku.&lt;br /&gt;“Anu.. Aduh.. Sama-sama, tante juga cantik” jawabku sedikit tergagap.&lt;br /&gt;“Kamu sudah pernah &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe &lt;/span&gt;dengan pacarmu?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berkata, tangan tante Marcella mulai berpindah dari tanganku ke pahaku.&lt;br /&gt;“Belum pernah ngewe.. Tante.. Saya masih perjaka.. Saya nggak mau begituan dulu” jawabku sambil menepis tangan tante Marcella yang sedang meremas-remas pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, sebenarnya akupun sudah mulai terangsang, akan tetapi saat itu aku masih dapat berpikir sehat untuk tidak mengkhianati Monika pacarku. Mendengar kalau aku masih perjaka, tampak tante Marcella tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau tante ajarin caranya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe &lt;/span&gt;dengan wanita?” tanyanya sambil tangannya kembali merabai pahaku, dan kemudian secara perlahan mengusap-usap penis ku dari balik celana.&lt;br /&gt;“Aduh.. Tante.. Saya sudah punya pacar.. Nggak usah deh..”&lt;br /&gt;“Mobilnya kapan datang sih?” lanjutku lagi.&lt;br /&gt;“Sebentar lagi.. Mungkin macet di jalan. Mau minum lagi? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu jawabanku, tante Marcella pergi ke belakang sambil membawa gelasku yang telah kosong. Lega juga rasanya terlepas dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;bujuk rayu &lt;/span&gt;tante Marcella. Beberapa menit kemudian, tante Marcella kembali membawa minumanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo diminum lagi” kata tante Marcella sambil memberikan gelas berisi sirup padaku.&lt;br /&gt;Kuteguk sirup itu, dan terasa agak lain dari yang tadi. Tante Marcella kemudian kembali duduk di sebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah daripada diminta yang nggak-nggak, aku setuju saya menceritakan padanya tentang kisahku dengan Monika. Kuceritakan bagaimana saat kami berkenalan, ciri-cirinya, acara favorit kami saat pacaran, tempat-tempat yang sering kami kunjungi. Setelah beberapa lama bercerita, entah mengapa nafsu birahiku ingin &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe  &lt;/span&gt;terangsang hebat. Akupun merasakan sedikit keringat dingin mengucur di dahiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Wan.. Kamu sakit ya” tanya tante Marcella tersenyum sambil kembali meremas tanganku.&lt;br /&gt;Tangannya kemudian beralih ke pahaku dan kembali diusap dan diremasnya perlahan.&lt;br /&gt;“Anu tante rasanya kok agak aneh ya?” jawabku.&lt;br /&gt;“Tapi enak kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Marcella pun kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan kemudian bibir kamipun telah saling berpagut. Tak kuasa lagi aku menolak tante Marcella. Keinginanku &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe &lt;/span&gt;telah sampai di ubun-ubun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo, tante ingin merasakan penismu yang masih perjaka itu” lanjutnya sambil kembali menciumi wajahku.&lt;br /&gt;Tante Marcella pun kemudian membuka celanaku beserta celana dalamnya sekaligus.&lt;br /&gt;“Hmm.. Besar juga ya penis mu. Tante suka penis besar anak muda begini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya mulai mengocok penis ku perlahan. Kemudian tante Marcella merebahkan kepalanya dipangkuanku. Diciumnya kepala penis ku, dan lantas dengan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;bernafsu &lt;/span&gt;dikulumnya penis ku yang sudah tegak menahan gairah berahi. Tangan tante Marcella pun tak tinggal diam. Dikocoknya batang penis ku, dan diusap-usapnya buah zakarku. Setelah sekian lama penis ku dipermainkannya, kembali tante Marcella bangkit dan menciumiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita lanjutin pelajarannya di kamar yuk sayang..” bisiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun sudah tak kuasa menolak. Nafsuku untuk ngewe telah menguasai diriku. Kamipun beranjak menuju kamar tidur tante Marcella di bagian belakang rumah. Sesampainya aku di kamar, tante Marcella kembali menciumiku. Kemudian tangankupun diraihnya dan diletakkan di payudara yang membusung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo sayang.. Kamu remas ya payudara tante”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuikuti instruksi tante Marcella dan kuremas payudara miliknya. Tante Marcella pun terdengar mengerang nikmat. Tante Marcella membalikkan badan dan akupun membuka retsleting baju “you can see”nya. Setelah terbuka, tante Marcella kembali berbalik menghadapku. Kuciumi kembali wajahnya yang ayu itu, sambil tanganku mencari-cari pengait BH di punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh.. Kamu lugu amat ya.. Tante suka..” katanya disela-sela ciuman kami.&lt;br /&gt;“Pengaitnya di depan, sayang..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhentikan ciumanku, dan kutatap kembali BHnya yang membungkus payudara  tante Marcella yang besar itu. Kubuka pengaitnya sehingga payudara kenyal itupun seolah meloncat keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus khan sayang.. Ayo kamu hisap ya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan tante Marcella merengkuh kepalaku dan didorong ke arah payudara. Tangannya yang satunya lagi meremas &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;payudara &lt;/span&gt;sendiri dan menyorongkannya ke arah wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah.. Enak.. Anak pintar.. Sshh” desah tante Marcella ketika aku mulai menghisap payudara  tante Marcella.&lt;br /&gt;“Jilati putingnya yang..” instruksi tante Marcella lebih lanjut. Dengan menurut, akupun menjilati puting payudara tante Marcella yang telah mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku kembali menghisap sepasang payudara tante Marcella bergantian. Setelah puas aku hisapi Payudara, tante Marcella kemudian mengangkat kepalaku dan kembali menciumiku.&lt;br /&gt;Tante Marcella merengkuh tanganku dan diletakkannya di bokong nya yang padat. Kuremas bokong nya, lalu kubuka retsleting rok mininya. Aku terbelalak melihat Tante Marcella ternyata menggunakan celana dalam yang sangat mini. Seksi sekali pemandangan saat itu. Tubuh tante Marcella yang padat dengan payudara yang membusung indah, ditambah dengan sepatu hak tinggi yang masih dikenakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali tante Marcella mencium bibirku. Lantas ditekannya bahuku, membuatku berlutut di depannya. Tangan tante Marcella lalu menyibakkan celana dalamnya sehingga vagina  nya yang berbulu halus dan tercukur rapi nampak jelas di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cium di sini yuk sayang..” perintahnya sambil mendorong kepalaku perlahan.&lt;br /&gt;“Oh..my god.. Sshh” erang tante Marcella ketika mulutku mulai menciumi vagina  nya.&lt;br /&gt;Kujilati juga vagina   yang berbau harum itu, dan kugigit-gigit perlahan bibir vagina  nya.&lt;br /&gt;“Ahh.. Kamu pintar ya.. Ahh” desahnya.&lt;br /&gt;Tante Marcella lantas melepaskan celana dalamnya, sehingga akupun lebih bebas memberikan kenikmatan padanya.&lt;br /&gt;“Jilat di sini sayang..” instruksi tante Marcella sambil tangannya mengusap klitorisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujilati &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;klitoris tante &lt;/span&gt;Marcella. Desahan tante Marcella semakin menjadi-jadi dan tubuhnya meliuk-liuk sambil tangannya mendekap erat kepalaku. Beberapa saat kemudian, tubuh tante Marcella pun mengejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yes.. Ah.. Yes..” jeritnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lobang ngewe nya tampak semakin basah oleh cairan kewanitaannya. Kusedot habis cairan vagina  nya sambil sesekali kuciumi paha mulus tante Marcella. Tak percuma ilmu yang kudapat selama ini dari pengalamanku menonton video porno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita terusin ngewe di ranjang yuk..” ajaknya setelah mengambil nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun kemudian melucuti semua pakaianku. Tante Marcella lalu membuka sepatu hak tingginya, sehingga sambil telanjang bulat, kami merebahkan diri di ranjang.&lt;br /&gt;“Ciumi payudara tante lagi dong yang..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dengan gemas mengabulkan permintaannya. payudara tante Marcella yang membusung kenyal, tentu saja membuat semua lelaki normal, termasuk aku, menjadi gemas. Sementara mulutku sibuk menghisap dan menjilati puting payudara tante Marcella, tangannya menuntun tanganku ke lobang ngewe nya. Akupun mengerti apa yang ia mau. Tanganku mulai mengusap-usap lobang ngewe dan klitorisnya. Tante Marcella kembali mengerang ketika nafsu berahi ngewe nya bangkit kembali. Ditariknya wajahku dari payudara dan kembali diciuminya bibirku dengan ganas. Selanjutnya, tante Marcella menindih tubuhku. Dijilatinya puting dadaku dan kemudian perutkupun diciuminya. Sesampainya di penis ku, dengan gemas dijilatinya lagi batangnya. Tak lama kemudian, kepala tante Marcella pun sudah naik turun ketika mulutnya menghisapi penis ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang tante pengin ambil perjakamu ya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berkata begitu, tante Marcella menaiki tubuhku. Diarahkannya penis ku ke dalam vagina  nya. Rasa nikmat luar biasa menghinggapiku, ketika batang penis ku mulai menerobos lobang ngewe tante Marcella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh.. Nikmat sekali.. Tante suka penis mu.. Enak..” desah tante Marcella sambil menggoyangkan tubuhnya naik turun di atas tubuhku.&lt;br /&gt;“Heh.. Heh.. Heh..” begitu suara yang terdengar dari mulut tante Marcella. Seirama dengan ayunan tubuhnya di atas penis ku.&lt;br /&gt;“Tante suka.. Ahh.. Ngewe anak muda.. Ahh.. Seperti kamu.. Yes.. Yes..”&lt;br /&gt;Tante Marcella terus meracau sambil menikmati tubuhku. Tangannya kemudian menarik tanganku dan meletakkannya di payudara yang bergoyang-goyang berirama. Akupun meremas-remas payudara kenyal itu. Suara desahan tante Marcella semakin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;“Enak.. Ahh.. Ayo terus.. ngewe dengan tante.. Ah.. Anak pintar.. Ahh..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama tubuh tante Marcella pun kembali mengejang. Dengan lenguhan yang panjang, tante Marcella mengalami kenikmatan ngewe yang kedua kalinya. Tubuh tante Marcella kemudian rubuh di atasku. Karena aku belum merasakan puncak kenikmatan ngewe, nafsukupun masih tinggi menunggu penyaluran. Kubalikkan tubuh tante Marcella, dan kugenjot penis ku dalam lobang ngewe. Rasa nikmat menjalari seluruh tubuhku. Kali ini eranganku yang menggema dalam kamar tidur itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh.. Enak tante.. Yes.. Yes..” erangku ditengah suara ranjang yang berderit keras menahan guncangan.&lt;br /&gt;“Wawan mau keluar tante..” kataku ketika aku merasakan air mani sudah sampai ke ujung penis ku.&lt;br /&gt;“Keluarin di mulut tante, sayang..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun mencabut keluar penis ku dan mengarahkannya ke wajah tante Marcella. Tangan tante Marcella langsung meraih penis ku, untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.&lt;br /&gt;“Ahh.. Tante..” jeritku ketika aku menyemburkan sperma ku dalam mulut tante Marcella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Marcella lantas mengeluarkan penis ku dan mengusap-usapkannya pada seluruh permukaan wajahnya yang cantik. Setelah membersihkan diri, kamipun kembali duduk di ruang tamu.&lt;br /&gt;“Enak ngewe ama tante?” tanyanya sambil tersenyum genit.&lt;br /&gt;“Enak tante… memang tante sering ngewe”&lt;br /&gt;“Nggak kok.. Kalau pas ada anak muda yang tante suka saja..”&lt;br /&gt;“Oh.. Tante sukanya ngewe ama anak muda ya..”&lt;br /&gt;“Iya Wan.. Disamping stamina ngewe nya masih kuat.. Tante juga merasa jadi lebih awet muda.” jawab tante Marcella genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini berlangsung sebulan yang lalu. Sampai saat ini, aku masih sering ngewe dengan tante Marcella. Sebenarnya aku diliputi perasaan berdosa kepada Monika pacarku. Tetapi apa daya, setelah kejadian itu, aku jadi ketagihan ngewe. Aku tetap sangat mencintai pacarku, dan tetap menjaga batas-batas dalam berpacaran, kami tidak pernah ngewe. Tetapi untuk menyalurkan hasratku untu ngewe, tante Marcella masih menanti dengan setia sperma ku setiap kami ngewe. Ngewe dengan tante Marcella yang bahenol emang  ga ada matinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-1036221885309675577?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/1036221885309675577/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-tante-marcella-guruku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1036221885309675577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1036221885309675577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-tante-marcella-guruku.html' title='Cerita Ngewe | Tante Marcella Guruku Ngewe'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-4471601684216716199</id><published>2009-03-22T19:53:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T23:11:35.478-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Tante'/><title type='text'>Cerita NGEWE | Ngewe dg Ibu Guru Montok</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;P&lt;/ap&gt;ngalamanku &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="ngewe"&gt;ngewe&lt;/a&gt; dengan ibu guru terjadi ketikaaku sekolah dulu. Luar biasa nikmatnya &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="ngewe dg ibu guru Conny yang montok dan bahenol"&gt;ngewe dg ibu guru Conny yang montok dan bahenol&lt;/a&gt;. Begini ceritanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya aku tidak naik kelas, nilaiku hancur-hancuran semua, pasti deh tidak bakalan naik kelas. Apalagi sekolahanku sekolah favorit, pasti makin susah. Nah ketika sedang binggung, eh ada Ibu Guru Conny mendatangiku. Ibu Conny itu guru yang paling cantik di SMU-ku. Orangnya putih, tinggi langsing, cantik. Ukuran payudaranya bagus lagi, tidak terlalu besar juga tidak kecil tapi terlihat kencang dan montok. Dia meemakai kacamata yang membuatnya tampak lebih manis dan keibuan, meski kacamata yg di pakainya sepertinya hanya untuk kedok atau cuma untuk gaya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendatangiku waktu itu terus berkata “Anton, kamu nilainya kok makin jelek saja sih? Nanti tidak naik kelas lho” waduh aku kaget juga di tanya seperti itu. “Iya nih Bu, bagaimana Ya, boleh ngak minta bimbingan belajar gratis ke rumah ibu kalau mau dekat ulangan umum nanti” kataku sekenannya. Ehh masa dia jawab “Boleh juga, mulai nanti sore saja kamu datang ke rumah ibu, jam 4 sore ya”. Lho kok gitu bukankah Ibu Conny adalah guru BP ( Bimbingan dan Penyuluhan )! Ualngan umum mana ada ujian BP? nah aku mulai curuga mengapa Ibu Conny mendekatiku, tapi ya sudah deh aku terima saja ajakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorenya aku ke rumah Ibu Conny. Dia tinggal sendiri karena Ia memang seorang Janda setelah bercerai dengan Suaminya beberapa tahun lalu. Dia menyambut kedatanganku dengan senang hati, Gila, Ibu Conny menyambutku cuma pakai cenlana pendek dan kaos pendek tanpa lengan yang tentu saja ketat. Wah tubuhnya jadi kelihatan makin &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="seksi"&gt;seksi&lt;/a&gt;. Terus aku mulai belajar di temani Ibu Conny. Pas tengah belajar itu, pensilku jatuh dan saat aku menunduk untuk mengambilnya ternyata Ibu Conny sudah mengambilnya duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisiku dan Dia yag sama-sama menunduk aku jadi bisa melihat isi dalam kaos ketat berbelahan dada rendah yang di pakai Bu Conny. Wah payudara nya bagus banget, bulat dan kencang. Aku sampai terbengong. Ibu Conny bukannya tidak tahu, dia malah diam saja di posisi itu. Aku akhirnya sadar sendiri dan jadi malu. Aku yakin mukaku pasti merah seperti kepiting rebur waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf bu”, kataku karena takut kalau Ibu Conny akan marah. Eh dia malah tersenyum. “Ngak apa-apa Ton, kalau mau lihat terusin saja, Ibu ngak ngelarang kok , malah kalau kamu mau Ibu bisa lepasin bajunya kok”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat aku berkata apa-apa lagi Dia sudah melukar bajunya dan bahkan juga celana pendeknya. Gila langsung &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="bugil"&gt;bugil&lt;/a&gt;, ternyata Ibu Conny tidak memakai BH dan celana dalam sama sekali. melihat Tubuh Telanjang Ibu Conny yang begitu indah dan mengundah birahi seperti itu tentu saja aku kaget sekaligus tegang tidak karuan. Aku salah tingkah. “malu ah bu” kataku, tapi Dia bilang “Ngak apa-apa Ton, kamu khan sudah besar sudah waktunya belajar hal ini” sambil ngomong di terus mendekat ke arahku, tanpa sungkan menjamah &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="friend" title="penis"&gt;penis&lt;/a&gt; ku yang mulai menegang dan membelai-belainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu pasti belum pernah merasakan nikmatnya ngewe dengan seorang wanita” katanya setengah berbisik. Terus Dia mulai meciumiku, pipiku lalu bibirku di lumatnya dengan bernafsu. Dia bahkan mengadu lidahku dan menyedotnya dengan ganas. Dia melucuti bajuku sambil menciumi tubuhku dan terus kebawah sampai penis ku dia berhenti. Retsluiting celanaku di buka dan celanaku di tariknya hingga terlepas begitu juga CD ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam saja sambil menikmati “keganasan” Ibu Conny. Aku duduk di sofa dan Ibu Conny Langsung naik keatas. “Rupanya dia sudah tidak sabar lagi” Penis ku yang sudah keras menegang di arahkan ke lubang lobang ngewe  nya. Setelah masuk, Ibu Conny langsung mengiyangnya. “Ugh..agh…,uggh” desah nafas Ibu Conny sambil terus bergerak naik turun dan mengoyang pinggulnya. Gila nikmat sekali, aku yang belum pernah ngewe sebelumnya bagaikan terbang di awang-awang. Kenikmatan yang luar biasa aku rasakan. Apalagi Ibu Conny sangat ahli dalam mengoyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama aku tidak tahan juga kalau hanya pasif di bawah, aku jadi lebih agresif dan berani. Aku ganti posisi ngewe, Ibu Conny aku tidurkan di sofa terus aku naik di atasnya. Selanjutnya aku mulai ngewe dengan Ibu Guru yang montok itu dengan bernafsu. “Ibu Conny mengelinjang. “Ohhh.terus Ton…Ugh…ohhh..” erang Ibu Conny tidak karuan. Dia terengah-engah, mengeliat dan kadang berteriak keenakan. “Ohhh…aku keluar Ton..ohhhh..” tiba-tiba tubuh Ibu Conny menegang hebat, dia melenguh dan berteriak sejadi-jadinya lalu tubuhnya melemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Ibu Conny sudah mencapai orgasme. Karena aku belum juga selesai Ibu Conny lalu mengoral penis ku. penis ku di ciuminya lalu di jilatinya mulai dari ujung penis ku sampai bagian bawah penis ku hingga bagian pangkal penis ku di dekat anus. Ohh rasanya luar biasa tubuhku sampai megeliat dan aku mendesah karena saking nikmatnya. Ibu Conny lalu mengocok penis-ku dengan mulut dan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Ibu Conny mengambil posisi nunggin diatas sofa dan aku mengambil posisi di belakang. Mengarahkan penis ku ke lobang ngewe  nya dari arah bokong. Bercinta dengan gaya Doggy Style seperti itu rasanya lebih nikmat di banding yang tadi. Posisi itu membuat memek Ibu Conny jadi terasa lebih sempit dan nikmat. Wah bokong Bu Conny yang bulat dan semok membuatku makin bernafsu. Ibu Conny merintih dan mendesah-desah sesekali dia menegok kebelakang sehinga kelihatan begitu seksi. Aku cengkerang pinggulnya dan aku penis ku lebih cepat menjelajahi lobang ngewe Ibu Conny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama Ibu Conny kembali mencapai orgasme, Ia mengerang dan menjerit-jerit kecil tidak karuan. saat itu juga tiba-tiba aku merasakan penis ku serasa berdenyut hebat akhirnya aku tidak tahan juga dan mempercepat goyangan. Akhirnya aku mengejang dan merasakan kenikmatan ngewe yang luar biasa. Spermaku muncrat di dalam lobang ngewe Ibu Conny yg sudah sedemikian basah. Saking banyaknya Spermaku sampai tumpah keluar dan membasahi bokong dan kedua paha mulusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya badanku jadi lemas sekali sehabis ngewe dengan guru BP-ku itu. Rasanya&lt;br /&gt;sunguh nikmat dan membuatku ketagihan. Ibu Conny memuji penis ku. Sejak saat itu semingu tiga kali aku ngewe bersama Ibu Conny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sih aku tidak pernah belajar pelajaran sekolah tapi belajar ngewe dengan ibu Conny, tapi tidak tahu kenapa aku tetap bisa naik kelas dan meski tidak rangking, tapi nilaiku lumayan kok. Selama ngewe dengan Ibu Conny aku sudah pernah mencoba berbagai macam gaya ngewe, doggy style, 69 dan lain lain pernah aku coba dengannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-4471601684216716199?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/4471601684216716199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-ngewe-dg-ibu-guru-montok.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/4471601684216716199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/4471601684216716199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-ngewe-dg-ibu-guru-montok.html' title='Cerita NGEWE | Ngewe dg Ibu Guru Montok'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-2643088172058847450</id><published>2009-03-22T05:57:00.001-07:00</published><updated>2009-03-22T12:39:25.873-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Tukar Pasangan'/><title type='text'>Cerita NGEWE |  Sandra Ngewe dg Pakdhe</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;K&lt;/ap&gt;ali ini &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="Friend" title="Cerita Sandra ngewe dg pakdhe"&gt;Cerita Sandra ngewe dg pakdhe&lt;/a&gt;. Semua bermula ketika aku sedang memenuhi panggilan interview pekerjaan di pusat kota Surabaya, meski lulusan sebuah perguruan tinggi yang cukup ternama di Malang namun berpuluh kali aku mengikuti interview namun tak satu pun mengangkatku menjadi salah satu pegawainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menginap di rumah tetangga kampung yang pindah ke Surabaya namun sudah ku anggap saudara sendiri karena mereka cukup baik pada keluargaku dan sudah kuanggap sebagai keluarga dan aku memanggil mereka PakDhe dan BuDhe, hari itu kebetulan aku sedang mengikuti interview di hotel Tunjungan Plasa Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamarku sendiri adalah bekas ruang tamu yang dipasang sekat dari triplek. Sekitar pukul 22.30 an aku mendengar suara aneh bercampur derit kursi seperti didongong atau ditarik berulang-ulang dari ruang tamu depan kamarku persis, sejenak kuperhatikan secara seksama suara tersebut dan aku penasaran dengan suara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit kubuka pintu kamarku, betapa kaget setelah mengetahui BuDhe sedang duduk di kursi sambil mengakangkan kakinya sementara PakDhe di depannya sambil memegang kedua kaki BuDhe pada pundak sedangkan bokong nya bergerak maju mundur..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Och…u..o.." suara yang keluar dari mulut BuDhe. Seolah menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya, badanku terasa panas dan pikiran yang tak tahu harus bagaimana karena baru kali ini aku benar-benar melihat hal ini live di depan mataku. Selama kurang lebih 10 menit kedua orang itu &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="Friend" title="ngewe"&gt;ngewe&lt;/a&gt; sambil duduk akhirnya PakDhe menarik &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="Friend" title="penis"&gt;penis&lt;/a&gt; nya dari dalam &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="Friend" title="vagina"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.cerita-ngewe.co.cc/" rel="Friend" title="bokong"&gt;bokong&lt;/a&gt; BuDhe yang bulat mulus itu dan akhirnya laki-laki itupun menekan penis nya lebih dalam kearah vagina didepannya tersebut. Sambil menahan sesuatu. Ketika konsentrasiku tertuju pada penis dan vagina yang sedang beradu tersebut tanpa kusadari sambil digenjot BuDhe menoleh ke arah pintu kamarku dan tersenyum, "hek" aku kaget setengah mati segera ku tutup pelan-pelan pintu kamar dan kembali ke tempat tidurku, beribu pikiran menyeruak dalam benakku antara bingung dan takut karena mungkin kepergok saat mengintip mereka ngewe tadi. Aku kecewa karena tidak melihat bagaimana raut muka PakDhe ketika mencapai puncak kenikmatan ngewe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa ada yang basah di selangkanganku saat aku menyaksikan adegan tadi, "yah aku terangsang" terakhir kali aku merasakan nikmatnya ngewe hampir 4 bulan yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang aku mudah terangsang jika melihat hal-hal yang berbau porno. Sering kali aku melakukan masturbasi dengan membayangkan laki-laki yang kekar dan memiliki batang penis yang kokoh tegak berdiri dan akhirnya aku memasukkan sesuatu ke dalam vagina ku yang seolah lapar akan terjangan penis laki-laki, tapi terkadang aku merasa ada yang kurang dan memang aku butuh penis yang sebenarnya, Tanpa kupungkiri aku butuh yang satu itu. Kulihat jam didinding kamarku menunjukan pukul 11.35, ya ampun besiok aku kan mulai kerja! Sialan gara-gara penis dan vagina ngewe diruang tamu akhirnya aku tidur kemalaman! Emang dikamar kurang luas untuk ngewe apa? "ah sialan!" umpatku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan melewati depan pintu kamar BuDhe yang terbuka lebar, sekali lagi aku terhenyak kali ini aku menyaksikan dua orang sedang tidur tanpa memakai baju sama sekali, kulihat senyum di bibir Budhe Kiki, tanda kepuasan ngewe atas perlakuan suaminya tadi malam mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar mandi aku kembali memikirkan kejadian semalam yang membuatku "terus terang cukup terangsang" apalagi jika mengingat penis yang gede milik PakDhe. "ahh" rupanya tangan ku sudah berada di sela-sela pahaku yang mulus dan bulu hitam yang tampak olehku cukup lebat meski tak terlalu banyak diantara garis melintang ditengahnya, tiba-tiba nafasku berburu kala kuteruskan untuk menggosok bagian atasnya, "sialan!" pikirku dalam hati. Kusiram tubuhku untuk mengusir nafsu untuk ngewe yang mulai mengusik alam pikiran ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat kerja di hari pertamaku, kusempatkan untuk sarapan pagi siapa tahu nanti aku harus kerja keras di kantor.&lt;br /&gt;"Jaga diri baik-baik Sandra" kata BuDhe sambil menepuk pundakku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari depan kantor itu aku berjalan menuju pos sekuriti,&lt;br /&gt;"Kok sepi ya?" tanyaku dalam hati.&lt;br /&gt;"Sebentar lagi karyawan Ibu Dewi akan menemui mbak, silahkan menunggu" katanya sambil menunjuk kursi sofa di tengah ruangan yang cukup besar. Ketika aku baru akan meletakkan bokong ku aku melihat sesuatu yang ganjil di lingkungan perkantoran ini, tak terlalu banyak orang yang biasa ada pada sebuah perkantoran, kuperhatikan sekuriti tadi kulihat dia berbicara dengan temannya tersenyum-senyum sambil memandang kearahku, tak berapa lama kudengar namaku dipanggil seorang wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sandra?"&lt;br /&gt;"Saya" jawabku sambil memalingkan muka kea rah datangnya suara tadi,&lt;br /&gt;"Hai, kamu mau kerja disini?" tanyanya lagi.&lt;br /&gt;"Lho Agatha, kamu kerja disini ya?" kataku sambil kenbali bertanya&lt;br /&gt;"Tadi aku disuruh sama bu Dewi untuk menemui kamu, ayo ikut aku!" sambil ngobrol kami pun berjalan menaiki tangga menuju ruangan Bu Dewi.&lt;br /&gt;"Tunggu sebentar ya" kata Agatha. Pintu di ruangan itu sedikit terbuka ketika dia masuk kulihat didalamnya ada 3 wanita yang menurutku cantik, berbusana mahal dan seksi. Itu mungkin beberapa model yang dimilikinya.&lt;br /&gt;"Masuk Sandra" Agatha membuka pintu lebih lebar. Ternyata didalam ada 2 laki-laki yang sedang melihat 3 wanita didepannya " nah ini dia cewek baru yang aku dapatkan kemarin di Tunjungan, namanya Sandra" kata bu Dewi sambil menunjuk ke arahku pada ke dua laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sandra, mas-mas ini dari Jakarta mereka akan menguji kemampuan kamu dalam memakai barang mereka" aku segera mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah desainer atau rekan kerja bu Dewi. Aku mendekat dan berjabat tangan dengan keduanya,&lt;br /&gt;"Dewi, kami perlu kerja di dalam studio" kata laki-laki yang sedari tadi melotot melihat 3 wanita dihadapannya sambil menenteng kamera. Lelaki itu berjalan diikuti oleh ketiga gadis.&lt;br /&gt;"Tunggu sebentar ya Sandra" kata bu Dewi sambil mengajak lelaki yang satunya serta Agatha. Aku terdiam sebentar sambil melihat ruangan yang cukup besar tersebut, ketika melewati ruangan yang baru di masuki oleh tiga gadis dan seorang lelaki tadi aku mendengar suara tertawa wanita kegelian dari dalamnya, ku coba untuk mendekat pada ruangan itu, aku semakin penasaran lerja macam apa kok suaranya seperti… Yah aku ingat suara itu mirip desahan BuDhe Kiki semalam! Kucoba lebih dekat untuk mengetahuinya tapi… "Sandra?" tiba-tiba Bu Dewi sudah berada di sampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada yang mau aku tunjukan padamu" katanya sambil berjalan ke ruangan pribadinya, tertulis didepan pintu ruangan tersebut.&lt;br /&gt;"Mana Agatha? Sama lelaki yang tadi?" tanyaku dalam hati. Didalam ruangan itu terdapat banyak Foto diatas meja.&lt;br /&gt;"Duduk Sandra" katanya mengetahui aku sedang menunggu dipersilahkan.&lt;br /&gt;"Bu, maaf kamar kecil dimana? Saya kebelet pipis" tanyaku sambil nyengir menahan sesuatu dibawah vagina ku. "ah..ya.." dia menunjuk kearah belakangnya. Aku langsung bergerak ke sana, masuk kamar kecil itu aku langsung melorotkan celana dalam yang kupakai dan Chessh…." Suara khas air&lt;br /&gt;yang keluar dari vagina ku, saat ku jongkok aku mendengar samara-samar suara laki-laki.&lt;br /&gt;"Aah….uh…ya …ayo..terus …sedot…ah nah gitu dong…" setelah itu terdengar suara wanita tertawa, segera lu ceboki vagina ku, kuangkat kembali CD, sebentar aku terdiam sambil mencari asal suara tadi, setelah yakin tak kudengar lagi akupun keluar dan menuju ke meja bu dewi sambil bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya pekerjaan disini, saat ku berjalan mendekati meja bu Dewi kulihat wanita itu sedang berganti pakaian, kulihat tubuh yang sangat seksi dan mulus, pahanya yang putih dan bokong nya bulat putih cukup memberi bagiku untuk berkesimpulan bahwa dia adalah wanita yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf bu" kataku,&lt;br /&gt;"Oh tidak apa-apa kok Sandra, bisa tolong ambilkan itu" katanya sambil menunjuk kearah kursi kerjanya, "ini bu?" kulihat sebentar ini adalah baju yang sering dipakai oleh bintang film luar negri "ah" aku teringat saat aku melihatnya di sebuah film BF. Aku berikan padanya dan dia memakainya dengan cekatan terlihat bahwa ia sudah terbiasa mengenakan pakaian model itu.&lt;br /&gt;"Kita bekerja dengan scenario dan harus tampil cantik serta se-seksi mungkin karena target penjualan kita adalah kaum Pria" kata nya sambil membenahi pakaianya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hari ini adalah saat dimana kamu akan menjadi seorang entertainer seperti gadis-gadis diluar tadi" , aku mendengarkannya sambil mengira-ira apa kerjaku sebenarnya;&lt;br /&gt;"Maaf sebelumnya Agatha di sini sebagai apa bu?" tanyaku,&lt;br /&gt;"Kenapa?" dia balik bertanya,&lt;br /&gt;"Kamu mau tahu tugas dia?" katanya sambil mengambil sebuah remote control di laci mejanya,&lt;br /&gt;"Tugas dia adalah menjamu para tamu dan melayani mereka sebelum mereka memulai kerja yang sebenarnya" katanya sambil menunjuk sebuah televise berukuran raksasa di belakangku, betapa kaget aku melihat apa yang terpampang dihadapanku, ternyata Agatha sedang ngewe dengan laki-laki di sebuah ruangan kosong yang hanya di lapisi karpet tebal diseluruh ruangan itu, setengah tak percaya kembali kulihat kearah bu Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duduklah maka tidak akan terjadi sesuatu padamu atau jika tidak aku panggilkan satpam didepan agar membuatmu diam" kali ini nadanya terdengar sedikit mengancam. Aku pun telah paham bahwa aku tak bias berbuat apa-apa, saat terduduk aku dihampiri oleh wanita itu dan tanpa kusadari dia telah menarik tangan ku kebelakang dan mengikatnya dengan tangkas, aku berontak tapi tak bisa karena kursi yang ku duduki besar dan berat, akhirnya aku terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah kita nikmati saja tontonan ngewe yang disuguhkan teman SMP kamu itu" katanya, sialan rupanya Agatha telah bercerita banyak tentang aku, Agatha adalah temanku saat duduk di bangku SMP di Malang, dia adalah type cewek yang cukup berani tampil seksi dan punya teman cowok yang cukup banyak, dan dia pun telah kehilangan keperawanannya saat perayaan kelulusan di suatu acara yang diadakan oleh teman-temannya,&lt;br /&gt;"Kurang ajar, kenapa aku harus melewati hari yang seperti ini?" kataku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari layer raksasa dhadapanku kulihat Agatha sedang ngewe di atas pria itu sambil menaik-turunkan bokong nya yang bahenol.&lt;br /&gt;'Oh… oh… ouh… ha… enak maass?" tiba-tiba suara Agatha terdengar sangat keras, rupanya Bu Dewi menikan volume pada remote controlnya.&lt;br /&gt;"Ga seru ngewe kalau tidak ada suaranya ya Sandra?" kata wanita itu namun aku tak mempedulikan kata-katanya. Aku menunduk tak mau melihat apa yang ada dilayar TV besar itu, tapi suara yang menggoda nafsu itu tetap terdengar.&lt;br /&gt;"Setiap aku kesini… kurasa… vagina kamu masih… ouckh… tetap… keset… Th..ah" suara laki itu tersendat-sendat.&lt;br /&gt;"Tapi penis mas….kok rasanya.. tam.. baa.. ah… aha…" suara Agatha tak terselesaikan.&lt;br /&gt;"Jangan munafik Sandra kamu past terangsang kan?" lagi suara Dewi terdengar tak kupercaya wanita yang kemarin kutemui ini terlihat anggun dan sopan kini…&lt;br /&gt;"Perempuan macam apa kamu Dewi?" kataku tapi tak kudengar jawaban darinya yang kudengar hanya suara dia sedikit tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kembali kudengar Agatha berteriak&lt;br /&gt;"Ack… a… yah… terus… tete… rus… sentak lagi… mas!" kali ini aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang saat ini dilakukan laki-laki itu pada Agatha, kulihat Agatha sudah nungging dengan bertumpu pada lututnya sementara laki-laki itu menekan-nekan penis nya yang besar itu maju-mundur ke arah vagina Agatha yang tampak menganga dan berdenyut-denyut itu, cukup lama mereka ngwee dg posisi tersebut, akhirnya…&lt;br /&gt;"Aku… ke… luar… mas… aih… ya… ah!" nampak Agatha telah mencapai puncak kenikmatan ngewe tubuhnya terlihat sedikit melemah namun si lelaki itu terus mengocok penis nya yang masih menegang itu sambil tangannya memegang bongkahan bokong Agatha, aku sendiri terangsang melihat semua ini dan merasa ada yang mulai membasah di vagina ku, seandainya tanganku tidak di ikat pasti aku sudah memegang itil kecil ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ackh… sh… oh… sh… " nampaknya laki itu sudah memuntahkan sperma nya di dalam vagina Agatha. Tiba-tiba Dewi mematikan layer tersebut dan berkata&lt;br /&gt;"Gimana Sandra, apa yang kamu rasakan pada vagina mu?" seolah mengetahui apa yang aku rasakan.&lt;br /&gt;"Lepaskan! Aku mau keluar dari tempat ini!" teriakku menutupi rangsangan yang aku rasakan.&lt;br /&gt;"Keluar? sebentar, ada yang mau aku perlihatkan sama kamu!" lalu dia menekan kembali remote di tangannya kea rah layer raksasa di dan… "ya ampun!" ternyata BuDhe Kiki!&lt;br /&gt;Mengenakan baju berwarna merah menantang seperti yang dipakai oleh Dewi, dia sedang sibuk mengulum penis seorang laki-laki disebuah ruangan yang hanya terdapat sebuah ranjang yang cukup bagus, ku lihat Pria itu memegang kepala BuDhe agar lebih cepat emutannya, sementara tangan kiri&lt;br /&gt;BuDhe mempermain kan vagina nya sendiri.&lt;br /&gt;"Eh… eh… e… gm… emph… !" suara wanita dilayar itu seperti menikmati penis yang panjang dan besar di dalam mulutnya.&lt;br /&gt;"Itu di rekam 2 hari yang lalu" kata Dewi seperti sedang menerangkan sesuatu padaku.&lt;br /&gt;"Maksudmu?" tanyaku,&lt;br /&gt;"Lihat dulu baru komentar sayang!" aku pun kembali menyaksikan adegan di depanku itu, belum pernah aku menyaksikan orang yang aku kenal ngewe dengan orang lain seperti yang dilakukan oleh BuDhe dan Agatha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penis mu hot banget mas… besar pa… njang… aku… akua… suka… !" kali ini BuDhe nampak gemas memegang penis besar itu dengan kedua tangannya, penis Pria itu memang sangat besar dibanding dengan milik PakDhe yang kulihat semalam kelihatan kokoh berdiri dan lebih berotot apalagi kepala penis Pria ini nampak besar dan mengkilap karena sinar dari kamera, nampak sekali bahwa pria itu sangat menikmati emutan mulut BuDhe, mendengar suara Budhe dan laki-laki itu saling ah..uh.. saat ngewe membuat aku jadi terangsang, aku jadi salah tingkah karenanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu akan suka dengan yang seperti ini sayang" katanya sambil menarik kedua kakiku hingga aku terlentang di atas kursi besar itu.&lt;br /&gt;"Tenang Sandra, cari nikmatnya dulu ya" aku diam dan tak terlalu banyak bergerak aku tak tahu mengapa aku diam dengan perlakuan Dewi di hadapanku kali ini, Dewi mengosok-gosokkan penis mainan itu ke arah vagina ku, aku menggelinjang geli karenanya, aku tahu apa yang akan dilakukannya, dan benar! Dia membuka resleting celanaku, sekali lagi aku diam aku terangsang terasa vagina ku berdenyut-denyut menginginkan sesuatu. Dengan tangkas Dewi sudah menarik ke bawah celana yang kupakai, diringi suara desahan nikmat yang disuarakan BuDhe Kiki dari layer didepanku&lt;br /&gt;"Oh… yaa… ya… be… nar… yang situ enak… mas… sh… ah!" kali ini kulihat laki-laki itu sedang menciumi vagina BuDhe yang memberi ruang yang bebas pada laki-laki itu, terdengar pula suara mulut laki-laki itu berkecipak. Nampak bokong BuDhe yang bulat itu diangkat agar mulut laki-laki itu dapat masuk lebih jauh mempermainkan lidahnya. Tanpa kusadari paha dan selakangan ku terasa dingin ternyata Dewi telah sukses melepaskan CD ku.&lt;br /&gt;"Wah ternyata Jembut kamu tebal juga Sandra" kata Dewi kemudian tangannya menyentuh mulut vagina ku, terasa hangat tangannya, kutatap matanya seolah ingin kubiarkan apa yang dilakukannya, sudah kepalang basah kubiarkan apapun yang dikerjakannya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Dewi sedang sibuk meng emek-emek vagina ku dari depan, tiba-tiba lampu ruangan mennjadi sangat terang, dan kulihat ada dua orang laki-laki masing memegang kamera dan mengabadikan suasana di ruangan ini. Tak kusadari ada sentuhan tangan pada pundakku.&lt;br /&gt;"Sandra, rupanya kamu sudah merasakan kenyamanan di ruangan ini" ternyata aku kenal suara laki-laki dari belakangku yah itu suara PakDhe! tanganku berusaha menutupi bagian bawahku yang menganga karena ulah Dewi.&lt;br /&gt;"Sudah nikmati saja, toh aku tahu kamu butuh ngewe yang seperti ini" kata Pakdhe sambil menempelkan sesuatu yang hangat lunak dan membesar ditanganku yang masih terikat kebelakang. Kupegang dan tahu apa yang aku pegang namun terasa makin hangat dan memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam memikirkan semua rentetan dan semua orang yang ada disekitar ku saat ini, saat kuterdiam ternyata Dewi berdiri di depanku dengan menggerakan lidah ke bibir sambil memainkan celah vagina nya dan matanya menatap ke arah PakDhe, laki-laki itu tahu apa yang dinginkan Dewi dan segera berdiri mendekat dengan tangan memegang bokong Dewi.&lt;br /&gt;"Ayoh, kita bikin janda muda ini tersiksa dan memohon agar vagina nya di isi sesuatu yang hangat! Ha… ha… ha… !" kata Dewi sambil melihatku, tangannya yang cekatan dan terampil mulai mengurut-urut penis PakDhe yang sudah mulai kembali menegang, sementara tangan PakDhe meremas-remas payudara Dewi yang Cuma terbuka pada putingnya sementara aku tetap menatap mereka berdua seolah tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"U… uh" kata Dewi gemas mengocok penis di tangannya.&lt;br /&gt;"Sudah, langsung aja masukin penis mu pak!"&lt;br /&gt;"Lho Sandra, vagina Dewi sudah basah! Kamu ga pengin ngewe niih?" Kata PakDhe yang mempermainkan tangannya di sekitar vagina Dewi. Kusaksikan gerakan Dewi membalikkan badannya memnbelakangi tubuh PakDhe, dengan cukup sigap pakDhe segera menggiring batang penis yang dipegangnya kearah vagina Dewi yang berada ditengah bongkahan bokong mulus Dewi yang sudah menganga karena bibir vagina nya di kuak sendiri oleh tangan kanannya sementara tangan kirinya menggosok itil yang sedikit menonjol di bagian atasnya.&lt;br /&gt;"Hrm ouch… masukin… te… rus… ah sampai men… tock pak!" kata Dewi sambil menarik bokong PakDhe agar segera menekankan penis nya lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini mereka merubah posisinya menyampingiku sehingga tampak payudara Dewi bergerak-gerak karena gerakan tubuhnya sementara penis PakDhe yang sedang berusaha memasuki liang sempit itu semakin didorong kedepan.&lt;br /&gt;"Ah…." penis itu sudah tenggelam kedalam vagina dewi PakDhe kemudian menarik penis nya pelan-pelan tampak olehku buah pelir penis itu menggelantung.&lt;br /&gt;"Sabar ya Dewi, sebentar… " kata pakDhe sambil menoleh kea rah ku sambil mengedipkan mata kirinya seolah berkata."Tunggu giliranmu".&lt;br /&gt;"Betapa nikmat kalau penis itu ngewe di vagina ku" kembali aku sudah dirasuki hawa nafsu yang sedari tadi menghinggapi pikiranku yang mulai tak terkontrol. Aku mulai menggepit paha agar vagina ku yang terasa gatal dan membasah tak diketahui oleh mereka, andai tangan ku tak terikat mungkin aku sudah melakukan sesuatu yang nikmat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh… ah… mpffh… yang cepat dong… genjot… terus… pak!" teriakan nikmat Dewi sambil menggerakan bongkahan bokong nya kekiri -kanan mengimbangi sentakan PakDhe.&lt;br /&gt;"Plak… plak… " suara benturan paha kedua orang didepanku serta kecipak vagina Dewi yang diterjang penis gede itu seolah bersorak senang. Saat ku sedang memperhatikan mereka ikatan pada pergelangan tanganku terasa melonggar sedikit kutari tangan kananku dan terlepas! Sebentar aku bingung apa yang harus kulakukan, namun diluar kesadaran ku saat itu ternyata aku tidak mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri lagi pula disitu ada 2 pria berkamera yang pasti akan mennghentikan ku, yah otakku mungkin sudah dirasuki nafsu. Aku butuh keprluan biologis itu! Aku butuh penis yang hangat dengan terjangan yang sesungguhnya bukan seperti yang selama ini kudapatkan dengan masturbasi! Semakin kuperhatikan secara seksama apa yang dikerjakan PakDhe dab Dewi didepanku, Dewi nampak sangat menikmati ngewe dg PakDhe dari arah belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ay… o.. pak… ayo… terus… kerasin… sentakanmu pak… !"&lt;br /&gt;"Vagina nakal… nakal… nakal… " kata PakDhe setiap kali si penis menerobos vagina Dewi.&lt;br /&gt;Kulihat tongkat mainan persis penis yang diletakkan dimeja oleh Dewi, tak kuhiraukan 2 orang berkamera yang sedang mengabadikan setiap gerakan dan erangan nikmat PakDhe dan Dewi, kuambil mainan wanita itu dan mulai kugesekkan pada vagina ku, tak kuhiraukan segalanya!&lt;br /&gt;Aku tersenyum karena aku merasa tak tersiksa sama sekali dengan keadaanku saat ini, kali ini aku bermaksud memasukkan penis mainan lembut ini pada liang vagina ku dan…&lt;br /&gt;"Eh… auch… " bersamaan dengan sodokan PakDhe pada vagina Dewi setiap PakDhe menarik penis nya kutarik pula mainan ini dari vagina ku.Saat aku sedang menikmati tontonan didepanku tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuk seorang laki-laki yang tadi bergumul dengan Agatha menghampiriku sambil tersenyum, sambil berjalan dia melepas satu persatu kancing baju dan membuka resleting celananya. Kukeluarkan pelan-pelan penis mainan dari dalam vagina ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membayangkan isi didalam celana itu adalah penis besar seperti yang ngewe dg Agatha tadi, yang pasti akan memberi kenikmatan ngewe pada vagina ku yang sangat merindukan penis, kutatap matanya seolah aku memberinya ijin untuk segera ngewe, aku sadar bahwa semua perbuatanku saat ini akan direkam dan disebar luaskan, aku tak pedulikan itu aku Cuma butuh laki-laki saat ini untuk ngewe! Ketika Dewi mengetahui laki-laki itu lewat didepannya tangan kanannya memegang penis laki-laki itu.&lt;br /&gt;"Vagina ku… masih cukup untuk ngewe dg penis mu Raffi" Dewi berkata sambil menikmati sodokan PakDhe. Sebentar laki-laki itu berhenti dan memasukan penis nya kemulut Dewi.&lt;br /&gt;"Ech… mpfh… Raffi… empfh… di..penis " tampak mulut Dewi seperti kewalahan menelan sebuah Pisang yang besar, aku segera bangkit dan menghampiri mereka, yaah aku tak rela jika penis dihadapanku ini akan ngewe juga dg vagina Dewi dan aku lagi-lagi jadi penonton, Dewi dan PakDhe tidak terlalu kaget melihatku.&lt;br /&gt;"Oh… rupanya kamu baru bisa lepas dari tali tadi!" Dewi tertawa setelah penis dimulutnya terlepas setelah laki-laki bernama Raffi itu membalikkan diri padaku tampak penis besar setengah mengacum itu mengarah padaku.&lt;br /&gt;"Wao… " Tanpa kuhiraukan si Raffi aku langsung jongkok didepannya dan bersiap mengulum Penis idamanku itu.&lt;br /&gt;"Lihat pak, janda… tak tahan… juga!" kata Dewi seolah senang dengan apa yang kuperbuat, kumasukan kedalam mulutku dan kepalaku mulai bergerak maju mundur, kurasa sesuatu yang besar sedang berdenyut-benyut di dalam mulutku,&lt;br /&gt;"Ach… ternyata pandai juga kamu mempermain kan penis dengan mulut.&lt;br /&gt;"Oh… !" tangan Raffi mulai meremas pentil payudara ku yang mulai mengeras.&lt;br /&gt;Aku memang pandai melakukan oral sex hal itu pun diakui oleh mantan suamiku dulu bahwa mulutku sangat hebat dal;am hal ciuman bibir dan mengulum penis nya bahkan sering kali saat oral sex suamiku mengeluarkan spermanya di mulutku.&lt;br /&gt;"Ehm… ehm… ehm… " Aku sangat senang dan sangat merindukan batang hangat dan kenyal ini! "Oh… oh… ya… ouh… " Raffi tampak sangat menyukai kulumanku kupermainkan lidahku pada kepala penis nya, sambil memberikan Raffi kenikmatan kulihat PakDhe semakin mempercepat genjotannya, tak lama kemudian.&lt;br /&gt;"Arch… a… ah… aku… sudah… kel… luar… pa… ak… a… " kata Dewi, matanya&lt;br /&gt;merem-melek ngewe menahan sesuatu yang keluar dari dalam vagina nya. Saat Dewi mulai sedikit lemas ternyata PakDhe mengeluarkan penis nya dan melihat kearah Raffi seolah mengetahui maksud PakDhe Raffi pelan-pelan menarik penis nya dari mulutku, yah PakDhe menuju kearahku sedang Raffi menuju tubuh Dewi, aku ragu apakah aku akan ngewe dengan orang yang sudah aku anggap sebagai orang tuaku ini, namun PakDhe ternyata langsung menarik bokong ku hingga tubuhku telentang pada kursi besar di belakangku dan penis nya berada tepat didepan vagina ku, mengetahui aku sudah terangsang dengan sekali tekan penis PakDhe segera menerobos lobang vagina ku sesaat terasa sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adu… h… pelan-pelan… dong PakDhe… !" Teriakku.&lt;br /&gt;"Ah sorry Sandra, lupa aku, vagina kamu sudah lama tak ngewe ya! Tahan sebentar ya… kamu tahu ini ..enak.." kata PakDhe sambil menarik penis nya dari dalam vagina ku, aku merasa seluiruh isi vagina ku tertarik.&lt;br /&gt;"Pelan-pelan… " kataku lagi, tapi ternyata Pakdhe langsung menggenjot penis nya itu keluar masuk. Tiba-tiba rasa sakit yang kurasakan menjadi rasa geli dan nikmat&lt;br /&gt;"Ah… a… ayou… lagi PakDhe… terus… sh… haa… " yang kurasakan vagina ku jebol&lt;br /&gt;luar dalam namun ennaak sekali, sudah cukup lama bagiku waktu 4 bulan menanti yang seperti ini, aku tak peduli meski ini kudapat dari seorang yang selama ini menampungku. Saat sibuk menikmati sodokan penis di vagina ku sempat kulihat Raffi memompa bokong nya sementara Dewi mulutnya terbuka menahan nikmat yang akan dia dapat untuk kedua kalinya dengan posisi miring dan kaki kirinya terangkat sehingga memudahkan penis gede milik Raffi mengobrak abrik isi vagina nya, tak berapa lama Dewi sudah memekik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah Raffi… aku… ah… !" tampak Dewi sudah mengalami puncak kenikmatan ngewe yang keduanya. sementara kulihat muka PakDhe memerah menahan sesuatu&lt;br /&gt;"Sandra… vagina… kamu… serr… et… aku tak… tahan… ah" PakDhe rupanya sudah mendapatkan ganjaran karena berani memasukan penis nya ke milikku yang memang masih peret, dia menarik penis nya dan mengeluarkan sperma nya pada Payudara ku dan wajahku&lt;br /&gt;"Ah… ah… " teriak PakDhe setiap kali cairan itu keluar dari kepala penis nya.&lt;br /&gt;"Ya… PakDhe… !" kataku kecewa, aku belum merasa puncak ngewe! Tak kuhiraukan PakDhe sibuk dengan penis nya yang mulai mengecil, saat kumandang Raffi yang mengocok penis nya sendiri dia tersenyum padaku dan akhirnya penis yang cukup gede itu datang padaku, tangan Raffi memegang bokong ku, aku tahu dia ingin posisi anjing nungging, kubalik tubuhku menghadap sandaran kursi sedang kedua lututku tersangga pinggiran kursi, tak nerapa lama penis Raffi sudah digesek gesekkan pada bokong ku yang putih mulus,&lt;br /&gt;"Ayoh Raffi kamu mau ngewe seperti yang di rasakan PakDhe?" kataku nakal, aku tak tahu dan tak mau tahu apa yang kulakukan yang pasti aku mendapatkannya saat ini, akhirnya Raffi pun mulai ngewe dg memasukan penis nya ke dalam vagina ku.&lt;br /&gt;"A… euh… ah… em… ya… " penis yang menerobos di vagina ku memang terasa sangat gede seolah menyentuh rongga-rongga di dalam vagina ku. Pantas mulut Dewi tak bersuara apa-apa ternyata ini yang dirasakannya.&lt;br /&gt;"Eh… eh… eh… " Raffi menekan maju mundur penis nya sementara tangannya meremas payudara ku dan bibirnya mencium punggungku, cukup lama posisi Raffi ngewe belakang, kini dia memintaku untuk berdiri menghadap tubuhnya dengan mengangkat kaki kiriku dia ngewe dari depan&lt;br /&gt;"Ya… h… he… he..lagi… lagi… " nafasku terengah-engah menahan serangan Raffi yang belum pernah ku lakukan ketika ngewe dengan mantan suamiku dulu. Sensansi ngewe yang luar biasa aku dapatkan dari laki-laki ini, sentakannya sangat mantab dan sodokkan penis nya sangat luar biasa&lt;br /&gt;"Raffi… puaskan… puaskan… a.. ku… penis … Ter… us… sh… " kata-kataku tak terkontrol lagi karena vagina ku merasakan hal yang sangat luar biasa dan belum pernah aku merasakan ngewe yang seperti ini. Akhirnya aku merasa kebelet pipis dan geli bercampur menjadi satu…&lt;br /&gt;"Aku… ae… kelu… ar Raffi… ah.." Puas, aku puas! Jeritku dalam hati ini penis yang aku harapkan setiap masturbasi, sementara Raffi tetap mengocok penis nya sambil menahan tubuhku yang terasa lemas agar tak terjatuh,&lt;br /&gt;"Vagina kamu… mem… mang… enak… ach" akhirnya Raffi menarik penis nya dari vagina ku dan menyemprotkan Spermanya ke mukaku.&lt;br /&gt;"Ah… hangat… enakkan… Raffi?" tampaknya vagina ku memuaskan Raffi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ngewe saat itu membuatku tidak bisa tenang kalau tidak ngewe tiap hari&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-2643088172058847450?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/2643088172058847450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-sandra-ngewe-dg-pakdhe.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/2643088172058847450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/2643088172058847450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-sandra-ngewe-dg-pakdhe.html' title='Cerita NGEWE |  Sandra Ngewe dg Pakdhe'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-1237551378006041157</id><published>2009-03-20T23:02:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T23:02:00.765-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Tante'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Payudara Tante Maia yang montok</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;C&lt;/ap&gt;erita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu, waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dhani. Om Dhani mempunyai istri namanya &lt;a style="font-style: italic; font-weight: bold;" href="http://www.awewe.co.cc/" rel="friend"&gt;Tante Maia&lt;/a&gt;. Umur Om Dhani kira-kita 40 tahun sedangkan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tante Maia&lt;/span&gt; berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om Dhani adalah teman baik dan rekan bisnis Om saya. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tante Maia&lt;/span&gt; Seorang wanita yang montok dan mempunyai tubuh yang montok terutama bagian &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.awewe.co.cc/" rel="friend"&gt;payudara&lt;/a&gt; yang montok dan besar. Kemontokan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya tersebut dikarenakan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tante Maia&lt;/span&gt; rajin meminum jamu dan memijat &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt;nya. Selama menginap di sana perhatian saya selalu pada &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tante Maia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat Om Dhani pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya) &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tante Maia&lt;/span&gt; memanggilku dari dalam kamarnya. Ketika saya masuk ke kamar &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tante Maia&lt;/span&gt;, tampak &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.awewe.co.cc/" rel="friend"&gt;tante&lt;/a&gt; cuma mengenakan kaos kutung tanpa menggunakan bra sehingga &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya  yang montok telihat nampak membungsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raffi, Mau tolongin &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt;”, Katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang bisa saya bantu &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt; minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apaan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt; kok sampe musti rahasia-rahasian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt; Minta tolong dipijitin”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt; minta kamu memijit ini &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt;”, katanya sambil menunjukkan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya yang montok. Saat itu saya langsung Grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raffi, kok diem mau nggak?”, tanya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; Maia&lt;/span&gt; lagi. Saat itu terasa penis ku tegang sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau nggak?”, katanya sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya, dia menjawab supaya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara &lt;/span&gt;nya montok terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt;nya yang montok tersebut segera terlihat, kalau saya tebak &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt;nya ukuran 36B, Puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raffi, kamu cuci tangan kamu dulu gih”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt; sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, montok sekali. Ia memintaku agar melumuri &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya secara perlahan kecuali bagian puting  nya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya, kulihat nafas &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;tante&lt;/span&gt; tampaknya mulai tidak beraturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi, “Ahh…, ahh”. Setelah melumuri seluruh &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara &lt;/span&gt;nya, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt;, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya sampai mendekati puting susunya, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya, baru beberapa gerakan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt; semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku, “aahh, Raffi tolong remas lebih keras”. Tanpa ragu keremas &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;payudara&lt;/span&gt; yang montok tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raffi, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt; minta kamu hisap puting susu &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt;”, katanya sambil napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Raffi, hisap yang kuat sayang…, aah”, desah &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tante Maia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak, “Lebih kuat lagi hisapanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; kanannya gantian &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; kiri kuhisap. Sambil kuhisap &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penis ku. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Tante&lt;/span&gt; kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; memegang penis ku dan dimasukkan ke dalam liang ngewe nya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penis ku memasuki vagina &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; ku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; berteriak karena orgasme sudah dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; nampak sudah orgasme, terasa di liang ngewe nya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liang ngewe nya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; mencium bibirku dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi nikmat sekali”, katanya terus dia memintaku besok kembali memijat &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya, dan aku mengiyakan. Kemudian aku bertanya kepada &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; kenapa dia begitu senang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;payudara&lt;/span&gt; nya di sentuh dan dihisap, jawabnya ia tidak bisa melakukan hubungan seks kalau payudara nya tidak dirangsang terus-menerus. Saat kutanya mengapa dia memilihku untuk melakukan ngewe, dia menjawab dengan enteng, “Saat kamu mandi, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; ngintip kamu dan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;tante&lt;/span&gt; lihat penis kamu besar…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-1237551378006041157?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/1237551378006041157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-payudara-tante-maia-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1237551378006041157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/1237551378006041157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-payudara-tante-maia-yang.html' title='Cerita Ngewe | Payudara Tante Maia yang montok'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-8985752737122143467</id><published>2009-03-20T14:07:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T15:19:26.226-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Tukar Pasangan'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Sandra Pengganti Dewi</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;S&lt;/ap&gt;elama 3 hari ini, untuk &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.awewe.co.cc/" rel="friend"&gt;ngentot&lt;/a&gt; dengan dewi harus selalu ngumpet-ngumpet dari cicinya dan sialnya aku hanya bisa &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; sekali dengan dewi (sewaktu aku tinggal di Jakarta, aku telah biasa &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; dengan dewi), karena kesempatan untuk &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; susah sekali. Kehadiran cicinya, sandra telah menghilangkan kesempatan untuk &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; dengan dewi. Setelah dewi pulang karena izin cutinya habis, tinggal aku dan sandra yg masih mau liburan di bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari minggu aku ajak dia jalan ke berbagai tempat wisata, pulangnya dia langsung ingin istirahat karena kelelahan. Karena aku belum merasa ngantuk, aku ke ruangan tamu untuk nonton tv, sedangkan dia masuk kamar tidur tamu untuk istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia terbangun, dan terkejut karena tubuhnya telah bugil dan terikat di ranjang. “Ko lepasin aku”, suaranya gemetaran karena shock. “Cepat lepasin Ko!” sandra mengulangi perintahnya, kali ini lebih keras suaranya. Tubuh bugil nya telah mambiusku. Aku segera mencopot celana dan celana dalamku dengan cepat. “Ko!” sandra memekik. “Mau ngapain kamu?” sandra terkesiap melihat penisku yang sudah berdiri tegak. Kusentuh &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.awewe.co.cc/" rel="friend"&gt;payudara&lt;/a&gt; nya dengan kedua tanganku, rasanya dingin bagai seonggok daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Koko gila luu yah!” Aku merasakan sensasi aneh melihat payudara dan vagina adik pacarku ini. Jelas beda dengan waktu-waktu dulu kalau mengintip dia ganti baju di kamarnya. Sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda. “Koko, gua khan adik dewi!” Aku menyentuh vagina nya dengan tanganku, lalu menjilatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas segera kuletakkan penisku di gerbang vagina  sandra. “Ko jangaaan!” dia memohon-mohon padaku. “Diam.. cerewet!” aku menjawab dengan sembarangan. Sekali penisku kudorong ke depan, tubuhku sudah menjadi satu dengannya. “Iiiih… shiit!” dia mengumpat tapi ada nada kegelian dari suaranya itu. Aku menggoyangkan pinggangku secara liar hingga penisku mengocok-kocok vagina nnya. “Ahh… shiit! ah shiiit! Ko stop!” Semakin dia mamaki dan mengumpatku dengan ekspresi judesnya itu, semakin terangsang aku jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memompa vagina nya aku menghisap puting-puting payudaranya yang agak berwarna pink itu. “Mmmh.. udah jangan Ko!” sandra masih berteriak-teriak memintaku berhenti. “Lu diam aja jangan banyak ngomong”, ujarku cuek. “Ohh shiit!” ujarnya mengumpat. Dia menatapku dengan tatapan yang bercampur antara kemarahan dan kegelian yang ditahan. Sejenak aku menghentikan gerakanku. Kasihan juga aku melihatnya terikat seperti ini. Dengan menggunakan cutter yang tergeletak di meja samping ranjang aku memotong tali yang mengikat kedua kakinya. Begitu kedua kakinya terlepas dia sempat berontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa dayanya dengan posisi telentang dengan tangan masih terikat. Belum lagi posisiku yang sudah mantap di antara kedua kakinya membuat dia hanya bisa meronta-ronta dan kakinya menendang-nendang tanpa hasil. “Aaahh Ko stop dong… udah Ko.. gue khan adik dewi”, dia memohon lagi tapi kali ini suaranya tidak kasar lagi dan terdengar mulai berdesah karena geli. Nafasnya pun mulai memburu. Aku menjilati lehernya dia melengos ke kiri dan ke kanan tapi wajahnya mulai tidak mampu menutupi rasa geli dan nikmat yang kuciptakan. ” Aduhh sshhh Ko udah dooong.. hhh.. sssh!” suaranya memohon tapi makin terdengar mendesah lirih. Kedua kakinya masih meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan tendangannya bukan karena berontak melainkan menahan rasa geli dan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menaikkan tempo dalam memompa sehingga tubuhnya semakin bergetar setiap kali penisku menusuk ke dalam vagina nya yang hangat berulir serta kian basah oleh cairan kenikmatannya yang makin membanjir itu. Kali ini suara nafas sandra kian berat dan memburu, “Uh.. uh.. uhhffssh.. shiit Kooo.. agh uufffssshhh u.. uhhh!” Wajahnya semakin memerah, sesekali dia memejamkan matanya sehingga kedua alisnya seperti bertemu. Tapi tiap kali dia begitu atau saat dia merintih nikmat, selalu wajahnya dipalingkan dariku. Pasti dia malu padaku. Vagina nya mulai mengeras seperti memijit penisku. Bokong nya mulai bergerak naik turun mengimbangi gerakan penisku keluar masuk liang kenikmatannya yang sudah basah total. Saat itu aku berbisik “Gimana, lu mau udahan?” Aku menggodanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengatur pernafasan dan dengan ekspresi yang sengaja dibuat serius, dia berkata, “I.. iiya.. udah.. han yah Ko”, suaranya dibuat setegas mungkin tapi matanya yang sudah sangat sayu itu tidak dapat berbohong kalau dia sudah sangat menikmati permainanku ini. “Masa?” godaku lagi sambil tetap penisku memompa vagina nya yang semakin basah sampai mengeluarkan suara agak berdecak-decak. “Bener nih lu mau udahan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt;?” godaku lagi. Tampak wajahnya yang merah padam penuh dengan peluh, nafasnya berat terasa menerpa wajahku. “Jawab dong, mau udahan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; gak?” aku menggodanya lagi sambil tetap menghujamkan penisku ke vagina nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar aku sudah berkali-kali bertanya itu, dia dengan gugup berusaha menarik nafas panjang dan menggigit bibir bagian bawahnya berusaha mengendalikan nafasnya yang sudah ngos-ngosan dan menjawab, “Mmm… iya.. hmmm.” Aku tiba-tiba menghentikan gerakan naik turunku yang semakin cepat tadi. Ternyata gerakan bokong nya tetap naik turun, tak sanggup dihentikannya. Soalnya vagina nya sudah semakin berdenyut dan menggigit penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehmmm!” sandra terkejut hingga mengerang singkat tapi tubuhnya secara otomatis tetap menagih dengan gerakan bokong nya naik turun. Ketika aku bergerak seperti menarik penisku keluar dari vagina nya, secara refleks tanpa disadari olehnya, kedua kakinya yang tadinya menendang-nendang pelan, tiba-tiba disilangkan sehingga melingkar di pinggangku seperti tidak ingin penisku lepas dari lubang kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho katanya udahan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ngentot&lt;/span&gt;”, kata-kataku membuat sandra tidak mampu berpura-pura lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukanya mendadak merah padam dan setengah tersipu dia berbisik, “Ah shiiit Kooo… uhh… uhhh.. swear &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; enak banget… pleasee dong terusiiin &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; yeeass!” belum selesai ia berkata aku langsung kembali menggenjotnya sehingga ia langsung melenguh panjang. Rupanya perasaaan malunya telah ditelan kenikmatan yang sengaja kuberikan kepadanya. “Ah iya.. iiiya.. di situ mmmhhh aaah!” tanpa sungkan-sungkan lagi dia mengekspresikan kenikmatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 15 menit berikutnya aku dan dia masih bertempur sengit. Tiga kali dia orgasme dan yang terakhir betul-betul dahsyat kerena bersamaan dengan saat aku ejakulasi. Sperma ku menyemprot kencang sekali bertemu dengan semburan-semburan cairan kenikmatannya yang membanjir. sandra pasti melihat wajahku yang menyeringai sambil tersenyum puas. Senyum kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melepaskan ikatannya. Dia kemudian duduk di atas kasur. Sesaat dia seperti berusaha menyatukan pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huuhh, kamu hebat banget sih Ko, sering yach &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; dengan dewi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak juga koq!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alah, sama setiap cewek yang kamu ajak &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; juga jawabannya pasti sama”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keperawanan lu kapan diambil?? tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu pacarku ingin pergi ke Amerika untuk kuliah, kami &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; sebagai hadiah perpisahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia bangkit dengan tubuh yg lemah ngeloyor ke kamar mandi, setelah selesai bersih-bersih sandra kembali lagi ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan pintu kamar mandi kusergap dia, kuangkat satu pahanya dan kutusuk sambil berdiri. “Aduh kok ganas banget sih Lu!” katanya setengah membentak. Aku tidak mau tahu, kudorong dia ke dinding kuhajar terus vaginanya dengan rudalku. Mulutnya kusumbat, kulumat dalam-dalam. Setelah sandra mulai terdengar lenguhannya, kugendong dia sambil pautan penisku tetap dipertahankan. Kubawa dia ke meja, kuletakkan bokong nya di atas meja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku bisa lebih bebas bersenggama dengan dia sambil menikmati payudaranya. Sambil kuayun, mulutku dengan sistematis menjelajah bukit di dadanya, dan seperti biasanya, dia tekan belakang kepalaku ke dadanya, dan aku turuti, habis emang nikmat dan nikmat banget. “aahh…. ssshh…. oohh…. uuuuggghh…. mmhh”, sandra terus meracau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosen dengan posisi begitu kucabut penisku dan kusuruh sandra menungging. Sambil kedua tangannya memegang bibir meja. Dalam keadaan menungging begitu sandra kelihatan lebih aduhai! Bongkahan bokong nya yang kuning dan mulus itu yang bikin aku tidak tahan. Kupegang penisku dan langsung kuarahkan ke vaginanya. Kugesekkan ke clitorisnya, dan dia mulai mengerang nikmat. Tidak sabar kutusukkan sekaligus. Langsung kukayuh, dan dalam posisi ini sandra bisa lebih aktif memberikan perlawanan, bahkan sangat sengit. “Aahh Kooo Akuuu mmooo.. kkeeelluuarr lagggi…” racaunya. sandra goyangannya menggila dan tidak lama tangan kanannya menggapai ke belakang, dia tarik bokong ku supaya menusuk lebih keras lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulayani dia, sementara aku sendiri memang terasa sudah dekat. sandra mengerang dengan sangat keras sambil menjepit penisku dengan kedua pahanya. Aku tetap dengan aksiku. Kuraih badannya yang kelihatan sudah mulai mengendur. Kupeluk dari belakang, kutaruh tanganku di bawah payudaranya, dengan agak kasar kuurut payudaranya dari bawah ke atas dan kuremas dengan keras. “Eengghh…. oohh…. ohh…. aahh”, tidak lama setelah itu bendunganku jebol, kutusuk keras banget, dan sperma ku menyemprot lima kali di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gontai kuiring sandra kembali ke ranjang, sambil kukasih cumbuan-cumbuan kecil sambil kami tiduran. Dan ketika kulihat jam di dinding menunjukan jam 02.07. Wah lumayan, masih ada waktu buat satu babak lagi, kupikir. “sandra, vagina dan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; ama kamu enak banget!” pujiku. “Makasih juga ya Ko, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngentot&lt;/span&gt; ama jamu juga hebat”, suatu pujian yang biasa kuterima!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-8985752737122143467?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/8985752737122143467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-sandra-pengganti-dewi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/8985752737122143467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/8985752737122143467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-sandra-pengganti-dewi.html' title='Cerita Ngewe | Sandra Pengganti Dewi'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-7336892721262322610</id><published>2009-03-20T13:05:00.000-07:00</published><updated>2009-03-20T15:36:31.628-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Tukar Pasangan'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Payudara Luna Penis Ariel</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;T&lt;/ap&gt;ora mengajakku lagi ke pulau, dia bilang mau &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.awewe.co.cc/" rel="friend"&gt;ngewe&lt;/a&gt; dg aku di tepi pantai. “Emangnya bisa &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; di pantai mas”, tanyaku. “Ya bisa aja Luna, sekarang ada bagian pantai yang banyak ditanami pepohonan kecil sehingga agak tertutup dan kita bisa &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt;”, jawabnya. Aku ya mau aja, terbanyang nikmatnya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt;  diudara terbuka, ditepi pantai lagi. Aku belum pernah merasakan sensasi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; dipantai. Sesampai dipantai, aku segera mengenakan bikiniku dan bersama Tora yang hanya memakai celana pendek gombrongnya menuju ke tempat yang dimaksud. Hari itu hari kerja, dipulau gak ada tamunya. Tetapi sesampainya dipantai kulihat ada bule bersama cewek abg. Abgnya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;montok&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;seksi&lt;/span&gt; sekali berbalut bikini minim. Gak lama kemudian keduanya sudah bugil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas ada orang”, kataku. “Gak apa, sibule pasti mo ngewe abg nya juga, kan kita gak saling mengganggu”, jawabnya. “Luna kamu bugil juga deh kaya abgnya sibule”, kata Tora. Aku gak menjawab tapi langsung menyebur ke air yang jernih. Kena air, maka bikiniku yang tipis tidak dapat menutupi apa yang seharusnya ditutupi. Pentilku yang besar dan jembutku yang lebat berbayang dibikiniku. Tora langsung pengen ngewe sekali melihat itu, segera aku dipeluknya dari belakang dan diremesnya payudara ku dengan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penis nya terasa keras sekali, digesekkannya ke bokong ku. “Mas dah napsu ya”, godaku. “Siapa yang gak pengen ngewe ngeliat kamu yang merangsang kayak gini”, jawabnya sambil terus meremas payudara ku. Pentilku diplintir2nya dari luar bra bikini yang sudah kuyup itu. Napsuku pun naik diperlakukan seperti itu. “Luna, lepas aja ya bikini kamu, kan sama aja gak pake apa2, kamu pake bikini aja semuanya udah kelihatan”, katanya sambil menarik tali pengikat bikini di leherku. Segera terbukalah payudara ku, segera diremes2nya lagi dengan penuh napsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, aah”, erangku makin terangsang. Gak lama kemudian pengikat cdku diurainya juga sehingga akupun bugil. Celana gombrongnya kutarik sehingga Torapun sudah bugil pula. Penis nya yang besar sudah ngaceng dengan sempurna, mengangguk2 seirama dengan gerakan badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbaring telentang diatas anduk lebar yang dihamparkan Tora dipasir putih. Paha kukangkangkan sehingga vagina ku yang berwarna merah kehitaman merekah mengundang penis  Tora untuk segera memasukinya. Tora mengurut penis nya yang sudah ngaceng berat sambil sambil meraba dan meremasi payudara ku yg sudah mengencang itu. Aku menjadi makin bernapsu kerika dia meraba vagina ku dan mengilik itilku. Aku meraih penis nya dan kukocok pelan. “Mas geli, enak”, erangku sambil mempercepat kocokan pada penis nya. Kulihat ke arah pasangan bule itu, ternyata mereka juga sedang ngewe  dipasir pantai, aku makin terangsang saja. Kuremasi payudara ku sambil mengilik itilku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vagina ku sudah kuyup saking napsunya. Dia menghampiriku, segera aku meraih penis nya dan kuarahkan ke mulutku. Kujilati seluruh penis nya dari ujung kepala sampai ke biji pelirnyau tak lupa kukulum sambil sesekali di sedot dengan kuat. “Ufffffff enak sekali Luna… terusin isapnya….isap yg kenceng”, Tora mendesah2. Karena aku sudah nafsu, dengan kuat kusedot ujung kepala penis nya sambil sesekali menggunakan ujung lidahku memainkan lubang kencingnya. Segera Tora memposisikan dirinya supaya bisa menjilati dan menghisap vagina ku yg sudah terbuka itu. Ketika dia menjilati itilku aku mengelinjang kenikmatan sambil kepalanya ku kempit dengan kedua belah pahaku, aku ingin agar dia lebih lama menjilati vagina ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dua jari, jari tengah dan telunjuk dimasukkannya ke dalam vagina ku dan dikocok dengan lembut hingga aku mengerang-erang keenakkan. Penis nya kugenggam erat sambil terus menghisap-isap ujung penis nya. Cukup lama kami saling isap dan jilat hingga aku melihat ke arah pasangan bule itu dan ternyata mereka sedang menyaksikan adegan kami. Kukatakan pada Tora kalau kita sedang diperhatikan oleh pasangan bule itu. “Biarin aja, biar mereka terangsang melihat permainan kita”. Bukannya malu aku malah lebih dan agresif dalam permainan ini. Kini dia terlentang di pasir dan aku berada di antara ke dua paha nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengisap dan menggigit kecil ujung penis nya hingga dia kelojotan merasakan geli yg luar biasa. Segera aja dia menarik kepalaku agar melepaskan penis nya dari mulutku, dan kini aku direbahkan, lalu dia menghisap pentilku sebelah kanan sambil pentil yg satunya dimainkan dengan jarinya. Aku sangat menikmati permainan ini sambil tanganku mengilik sendiri itilku. Aku mengangkangkan pahaku dengan lebar dan setengah kuangkat agar lebih mudah aku memasukkan jariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maas,,,,,ayo ngewe dong, masukin penis  mas di vagina Luna ….. Luna udah kepengen ngewe nihh..” pintaku sambil mengarahkan penis nya ke arah vagina ku. Sambil kutuntun dia memasukkan ujung penis nya di vagina ku. Aku yang sudah sangat kepengen ngewe, sengaja mengangkat bokong ku sehingga seluruh penis nya masuk ke dalam vagina ku.”Accchhhhhh…..”, desahku. Kedua paha kulingkarkan di badannya agar penis nya tetap menancap di vagina ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menarik penis nya sedikit keluar lalu dimasukkan dalam-dalam, ditarik lagi dimasukkan lagi dengan ritme yang berirama membuat aku mengerang-erang keenakkan, kini dengan ritme yg lebih cepat dia menekan sekuat tenaga hingga mulutku menganga tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun karena nikmat yang kurasakan membuat aku hanya sanggup mengelinjang-gelinjang keenakan. Payudara ku bergerak naik turun seirama dengan kocokan penis nya di vagina ku.”Maas … acchh …I Luna pengen sampe ngewe puass dulu ya” pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu jawabannya aku lalu kini berada di atas tubuhnya, penis nya yang ngaceng itu kutuntun ke vagina ku, lalu dengan jeritan kecil ” Aauuu…..” seluruh penis nya kini amblas masuk ke dalam vagina ku yg semakin licin itu. Kini aku sepenuhnya bebas menguasai penis nya, seperti orang naik kuda semakin lama semakin cepat gerakanku sambil tangannya meremas kedua payudara ku. Aku tidak lagi bergaya seperti naik kuda, tetapi tetap seperti posisi ngewe semula hanya kini aku menggesekkan vagina ku maju mundur sambil kuremas sendiri payudara ku hingga akhirnya aku mengejang-ngejang beberapa saat sambil menggigit bibir dan mata terpejam merasakan nikmat yang tiada tara itu, akhirnya aku terkulai di atas tubuhnya beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Tora meminta agar aku berjongkok aja, posisi ngewe doggie style adalah posisi ngewe kegemaran ku, segera aku berjongkok sambil membuka lebar pahaku hingga dia dapat melihat dengan jelas vagina ku yang berjembut lebat. Kini kepala penis nya diarahkannya ke vagina ku, dengan sekali dorongan, masuklah sebagian penis nya ke dalam vagina  ku. Aku menjerit kecil. Aku memundurkan bokong ku hingga amblaslah seluruh penis nya ke dalam vagina ku. Dengan kuat dia mendesakkan seluruh penis nya dengan irama yangg beraturan hingga aku merasa kegelian lagi. Dia membasahi jari telunjuknya dengan ludah dan dibasahinya pula lubang bokong ku dengan air ludahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terus menggoyang penis nya di masukkannya jari telunjuknya ke bokong ku hingga seluruh jarinya masuk, sambil menekan ke bawah hingga merasakan geseran penis nya di dalam vagina ku. Aku bisa menikmati permainan ngewe ini, berulangkali aku memintanya agar lebih keras lagi goyangannya sambil memaju mundurkan bokong ku “uufffgggggghhhhhhhh…. Enak Luna, vagina mu enak banget, orang lain pasti pengen ngerasain ngewe dg mu ini, soalnya vagina mu enak banget sihh” erangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lain kali kita coba ya, mungkin orang lain pasti udah keluar duluan sebelum Luna puas, sahutku. “Kamu pengen ngewe  sama orang lain ?” tanyanya lagi. ” iya….. tapi mas harus ada juga disitu melihat Luna ngewe  ama orang lain”. Jawabanku semakin membuatnya terangsang hingga dia mempercepat kocokan penis nya sambil menekan kuat kuat jarinya yg ada di bokong ku. Tak lama lagi, dia mengejang, “Luna aku mo ngecret”, dan terasa semburan sperma  hangat di dalam vagina ku. Penis nya berkedut menyemburkan sperma nya berkali2. Apa yang kami lakukan itu ternyata di saksikan oleh bule tadi, sibule mengacungkan ibu jarinya ketika melihat kami kini tergeletak kelelahan di pasir pantai, Tora membalas dengan acungan jempol pula lalu ia tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tetap bugil kami bermain di air sambil membersihkan diri dari pasir pantai yg menempel di seluruh tubuh kami, kami tetap di pantai itu sampai menunggu matahari terbenam, karena dari pantai itu kami dapat menyaksikan indahnya peristiwa alam itu, terlebih peristiwa yg baru kami alami tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luna, kita tuker pasangan ama si bule aja, katanya kamu pengen ngewe  orang lain dan aku mesti ada didekatmu. Kamu ngewe  aja ama si bule dan aku ngewe cewek abgnya. Mau enggak”, usulnya. “Boleh juga tuh ngeweamabule, tapi mas yang ngomong ya”. Tora menghampiri si bule yang sedang berpelukan dengan cewek abgnya. Tak lama lagi mereka menghampiri aku. “Dia mau Luna, kenalin ini Ariel, dan yang ini Dhea”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyalami keduanya. “Kamu Ariel de Laurentis, itu famous producer”, kataku bercanda. “Ah bukan, I’m just a oil worker”, jawabnya. Dhea memang seksi sekali, payudara nya besar dan kenceng, jembutnya juga lebat, dia masih bugil sesudah ngewe ama Ariel, sementara Ariel sudah memakai celananya. Ariel mengajak kami ke cottagenya, ada private poolnya katanya. Dia orang Itali, lancar juga berbahasa Indo. Aku segera dipeluknya, aku menenteng bikiniku yang belum kukenakan sedang Tora segera memeluk Dhea, dia juga menenteng celananya yang belum dikenakannya. Di cottagenya. Ariel segera memesan makan malam untuk kita ber 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pamit kembali ke kamarku untuk ganti bikini. Torapun ikut denganku. “Asik dong mas, Dhea montok banget, pasti mas sudah napsu banget pengen segera ngewe Dhea”, gangguku. “Iya Luna, tapi aku juga pengen ngeliat kamu ngewe ama Ariel, pasti penis nya lebih besar dari penis ku. Tadi Dhea yang bilang”. Aku membasuh badanku sebentar menghilangkan bekas air laut dan pasir dan memakai bikiniku yang lebih minim dari yang tadi. Tora memakai celana gombrongnya yang lain. Ketika tiba di cottage nya Ariel, makanan sudah tersedia, lengkap dengan buah dan hidangan penutup, juga tersedia beberapa macam minuman termasuk minuman beralkohol. Kita makan dengan ngobrol ngalor ngidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhea juga mengenakan bikini lain yang tak kalah minimnya dengan bikiniku. Beberapa kali kulihat Tora sudah mulai meremas2 payudara  Dhea, sampe Dhea cekikikan. Sementara Ariel santai saja, sesekali dia memelukku sambil mencium pipiku. Sehabis makan Ariel manawari minuman alkohol, aku minum sedikit untuk menghormatinya. Setelah puas makan minum dan ngbrol, Tora langsung menggelandang Dhea ke kamar, meninggalkan aku berdua saja dengan Ariel di pool. “Mas, katanya mo liat Luna ngewe ama Ariel”, kataku. Dia hanya melambaikan tangan dan terus masuk kedalam, “Have fun” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbaring didipan pool yang cukup lebar untuk berdua. Dipan itu dilapisi matras yang tebal sehingga nyaman untuk berbaring disitu. “Kamu punya body bagus Luna”, kata Ariel. “Kata Dhea, kamu punya lebih besar dari Tora punya ya”, kataku tanpa tedeng aling2. “Kalau kamu pengen tahu, kamu lihat saja”, katanya sambil tersenyum. “Tidak apa-apa kok..” Ariel lalu melepas celana gombrangnya, dia sudah tidak mengenakan cd lagi. Penis nya besar, lebih besar sedikit dari penis Tora, tapi dalam keadaan belum ngaceng sekali. “Hai.. lihat ini”, katanya sambil tangan kirinya memegang penis nya sendiri dan tangan kanannya memegang tangan kiriku. Aku melihat penis  Ariel yang besar berwarna putih dengan kepala penis  seperti topi baja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu lihat ini dan pegang saja!” kata Ariel. “Wihh takut akhh..” desah aku dengan suara serak. “Tidak apa-apa biar kamu tidak penasaran lagi”, katanya. Aku masih terpaku melihat penis  Ariel di samping tangannya. Ariel mengambil inisiatif, langsung dia mencium pipiku perlahan. Karena aku masih diam saja maka wajah aku dipegangnya dan dia mencium bibirku dengan perlahan. Aku membalas ciuman itu dengan membuka bibirku, serta merta Ariel melumat bibirku dan memasukkan lidahnya. “Emmhh..” desahku perlahan.”Kamu suka kan Luna ngeliat aku punya” bisik Ariel di kupingku. Aku hanya mengangguk. Melihat reaksi positif dari aku, tangan kiriku diarahkan untuk memegang penis nya. Walaupun belum keras tapi sudah berdiri tegak, penis  itu berikut biji pelernya yang ditutupi jembut lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai memegang penis nya dan ternyata walaupun masih lemas jari telunjuk dan ibu jariku tidak dapat bersentuhan (membuat bentuk huruf O). Hal ini membuat aku penasaran ingin melihat secara jelas bentuk penis nya kalo udah ngaceng, “Aakkhh gedee bangeet..” desahku dengan suara parau. Kemudian Ariel sambil mencium telingaku berbisik, “Kamu kocokin dong..” desahnya. Aku menuruti permintaan Ariel dan perlahan jariku meremas dan mulai mengurut ke atas dan ke bawah, dan dalam relatif singkat penis nya tersebut ngaceng dengan kokohnya di tangan aku. Panjangnya hampir sama dari penis  Tora hanya lebih besar saja. “Emmhh.. akhh..” desahnya. Sementara aku terus mengocok penis nya, Ariel pun dengan nafsunya mengulum bibirku dan jemarinya dengan cepat membuka ikatan braku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sigap dia langsung meremas payudara ku yang telah mengeras. “Akhh enak Ariel..” desahku menggelinjang. Bibirku dilepasnya dan mulut Ariel langsung mendekat ke dadaku sambil terus meremas perlahan. Pentilku dihisap sambil dijilat, payudara ku berganti-ganti diremasnya sehingga, “Akhh.uuff..” erangku keenakan. Wajahku sudah menengadah ke atas dengan posisi pasrah, sementara tangan kiriku terus mengocok penis  Ariel yang besar dengan makin cepat, kadang-kadang kuremas penis  itu dengan kuat karena aku sudah tidak bisa menahan rangsangan yang ada pada sekujur tubuhku. “Ooohh.. .” desahku keenakan. Tangan kananku menekan kepala Ariel ke dadaku sementara tangan kiriku sudah tidak beraturan mengocok penis  besarnya. Ariel segera membuka ikatan cdku sehingga menyembullah pahaku dan gundukan vagina ku yang ditutupi oleh jembut hitam lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mulus sekali Luna..” bisik Ariel sambil tangannya mengusap pahaku. “Ahh kamuu..” aku tersenyum keenakan. Aku hanya mendesah dan menggelinjangkan pinggulku sambil merenggangkan pahaku ketika jari-jari Ariel itu mulai merayap perlahan, mengelus dan menekan sekitar atas vagina ku yang ditumbuhi jembut dan menyebarkan aroma yang khas. Kami sama-sama mendesah dan mengerang perlahan. “Saya suka sekali wanita Indoa..” desah Ariel. “Wanginya sangat merangsang sekali”, kata Ariel sambil mendesah. “Emmhh..” desahku sambil mengerakkan pinggulku ke kiri dan ke kanan. Jarinya mulai menyentuh belahan vagina ku dan mengusap perlahan terus dari atas ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belahan vagina ku sudah terlihat basah dan menjadi licin dan makin menyebarkan aroma yang membuat Ariel dan aku menjadi makin terangsang. Aku sudah melepaskan penis  nya dan kedua tanganku terkulai lemas meremas kepala Ariel, kadang-kadang mengusap punggung Ariel. Ariel sabar sekali, sementara tangan kiri terus membelai belahan vagina ku, tangan kanannya meremas payudara ku, sementara itu mulutnya menghisap pentilku yang telah mengeras serta menjilati permukaan payudara ku atau mengulum bibirku. Kurang lebih 20 menit Ariel telah merangsang sekujur tubuhku. Dia dengan leluasa menggerayangi sekujur tubuhku. Aku hanya tersenyum puas dan pasrah diraba dan diremas Ariel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ariel pun menciumi seluruh tubuhku yang telah polos, bahkan sampai ke punggung pun dia ciumi dengan penuh gairah. Sungguh sensasi luar biasa. Ariel terus membelai belahan vagina ku tanpa dia berusaha memasukkan jari tengah tersebut ke dalam vagina ku yang telah terpampang dengan pasrah. Sementara aku telah dalam posisi ngewe setengah rebahan dengan kaki terbuka mengangkang. Ariel melihat aku sudah pasrah dan seluruh badanku bergetar menahan napsu ngewe ku yang berkobar2. Segera dia merubah posisi badannya menghadap ke aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berlutut di depanku yang telah mengangkangkan kakiku sehingga posisi badannya sekarang telah berada di antara kedua kakiku yang mengangkang lebar dan vagina ku yang telah terlihat jelas telah basah. Penis Ariel yang benar-benar luar biasa besarnya telah berada di depan permukaan vagina ku. “Pelan2 Ariel”, bisikku. “Ya, aku akan pelan2, kamu harus mencoba, rasanya pasti beda dengan Tora punya”, desah Ariel sambil mulai mengarahkan penis nya ke vagina  ku yang telah terbuka sedikit akibat jari-jari Ariel yang terus membelai belahan vagina ku. “Saya tempelkan saja dahulu penis  ini sampai kamu siap..” kata Ariel merayu sambil lidahnya menjilati sekitar kupingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang keenakan lalu membiarkan Ariel melanjutkan aksinya, dengan menjepit pinggang Ariel dengan kedua kakiku, aku melihat penis nya yang besar itu ditempelkan tepat di belahan vagina ku yang telah basah. Aku merasa penis nya mulai secara perlahan menggeser di belahan vagina ku. “Oohh.. Ariel.. enaakk.. ” erangku. “Uuuff..” desah Ariel keenakan, “Yaa enakk Luna..”. “Teruss digesek dan ditekan Ariel..” pintaku. “Ya sayang..” kata Ariel mulai mempercepat gesekan di belahan vagina ku. “Tekan teruuss Ariel..” erangku yang makin lama semakin keenakan. “Enaakk.. oohh.. puasin Luna Ariel” desahku dengan suara yang telah parau. Posisi kakiku telah mengangkang dengan lebar membuat Ariel lebih leluasa menggerakkan dan kadang mendorong penis nya ke depan sehingga lebih menekan dan menggesek belahan vagina ku. Kulihat vagina ku telah terbelah bibirnya karena tekanan dan gesekan penis  Ariel, kepala penis  Ariel mulai secara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beraturan menyentuh dan mendorong itilku. “Aahh.. aduuhh.. ennaakk”, desahku sementara tanganku telah berada di belakang punggung Ariel dan sambil menekan bokong  Ariel. “Emh.. ” erang Ariel menahan sesuatu. Aku tahu dia sudah ingin menerobos masuk ke dalam vagina  ku tapi kerena aku tidak mengatakannya dia berusaha menahan keinginannya. “Ariel.. Ariel.. eeng..” aku bergumam, aku telah siap dimasuki oleh penis  besar itu. Aku mendorong dan menarik bokong  Ariel sedangkan posisi kepala penis nya melewati itilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat penis nya mulai bergerak mengikuti arahanku, mencoba untuk terus menerobos liang vagina ku yang akan terasa sempit sekali untuk ukuran penis  sebesar Ariel. Kepalaku sudah menengadah ke atas dengan mata terbelalak tinggal putihnya, sementara mulutku terbuka mengerang, “Ahh..” “Luna.. akhh”, desah Ariel meminta kepastian kesiapan aku apakah seluruh penis nya dapat menerobos masuk ke dalam vagina ku. Tapi aku sudah tidak dapat berkata-kata karena mulutku hanya dapat menganga terbuka. Ariel terus melanjutkan aksinya dengan posisi sama seperti sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat penis  Ariel terus berusaha menekan vagina ku dengan kepala penis nya yang besar itu, tapi dia menarik kembali ketika aku mulai seperti orang tercekik. “Uuff.. ” desah Ariel sambil terus memajukan dan menarik bokong nya dan makin lama semakin cepat . Kepala penis  Ariel terus menekan itilku berulang-ulang kadang masuk kadang di luar bibir vagina ku. “Akhh.. engg.. aakhh” aku mencengkeram bokong  Ariel kuat-kuat dan akibat sundulan kepala penis nya, “Oohh.. akuu..nyampe Ariel.. uuff.. aahh.. enaak..” erangku kelonjotan dan bergetar seluruh badanku di dalam pelukan Ariel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ariel merasakan siraman cairan hangat dari dalam vagina ku yang terus mengalir membasahi batang dan kepala penis nya, membuat penis  itu menjadi mengkilap dan basah. “Kamuu.. nyampe ya Luna.. ” desah Ariel dengan nafas berirama, nafasnya terdengar keras. “Eeennakk.. oohh Luna.. puaass”, aku terus mengerang karena terus merasakan sundulan kepala penis  Ariel di dalam vagina ku . Ternyata hanya sebatas leher kepala penis  Ariel yang dapat terbenam di dalam vagina ku dan terasa terus menggesek dinding vagina ku. “Teruss.. Ariel.. tekan teruuss.. oohh.. benar enak.. ahh..” aku tersenyum puas melihat Ariel masih terus berusaha memberikan rangsangan di sekitar dinding vagina ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ariel melihat aku tersenyum dan ikut tersenyum puas. “Kamu puass.. Luna. enak.. kan ngewe denganku” senyum Ariel sambil menjilat bibirnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar kamuu.. lebih puaas Luna..” kata Ariel sambil terus menghujamkan sepertiga penis nya ke dalam liang vagina ku. Terdengar bunyi, “Sleepp.. ahhkk.. brreet..” rupanya vagina ku terus semakin basah dan semakin licin untuk penis  Ariel yang terjepit di vagina ku. “Gilaa.. kamuu rapat sekali lubangnya.. uuffhh.. susah.. Luna.. untuk masuk..” Ariel penasaran sekali dengan vagina ku yang terlalu sempit. Gila memang, penis  Ariel yang besar itu berhasil menggelosor keluar masuk di vagina ku. Posisiku sudah ditindih oleh badan Ariel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Ariel menaik-turunkan bokong nya berirama. Penis  Ariel yang besar dan panjang itu sebagian telah keluar masuk di dalam vagina ku, sementara gerakannya makin lama semakin lincah karena vagina ku terus mengeluarkan cairan yang membuat penis  Ariel terus dapat menerobos dinding vagina ku. “Aakkhh.. eennak.. teruuss..tekan..sayang… Luna mau penis  gedee.. ahh enaaknya ngewe ..” aku kelojotan dihujami penis nya walaupun belum semua penis  Ariel masuk menembus vagina ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan aku terus memberikan remasan dibokong  Ariel dan kadang menekan bokong  itu ke bawah. “Kamuu kuat.. akua.. vagina  kamu masih sempit.. sayang.. oohh..nikmatnya.. vagina .. kamuu.. enak.. adduuhh penis  sayaa..dijepit aah enak.. haa.. haa.. mhh.. ennak..” Ariel tersenyum melihat aku merem-melek keenakan. “Sleep.. poof..breett.. aahh..” gerakan bokong nya menekan dua kali dan memutar dua kali, dia terus menekan agar penis nya lebih masuk lagi ke dalam vagina ku. Setelah 2 sampai 3 kali menekan penis nya ke dalam, pada saat menekan terakhir bokong  Ariel memutar ke kiri dua dan ke kanan dua kali. Aku sudah tidak sempat lagi bergerak, posisiku hanya mengangkangkan kaki lebar-lebar dan tanganku hanya dapat memegang punggung Ariel dan sekali menjambak rambut Ariel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara nafasku tidak beraturan, yang ada hanya lenguhan dan lenguhan disertai erangan panjang. Dengan gerakan itu Ariel telah melakukan gerakan menghujamkan vagina ku yang sempit dan basah. Terlihat bibir vagina ku tertarik keluar dan terdorong masuk mengikuti gerakan penis  Ariel. Tiga puluh menit sudah lewat, keringat telah membasahi badan kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamuu berbalik.” desah Ariel, lalu Ariel menarik penis nya, terdengar bunyi “Plooff..” dan aku mengambil posisi ngewe menungging (gaya anjing). Bibir vagina ku dengan jelas telah terbuka sehingga terlihat cairan di pinggirannya. Ariel mengambil posisi tepat di belakang bokong ku. Setelah lima kali meremas bongkahan bokong ku dengan penuh nafsu, sedikit demi sedikit Ariel mulai menempelkan kepala penis nya dibelahan vagina ku dan terus menggesekkan kepala penis  tersebut ke atas dan ke bawah belahan vagina ku. “Aahh.. ennaak.. Ariel..” desahku terpejam. “Nikmatnya penis  kamuu.. enak.. Ariel..” setelah delapan gesekan naik turun, aku makin mendesah.”Masukin Ariel.. Luna mau ngewe .. yang enak.. aahhk”, dengan sedikit hentakan kepala penis  Ariel mulai menerobos dinding vagina ku. Perlahan melakukan gerakan maju mundur dan makin lama semakin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penis  Ariel sebagian sudah tenggelam di dalam vagina ku. “Ahhk.. uuff.. enaak.. oohhkk.. yaa.. teruus.. haak!” Ariel mengeram dengan nafas yang memburu, begitu juga aku. Ariel memegang pinggulkusambil mendorong penis nya yang menghujam semakin dalam divagina  ku. “Hee.. aakhh.. okh..” nafas Ariel memburu dengan cepat sementara gerakan penis nya di dalam vagina ku terus keluar masuk dan kadang berputar seperti mengebor vagina ku. “Akhh.. eennak.. giila..aduh….penis  kamu mentook.. mmffhh.. yaa terus..” erangku. “Luna.. enak.. gilaa.. masuk.. semuaa.. mmffhh..puas, kamu.. kuat aakh..” Ariel terus menghujamkan penis nya dalam-dalam ke vagina ku. Sementara aku hanya bisa mengerang dan menjerit ketika kepala penis  Ariel mentok di dinding rahimku. “Luna keluarr lagi.. Ariel.. aahk enak..” erangku terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah 20 menit Ariel memainkan penis nya di dalam vagina ku, keringatnya telah menetes ke punggungku. Sementara dipunggungku telah terdapat lima bekas gigitan Ariel, tiga di pundak dua di leher belakang aku. Sungguh buas si Ariel ini kalau sedang ngewe , kadang-kadang tangannya meremas payudara ku dan menariknya ke bawah untuk memberikan memperkeras dorongan penis nya. Aku benar-benar sudah lemas dan tidak bertenaga lagi. Kepalaku sudah rebah ke matras, sementara tangan terkulai lemas, rambut telah basah semua dan badanku telah bermandikan keringat. “Aahk Ariel, Luna.. lemes.. gila.. keluarin Ariel..” pintaku memelas. “Yaa.. akh yak.. duh.. Luna.. aku keluarin.. huu.. enaak vagina  kamu.. aku mau keluarr.. gila! Enaak.. aku mau keluaar.. aahh.. hak.. uuff.. oohk.. kamu hebat Luna..” Ariel melakukan gerakan sangat cepat menghentakkan penis nya sampai berbunyi, “Cepaak.. cepakk..” supaya penis nya masuk lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melakukan gerakan liar memutar dan menghisap serta memijat penis  Ariel dengan vagina ku. “Luna juga.. mau keluar.. ahh.. lagi.. Ariel”. “Gila.. aahh.. aku juga.. keluaar.. haa.. enak..” Kami berdua nyampe bareng, terasa sekali semburan keras sperma  Ariel yang hangat divagina ku. Ariel tersenyum puas sambil tangannya meremas payudara ku dan mulutnya mencium bibirku yang telah terkulai lemas di matras. Ariel tetap dalam posisi memeluk aku dari belakang sementara penis  Ariel yang sudah mengeluarkan sperma nya di dalam vagina ku, masih berada di dalam vagina  aku, belum menyusut mengecil dan terlepas. Lemas sekali, tapi nikmat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-7336892721262322610?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/7336892721262322610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-payudara-luna-penis-ariel.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/7336892721262322610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/7336892721262322610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-payudara-luna-penis-ariel.html' title='Cerita Ngewe | Payudara Luna Penis Ariel'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-2141299432127757846</id><published>2009-03-19T13:06:00.000-07:00</published><updated>2009-03-19T13:06:00.622-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE Janda'/><title type='text'>Cerita Ngewe | Janda Arab Bahenol</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;K&lt;/ap&gt;ami melanjutkan obrolan. Ternyata Dewi seorang awewe keturunan arab yang janda bahenol, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Dewi tidak diceraikan. ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini. Dikta ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe. dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan. aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan-lahan tangan kiriku menuju ke payudara nya. Sebelum tangan kiriku sampai di payudara nya, ia menatapku dan bertanya, “Mau apa kamu, dude ?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah Dewi, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki,” kataku mulai merayunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhh, tidak.. Jangan..,” rintihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah Nis, mungkin &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.awewe.co.cc/" rel="friend"&gt;penis&lt;/a&gt; ku tidak sebesar punya suami Arab-mu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas payudara nya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapi-api. Tangannya meremas &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku yang masih terbungkus celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulutnya kemudian menciumi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt;  ku. Kini ia mengocok &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dengan mengulum &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dan menggerakan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan bokongkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mau menumpahkan sperma dalam &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.awewe.co.cc/" rel="friend"&gt;posisi ngewe&lt;/a&gt; ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;posisi ngewe&lt;/span&gt; berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir &lt;a style="font-style: italic; font-weight: bold;" href="http://www.awewe.co.cc/" rel="friend"&gt;vaginanya&lt;/a&gt;. Liang &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.awewe.co.cc/" rel="friend"&gt;ngewe&lt;/a&gt; nya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam liang &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; ke kepakalu. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, “Sllruup..”. Kembali ia menjilat dan mencium &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; dalam posisi demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan bokongnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di payudara nya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih “dude, ayo &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt;, Masukan sekarang..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya menggenggam erat &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dan mengarahkan ke liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Penis&lt;/span&gt; ku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Dewi kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukocokkan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku kembali ke liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dude.. Kencangkan dan cepat masukkan,” rintihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku sudah melewati bibir &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Kudorong sangat pelan. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Vaginanya&lt;/span&gt; sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt;  suaminya satu setengah kali lebih besar dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku. Aku berpikir bagaimana caranya agar &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt;  suaminya bisa menembus &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Penis&lt;/span&gt; ku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penis ku seluruhnya sudah menembus lorong &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Aku merasa dengan kondisi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;posisi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Dewi bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku tidak mengecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengus-dengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Dewi sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouhh.. dude, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dan gerakan tubuh Dewipun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dari bawah. Ketika ia bergerak naik, bokongku kuturunkan dan ketika ia menekan bokongnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat bokongku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acak-acakan. sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikutu gerakan kami. Suaranya berderak-derak seakan hendak patah. Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenit kemudian..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh,” Dewi memekik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku. Aku tidak tahan lagi. Ketika bokongnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat bokongku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. bokongnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dude.. Ouhh dude.. Aku juga..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; saling berbalasan dengan denyutan di&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; penis&lt;/span&gt; ku. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisa-sisa kenikmatan. ketika sisa-sisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Sebagian sperma mengalir keluar dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; di atas perutku. Dewi berguling ke samping setelah menarik napas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;posisi ngewe&lt;/span&gt; di atas. tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa,” katanya sambil mengelus dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar laki-laki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benar-benar sempit,” kataku balas memujinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak ah, asli Indonesia lho..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan. Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?”tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya.” katanya enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; dengan laki-laki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. hampir sejam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas payudara nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmhh..,” ia bergumam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I want more, honey!” kataku.&lt;br /&gt;kami bersama-sama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Dewi di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku. Aku mengusap-usap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Penis&lt;/span&gt; kupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouhh.. dude.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw!” ia berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dude.. Maniak kamu..,” ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjaga-jaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. Beberapa saat aku masih dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;posisi ngewe&lt;/span&gt; itu. tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremas-remas payudara sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di payudara nya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dalam-dalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku. Dilepaskannya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremas-remas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; kupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. Dewi kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dengan menggesekannya pada bibir &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengah-engah. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Penis&lt;/span&gt; ku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuremas bokongnya yang padat dan kuangkat bokongku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dude.. Ayo.. Masukk.. Kan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya menggenggam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebar-lebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hati-hati kucoba memasukan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku kedalam liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya. Masih sulit juga untuk menembus bibir &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. tangannya kemudian membuka bibir &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku ke &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu melewati bibir &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;, maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahan-lahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku sudah menerobos kedalam liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada  lebih banyak. Ketika kurasakan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Dewi masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.&lt;br /&gt;Kupercepat gerakanku dan Dewi bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt;. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dan menggenjotnya lagi dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubisikkan untuk berganti &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;posisi ngewe&lt;/span&gt; menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Bokongnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dan segera menyusupkannya kedalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Kugenjot lagi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; dengan menggerakkan bokongku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. kami berciuman dengan posisi sama-sama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menusuk &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam  nungging dengan bokong yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; kami yang kedua ini, Dewi semakin keras berteriak dan sebentar-bentar mengejang. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Vaginanya&lt;/span&gt; terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku. Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langit-langit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami berguling sampai Dewi berada di atasku. Dewi menekankan bokongnya dan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; kupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouhh.. Dewi,” desahku setengah berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku seperti disedot sebuah pusaran. Dewi mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan bokongnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah payudara nya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselang-seling. Bokongnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku masuk terbenam dalam-dalam menyentuh rahimnya kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Dewi menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; duduk setengah jongkok di atas &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku. Ia kemudian menggerakan bokongnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan bokongnya, namun tidak menghentak-hentak. darah yang mengalir ke &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ouhh.. Sshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; denganmu”. Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dude.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi!” ia mendesah. Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi. Aku bangkit dan duduk memangku Dewi. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Penis&lt;/span&gt; ku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan bokongnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku sampai mentok. Ia merintih-rintih, namun karena &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;posisi ngewe&lt;/span&gt; tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainnan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; ini, ia hanya dapat pasrah dan menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku. Dengan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;posisi ngewe&lt;/span&gt; duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerak-gerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingin memperpanjang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; untuk satu posisi lagi. Kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Vaginanya&lt;/span&gt; semakin terasa keras menjepit &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu. Dewi kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat. Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;posisi ngewe&lt;/span&gt; dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya. Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, “OK baby, kini saatnya..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memekik kecil ketika bokongku menekan kuat ke bawah. Dinding &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; berdenyut kuat menghisap &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku. Ia menyambut gerakan bokongku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt;. Kutahan tekanan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ke dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Gelombang-gelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; bergantian dengan denyutan pada &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; seakan-akan saling meremas dan balas mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersama-sama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dewi.. Ouhh.. Yeaahh!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhkk.. Lakukan dude.. Sekarang!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Kutekan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku semakin dalam di &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt;. Tubuhnya mengejang dan bokongnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan tangannya menekan kepalaku di atas payudara nya. Ketika dinding &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vaginanya&lt;/span&gt; berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PC-ku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PC-ku kugerakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napas dan kata-kata penuh kenikmatan terdengar putus-putus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengal-sengal yang berangsur-angsur berubah menjadi teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-2141299432127757846?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/2141299432127757846/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-janda-arab-bahenol.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/2141299432127757846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/2141299432127757846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-janda-arab-bahenol.html' title='Cerita Ngewe | Janda Arab Bahenol'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4379373472775209331.post-8722630504057879939</id><published>2009-03-18T10:05:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T10:26:39.148-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita NGEWE'/><title type='text'>Cerita NGEWE |  Julia Pembantu ku</title><content type='html'>&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;ap&gt;A&lt;/ap&gt;ku ini akan menceritakan tentang kejadian beberapa waktu yang lalu. &lt;a style="font-weight: bold; font-style: italic;" href="http://www.awewe.co.cc/" rel="friend"&gt;Cerita ngewe&lt;/a&gt; dengan pembantu ku Julia yang montok dan bahenol, berikut ceritanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kujemput pembantu ku Julia di ujung jalan dan kuantarkan ke apartemenku. Begitu sampai pembantu ku Julia terlihat bingung karena istriku tidak mengetahui atas keberadaan apartemenku.&lt;br /&gt;“Tugas saya apa Pak…?”&lt;br /&gt;“Tugas kamu sebagai pembantu hanya jaga apartemen ini, ini kunci kamu pegang satu, saya satu dan ini uang, kamu belanja dan masak yang enak untuk lusa karena temen-temen saya mau main ke sini.”&lt;br /&gt;“Baik Pak…”&lt;br /&gt;Dengan perasaan agak tenang kutinggalkan pembantu ku Julia, aku senang karena kalau ada tamu aku tidak akan capai lagi karena sudah ada pembantu ku Julia yang membantuku di apartemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokannya sepulang kantor, aku mampir ke apartemen untuk mengecek persiapan untuk acara besok, tapi aku jadi agak cemas ketika pintu apartemen kuketuk berkali-kali tidak ada jawaban dari dalam. Pikiranku khawatir atas diri Julia kalau ada apa-apa, tapi ketika kubuka pintu dan aku masuk ke dalam apartemenku terdengar suara dari kamar mandiku yang pintunya terbuka sedikit. Kuintip dari sela pintu kamar mandi dan terlihatlah dengan jelas pemandangan yang membuat diriku terangsang. Julia sedang mengguyur badannya yang hitam manis di bawah shower, satu tangannya mengusap payudara nya dengan busa sabun sedangkan satu kakinya diangkat ke closet dimana tangan satunya sedang membersihkan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya dengan sabun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan yang luar biasa indah membuat nafsu birahiku meningkat dan kuintip lagi, kali ini Julia menghadap ke arah pintu dimana tangannya sedang meremas-remas payudara nya yang ranum terbungkus kulit sawo matang dan puting nya sesekali dipijatnya, sedangkan bulu-bulu halus menutupi liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya diusap oleh tangannya yang lain, hal ini membuat dia merem-melek. Pemandangan seorang gadis kira-kira 19 tahun dengan lekuk tubuh yang montok nan seksi, payudara yang ranum dihiasi puting coklat dan liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; yang menonjol ditutupi bulu halus sedang dibasahi air dan sabun membuat nafsu birahi makin meningkat dan tentu saja &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku mulai mendesak dari balik celana kantorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat nafsuku mulai berontak dengan cepat kutanggalkan seluruh pakaian kerjaku di atas sofa, dengan perlahan kubuka pintu kamar mandiku, Julia yang sudah kembali membelakangiku, perlahan kudekati Julia yang membasuh sabun di bawah shower. Secara tiba-tiba tubuhnya kupeluk dan kuciumi leher dan punggungnya. Julia yang terkaget-kaget berusaha melepaskan tanganku dari tubuhnya. “Akh.. jangan Pak.. jangan.. tolong Pak…” Karena tenaganya lemah sementara aku yang makin bernafsu, akhirnya Julia melemaskan tenaganya sendiri karena kalah tenaga dariku. Bibir tebal dan merekah sudah kulumatkan dengan bibirku, tanganku yang satu membekap tubuhnya sambil menggerayangi payudara nya, sedangkan tanganku yang satunya telah mendarat di pangkal pahanya, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya pun sudah kuremas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhh.. ahhh.. jangan.. Pak…”&lt;br /&gt;“Tenang sayang.. nanti juga enak…”&lt;br /&gt;Aku yang sudah makin buas menggerayangi tubuhnya bertubi-tubi membuat Julia mengalah dan Julia pun membalas dengan memasukkan lidahnya ke mulutku sehingga lidah kami bertautan, Julia pun mulai menggelinjang di saat jariku kumasukan ke liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya. “Arghh.. arghh… enak.. Pak.. argh…” Tubuh Julia kubalik ke arahku dan kutempelkan pada dinding di bawah shower yang membasahi tubuh kami. Setelah mulut dan lehernya, dengan makin ke bawah kujilati akhirnya payudara nya kutemukan juga, langsung kuhisap kukenyot, puting nya kugigit. Payudara nya kenyal sekali seperti busa. Julia makin menggelinjang karena tanganku masih merambah liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya. “Argh.. akkkhh… akhh… terus.. Pak… enak… terus…” Aku pun mulai turun ke bawah setelah payudara , aku menjilati seluruh tubuhnya, badan, perut dan sampailah ke selangkangannya dimana aku sudah jongkok sehingga bulu halus yang menutupi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya persis di hadapanku, bau harum tercium dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun kagum karena Julia merawat &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya sebaik-baiknya. Bulu halus yang menutupi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya kubersihkan dan kumulai menjilati liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya. “Ssshh.. sshh.. argh.. aghh… aw… sshhh.. trus… Pak.. sshh… aakkkhh…” Aku makin kagum pada Julia yang telah merawat &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya karena selain bau harum, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia yang masih perawan karena liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya masih rapat, rasanya pun sangat menyegarkan dan manis rasa &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia. Jariku mulai kucoba dengan sesekali masuk liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; Julia diselingi oleh lidahku. Rasa manis  Julia yang tiada habisnya membuatku makin menusukkan lidahku makin ke dalam sehingga menyentuh klitorisnya yang dari sana rasa manis itu berasal. Julia pun makin menggelinjang dan meronta-ronta keenakan tapi tangannya malah menekan kepalaku supaya tidak melepaskan lidahku dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Auwwwhhh… aahhh… terus.. sedappp… Pakkkh…”&lt;br /&gt;“Yar… &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; mu sedap sekali… kalau begini… setiap malam aku pingin begini terus…”&lt;br /&gt;“Mmm.. yah.. Pak.. terus.. Pak… oohhh…”&lt;br /&gt;Julia makin menjerit keenakan dan menggelinjang karena lidahku kupelintir ke dalam  nya untuk menyedot klitorisnya. Setelah hampir 30 menit &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia kusedot-sedot, keluarlah cairan putih kental dan manis serta menyegarkan membanjiri &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia, dan dengan cepat kujilat habis cairan itu yang rasanya sangat sedap dan menyegarkan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ooohhh… ough… arghhh… sshh.. Pak, Julia… keluar.. nihhh… aahhh… sshh…”&lt;br /&gt;“Yar… cairanmu… mmmhh… sedap.. sayang… boleh.. saya masukin sekarang… batang saya ke &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; kamu? mmhh.. gimana sayang…”&lt;br /&gt;“Hmmm… boleh Pak.. asal.. Ibu nggak tahu…”&lt;br /&gt;Julia pun lemas tak berdaya setelah cairan yang keluar dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya banyak sekali tapi dia seakan siap untuk dimasuki &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya oleh &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku karena dia menyender dinding kamar mandi tapi kakinya direnggangkan. Aku pun langsung mendempetnya dan mengatur posisi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku pada liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya. Setelah &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku tepat di liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya yang hangat, dengan jariku kubuka &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya dan mencoba menekan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku untuk masuk &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya yang masih rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohhh… Julia.. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; mu rapat sekali, hangat deh rasanya… saya jadi makin suka nih…”&lt;br /&gt;“Mmmmhh… mhhh.. Pak.. perih.. Pak… sakit…”&lt;br /&gt;“Sabar.. sayang.. nanti juga enak kok, sabar ya…”&lt;br /&gt;Berulang kali kucoba menekan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku memasuki &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia yang masih perawan dan Julia pun hanya menjerit kesakitan, setelah hampir 15 kali aku tekan keluar-masuk &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku akhirnya masuk juga ke dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia walaupun hanya masuk setengahnya saja. Tapi rasa hangat dari dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia sangat mengasyikan dimana belum pernah aku merasakan  yang hangat melebihi kehangatan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia membuatku makin cepat saja menggoyangkan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku maju-mundur di dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yar, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; mu hangat sekali, &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku rasanya di-steam-up sama &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; mu…”&lt;br /&gt;“Iya.. Pak, tapi masih perih Pak…”&lt;br /&gt;“Sabar ya sayang…”&lt;br /&gt;Kukecup bibirnya untuk menahan rasa perih &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia yang masih rapat alias perawan sedang dimasuki &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku yang besarnya 29 cm dan berdiameter 5 cm, wajar saja kalau Julia menjerit kesakitan. Payudara nya pun sudah menjadi bulan-bulanan mulutku, kujilat, kukenyot, kusedot dan kugigit puting nya. “Ahh.. ahhh.. aah.. aww… Pak… iya Pak.. enak deh.. rasanya ada yang nyundul ke dalam memek Julia.. aahh…” Julia yang sudah merasakan kenikmatan ikut juga menggoyangkan pinggulnya maju-mundur mengikuti iramaku. Hal ini membuatku merasa menemukan kenikmatan tiada tara dan membuat makin masuk lagi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku ke dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya yang sudah makin melebar.&lt;br /&gt;Kutekan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku berkali-kali hingga rasanya menembus hingga ke perutnya dimana Julia hanya bisa memejamkan mata saja menahan hujaman &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku berkali-kali. Air pancuran masih membasahi tubuh kami membuatku makin giat menekan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku lebih ke dalam lagi. Muka Julia yang basah oleh air shower membuat tubuh hitam manis itu makin mengkilat sehingga membuat nafsuku bertambah yaitu dengan menciumi pipinya dan bibirnya yang merekah. Lidahku kumasukan dalam mulutnya dan membuat lidah kami bertautan, Julia pun membalas dengan menyedot lidahku membuat kami makin bernafsu. “Mmmhh… mmmhhh… Pak.. batangnya nikmat sekali, Julia jadi.. mmauu… tiap malam seperti ini.. aaakh… aakkhh.. Paaakkhh.. Julia keeluuaarrr.. nniihh…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya bobol juga pertahanan Julia setelah hampir satu jam dia menahan seranganku dimana dari dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya mengeluarkan cairan kental yang membasahi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku yang masih terbenam di dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya, tapi rupanya selain cairan, ada darah segar yang menetes dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya dan membasahi pahanya dan terus mengalir terbawa air shower sampai ke lantai kamar mandi dan lemaslah tubuhnya, dengan cepat kutahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Sementara aku yang masih segar bugar dan bersemangat tanpa melihat keadaan Julia, dimana &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku yang masih tertancap di &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya. Kuputar tubuhnya sehingga posisi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; nya doggy style, tangannya kutuntun untuk meraih kran shower, sekarang kusodok dari belakang. Pantatnya yang padat dan kenyal bergoyang-goyang mengikuti irama &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku yang keluar-masuk &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Vagina&lt;/span&gt; Julia makin terasa hangat setelah mengeluarkan cairan kental dan membuat &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku terasa lebih diperas-peras dalam &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya. Hal itu membuatku merasakan nikmat yang sangat sehingga aku pun memejamkan mata dan melenguh. “Ohhh… ohhh.. Yar.. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; mu sedap sekali, baru kali ini aku merasakan nikmat yang sangat luar biasa… aakkh.. aakkhh… sshhh…” Julia tidak memberi komentar apa-apa karena tubuhnya hanya bertahan saja menerima sodokan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku ke &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya, dia hanya memegangi kran saja. Satu jam kemudian meledaklah pertahanan Julia untuk kedua kalinya dimana dia mengerang, tubuhnya pun makin merosot ke bawah dan cairan kental dengan derasnya membasahi &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku yang masih terbenam di &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; nya. “Akhhh… aakkhh… Pak… Pakkhh… nikmattthhh…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tubuhnya mengelepar dan selang 15 menit kemudian gantian tubuhku yang mengejang dan meledaklah cairan kental dari &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku dan membasahi liang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;ngewe&lt;/span&gt; Julia dan muncrat ke rahim Julia, yang disusul dengan lemasnya tubuhku ke arah Julia yang hanya berpegang pada kran sehingga kami terpeleset dan hampir jatuh di bawah shower kamar mandi. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku yang sudah lepas dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia dan masih menetes cairan dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku, dengan sisa tenaga kugendong tubuh Julia dan kami keluar dari kamar mandi menuju kamar tidur dan langsung ambruk ke tempat tidurku secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun sekitar jam 10.30 malam, itupun karena &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku sedang dikecup oleh Julia yang sedang membersihkan sisa-sisa cairan yang masih melekat pada &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;penis&lt;/span&gt; ku, Julia layak anak kecil menjilati es loli. Aku usap kepalanya dengan lembut. Setelah agak kering Julia bergeser sehingga muka kami berhadapan. Dia pun menciumi pipi dan bibirku.&lt;br /&gt;“Pak.. Julia puas deh… batang Bapak nikmat sekali pada saat menyodok-nyodok memek Julia, Julia jadi kepingin tiap hari deh, apalagi di saat air hangat mengalir deras di rahim Julia… kalau Bapak gimana? Puas nggak.. sama Julia…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yar.. Bapak pun puas sekali.. Bapak senang bisa ngebongkar &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia yang masih rapat.. terus terang… baru kali ini Bapak puas sekali bermain, sejak dulu sama istriku aku belum pernah puas seperti sekarang… makanya saya mau Julia siap kalau saya datang dan siap jadi istri kedua saya… gimana..?”&lt;br /&gt;“Saya mah terserah Bapak aja.”&lt;br /&gt;“Sekarang saya pulang dulu yach.. Julia… besok aku ke sini lagi…”&lt;br /&gt;“Oke… Pak.. janji yach… &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;vagina&lt;/span&gt; Julia maunya tiap hari nich disodok punya Bapak…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4379373472775209331-8722630504057879939?l=cerita-ngewe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/feeds/8722630504057879939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-julia-pembantu-ku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/8722630504057879939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4379373472775209331/posts/default/8722630504057879939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-ngewe.blogspot.com/2009/03/cerita-ngewe-julia-pembantu-ku.html' title='Cerita NGEWE |  Julia Pembantu ku'/><author><name>ccs</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13550793479292714424</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
